Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai besi yang menggerus batang kayu telah lebih dahulu membelah kesunyian. Burung-burung yang dahulu memenuhi langit kini hanya sesekali terdengar, seolah mereka pun mulai lupa bagaimana rasanya bernyanyi di tempat yang dahulu menjadi rumah mereka.
Ali yang baru berusia tiga belas tahun berdiri di beranda rumah panggungnya. Dari kejauhan ia melihat ayahnya memanggul gergaji mesin ke atas bak truk bersama beberapa lelaki lain. Wajah mereka tampak lelah bahkan sebelum bekerja.
“Ayah berangkat dulu,” ujar ayahnya sambil mengenakan topi lusuh.
Ali mengangguk pelan.
“Jangan lupa belajar.”
“Iya, Yah.”
Ayahnya menepuk bahunya.
“Kalau pohon tidak ditebang, kita makan apa?” Kalimat itu begitu sering diucapkan sehingga terdengar seperti doa yang diwariskan turun-temurun.
Truk perlahan bergerak menuju hutan. Tak lama kemudian, suara mesin kembali terdengar, menggantikan nyanyian burung yang semakin jarang membuat sarang.
Dulu, kata orang-orang tua, hutan di belakang kampung begitu rapat sehingga cahaya matahari sulit menembus daun-daun untuk menyentuh tanah. Sungainya jernih. Para rusa dan tikus hutan sesekali turun untuk minum airnya. Orang utan bergelantungan di pucuk-pucuk pohon.
Kini yang tersisa hanyalah jalan-jalan yang dilewati truk pengangkut kayu. Batang-batang besar rebah seperti tubuh raksasa yang tumbang dalam peperangan. Setiap sore iring-iringan truk keluar dar hutan membawa gelondongan kayu yang disusun rapi. Orang-orang berdiri di tepi jalan menghitung muatan.
Sebaliknya, tak ada yang menghitung berapa sarang burung dan tupai yang ikut jatuh. Tak ada yang mencari ke mana perginya kawanan monyet yang dahulu memenuhi pepohonan. Yang penting, kayu berhasil sampai ke kota.
***
Suatu pagi, Bu Putri, guru IPA, membawa beberapa lembar daun kering ke kelas.
“Minggu depan kalian membuat herbarium.”
Anak-anak bersorak.
“Carilah daun sebanyak mungkin. Tapi jangan merusak tanaman. Ambil yang sudah gugur kalau bisa.”
Sepulang sekolah, Ali membawa buku catatan dan kantong kain. Ia berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Semakin jauh ia melangkah, semakin sunyi suasana di sekelilingnya. Ia menemukan banyak tunggul pohon yang masih mengeluarkan aroma getah.
Di beberapa tempat, tanah tampak terbuka tanpa naungan. Ketika sedang memungut sehelai daun pakis, ia mendengar suara lirih. Itu bukan suara burung, bukan juga suara serangga. Suara tangisan kecil.
Ali mendekati sumber suara itu. Di balik semak-semak, ia menemukan seekor anak orangutan yang bulunya dipenuhi lumpur. Matanya begitu besar dan bulunya kusut. Anak orang utan itu memeluk sepotong ranting seolah ranting itu adalah pelukan terakhir yang dimilikinya. Ali mendekat perlahan.
“Hei…”
Anak orangutan itu mundur beberapa langkah. Ali mengeluarkan pisang dari tas bekalnya. “Habis ini aku pulang. Kamu makan dulu,” katanya kepada anak orang utan itu.
Orang utan kecil itu akhirnya mengambil pisang tersebut dengan tangan gemetar. Ali memandang ke atas dan sekelilingnya. Tidak ada pohon besar. Tidak ada induk orang utan yang memanggil. Hanya terlihat langit yang luas tak berujung.
Sejak hari itu, Ali diam-diam kembali ke tempat yang sama. Ia membawa buah, kadang susu, dan kadang hanya air. Ali memberi nama anak orang utan itu Biru.
