• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 28 September 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Event Reportase

Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
27 September 2026
in Reportase
0
Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus

Malam Buku ke-107 di acara Pekan Kata Warung Sastra , 23 September 2026 | Dok. M. Naufal Waliyuddin

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Kala itu, setiap keluarga orang Jepang mendapat jatah lima liter beras. Sementara bumiputera hanya kecipratan satu setengah liter. Lalu, dalam cerpen Idrus, seorang Jepang berterima kasih atas “kemurahan hati orang Indonesia” yang mengirim beras ke negerinya. Kalimat getir kebak ironi itu muncul dalam pembahasan karya Abdullah Idrus (1921–1979) di Warung Sastra.

Ironi itulah yang diwedarkan Eko Triono pada Malam Buku ke-107, Rabu (23/9/2026). Kegiatan ini termasuk dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra”. Dan saat itu, tokoh sastra Indonesia 1945–1950 menjadi sorotan. Bersama Eko Triono, penulis sekaligus dosen UNY, hadir juga Novita Dewi, guru besar bidang Ilmu Sastra di Universitas Sanata Dharma, dengan peneliti sastra Aliffia Marsha Nadhira sebagai moderator.

Sejarah dari Bawah

Marsha sudah menyiapkan sepuluh-sebelas pertanyaan, ujar Bu Novi, dan salah satu di antaranya adalah: apakah karya Idrus bisa dibilang lebih jujur daripada dokumen sejarah? Sembari bercanda, guru besar sastra itu menolak menjawab semuanya. “Kasih ChatGPT saja, nanti keluar semua jawabannya,” terangnya, disambut tawa penonton.

Bu Novita membabarkan secara hati-hati pertanyaan dari Marsha. Baginya, Idrus memang menambah alur sejarah, tetapi apakah lebih jujur atau lebih akurat, perlu kajian lebih lanjut. Yang dipotret Idrus, dalam sorotan Bu Novita, adalah orang-orang kecil. Mereka yang tak pernah mengalami masa keemasan. Idrus sendiri terluka oleh pendudukan Jepang. Ia dibungkam, gagal melanjutkan sekolah, pekerjaannya kian tak menjanjikan. “Dari luka itu,” tutur Bu Novi, “ia justru memperdalam dan memperkaya bahasa Indonesia di masa awal-awal.”

Eko menambahkan, Idrus bukan sekadar penulis yang bersandar pada sejarah. Lebih jauh, ia menyaksikan sejarah itu terjadi, sehingga cerpennya terasa seperti laporan lapangan langsung. Apa yang luput dari statistik dan tak dicatat oleh buku sejarah ada dalam karyanya.

Menurut dosen yang juga cerpenis ini, daya ungkap Idrus jujur dan lugas. Narasinya sarat ironi, kadang lucu, sekaligus dramatis. Dan ia berpindah sudut pandang sesuka hati. Bacaan yang luas membentuknya, dan Bu Novita menyebut ihwal demikian membuat sosok Idrus kian berani menuliskan isi kepalanya dengan bahasa yang tanpa berbunga-bunga. “Ketajaman pena itulah yang seharusnya diwarisi penulis hari ini,” terang Bu Novi.

Poster acara “Malam Buku” #107 di unggahan Warung Sastra.

Kode di Balik Daun Jarak

Masa pendudukan Jepang dalam karya Idrus, kata Eko, sulit ditemukan kalau pembaca tidak jeli. Ia mencontohkan daun-daun pohon jarak yang tertiup angin. “Kok bisa di sebelah rumah ada pohon jarak?” tanyanya. Jawabannya ada pada 1942–1943: Jepang datang, mewajibkan penyerahan beras, sekaligus menyuruh rakyat menanam pohon jarak di sekeliling rumah. “Kodingnya ada di situ,” ungkap Eko. Ada pula tokoh dalam cerpennya yang bosan membaca “cerita propaganda”. Ini mengindikasikan era tertentu di mana Nippon getol melakukan propaganda.

Di samping itu, penjudulan “Ave Maria” di era itu juga pasti membuat Jepang berang, mengingat mereka sangat anti-Barat. Bu Novita pun mengenang pembacaannya terhadap cerpen “Jalan Lain ke Roma”. Tokohnya yang serba gagal: jadi guru, dipecat; merintis jadi pengkhotbah, ditinggal umat; jadi pengarang, malah kena tangkap; menjahit pun bernasib serupa. Humornya satire. “Nyengit,” kata Bu Novita, menyebut karakter Idrus. Lantas Eko mengimbuhi bahwa bahkan seorang kiai pun disindir oleh Idrus, dalam karyanya, karena getol mengumpulkan beras rakyat untuk Jepang. Ringkas tapi berani, pungkas Eko.

