Kala itu, setiap keluarga orang Jepang mendapat jatah lima liter beras. Sementara bumiputera hanya kecipratan satu setengah liter. Lalu, dalam cerpen Idrus, seorang Jepang berterima kasih atas “kemurahan hati orang Indonesia” yang mengirim beras ke negerinya. Kalimat getir kebak ironi itu muncul dalam pembahasan karya Abdullah Idrus (1921–1979) di Warung Sastra.
Ironi itulah yang diwedarkan Eko Triono pada Malam Buku ke-107, Rabu (23/9/2026). Kegiatan ini termasuk dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra”. Dan saat itu, tokoh sastra Indonesia 1945–1950 menjadi sorotan. Bersama Eko Triono, penulis sekaligus dosen UNY, hadir juga Novita Dewi, guru besar bidang Ilmu Sastra di Universitas Sanata Dharma, dengan peneliti sastra Aliffia Marsha Nadhira sebagai moderator.
Sejarah dari Bawah
Marsha sudah menyiapkan sepuluh-sebelas pertanyaan, ujar Bu Novi, dan salah satu di antaranya adalah: apakah karya Idrus bisa dibilang lebih jujur daripada dokumen sejarah? Sembari bercanda, guru besar sastra itu menolak menjawab semuanya. “Kasih ChatGPT saja, nanti keluar semua jawabannya,” terangnya, disambut tawa penonton.
Bu Novita membabarkan secara hati-hati pertanyaan dari Marsha. Baginya, Idrus memang menambah alur sejarah, tetapi apakah lebih jujur atau lebih akurat, perlu kajian lebih lanjut. Yang dipotret Idrus, dalam sorotan Bu Novita, adalah orang-orang kecil. Mereka yang tak pernah mengalami masa keemasan. Idrus sendiri terluka oleh pendudukan Jepang. Ia dibungkam, gagal melanjutkan sekolah, pekerjaannya kian tak menjanjikan. “Dari luka itu,” tutur Bu Novi, “ia justru memperdalam dan memperkaya bahasa Indonesia di masa awal-awal.”
Eko menambahkan, Idrus bukan sekadar penulis yang bersandar pada sejarah. Lebih jauh, ia menyaksikan sejarah itu terjadi, sehingga cerpennya terasa seperti laporan lapangan langsung. Apa yang luput dari statistik dan tak dicatat oleh buku sejarah ada dalam karyanya.
Menurut dosen yang juga cerpenis ini, daya ungkap Idrus jujur dan lugas. Narasinya sarat ironi, kadang lucu, sekaligus dramatis. Dan ia berpindah sudut pandang sesuka hati. Bacaan yang luas membentuknya, dan Bu Novita menyebut ihwal demikian membuat sosok Idrus kian berani menuliskan isi kepalanya dengan bahasa yang tanpa berbunga-bunga. “Ketajaman pena itulah yang seharusnya diwarisi penulis hari ini,” terang Bu Novi.

Kode di Balik Daun Jarak
Masa pendudukan Jepang dalam karya Idrus, kata Eko, sulit ditemukan kalau pembaca tidak jeli. Ia mencontohkan daun-daun pohon jarak yang tertiup angin. “Kok bisa di sebelah rumah ada pohon jarak?” tanyanya. Jawabannya ada pada 1942–1943: Jepang datang, mewajibkan penyerahan beras, sekaligus menyuruh rakyat menanam pohon jarak di sekeliling rumah. “Kodingnya ada di situ,” ungkap Eko. Ada pula tokoh dalam cerpennya yang bosan membaca “cerita propaganda”. Ini mengindikasikan era tertentu di mana Nippon getol melakukan propaganda.
Di samping itu, penjudulan “Ave Maria” di era itu juga pasti membuat Jepang berang, mengingat mereka sangat anti-Barat. Bu Novita pun mengenang pembacaannya terhadap cerpen “Jalan Lain ke Roma”. Tokohnya yang serba gagal: jadi guru, dipecat; merintis jadi pengkhotbah, ditinggal umat; jadi pengarang, malah kena tangkap; menjahit pun bernasib serupa. Humornya satire. “Nyengit,” kata Bu Novita, menyebut karakter Idrus. Lantas Eko mengimbuhi bahwa bahkan seorang kiai pun disindir oleh Idrus, dalam karyanya, karena getol mengumpulkan beras rakyat untuk Jepang. Ringkas tapi berani, pungkas Eko.
Tetaplah Baca, Meski Tak Mudeng
Sesi tanya jawab dibuka oleh Anin, seorang mahasiswa UIN. Ia mengaku mudah bosan dan tergoda gawai saat membaca buku. Bu Novita yang menolak dipanggil “Prof.” ini tersenyum. “Walau sekadar ingin membaca saja,” katanya, “itu sudah luar biasa.” Ia mengapresiasi Anin yang sudah berkenan mewakili teman-teman yang juga kesulitan untuk betah membaca. Kata Bu Novi, tak paham pun tak apa. Membayangkan saja sudah melatih otak, dan tidak sekadar menonton. Kemudian ia merekomendasikan cerpen “Fujinkai” tanpa membocorkan plotnya. Eko, yang juga menjawab permintaan rekomendasi karya, menawarkan “Jalan Lain ke Roma” karena baginya cerpen ini cerminan identitas kita yang mungkin mulai terlupakan.
Aryo, mahasiswa Sanata Dharma, mencoba menggugat: “Di era itu, saat yang lain berteriak revolusi, mengapa Idrus sibuk pada diri sendiri? Bukankah itu kontraproduktif?” Bu Novita menggeleng atas anggapan tersebut. Baginya, justru revolusi mesti dimulai dari diri, termasuk membongkar kemunafikan. Idrus, tuturnya, tak suka keseragaman. Sebab, keseragaman itu artinya mengebiri kebebasan. Yang ditawarkan Idrus justru adalah menyediakan alternatif revolusi.
Bu Novi lanjut menambahkan bahwa revolusi paling hebat justru terjadi dalam diri Idrus sendiri, yang terkadang mendukung revolusi, kadang juga ikut menegurnya.
Malam itu ditutup dengan penilaian Bu Novita. Bahwa suara Idrus mungkin memiliki semacam suara kenabian (prophetic) sehingga gemanya masih terdengar dan masih amat relevan di era sekarang. “Jika dulu ia tak didengarkan, barangkali kini saatnya.”[*]
_________________________
Catatan Redaksi: Reportase ini merupakan hasil kerja sama dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra” dan Metafor.id menjadi mitra komunitas media di dalamnya.