“Kenapa Biru?” tanya Bu Putri suatu hari ketika tanpa sengaja melihat orang utan di buku Ali.
“Karena matanya sedih seperti langit sebelum hujan.”
Bu Putri tersenyum.
“Namanya bagus.”
Ali tidak menceritakan bahwa Biru benar-benar ada. Ia takut orang dewasa akan membawanya pergi.
***
Suatu sore, beberapa mobil bertuliskan Balai Konservasi Hutan datang ke desa. Mereka mengadakan penyuluhan. Seorang polisi hutan memperlihatkan foto-foto satwa liar.
“Hutan bukan sekadar kumpulan pohon,” katanya.
“Hutan adalah rumah.” Ia menunjuk gambar lain.
“Kalau rumah ini hilang, bukan hanya pohonnya yang pergi. Burung kehilangan tempat bersarang. Orang utan kehilangan induknya. Sungai kehilangan air. Tanah kehilangan akar.”
Ali mendengarkan tanpa berkedip. Sepulang dari acara, ia memberanikan diri menghampiri petugas.
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau ada anak orang utan sendirian, harus bagaimana?”
Petugas itu menatapnya serius. “Kamu melihatnya?”
Ali ragu beberapa saat, lalu mengangguk.
Keesokan harinya ia mengantar petugas ke tempat Biru berada. Mereka memasang kamera pemantau dan mulai mencari keberadaan induknya. Sayangnya, tak ada jejak.
“Hutan di sekitar sini sudah terlalu rusak,” kata salah seorang petugas. Ali menunduk.
Sejak itu, Ali membantu petugas konservasi. Ia belajar mengenali jejak rusa. Belajar membedakan suara burung-burung. Belajar bahwa akar pohon mampu menyimpan air hujan jauh lebih banyak daripada bendungan kecil. Ia juga mengetahui sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Orang utan membutuhkan puluhan tahun agar sebuah hutan benar-benar menjadi rumah. Sementara sebuah gergaji hanya memerlukan beberapa menit untuk menghilangkannya.
Di rumah, ayah Ali justru semakin sibuk. Sebuah perusahaan kayu memberikan proyek penebangan baru.
“Kalau proyek ini selesai, kita bisa ganti atap rumah,” kata ayahnya dengan wajah berbinar.
“Atau beli motor.”
Ibu tersenyum bahagia. Ali ikut tersenyum. Namun senyum itu terasa berat. Malam harinya ia menuangkan susu ke botol kecil untuk Biru. Sebelum berangkat, ia melihat beberapa lembar uang di atas meja.
“Itu buat beli susu?” tanya ibunya.
“Iya.”
“Ambil saja.”
Ali mengambilnya perlahan. Tangannya mendadak terasa dingin. Uang yang dipakainya untuk membeli susu berasal dari batang-batang pohon yang beberapa hari lalu masih menjadi tempat Biru bergelantungan. Setiap teguk susu yang diminum orang utan kecil itu seolah dibayar dengan hilangnya sepotong hutan.
***
Musim berganti. Suara gergaji semakin sering terdengar. Bukit-bukit mulai tampak botak. Jika hujan turun, air berubah cokelat. Sungai membawa ranting, lumpur, bahkan batang pohon.
Suatu malam Ali berkata kepada ayahnya, “Yah… apa kita tidak bisa mencari pekerjaan lain?”
Ayahnya berhenti makan.
“Lalu kita hidup dari apa?”
“Hutannya makin sedikit.”
Ayahnya menghela napas panjang. “Yang menebang bukan cuma Ayah.”
“Tapi Ayah ikut.”
Ibu yang sedang di dapur menyela. “Sudahlah. Jangan bertengkar.”
Ayah memandang Ali. “Kamu masih kecil. Kamu belum tahu susahnya mencari makan.”
Ali menunduk. Mungkin benar, pikirnya. Namun, ia mulai memahami bahwa lapar tidak selalu datang karena tidak ada makanan. Kadang ia datang karena manusia terlalu lama menghabiskan tempat tumbuhnya makanan.
