• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 02 November 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Lelaki yang Menyimpan Hujan di Saku dan Puisi Lainnya

Salman Alade by Salman Alade
30 October 2026
in Puisi
0
Lelaki yang Menyimpan Hujan di Saku dan Puisi Lainnya

Serenade painting by Cassandra Lynn Miller | Sumber: wikicommons

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Kamar yang Terlalu Penuh

kita memasukkan terlalu banyak
hal ke dalam kamar:

buku,
baju,
koper,
foto,
dua gelas,
tiga tanaman,
sebuah radio tua,
dan percakapan
yang tidak pernah selesai.

suatu malam
kamar itu mengeluh.

ia ingin sedikit ruang
untuk bernapas.

kita membuka jendela.

angin masuk.

membawa suara motor,
bau tanah,
seekor nyamuk,
dan kabar bahwa dunia
masih berlangsung.

kau tidur lebih dulu.

aku mematikan lampu.

dalam gelap,
aku mendengar napasmu.

ternyata
yang paling memenuhi kamar
adalah sesuatu
yang tidak terlihat.

*

Kaus Kaki yang Kehilangan Pasangan

setiap mencuci pakaian, selalu ada satu kaus kaki yang hilang. kau menyalahkan mesin cuci. aku menyalahkan kucing. kucing menyalahkan kita. lama-lama laci penuh oleh kaus kaki yang sendirian: merah, abu-abu, bergaris, bergambar bebek. suatu malam kau mengambil salah satunya dan berkata, “kasihan.” aku bertanya, “kau sedang bicara tentang kaus kaki?” kau diam sebentar. lalu tersenyum. aku tahu ada banyak benda di rumah ini yang kita gunakan untuk membicarakan sesuatu yang terlalu dekat dengan hati. sejak malam itu, setiap menemukan kaus kaki sendirian, aku memasangkannya dengan milikku. tidak pernah cocok. namun entah kenapa, ia selalu terasa seperti kita: dua hal yang berbeda ukuran, warna, dan arah, tetap pulang ke laci yang sama.

*

Lelaki yang Menyimpan Hujan di Saku

setiap pagi lelaki itu memasukkan sedikit hujan ke saku kemejanya. ia mengambilnya dari talang rumah, menunggu sampai air menggenang, lalu meremasnya seperti saputangan. di kantor, ia bekerja seperti biasa. menjawab telepon, menandatangani surat, makan siang di meja yang sama. tidak seorang pun tahu bahwa sepanjang hari saku kirinya semakin berat. ketika pulang, ia menggantung kemeja di belakang pintu dan membiarkan hujan menetes ke lantai. begitu setiap malam. rumahnya perlahan menjadi lembap. jam dinding berkarat. buku-buku mengembang. foto-foto keluarga mengeriting pada ujungnya. suatu pagi lelaki itu tidak ditemukan di kamarnya. hanya ada genangan kecil di bawah kemeja. airnya masih hangat. seperti seseorang yang baru saja selesai menangis.

*

 

Toko yang Menjual Hari Kemarin

ada toko kecil di belakang kantor pos yang menjual hari kemarin. harganya murah jika kau membeli sebelum tengah hari. orang-orang datang untuk memperbaiki percakapan, mengulang ciuman, membatalkan keberangkatan, mengembalikan seseorang yang sempat pergi. seorang lelaki tua datang setiap rabu dan membeli hari ketika anaknya masih berumur tujuh tahun. ia selalu membelinya dalam jumlah besar. penjaga toko pernah bertanya untuk apa. lelaki itu menjawab, “supaya rumahku tetap ramai.” suatu rabu ia tidak datang. penjaga toko mengirimkan hari kemarin ke alamat rumahnya. tidak ada yang membuka pintu. di ruang tamu hanya ada sebuah kalender yang seluruh tanggalnya telah dicoret. pada meja makan, dua piring tersusun rapi. salah satunya masih hangat.

*

Besok Tubuh Kita Akan Menjadi Rumah 

besok
tubuhmu
akan menjadi rumah.

ada pintu
di bahu.

jendela
di telapak tangan.

sebuah tangga
tumbuh dari punggung.

orang-orang
datang berkunjung.

membawa buah.
membawa kabar.
membawa hujan
dalam sepatu.

kau membiarkan mereka masuk.

aku berdiri
di halaman.
tidak mengetuk.

aku sudah tahu
jalan ke dalam.
di ruang paling belakang
ada sebuah kursi.
di atasnya
sebuah nama.

namaku.

aku duduk.
rumah itu
tiba-tiba bergerak.
pelan.
menuju laut.

kau bertanya:
takut?

aku menggeleng.

sebab sepanjang hidup
kita memang hanya
mencari tempat
di mana tubuh
seseorang yang kita cintai
bisa terasa
seperti pulang.

(Gorontalo, 2026)

Tags: metaforpuisisajaksalman aladesastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Memikirkan Tubuh di Era Kecerdasan Buatan

Salman Alade

Salman Alade

Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa, yang berasal dari Gorontalo dan sedang berdomisili sementara di Yogyakarta. Senang menulis puisi, sesekali menulis cerpen, esai, dan opini. Beberapa waktu terakhir, tertarik menulis dan meneliti buku cerita anak. Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab. Instagram: @salmenulis_

Artikel Terkait

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
Puisi

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya

13 October 2026

Kebiasaan Masa Kecil masa kecil tak ingin kubayangkan lagi, menyesak tak berpihak membuatku terus-menerus terpencil sebagai anak kecil --hanya sebagai...

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Rekomendasi Playlist Lagu untuk mensyukuri Galau

Playlist Lagu Untuk ‘Mensyukuri’ Kegalauanmu

16 June 2021
Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

2 July 2021
Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

17 March 2024
Kepalamu dan Isinya

Kepalamu dan Isinya

3 April 2021
Pakai Tangan Kiri Itu Tidak Selalu Buruk

Pakai Tangan Kiri Itu Tidak Selalu Buruk

6 December 2021
Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

22 July 2021
Gambar Artikel Jahm bin Shafwan: Sosok Ekstremis Klasik di Islam

Jahm bin Safwan: Sosok Ekstremis Klasik di Islam

28 December 2020
Sebungkus Sunyi

Sebungkus Sunyi

20 November 2021
Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

15 July 2021
Gambar Artikel Keyakinan

Keyakinan

3 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Lelaki yang Menyimpan Hujan di Saku dan Puisi Lainnya
  • Memikirkan Tubuh di Era Kecerdasan Buatan
  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (241)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (152)
    • Resensi (25)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.