• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 02 November 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Memikirkan Tubuh di Era Kecerdasan Buatan

Joko Priyono by Joko Priyono
21 October 2026
in Resensi
0
Memikirkan Tubuh di Era Kecerdasan Buatan

Sampul buku "Tubuh yang Mengetahui" karya F. Budi Hardiman | Sumber: dok. pribadi penulis (Joko Priyono)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Di era makin mencuatnya keberadaan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), kita makin mendapati kegelisahan demi kegelisahan dalam hidup. Perdebatan yang tak pernah usai terjadi: dua sisi dalam menyikapi keberadaan AI, antara menerima dan menolak. Namun, ada satu hal yang absen dalam perbalahan wacana itu, yakni pembabaran terkait tubuh dalam konstelasi kecepatan teknologi yang terjadi.

Kita agak lega atas ketekunan F. Budi Hardiman dalam mendakwahkan filsafat untuk mengerti analisis mutakhir kompleksitas AI yang makin mengkhawatirkan. Di buku Tubuh yang Mengetahui: Belajar dari Fenomenologi di Era Mesin Meniru Segalanya (2026), dia banyak menawarkan pembacaan itu. Dengan mendasarkan pada kerangka fenomenologi, Hardiman mendedahkan lapis demi lapis titik masalah yang dihinggapi manusia atas perkembangan AI.

AI dalam Lintasan Sejarah

Perlu diketahui, konstelasi AI berjalan linier dengan perkembangan teknologi digital dalam peradaban virtual. Dalam irisannya, AI memuat transformasi dari perkembangan digital. Dahulu, saat kemunculan teknologi macam komputer dan internet, banyak pemikir menaruh kekhawatiran akan ancaman dehumanisasi. Pernah terbit buku garapan Mark Slouka, dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Ruang yang Hilang: Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan (Mizan, 1999).

Slouka menyigi secara kritis atas realitas dalam peradaban jagat maya. Ada hal yang menarik: dia mempersoalkan keterasingan tubuh. Tulisnya begini:

“Era baru evolusi manusia akan dicanangkan. Kita akan tercerai dari tubuh, jiwa kita akan merasuki komputer yang mampu mewujudkan imajinasi kita (atau memungkinkan kita “mengalami” imajinasi orang lain), dan kita akan bersua dalam dunia maya dengan kaidah-kaidahnya sendiri.”

Mungkin saja Hardiman belum pernah membaca buku Slouka itu, tapi pernyataan yang menyibak pembacaan masa kelimpungan berteknologi itu nyata pada hari ini. Pernyataan itu secara tersirat juga diyakininya di buku, dengan meluaskan cakupan perkembangan pasca-komputerisasi dan internet. Keresahan tergambarkan di penjelasannya: “Di zaman kita, ketika AI berpikir untuk kita, tubuh dianggap tidak berpikir dan diperlakukan hanya sebagai fungsi pendukung berpikir sehingga perannya untuk keseluruhan keberadaan kita mulai diabaikan” (halaman 15).

Pengabaian Tubuh

Banyak manusia terseret pada pengabaian tubuh dengan dasar memaknai keberadaan AI sebagai narasi tunggal: peranti yang memudahkan segala tugas dan pekerjaan. Namun, diam-diam normalisasi cara berpikir itu melenakan “aspek kemanusiaan” itu sendiri. Pengandaian kecepatan tanpa batas dan tanpa permenungan sebagai refleksi justru berdampak serius. Kita tahu, gejala macam penurunan kemampuan berpikir, hidup dalam politik layar gawai, serta kecanduan teknologi digital makin meruyak.

Di posisi itu, Hardiman ingin mengembalikan pemaknaan terhadap AI dengan mengajak kita merenungi definisi tubuh. Satu hal yang didasarkan adalah keunikan dari manusia itu sendiri, yang mana dia memiliki sisi kecerdasan yang berbeda ketimbang AI. “AI bukan naturae rationalis karena ia hanya menyimulasikan rasionalitas, tidak berkesadaran diri, dan kecerdasannya tidak substansial (tidak berasal dari dirinya)” (halaman 142).

Keterangan itu agaknya menjadi sebuah penegasan: dengan segala keterbatasannya, manusia perlu menimbang jauh akan cara mengikat diri pada mesin cerdas. Menyerahkan semua tugas maupun pekerjaan kepada AI bisa menjadi sebuah jebakan yang menjadikan kita berkesudahan (baca: menyerah) terhadap proses berpikir. Di sini AI memiliki celah kelemahan dalam beberapa hal, yang itu hanya dimiliki manusia, seperti bela rasa, spiritualitas, moralitas, dan kreativitas.

