“Kalau ingin tahu tentang saya, tanyalah ke Taufiq Ismail. Dia lebih tahu daripada anak-anak saya.” Begitu ucapan Mohammad Diponegoro, dalam tuturan Latief S. Nugraha. Di seberangnya, ada anak perempuan sastrawan yang pulang dari Gontor dan menegur ayahnya: “Pak, mbok jangan nulis kayak gitu [vulgar dan mesum], aku malu.” Demikian Mahfud Ikhwan menerangkan hasil telusurannya atas Motinggo Boesje—sembari tergelak. Dua sosok sastrawan, dua respons anak, dan kesunyian di balik berlembar-lembar karya mereka.
Keterangan tersebut mencuat dalam acara Malam Buku (MaBuk) ke-109 di Warung Sastra yang berlangsung pada Jumat (25/9/2026). Kegiatan malam itu termasuk ke dalam rangkaian “Pekan Kata Warung Sastra” yang membedah sejumlah tokoh sastra Indonesia tahun 1945–1950. Program sepekan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai bagian dari “Penguatan Komunitas Sastra”. Dan pada malam yang membahas Motinggo Boesje (1937–1999) dan Mohammad Diponegoro (1928–1982), forum diisi oleh penulis Mahfud Ikhwan dan Latief S. Nugraha, sementara dosen UNY, Anis Mashlihatin, memandu sebagai moderator.

Tentara yang Memilih Pena
Latief, akamsi Jogja bagian Kulonprogo, mengenalkan Mohammad Diponegoro sebagai cerpenis dan penulis naskah drama kelahiran Suronatan Yogyakarta yang juga putra juragan batik sekaligus tuan tanah. Ia lahir pada 1928 dan wafat pada 1982. Masih remaja, ia sudah ikut perang. Menurut kesaksian putranya, pasca-1948, ia memilih menjadi warga biasa karena melihat militer telah berbeda dari masa perjuangan melawan penjajah. Baik ITB maupun Fisipol UGM tidak Dipo tamatkan. Ia memilih menjadi seniman purnawaktu.
Naskah dramanya, “Iblis” (1961), disebut Latief sebagai embrio teater Muslim era itu. Ada cerpennya yang terkenal, berjudul “Odah”. Pada 1950-an ia bekerja di Perpustakaan Jefferson, dekat Tugu, gedung yang pernah jua menjadi markas PKI. Di situlah tempat ia mengakses bacaan sastra dunia. Ratusan cerpen ia terjemahkan, dan dari 1969 hingga 1982 (tahun meninggalnya), ia membacakannya sebagai sandiwara radio lewat siaran ABC Australia, pada siaran Asia Pacific dalam bahasa Indonesia.
Bundelan naskah dan kasetnya masih tersimpan di rumah ahli waris. Hanya saja, ada ironi yang perlu diketahui khalayak. Sosok Diponegoro amat tertutup di rumahnya sendiri; tak satu pun anaknya tahu ia bekerja apa. “Nulis akeh, siaran radio di Australia, jebul anake wae ora ngerti bapake iki kerjo opo,” tutur Latief seraya tertawa getir. Anis, selaku moderator, menyebut hal tersebut lucu sekaligus sedih.
Dalam hal berkarya, Dipo banyak membahas perang. Tidak hanya perang melawan penjajah (kolonialisme), tetapi juga perang melawan kapitalisme kota, bahkan juga khurafat. Hal terakhir menandai identitasnya sebagai sosok Muslim Muhammadiyah yang asli kelahiran Jogja.
Latief juga menyebut bahwa cerpen-cerpen Diponegoro berlapis, kerap memainkan pandangan modern versus tradisi, mirip dengan cara Kuntowijoyo. Ia pernah menang sayembara Dewan Kesenian Jakarta 1973. Dalam sirkel sastrawan, ia karib dengan Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.
Prodigy ‘Mesum’ yang Menawar Risau
Mahfud, sebagai sesama pendatang dengan Motinggo, membuka dengan kelakar: Motinggo mengklaim dirinyalah yang menemukan istilah “tante girang” dan “om senang.” Kontan penonton terpingkal. Sosok Motinggo datang ke Yogyakarta sebagai mahasiswa hukum yang ingin belajar melukis. Kariernya yang moncer ada di naskah teater “Malam Jahanam”. Mahfud lantas bertutur, “Jadi, kalau sekarang teman-teman tahu Malam Seribu Jahanam, itu utangnya gede ke Motinggo.”