Tetaplah Baca, Meski Tak Mudeng

Sesi tanya jawab dibuka oleh Anin, seorang mahasiswa UIN. Ia mengaku mudah bosan dan tergoda gawai saat membaca buku. Bu Novita yang menolak dipanggil “Prof.” ini tersenyum. “Walau sekadar ingin membaca saja,” katanya, “itu sudah luar biasa.” Ia mengapresiasi Anin yang sudah berkenan mewakili teman-teman yang juga kesulitan untuk betah membaca. Kata Bu Novi, tak paham pun tak apa. Membayangkan saja sudah melatih otak, dan tidak sekadar menonton. Kemudian ia merekomendasikan cerpen “Fujinkai” tanpa membocorkan plotnya. Eko, yang juga menjawab permintaan rekomendasi karya, menawarkan “Jalan Lain ke Roma” karena baginya cerpen ini cerminan identitas kita yang mungkin mulai terlupakan.

Aryo, mahasiswa Sanata Dharma, mencoba menggugat: “Di era itu, saat yang lain berteriak revolusi, mengapa Idrus sibuk pada diri sendiri? Bukankah itu kontraproduktif?” Bu Novita menggeleng atas anggapan tersebut. Baginya, justru revolusi mesti dimulai dari diri, termasuk membongkar kemunafikan. Idrus, tuturnya, tak suka keseragaman. Sebab, keseragaman itu artinya mengebiri kebebasan. Yang ditawarkan Idrus justru adalah menyediakan alternatif revolusi.

Bu Novi lanjut menambahkan bahwa revolusi paling hebat justru terjadi dalam diri Idrus sendiri, yang terkadang mendukung revolusi, kadang juga ikut menegurnya.

Malam itu ditutup dengan penilaian Bu Novita. Bahwa suara Idrus mungkin memiliki semacam suara kenabian (prophetic) sehingga gemanya masih terdengar dan masih amat relevan di era sekarang. “Jika dulu ia tak didengarkan, barangkali kini saatnya.”[*]

_________________________

Catatan Redaksi: Reportase ini merupakan hasil kerja sama dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra” dan Metafor.id menjadi mitra komunitas media di dalamnya.

Tags: Abdullah IdrusEko TrionoMarsha NadhiraNovita Dewipekan katareportasesastrawan Indonesiasosokwarung sastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah

Next Post

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
Reportase

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

28 September 2026

“Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian. Aku memang dipenjara, tapi bukan manusia kurungan.” Luna Kharisma membacakan kalimat itu untuk menggambarkan...

Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
Reportase

Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah

26 September 2026

Antara novel yang dikarang penulis kelahiran 2005 tentang peristiwa 1998 dan novel yang dikarang penulis kelahiran 1983 tentang hal yang...

“Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
Reportase

“Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah

23 September 2026

Belum genap pukul delapan pagi, sinar matahari sudah membasuh wajah para peserta yang sudah tak sabar menanti acara jalan-jalan bersama...

Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
Reportase

Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya

21 September 2026

Angin deras menerpa wajah kami begitu kami turun dari mobil charteran. Ia melipur gerah di tengah terik kemarau ekstrem tahun...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

28 July 2025
Perihal Kelahiran

Perihal Kelahiran

26 November 2021
Gambar Artikel Penjelas Masa Lalu

Penjelas Masa Lalu

10 January 2021
Status Baru Ibu dan Puisi Lainnya

Status Baru Ibu dan Puisi Lainnya

20 July 2025
Meneladani Sufi Jenaka: Nashrudin Hoja & Keledainya

Meneladani Sufi Jenaka: Nashrudin Hoja & Keledainya

3 January 2022
Anna Maria

Anna Maria

20 September 2021
Gambar Artikel Aku dan Yogyakarta: Orang Kalah Berjubah Istimewa

Aku dan Yogyakarta: Orang Kalah yang Berjubah Istimewa

11 November 2020
Dalam Buku untuk Bersikap Mangap

Dalam Buku untuk Bersikap Mangap

11 February 2021
Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

28 September 2026
Ali Syari’ati: Mempercayai Tuhan Sekaligus Menjaga Alam dan Hubungan Sesama Manusia

Ali Syari’ati: Mempercayai Tuhan Sekaligus Menjaga Alam dan Hubungan Sesama Manusia

16 February 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul
  • Matinya Ratu Adil?
  • Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
  • Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
  • Cik Dian

Kategori

  • Event (19)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (17)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (72)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (59)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (54)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (18)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.