Angin deras menerpa wajah kami begitu kami turun dari mobil charteran. Ia melipur gerah di tengah terik kemarau ekstrem tahun ini tepat ketika kami berjalan seraya disambut tulisan berlatar seng yang berbunyi: “#Ojo Isin Tumindak Becik.” Artinya “jangan malu berbuat baik” dengan huruf “n” di kata “Isin” yang sudah terlepas dari tempatnya. Bukti bahwa usianya tidak muda lagi.
Tiga orang menghampiri dan menyalami kami, perwakilan dari Warung Sastra. Mereka adalah Mas Kuwat, Mas Yana, dan Mbak Pinastika, pendiri dan pengurus Taman Baca Masyarakat (TBM) Jembatan Edukasi Siluk, sebuah lembaga inisiatif literasi sipil yang berada di dekat Jembatan Siluk, dan bersisian dengan Sungai Oya, Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul.
Sabtu itu (19/09/2026), sebagai rangkaian program Pekan Kata Warung Sastra, ada satu kegiatan bernama “Jembatan Literasi”. Kegiatan ini berisi kunjungan dan penyerahan donasi buku hasil kerja sama antara Warung Sastra dengan dukungan Kementerian Kebudayaan. Total buku yang didonasikan senilai 10 juta rupiah, merentang dari jenis novel, cerita anak, majalah, puisi, dan dongeng rakyat.

Dari Sampah ke Taman Baca
“Awalnya dulu di kolong jembatan itu, sekitar 2014. Modalnya kita keliling kumpulin sampah, terus setelah uangnya dapat, baru kita bikin taman baca di bawah jembatan itu,” ujar Mas Kuat (48) seraya ujung telunjuknya mengarah ke Jembatan Siluk.
Di dalam pendopo limasan tempat ribuan buku berjajar itu, seniman perupa jebolan Seni Murni ISI Yogyakarta ini mengisahkan bahwa dulu kolong jembatan dan sungai sering menjadi tempat warga membuang sampah sembarangan. Berangkat dari kegelisahan, Kuat pun mengajak para pemuda desa untuk membersihkannya. “Setelah bersih, bingung njur nggo ngopo? [Mau dipakai apa?] Akhirnya ya bikin kegiatan dan taman baca, jadi warga pun akan risih juga kalau mau buang sampah ke situ,” jelasnya sambil tersenyum kecil.

Perjalanan pun sempat berbuah manis. Lebih dari 3.000 buku ia koleksi di taman baca di bawah jembatan. Ada juga kegiatan belajar, melukis, dan bercerita yang secara aktif melibatkan anak-anak sekitar. Semua itu bermula dari inisiatif memungut sampah, melibatkan para pemuda, dan aturan bersahaja di mana anak-anak bisa membaca dengan menyetorkan botol plastik bekas.
Namun, baru sekitar 3 tahun berjalan, muncul tragedi yang menimpa Mas Kuat dan kawan-kawan Jembatan Edukasi Siluk. Pada November 2017, permukaan Sungai Oya naik drastis dan lekas menghanyutkan hampir semuanya. “Banjir besar waktu itu, habis sudah,” tuturnya. Dalam catatan Kompas (5/1/2023) Mas Kuat menyebut bahwa dalam kurun waktu hanya dua jam, semua itu raib. Tersisa tinggal satu rak yang tadinya ada tiga. Semua kursi, kerajinan anak-anak, dan alat tulis lenyap seluruhnya.
Kendati begitu, rasa kepedulian terhadap gerakan literasi dan anak-anak tetap membuat para pengurus komunitas yang kini juga memiliki Sekolah Sungai Siluk ini berhasil kembali bangkit. Partisipasi, dukungan, dan rasa memiliki dari warga pun ikut andil dalam hal itu. “Karena modal kami dulu keliling ngumpul sampah tadi, semua yang ikut akhirnya merasa memiliki ini. Karena ‘wah aku ndisek ngumpuli sampah kok’ [saya dulu ikut mengumpulkan sampah kok]. Akhirnya makin ke sini, ya, masyarakat dan anak-anak percaya,” terang Mas Kuat kepada kami.
Salah satu aspek lain yang menjadi napas dan semangat untuk melanjutkan gerakan ini adalah niat untuk menjadi bermanfaat bagi sesama. “Ya, karena berawal dari prinsip pribadi ya, kan sebaik-baiknya manusia itu yang bisa bermanfaat bagi sekitarnya,” ujar Mas Yana, salah seorang pengurus aktif yang sudah terlibat sejak 2014.

