• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 15 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

Ede Tea by Ede Tea
7 February 2021
in Cerpen
2
Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

https://unsplash.com/photos/JUbjYFvCv00

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

    Adegan Pertama

Mataku terbuka saat suara misterius itu tetiba muncul. Sekejap ada, sekejap lenyap. Aku berpaling ke samping tempat tidur. Mendadak rasa penasaranku berubah cemas ketika aku sadar bahwa ia tidak ada di sampingku. Bergegas aku menuju ke muka pintu. Dan saat hendak kubuka, tanganku tertahan karena suara misterius itu kembali muncul.

“Untuk apa kau ke sini? Cepat pergi!”

Segera kutempelkan telinga ke pintu, itu persis seperti suaranya. Tapi tidak dapat kupastikan karena suara itu seperti orang yang tersekap. Pelan. Nyaris menyatu dengan embusan angin.

“Kenapa? Apa aku salah?”

Aku terperanjat. Kali ini terdengar suara pria yang berat dan menggema. Dan tanganku yang sudah menggenggam gagang pintu lagi-lagi tertahan.

“Aku sudah punya suami!”

“Kalau begitu aku akan menemui suamimu.”

“Kau gila!”

“Sejak kau menghilang dan menikah dengan laki-laki itu, aku memang sudah gila!”

“Tolong, pergilah! Aku tidak mau ia tahu. Kami sudah bahagia.”

“Kau tidak bahagia.”

“Kenapa aku harus tidak bahagia? Dia orang sukses. Kami hidup di rumah mewah, aku punya mobil dan perhiasan, aku bisa beli ini dan itu!”

“Karena kau masih mencintaiku!”

Mendadak percakapan itu hilang. Suasana lengang. Dengan cepat aku menarik gagang pintu. Dan saat pintu itu terbelalak, mataku juga ikut membelalak. Bibirnya yang merah serupa darah beradu dengan bibir kering seorang pria yang tak kukenal. Jantungku sesak. Aku nyaris pingsan.

    Adegan Kedua

Pintu itu masih tertutup rapat. Jantungku semakin sesak dan pengap. Beberapa menit yang lalu kamar ini terasa begitu damai. Hangat dan penuh kasih sayang. Namun, dengan sekejap semuanya sirna, beralih menjadi ruangan kelam nan mencekam. Kulirik jam dinding di tepi lemari pakaian, suara dentuman jarum detik semakin menambah kesuraman. Pindah kutatap cicak di langit-langit kamar, satu-dua terhenti, menatapku penuh iba.

Kini suara itu terdengar semakin jelas. Nyaring dan membahana. Aku terduduk di atas kasur sambil mendengarkan ocehan mereka yang seperti anjing kelaparan.

“Aku mohon, cepat pergi dari sini!”

“Kenapa aku harus pergi? Dia sudah melihatnya. Ayo, kita mulai semuanya dari awal lagi.”

“Aku tidak akan meninggalkannya!”

“Untuk apa kau mempertahankan laki-laki seperti itu? Dia tidak lebih dari seorang pecundang. Bahkan saat istrinya bersama laki-laki lain pun, ia hanya sembunyi di dalam kamar.”

Suasana kembali lengang. Aku berdekam di atas tempat tidur.

Apa yang dikatakan pria itu tentu saja benar. Tidak selayaknya aku memilih diam dalam situasi seperti ini. Di mana tanggung jawabku sebagai seorang suami? Tapi apa yang bisa kulakukan untuknya? Perjanjian itu masih berlaku. Dia sendiri yang membuat surat pranikah dan menulis di nomor kesekian bahwa aku tidak boleh mencampuri urusan pribadinya, pun sebaliknya.

Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?

    Adegan Ketiga

Langit malam kian mencekam. Udara dingin menusuk-nusuk tubuhku. Kubuka sepasang jendela lebar-lebar, membiarkan embusan angin malam masuk dan membawa udara kamar yang busuk. Kupandangi langit luar, oh, sama pekat dan kelamnya dengan perasaanku sekarang.

“Haha… kau bodoh!”

Aku terkejut. Kuamati setiap sudut kamar. Tak ada yang mencurigakan. Kulirik ke luar. Hening.

“Apa aku berhalusinasi?” tanyaku dalam hati.

Tentu saja dalam rungan ini hanya ada aku, detak jam dinding dan seekor cecak. Cecak? Aku menoleh ke langit-langit kamar.

“Bukankah kau mencintainya?”

Hah? Benarkah cecak itu yang berbicara?

“Kenapa kau malah diam di balik pintu sedangkan istrimu bersama laki-laki lain? Lakukanlah sesuatu!”

“Apa?”

“Tonjok saja wajahnya!”