Awal musim hujan tahun itu terasa berbeda. Hujan turun tanpa jeda selama tiga hari. Tanah yang telah kehilangan pepohonan tidak lagi mampu menahannya. Malam keempat, terdengar suara gemuruh dari arah bukit. Mula-mula pelan. Lalu semakin longsor.
“Longsor!” teriak seseorang.
Orang-orang berhamburan keluar rumah. Bukit yang selama bertahun-tahun ditebangi akhirnya runtuh. Lumpur, batu, dan gelondongan-gelondongan kayu meluncur bersama air. Rumah-rumah tersapu. Jalan desa menghilang. Jeritan bercampur suara hujan. Ali menggenggam tangan ibunya.
“Ayah belum pulang!”
Ayahnya memang masih berada di lokasi penebangan. Ali berlari sekuat tenaga menuju bukit, tetapi petugas menahannya.
“Jangan ke sana!”
“Ayahku masih di atas!”
Pagi harinya tim SAR menemukan beberapa pekerja. Sebagian selamat, sebagian tidak pernah kembali. Ayah Ali termasuk salah satu yang ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, tertimbun tanah bersama pohon-pohon yang sehari sebelumnya hendak ditebang.
Ali memandangi wajah ayahnya untuk terakhir kali. Baru saat itu ia mengerti. Selama ini mereka mengira sedang mengambil kehidupan dari hutan. Padahal, hutan diam-diam sedang menjaga kehidupan mereka.
***
Tahun-tahun berlalu. Bekas lokasi penebangan berubah menjadi hamparan tanah merah. Tak ada lagi truk pengangkut kayu. Tidak ada lagi suara gergaji. Yang terdengar hanyalah desir angin melintasi bukit gundul.
Ali tumbuh dewasa. Ia mewujudkan cita-citanya menjadi polisi hutan. Seragam hijau yang dikenakannya terasa lebih berat daripada kainnya sendiri karena membawa kenangan yang tidak ringan.
Suatu pagi, ia memimpin kegiatan penanaman pohon di bekas kawasan penebangan. Anak-anak sekolah ikut membawa bibit. Mereka tertawa ketika tangan mereka kotor oleh tanah. Ali tersenyum. Barangkali beginilah suara hutan yang memulai hidupnya kembali.
Di tengah area itu ia menemukan sebuah tunggul tua yang mulai lapuk. Permukaannya dipenuhi lumut. Bekas sayatan gergaji masih tampak jelas. Entah mengapa ia merasa mengenali tempat itu. Mungkin di sinilah ayahnya pernah bekerja.
Ali berlutut. Ia menggali tanah di samping tunggul tersebut. Lalu menanam satu bibit meranti. Seorang murid bertanya, “Pak, kapan pohon ini sebesar dulu?”
Ali memandang bibit kecil yang baru ditanam.
“Mungkin tiga puluh atau empat puluh tahun lagi.”
“Lama sekali.”
Ali mengangguk. “Ya.”
Anak itu kembali bertanya, “Kalau menebangnya?”
Ali terdiam sesaat. “Lima menit juga cukup.”
Anak-anak mendadak sunyi. Angin bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun muda yang bahkan belum cukup besar untuk menaungi siapa pun. Ali menepuk tanah di sekitar bibit itu dengan kedua telapak tangannya. Ia tahu pohon kecil itu mungkin baru akan menjadi hutan ketika rambutnya telah memutih.
Namun, seseorang harus memulai, sebab hutan tidak pernah lahir dari satu pohon yang tumbuh dalam semalam. Ia tumbuh dari kesediaan manusia memperbaiki apa yang dahulu mereka rusak, meski hasilnya mungkin baru dinikmati oleh generasi yang belum sempat mereka kenal.
Di hadapan tunggul tua peninggalan masa lalu, bibit kecil itu berdiri tanpa suara. Begitulah harapan bekerja. Ia selalu tumbuh jauh lebih lambat daripada kesalahan yang pernah dibuat manusia.[]