Usai petaka banjir tersebut, Mas Kuat masih bertahan di kolong jembatan selama lebih dari setahun sambil membersihkan lumpur tebal. Di saat yang sama, ia sudah berpikir untuk mencari lokasi baru. Khawatir peristiwa serupa terjadi kembali.
Walhasil, TBM Jembatan Siluk pun berpindah dari semula di bawah jembatan menuju ke area pinggir sungai. Berbekal bantuan dari dana tanggung jawab sosial perusahaan PT PLN, pada 2019, mereka berhasil menyewa lahan, tanah kas desa seluas 220 meter persegi, untuk durasi 20 tahun dengan perjanjian hitam di atas putih. Lahan dan bangunan baru pun akhirnya memberi napas baru bagi Mas Kuat dan teman-temannya untuk melanjutkan gerakan.

Asal Anak Pegang Buku, Kami Sudah Senang
Dalam mengelola taman bacanya, kebebasan menjadi prinsip utama yang para pengurus pegang erat. “Di sini kan kubebaskan, mau buku rusak atau mau apa pun itu monggo. Yang penting anak hari ini mau megang buku aja, kita sudah senang.” Demikian tutur Mas Kuat.
Ungkapannya tersebut pun berlanjut ke pengakuannya tentang koleksi perpustakaan mereka. Koleksi yang berjumlah 7.000-an buku, begitu didata kembali, tersisa 4.000-an. Mas Kuat tidak gusar akan hal tersebut. “Jadi yang tiga ribu ya udah itu berarti disukai,” candanya sambil tertawa.
Baginya, di zaman di mana anak-anak sulit fokus karena rentang perhatian makin menyusut akibat konten-konten berdurasi pendek 15-30 detik, kemauan membaca buku saja itu sudah luar biasa. Dalam kesaksiannya, para orang tua setelah pandemi Covid-19 sudah merasa senang kalau anaknya ikut dan aktif dalam kegiatan di Jembatan Edukasi Siluk. Itu karena bagi mereka, tiga sampai empat jam anak sudah lupa handphone merupakan sebuah hal yang patut disyukuri.
Karya Anak-Anak, Kebanggaan Orang Dewasa
Saat mengedarkan pandang ke sekitar kompleks TBM ini, ada yang mencuri perhatian. Beberapa ban motor bekas disulap menjadi ornamen hiasan puspawarna dengan aksara Jawa terlukis di dalamnya, berjajar di sekitar halaman dan tiang rumah-rumah kayu. Semua itu hasil karya anak-anak.
Di dekatnya, sebuah komidi putar mini dari rangkaian besi tampak telah menunaikan tugasnya menjadi wahana tempat puluhan anak bermain selama bertahun-tahun. Kursi dan meja kayu bercat putih tertata di latar luar. Mereka seperti tepekur rapi di depan panggung dari papan kayu setinggi lutut orang dewasa.
Sore itu, panggung kecil itu sedang dipakai. Ia melayani langkah-langkah kaki dari anak-anak yang tengah berlatih tari, bersama embusan angin di tepian sungai. Mereka sedang bersiap untuk pementasan tari “Laku Wening” yang koreografinya adalah hasil kreasi komunitas sendiri. Rencananya, tari itu akan ditampilkan di acara puncak festival mereka pada Oktober mendatang.
“Kalau anak-anak pentas tari, difoto, wah, itu orang tuanya bangga luar biasa,” ungkap Mas Kuat. Tak jarang, para orang tua mereka mengunggah foto anak-anaknya yang berbusana lengkap di story WA. Tampak bungah tenan.

