Kamar yang Terlalu Penuh
kita memasukkan terlalu banyak
hal ke dalam kamar:
buku,
baju,
koper,
foto,
dua gelas,
tiga tanaman,
sebuah radio tua,
dan percakapan
yang tidak pernah selesai.
suatu malam
kamar itu mengeluh.
ia ingin sedikit ruang
untuk bernapas.
kita membuka jendela.
angin masuk.
membawa suara motor,
bau tanah,
seekor nyamuk,
dan kabar bahwa dunia
masih berlangsung.
kau tidur lebih dulu.
aku mematikan lampu.
dalam gelap,
aku mendengar napasmu.
ternyata
yang paling memenuhi kamar
adalah sesuatu
yang tidak terlihat.
*
Kaus Kaki yang Kehilangan Pasangan
setiap mencuci pakaian, selalu ada satu kaus kaki yang hilang. kau menyalahkan mesin cuci. aku menyalahkan kucing. kucing menyalahkan kita. lama-lama laci penuh oleh kaus kaki yang sendirian: merah, abu-abu, bergaris, bergambar bebek. suatu malam kau mengambil salah satunya dan berkata, “kasihan.” aku bertanya, “kau sedang bicara tentang kaus kaki?” kau diam sebentar. lalu tersenyum. aku tahu ada banyak benda di rumah ini yang kita gunakan untuk membicarakan sesuatu yang terlalu dekat dengan hati. sejak malam itu, setiap menemukan kaus kaki sendirian, aku memasangkannya dengan milikku. tidak pernah cocok. namun entah kenapa, ia selalu terasa seperti kita: dua hal yang berbeda ukuran, warna, dan arah, tetap pulang ke laci yang sama.
*
Lelaki yang Menyimpan Hujan di Saku
setiap pagi lelaki itu memasukkan sedikit hujan ke saku kemejanya. ia mengambilnya dari talang rumah, menunggu sampai air menggenang, lalu meremasnya seperti saputangan. di kantor, ia bekerja seperti biasa. menjawab telepon, menandatangani surat, makan siang di meja yang sama. tidak seorang pun tahu bahwa sepanjang hari saku kirinya semakin berat. ketika pulang, ia menggantung kemeja di belakang pintu dan membiarkan hujan menetes ke lantai. begitu setiap malam. rumahnya perlahan menjadi lembap. jam dinding berkarat. buku-buku mengembang. foto-foto keluarga mengeriting pada ujungnya. suatu pagi lelaki itu tidak ditemukan di kamarnya. hanya ada genangan kecil di bawah kemeja. airnya masih hangat. seperti seseorang yang baru saja selesai menangis.
*
Toko yang Menjual Hari Kemarin
ada toko kecil di belakang kantor pos yang menjual hari kemarin. harganya murah jika kau membeli sebelum tengah hari. orang-orang datang untuk memperbaiki percakapan, mengulang ciuman, membatalkan keberangkatan, mengembalikan seseorang yang sempat pergi. seorang lelaki tua datang setiap rabu dan membeli hari ketika anaknya masih berumur tujuh tahun. ia selalu membelinya dalam jumlah besar. penjaga toko pernah bertanya untuk apa. lelaki itu menjawab, “supaya rumahku tetap ramai.” suatu rabu ia tidak datang. penjaga toko mengirimkan hari kemarin ke alamat rumahnya. tidak ada yang membuka pintu. di ruang tamu hanya ada sebuah kalender yang seluruh tanggalnya telah dicoret. pada meja makan, dua piring tersusun rapi. salah satunya masih hangat.
*
Besok Tubuh Kita Akan Menjadi Rumah
besok
tubuhmu
akan menjadi rumah.
ada pintu
di bahu.
jendela
di telapak tangan.
sebuah tangga
tumbuh dari punggung.
orang-orang
datang berkunjung.
membawa buah.
membawa kabar.
membawa hujan
dalam sepatu.
kau membiarkan mereka masuk.
aku berdiri
di halaman.
tidak mengetuk.
aku sudah tahu
jalan ke dalam.
di ruang paling belakang
ada sebuah kursi.
di atasnya
sebuah nama.
namaku.
aku duduk.
rumah itu
tiba-tiba bergerak.
pelan.
menuju laut.
kau bertanya:
takut?
aku menggeleng.
sebab sepanjang hidup
kita memang hanya
mencari tempat
di mana tubuh
seseorang yang kita cintai
bisa terasa
seperti pulang.
(Gorontalo, 2026)














