Suapan pertama spaghetti di tanah kelahirannya justru membuat saya ingin buru-buru mencari air putih. Syukurnya, cappuccino asli Italia berhasil melipur kekecewaan saya.
Sepekan sebelum masa pertukaran di Belgia usai, saya ingin menutupnya dengan satu perjalanan terakhir ke negeri Barat. Pilihan mengerucut pada Spanyol atau Italia. Setelah riset ala kadarnya lewat TikTok dan dua kali merenung, Italia menang. Tujuannya Venesia, kota terapung itu.
Dua teman yang baru sepekan tiba ikut serta. Sekalian saya kenalkan mereka pada Ryanair, maskapai murah (asal tanpa bagasi) yang menjahit kota-kota Eropa dengan harga tiket seperti ongkos ojek.

Maskapai ini menghidupkan pepatah Jawa “ono rego ono rupo” (ada harga, ada kualitas). Pesawatnya mungil, joknya keras menekan punggung, jadwalnya gemar molor. Usai boarding pun, penumpang kerap masih harus berdiri di lorong atau tangga tanpa pendingin, ketika hawa panas menempel di kulit seperti kain basah. Kawan-kawan di Belgia menjulukinya “pesawat yang pipisnya di luar”. Tapi bagi mahasiswa, satu hal mengalahkan semua keluhan: murah.
Dari Leuven, kota tempat kami tinggal, penerbangan murah itu hanya berangkat dari Bandara Charleroi, sekitar dua jam naik kereta. Dari sana kami terbang ke Treviso, lalu satu jam lagi menuju Venesia.
Kami singgah dulu di penginapan di Mestre, distrik kecil persis di seberang pulau tujuan, sekadar salat dan meluruskan punggung. Pukul 10 malam, kami memutuskan untuk menyeberang. Langit baru saja kehilangan sisa jingganya. Begitulah musim panas di sini: siang memanjang tanpa tahu diri, malam hanya sekedipan mata.
Membaca Kota yang Terapung
Kurang dari 15 menit, kereta membawa kami melintasi laut dangkal menuju Stasiun Santa Lucia. Begitu melangkah keluar, udara lembap beraroma garam menyambut. Gondola, ikon utama kota ini, sudah tertambat dan berhenti berayun. Hanya segelintir pelancong yang masih berseliweran, entah menuju suatu tempat atau sedang hanyut di gang-gang sempit. Venesia adalah labirin lorong, jembatan mungil, dan kanal yang berkelok. Tanpa Google Maps, kami pasti benar-benar “lost in Venice”, frasa yang kini terasa bukan sekadar plesetan.

Kami tak bisa berlama-lama. Kereta terakhir yang kembali ke Mestre berangkat sekitar tengah malam. Kami mengejarnya, lalu rebah di kasur penginapan yang menggoda. Tidur datang tanpa perlu dipanggil.
Esoknya, Venesia tampil dalam versi ramai. Agenda hari itu: mencicipi pizza, spaghetti, dan cappuccino langsung di negeri asalnya. Dan tentu saja, belum sah ke Venesia tanpa berlayar dengan gondola.
Restoran pertama yang kami pilih adalah kedai spaghetti di sepanjang perjalanan. Harapan kami retak lebih dulu ketika tahu saus-saus populer seperti bolognese dan carbonara memakai bahan non-halal. Kami pun menyerahkan pilihan kepada sang koki. Piring datang dengan uap tipis mengepul. Kami menjalankan ritual wajib demi dokumentasi dan kesehatan Instastory, lalu menyuapi mulut. Lidah Indonesia kami disambut oleh pasta yang asinnya bukan main, seperti menyesap seteguk air Laut Adriatik. Entah karena ini versi halal atau karena sang koki sedang ingin segera menikah.
Sruput Cappuccino di Negeri Asalnya
Untuk mengobati luka itu, kami melangkah ke kafe dekat pizzeria. Di depan kasir, dengan sedikit malu, saya mengeluarkan bekal latihan di Duolingo: “Un cappuccino, per favore.” Lalu, “Grazie!” Sementara kopi diracik, salah satu teman menyeberang ke gerai sebelah membeli beberapa potong pizza.

Tibalah “moment of truth”. Cappuccino panas itu tersaji dalam gelas kertas biasa, tapi aromanya sudah menyergap bahkan sebelum gelas terangkat. Uapnya menghangatkan wajah. Sruputan pertama meluncur: pahit kopi yang lembut, busa susu yang halus, hangat yang merambat ke dada. Sruputan kedua, ketiga, dan seterusnya menyusul tanpa perlu berpikir. Ini josjis! Enak. Sungguh tidak mengecewakan.


Sebelum tenggelam terlalu jauh dalam cappuccino, teman saya menyodorkan sepotong pizza. Akankah ia menambal luka dari spaghetti tadi? Saya belah lagi potongan itu menjadi lebih kecil, supaya bisa dilahap dengan anggun. Mata terpejam, saya mengunyah pizza vegetarian yang insya Allah halal itu. Gurih keju yang meleleh, asam segar tomat, asin tipis dan manis samar menyatu menjadi harmoni di lidah. Sederhana, tapi takarannya pas: tidak terlalu asin, tidak terlalu manis. Rasanya jauh berbeda dari pizza yang biasa kita temui di Indonesia.
Maka kami beranjak dari Italia tanpa sesal. Perjalanan yang dimulai dari kabin panas dan gang berkelok itu ditutup oleh sisa busa cappuccino di ujung bibir dan sisa gurih di lidah. Semoga masih ada kesempatan mencicipinya lagi di kota-kota Italia lainnya.[*]