Tujuh yang Tersisa, dan Alasan Harus “Warlok”
Bermula sejak 2014, alias lebih dari satu dekade silam, TBM ini bermula dari 21 orang penggerak dan kini menyusut menjadi tujuh orang yang solid dan aktif. Ibarat proses mengayak pasir, Mas Kuat memberi metafor, yang tersisa inilah yang terpilih dan bertahan.
Soal siapa yang boleh masuk ke jajaran pengurus inti, Mas Kuat punya prinsip tegas: harus warga lokal. “Kalau saya, harus orang sini, Mas. Kalau orang luar, kita ada namanya relawan. Takutnya gini, mohon maaf, kita kan wong ndeso, ya, kalau nanti ada orang luar masuk ke pengurus inti, nanti kita akan kalah soal konsep dan ide-idenya. Pasti itu. Makanya kita batasi orang luar ke posisi relawan, untuk pengurus inti ya warga sini sendiri,” terangnya.

Regenerasi, menurut Kuat, menjadi PR terbesar. Alumni tertua taman baca ini kini sudah duduk di kelas 2 SMA. “Cuma kan yang menjadi PR kami adalah bagaimana anak-anak yang dulu alumni sini, yang sudah lulus SMA, itu kita rangkul agar mau mengajar di sini,” harapnya. Proses menjadi pengurus inti pun tidak instan. Seseorang tersebut harus melewati masa relawan lebih dulu. Selama 1 tahun. Setelahnya, baru bisa kami ajak ke pengurus ini. “Nah, itu para pemuda kan banyak yang tidak sampai melewati proses itu. Kalau ada open volunteer, itu banyak yang daftar, tapi kan pengennya cuma 3-4 bulan, habis itu tidak ikut lagi,” ujar Kuat.
Kiat Agar Berumur Panjang
Bertahan lebih dari satu dekade tidaklah mudah. Menurut Mas Kuat, ada kiat yang sederhana tapi cukup berat saat dijalani: harus ada yang mau berkorban. “Kalau setiap komunitas itu sama saja sebenarnya, ya, Mas. Kita kan juga sering berkomunitas, ya, tetap itu pasti harus ada satu-dua orang yang berkorban. Misal dalam berkomunitas ada masalah sedikit, kalau nggak ada satu orang yang bisa berkorban dan merangkul, ya akhirnya bisa terjadi: bubar.”
Ia meneruskan, “Terus di sini keuangan terbuka, siapa pun bisa akses jumlah, tapi tidak bisa menggunakan itu. Saya sendiri pernah belajar, ya, kalau di komunitas itu kalau bukan masalah uang, pasti ya masalah pacar. Dua itu,” tuturnya sepenuh yakin.

Di tengah dinamika pasang surut dan ujian banjir yang mereka alami. TBM Jembatan Edukasi Siluk berhasil bertahan dan terus berupaya dalam gerakan literasi, seni, dan budaya. Berbekal partisipasi kolektif, ruang literasi menjadi hidup dan merasa dimiliki bersama. Warga juga ikut membantu dengan caranya sendiri; para pemuda ikut membantu parkiran, menjadi relawan, hingga ibu-ibu memasak dan rewang begitu ada kegiatan yang berlangsung. “Enaknya di desa gitu sih. Mode otomatis, langsung ikut bantu,” ujar Kuat.
Mengingat kerja kolektif itulah, selama lebih dari sebelas tahun berjalan, taman baca ini tetap hadir untuk anak-anak. Dari yang semula dipicu oleh sampah di kolong jembatan, kini menjadi wahana tempat anak-anak berlatih tari pada Sabtu sore bersama angin Sungai Oya yang terus berembus, seolah tak pernah lelah melipur gerah.[*]
_______________________________
Catatan Redaksi: Reportase ini merupakan hasil kerja sama dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra” dan Metafor.id menjadi mitra komunitas media di dalamnya.