“Itu tidak mungkin. Aku tidak akan melanggar janjiku!”

“Dia juga sudah melanggar janjinya.”

“Janji apa?”

“Janji pernikahan kalian, bodoh!”

Aku terdiam.

“Sekarang kau buka pintu itu dan lihat apa yang sedang dilakukannya!”

Entah kenapa aku malah menuruti ucapan cecak itu. Bergegas aku menuju pintu dan perlahan membukanya. Sengaja aku tidak membukanya lebar, hanya sebatas cukup untukku mengintip. Sekelebat tangan kasar pria itu mendarat di pipi Ningsih, meninggalkan bekas merah. Aku hendak membuka pintu lebih lebar lalu keluar menghajar pria itu. Sayangnya tubuhku tiba-tiba membatu. Bibirku juga kelu. Semakin kuat aku berusaha bergerak, semakin terasa remuk seluruh tubuhku.

    Adegan Keempat

Sebuah ketukan pintu menyadarkanku dari mimpi yang aneh. Ketukannya berulang-ulang hingga menciptakan melodi yang menawan. Dengan lunglai aku berjalan mendekati pintu. Namun, ketika aku sudah lebih dekat, ketukan itu terdengar begitu seram. Aku segera menarik tubuh kebelakang. Menjauhi pintu itu.

“Buka pintunya, Jamal!” ujar suara perempuan.

“Sampai kapan pun Ningsih tidak akan mencintaimu. Ia terpaksa karena tak ingin melukai hati kedua orang tuanya!” timpal suara laki-laki.

Aku mendadak gamang.

“Ceraikan dia sekarang juga. Biarkan dia hidup bahagia bersamaku!”

Tiba-tiba suara perempuan memenggal, “Tidak! Jangan dengarkan dia, Jamal. Aku mencintaimu! Sungguh!”

Langkahku tidak berhenti bergerak mundur. Suara mereka lebih seram dari apa pun yang paling seram. Aku berusaha menutup telinga rapat-rapat. Seketika itu suara mereka mendadak hilang. Suasana kembali sepi dan senyap. Entah adegan apa lagi yang sedang mereka lakukan di balik pintu itu.

Tidak lama sebuah ketukan kembali muncul. Ketukan yang sama seperti sebelumnya. Berulang-ulang dan lembut. Sayup-sayup suara lirih terdengar.

“Tolong buka pintunya, Jamal. Aku mencintaimu.”

Pontang-panting aku naik ke atas ranjang. Lantas menutup telingaku dengan sangat rapat. Jika memang benar ia mencintaiku, kenapa ia tidak pernah mencoba membukanya. Padahal pintu itu tak pernah sekali pun aku kunci.[]

Tags: adegan di balik pintucerpenkesetiaanpernikahanperselingkuhan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Ihwal Mawat

Next Post

Lapangan Tembak

Ede Tea

Ede Tea

lahir di Bogor 1998. Karya-karyanya dimuat di media cetak dan media daring. Cerpennya juga masuk dalam beberapa buku antologi. Merupakan mahasiswa Institut Digital Bisnis Indonesia yang bergabung dengan Komunitas Pembatas Buku Jakarta dan alumni Klinik Menulis. Facebook/Ig : Dede Soepriatna/dhegol27 

Artikel Terkait

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
Cerpen

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti

16 September 2026

Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan...

Tunggul
Cerpen

Tunggul

9 September 2026

Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai...

Cik Dian
Cerpen

Cik Dian

4 August 2026

Aziz Bogel, kawan lamaku di Surabaya, pernah berteori bahwa setiap perempuan bernama “Dian” pasti cantik. “Paling tidak dia pasti manis,”...

Ruang Mimpi
Cerpen

Ruang Mimpi

28 June 2026

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur...

Comments 2

  1. Fred says:
    3 years ago

    Baguuusss …

    Reply
  2. Agus Sutisna says:
    6 years ago

    Keren, aku baru tahu ada judul cerpen seperti itu, dan amazing .. Bisa jadi inspirasi nih.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025
Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

9 May 2026
Bentuk Cinta Paling Tenang dan Tak Ingin Jawab

Bentuk Cinta Paling Tenang dan Tak Ingin Jawab

11 July 2025

Temu Buku dan Sesi Bincang Editor di Yogyakarta

10 March 2024
Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025
Gambar Artikel Syahadat 12 Bar, Puisi Blues

Syahadat 12 Bar

22 January 2021
Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026
Kebanyakan Fafifu

Kebanyakan Fafifu

3 May 2021
Gambar Artikel Kenangan yang Kusimpan Dalam-dalam

Kenangan yang Kusimpan Dalam-dalam

2 November 2020
Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

15 July 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.