Di era makin mencuatnya keberadaan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), kita makin mendapati kegelisahan demi kegelisahan dalam hidup. Perdebatan yang tak pernah usai terjadi: dua sisi dalam menyikapi keberadaan AI, antara menerima dan menolak. Namun, ada satu hal yang absen dalam perbalahan wacana itu, yakni pembabaran terkait tubuh dalam konstelasi kecepatan teknologi yang terjadi.
Kita agak lega atas ketekunan F. Budi Hardiman dalam mendakwahkan filsafat untuk mengerti analisis mutakhir kompleksitas AI yang makin mengkhawatirkan. Di buku Tubuh yang Mengetahui: Belajar dari Fenomenologi di Era Mesin Meniru Segalanya (2026), dia banyak menawarkan pembacaan itu. Dengan mendasarkan pada kerangka fenomenologi, Hardiman mendedahkan lapis demi lapis titik masalah yang dihinggapi manusia atas perkembangan AI.
AI dalam Lintasan Sejarah
Perlu diketahui, konstelasi AI berjalan linier dengan perkembangan teknologi digital dalam peradaban virtual. Dalam irisannya, AI memuat transformasi dari perkembangan digital. Dahulu, saat kemunculan teknologi macam komputer dan internet, banyak pemikir menaruh kekhawatiran akan ancaman dehumanisasi. Pernah terbit buku garapan Mark Slouka, dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Ruang yang Hilang: Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan (Mizan, 1999).
Slouka menyigi secara kritis atas realitas dalam peradaban jagat maya. Ada hal yang menarik: dia mempersoalkan keterasingan tubuh. Tulisnya begini:
“Era baru evolusi manusia akan dicanangkan. Kita akan tercerai dari tubuh, jiwa kita akan merasuki komputer yang mampu mewujudkan imajinasi kita (atau memungkinkan kita “mengalami” imajinasi orang lain), dan kita akan bersua dalam dunia maya dengan kaidah-kaidahnya sendiri.”
Mungkin saja Hardiman belum pernah membaca buku Slouka itu, tapi pernyataan yang menyibak pembacaan masa kelimpungan berteknologi itu nyata pada hari ini. Pernyataan itu secara tersirat juga diyakininya di buku, dengan meluaskan cakupan perkembangan pasca-komputerisasi dan internet. Keresahan tergambarkan di penjelasannya: “Di zaman kita, ketika AI berpikir untuk kita, tubuh dianggap tidak berpikir dan diperlakukan hanya sebagai fungsi pendukung berpikir sehingga perannya untuk keseluruhan keberadaan kita mulai diabaikan” (halaman 15).
Pengabaian Tubuh
Banyak manusia terseret pada pengabaian tubuh dengan dasar memaknai keberadaan AI sebagai narasi tunggal: peranti yang memudahkan segala tugas dan pekerjaan. Namun, diam-diam normalisasi cara berpikir itu melenakan “aspek kemanusiaan” itu sendiri. Pengandaian kecepatan tanpa batas dan tanpa permenungan sebagai refleksi justru berdampak serius. Kita tahu, gejala macam penurunan kemampuan berpikir, hidup dalam politik layar gawai, serta kecanduan teknologi digital makin meruyak.
Di posisi itu, Hardiman ingin mengembalikan pemaknaan terhadap AI dengan mengajak kita merenungi definisi tubuh. Satu hal yang didasarkan adalah keunikan dari manusia itu sendiri, yang mana dia memiliki sisi kecerdasan yang berbeda ketimbang AI. “AI bukan naturae rationalis karena ia hanya menyimulasikan rasionalitas, tidak berkesadaran diri, dan kecerdasannya tidak substansial (tidak berasal dari dirinya)” (halaman 142).
Keterangan itu agaknya menjadi sebuah penegasan: dengan segala keterbatasannya, manusia perlu menimbang jauh akan cara mengikat diri pada mesin cerdas. Menyerahkan semua tugas maupun pekerjaan kepada AI bisa menjadi sebuah jebakan yang menjadikan kita berkesudahan (baca: menyerah) terhadap proses berpikir. Di sini AI memiliki celah kelemahan dalam beberapa hal, yang itu hanya dimiliki manusia, seperti bela rasa, spiritualitas, moralitas, dan kreativitas.
Mencari Makna Kembali
Di banyak uraian dalam bukunya, kelihatannya memang Hardiman dominan memosisikan manusia sebagai subjek yang diandaikan. Artinya, cara pandang antroposentrisme dalam analisisnya sangatlah kuat. Irisan yang sejatinya ingin dia tekankan adalah manusia kembali pada filsafat dan pengetahuan—dengan menaruh jeda untuk membangun kerangka refleksi—guna mencari makna dalam kehidupan yang kompleks ini.
Makna itu didasarkan pada pembalikan hakikat tubuh. Di perenungan tubuh itu, manusia bisa mengerti nilai-nilai humanisme yang terus perlu dipegang. “Tubuh adalah sarana kita untuk memahami suatu dunia, termasuk dunia makna” (halaman 243). Kalimat itu agaknya menjadi penegasan darinya bahwa dengan pemahaman akan tubuh, manusia dengan sendirinya menyadari bahwa asumsi kemajuan di era kini menyisakan satu hal: di sana terdapat ruang kosong yang memerlukan manusia dengan segenap pencarian makna.
Sayangnya, Hardiman tak banyak menyoal keterhubungan manusia terhadap alam. Sebab konstruksi teknologi termajukan macam AI menguatkan fakta, itu adalah cara manusia melawan determinisme alam. Artinya, ada satu konsekuensi yang patut dipikirkan tentang rancang bangun manusia membangun teknologi itu berkemungkinan mengalienasikan manusia dari alam. Seperti halnya pernah diutarakan oleh Karen Armstrong dalam Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam (Mizan, 2023).
Armstrong mengkritik bagaimana rasionalitas teknologi, selain mengantarkan manusia mendapati keterasingan (alienasi), juga menempatkannya makin terjauhkan dari alam. Konstruksi itu kemudian mengantarkan Armstrong untuk memberi tawaran bahwa di era kini, untuk memulihkannya itu dengan menilik kembali nilai maupun ajaran dahulu yang dalam konteks modernitas sering diremehkan dengan sematan “mitos”.
Kalakian, dari keseluruhan gagasan F. Budi Hardiman dalam karya terbarunya itu memang mendekam sisi kelemahan. Namun, yang perlu kita pahami dia telah menawarkan sebuah pendekatan yang amat dibutuhkan untuk mengerti sebuah gejala kemanusiaan dalam konteks kini. Dari sana, Hardiman tidak mengisi lakon pengkhotbah filsafat yang beku, tapi mengajak kita memasuki percakapan panjang serta memantik daya pikir, imajinasi, dan kreativitas untuk merefleksikan tubuh dalam konteks kecerdasan buatan.[]
___________________________
Identitas Buku:
Judul : Tubuh yang Mengetahui: Belajar dari Fenomenologi di Era Mesin Meniru Segalanya
Penulis : F. Budi Hardiman
Penerbit : Kanisius
Ukuran : 15 x 21 cm; 268 halaman
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Maret, 2026
ISBN : 978-979-21-8668-0