Mencari Makna Kembali

Di banyak uraian dalam bukunya, kelihatannya memang Hardiman dominan memosisikan manusia sebagai subjek yang diandaikan. Artinya, cara pandang antroposentrisme dalam analisisnya sangatlah kuat.  Irisan yang sejatinya ingin dia tekankan adalah manusia kembali pada filsafat dan pengetahuan—dengan menaruh jeda untuk membangun kerangka refleksi—guna mencari makna dalam kehidupan yang kompleks ini.

Makna itu didasarkan pada pembalikan hakikat tubuh. Di perenungan tubuh itu, manusia bisa mengerti nilai-nilai humanisme yang terus perlu dipegang. “Tubuh adalah sarana kita untuk memahami suatu dunia, termasuk dunia makna” (halaman 243). Kalimat itu agaknya menjadi penegasan darinya bahwa dengan pemahaman akan tubuh, manusia dengan sendirinya menyadari bahwa asumsi kemajuan di era kini menyisakan satu hal: di sana terdapat ruang kosong yang memerlukan manusia dengan segenap pencarian makna.

Sayangnya, Hardiman tak banyak menyoal keterhubungan manusia terhadap alam. Sebab konstruksi teknologi termajukan macam AI menguatkan fakta, itu adalah cara manusia melawan determinisme alam. Artinya, ada satu konsekuensi yang patut dipikirkan tentang rancang bangun manusia membangun teknologi itu berkemungkinan mengalienasikan manusia dari alam. Seperti halnya pernah diutarakan oleh Karen Armstrong dalam Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam (Mizan, 2023).

Armstrong mengkritik bagaimana rasionalitas teknologi, selain mengantarkan manusia mendapati keterasingan (alienasi), juga menempatkannya makin terjauhkan dari alam. Konstruksi itu kemudian mengantarkan Armstrong untuk memberi tawaran bahwa di era kini, untuk memulihkannya itu dengan menilik kembali nilai maupun ajaran dahulu yang dalam konteks modernitas sering diremehkan dengan sematan “mitos”.

Kalakian, dari keseluruhan gagasan F. Budi Hardiman dalam karya terbarunya itu memang mendekam sisi kelemahan. Namun, yang perlu kita pahami dia telah menawarkan sebuah pendekatan yang amat dibutuhkan untuk mengerti sebuah gejala kemanusiaan dalam konteks kini. Dari sana, Hardiman tidak mengisi lakon pengkhotbah filsafat yang beku, tapi mengajak kita memasuki percakapan panjang serta memantik daya pikir, imajinasi, dan kreativitas untuk merefleksikan tubuh dalam konteks kecerdasan buatan.[]

___________________________

Identitas Buku:

Judul               : Tubuh yang Mengetahui: Belajar dari Fenomenologi di Era Mesin Meniru Segalanya

Penulis            : F. Budi Hardiman

Penerbit          : Kanisius

Ukuran            : 15 x 21 cm; 268 halaman

Tahun Terbit   : Cetakan Pertama, Maret, 2026

ISBN                : 978-979-21-8668-0

Tags: bukuf budi hardimanjoko priyonokecerdasan buatanresensi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya

Next Post

Lelaki yang Menyimpan Hujan di Saku dan Puisi Lainnya

Joko Priyono

Joko Priyono

Fisikawan Partikelir dan Budayawan. Penulis Buku "Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan" (2025)

Artikel Terkait

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
Resensi

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

31 May 2026

Manusia, sebagai wujud paling aktual dari proses evolusi Homo sapiens, menjadi makhluk unggul di bumi era ini bukan karena ia...

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
Resensi

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

3 April 2026

Memasuki tahun 2026 ini, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan pelik. Lebih seperempat abad usia reformasi belum mampu...

Membaca Rute Evolusi Otak Kita
Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ...

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

26 December 2020
Kandang Menjangan Menggugat dan Puisi Lainnya

Kandang Menjangan Menggugat dan Puisi Lainnya

5 April 2024
Soledad

Soledad

7 September 2021
Facebook, Penyair, dan Lunatisme

Facebook, Penyair, dan Lunatisme

17 February 2021
Tamu

Tamu

10 July 2022
Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026
Bagaimana Laut Membuang Masa Kanak dan Remajamu?

Bagaimana Laut Membuang Masa Kanak dan Remajamu?

25 February 2021
Gambar Artikel Puisi Aku Telah Bermimpi

Aku (Telah) Bermimpi

26 January 2021
Gambar Artikel Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

Pesona dan Kuliner Kepulauan Anambas

19 November 2020
Public Speaking Bukan Hanya Keterampilan Orang Terpelajar

Public Speaking Bukan Hanya Keterampilan Orang Terpelajar

4 April 2023
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Lelaki yang Menyimpan Hujan di Saku dan Puisi Lainnya
  • Memikirkan Tubuh di Era Kecerdasan Buatan
  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (241)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (152)
    • Resensi (25)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.