Yang tidak boleh dilupa, Motinggo itu songong, terang sastrawan penulis novel Ulid ini. Ia mengaku sudah mengetik sejak umur lima tahun. Saat Jepang datang, mobil Balai Pustaka yang berkeliling di Lampung diparkir di depan rumahnya. Sopirnya hilang. Lalu, orang-orang mempreteli mobil itu. Ayahnya justru mengangkut lima ribu buku. “Di era itu, jarang ada orang yang bisa membaca dan punya akses ke buku sebanyak itu,” ujar Mahfud menirukan ulang ungkapan Motinggo dalam suatu siaran.
Banyak redaksi yang berebut naskahnya karena Motinggo dianggap menaikkan oplah. Nasjah Djamin bahkan menyebutnya melebihi Pramoedya. Pada 1980-an, ketika novel-novel picisannya yang kebak narasi mesum membanjir, putrinya yang mondok di Gontor menegur. Sejak itu, Motinggo mulai menulis yang lain, termasuk novel berbau keislaman.
Meski begitu, ia tetap dijuluki “sastrawan Minggu Pagi.” Mahfud, dalam hal membaca karya-karya Motinggo, lebih memilih istilah “picisan” ketimbang “pop”. Penulis kelahiran Lamongan ini menduga bahwa Motinggo, yang mumpuni dan tinggi secara teknik menulis, sebetulnya risau. “Aku nulis gini salah, nggak, sih?” Mahfud menafsirkan apa yang dirasakan pengarang asal Lampung tersebut.
Ia menduga bahwa Motinggo risau, terutama karena teman-teman sesama penulis. Dan kerisauan itu bisa terindikasi dari beberapa karyanya yang sering mengutip ngaji, Serat Centhini, hingga Shakespeare, seakan berkata: “Aku iki moco, lho! Aku tahu mana yang baik dan buruk soal bacaan.” Di samping itu, ada pula motif ekonomi, ungkap Mahfud. Ia tak ingin anaknya menderita karena punya bapak penulis. Karena itulah ia menulis sesuatu yang laris, meskipun dicap mesum dan porno.

Iri pada yang Berani Ganti Karier
Sesi tanya jawab dibuka oleh seorang perempuan psikolog dan kader Muhammadiyah. Ia mengaku cemburu dan iri pada Diponegoro yang berani berganti haluan dari tentara menjadi sastrawan. Hari ini, katanya, banyak orang burnout tapi bertahan di posisinya. Gamang dan takut beralih profesi. Ia bertanya kepada Latief apakah Dipo pernah mengalami semacam quarter-life crisis atau rasa waswas ketika memutuskan untuk keluar dari tentara menuju pengarang penuh waktu.
Latief mengaku tak punya cukup informasi soal itu. Ia mengingatkan aspek privilese: Diponegoro dari keluarga berada, juragan batik, dan tuan tanah. Namun begitu, ada ironi di dalamnya, yang mana dari anak-anak Dipo, yang bisa bercerita tentang bapaknya hanya ada satu. Itu pun ceritanya terbatas. Ia hanya menyimpan naskah, mesin tik, dan beberapa benda warisan dari sang bapak. “Mesakke tenan,” ujarnya.
Mahfud menambahkan kisah ‘inspiratif’ tentang seorang tentara yang menjadi novelis, lalu bahkan terpilih menjadi menteri. Ia adalah Nugroho Notosusanto, pamannya Budi Darma. Sebagian audiens yang mengerti langsung terpingkal. Sisanya menyimak.
Malam itu ditutup dengan tawa dan sedikit rasa sedih. Para audiens makin sadar bahwa sejak dahulu telah ada penulis yang produktif dan berkarya serius, namun di jurusan sastra sendiri masih sedikit dikenal; bahkan di rumahnya sendiri pun ia tak dikenali.[*]
_________________________
Catatan Redaksi: Reportase ini merupakan hasil kerja sama dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra” dan Metafor.id menjadi mitra komunitas media di dalamnya.














