• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 04 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya

Yusuf Baity by Yusuf Baity
3 October 2026
in Kelana
0
Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya

Suasana tenang Venesia di malam hari. | Dok. Penulis.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Suapan pertama spaghetti di tanah kelahirannya justru membuat saya ingin buru-buru mencari air putih. Syukurnya, cappuccino asli Italia berhasil melipur kekecewaan saya.

Sepekan sebelum masa pertukaran di Belgia usai, saya ingin menutupnya dengan satu perjalanan terakhir ke negeri Barat. Pilihan mengerucut pada Spanyol atau Italia. Setelah riset ala kadarnya lewat TikTok dan dua kali merenung, Italia menang. Tujuannya Venesia, kota terapung itu.

Dua teman yang baru sepekan tiba ikut serta. Sekalian saya kenalkan mereka pada Ryanair, maskapai murah (asal tanpa bagasi) yang menjahit kota-kota Eropa dengan harga tiket seperti ongkos ojek.

Ryan Air yang mengantar kami dari Charleroi, Belgia menuju Treviso, Italia. | dok. teman penulis.

Maskapai ini menghidupkan pepatah Jawa “ono rego ono rupo” (ada harga, ada kualitas). Pesawatnya mungil, joknya keras menekan punggung, jadwalnya gemar molor. Usai boarding pun, penumpang kerap masih harus berdiri di lorong atau tangga tanpa pendingin, ketika hawa panas menempel di kulit seperti kain basah. Kawan-kawan di Belgia menjulukinya “pesawat yang pipisnya di luar”. Tapi bagi mahasiswa, satu hal mengalahkan semua keluhan: murah.

Dari Leuven, kota tempat kami tinggal, penerbangan murah itu hanya berangkat dari Bandara Charleroi, sekitar dua jam naik kereta. Dari sana kami terbang ke Treviso, lalu satu jam lagi menuju Venesia.

Kami singgah dulu di penginapan di Mestre, distrik kecil persis di seberang pulau tujuan, sekadar salat dan meluruskan punggung. Pukul 10 malam, kami memutuskan untuk menyeberang. Langit baru saja kehilangan sisa jingganya. Begitulah musim panas di sini: siang memanjang tanpa tahu diri, malam hanya sekedipan mata.

Membaca Kota yang Terapung

Kurang dari 15 menit, kereta membawa kami melintasi laut dangkal menuju Stasiun Santa Lucia. Begitu melangkah keluar, udara lembap beraroma garam menyambut. Gondola, ikon utama kota ini, sudah tertambat dan berhenti berayun. Hanya segelintir pelancong yang masih berseliweran, entah menuju suatu tempat atau sedang hanyut di gang-gang sempit. Venesia adalah labirin lorong, jembatan mungil, dan kanal yang berkelok. Tanpa Google Maps, kami pasti benar-benar “lost in Venice”, frasa yang kini terasa bukan sekadar plesetan.

Suasana tenang Venesia di malam hari. | dok. Penulis.

Kami tak bisa berlama-lama. Kereta terakhir yang kembali ke Mestre berangkat sekitar tengah malam. Kami mengejarnya, lalu rebah di kasur penginapan yang menggoda. Tidur datang tanpa perlu dipanggil.

Esoknya, Venesia tampil dalam versi ramai. Agenda hari itu: mencicipi pizza, spaghetti, dan cappuccino langsung di negeri asalnya. Dan tentu saja, belum sah ke Venesia tanpa berlayar dengan gondola.

Restoran pertama yang kami pilih adalah kedai spaghetti di sepanjang perjalanan. Harapan kami retak lebih dulu ketika tahu saus-saus populer seperti bolognese dan carbonara memakai bahan non-halal. Kami pun menyerahkan pilihan kepada sang koki. Piring datang dengan uap tipis mengepul. Kami menjalankan ritual wajib demi dokumentasi dan kesehatan Instastory, lalu menyuapi mulut. Lidah Indonesia kami disambut oleh pasta yang asinnya bukan main, seperti menyesap seteguk air Laut Adriatik. Entah karena ini versi halal atau karena sang koki sedang ingin segera menikah.

Sruput Cappuccino di Negeri Asalnya

Untuk mengobati luka itu, kami melangkah ke kafe dekat pizzeria. Di depan kasir, dengan sedikit malu, saya mengeluarkan bekal latihan di Duolingo: “Un cappuccino, per favore.” Lalu, “Grazie!” Sementara kopi diracik, salah satu teman menyeberang ke gerai sebelah membeli beberapa potong pizza.

Cappuccino panas dari sebuah kafe di Venesia, Italia. | dok. teman penulis

Tibalah “moment of truth”. Cappuccino panas itu tersaji dalam gelas kertas biasa, tapi aromanya sudah menyergap bahkan sebelum gelas terangkat. Uapnya menghangatkan wajah. Sruputan pertama meluncur: pahit kopi yang lembut, busa susu yang halus, hangat yang merambat ke dada. Sruputan kedua, ketiga, dan seterusnya menyusul tanpa perlu berpikir. Ini josjis! Enak. Sungguh tidak mengecewakan.

Kasir kafe di Venesia, Italia. | dok. teman penulis
Beberapa pilihan pizza vegetarian yang tersedia | dok. teman penulis

Sebelum tenggelam terlalu jauh dalam cappuccino, teman saya menyodorkan sepotong pizza. Akankah ia menambal luka dari spaghetti tadi? Saya belah lagi potongan itu menjadi lebih kecil, supaya bisa dilahap dengan anggun. Mata terpejam, saya mengunyah pizza vegetarian yang insya Allah halal itu. Gurih keju yang meleleh, asam segar tomat, asin tipis dan manis samar menyatu menjadi harmoni di lidah. Sederhana, tapi takarannya pas: tidak terlalu asin, tidak terlalu manis. Rasanya jauh berbeda dari pizza yang biasa kita temui di Indonesia.

Maka kami beranjak dari Italia tanpa sesal. Perjalanan yang dimulai dari kabin panas dan gang berkelok itu ditutup oleh sisa busa cappuccino di ujung bibir dan sisa gurih di lidah. Semoga masih ada kesempatan mencicipinya lagi di kota-kota Italia lainnya.[*]

Tags: cappuccinocerita perjalananeropaItaliakelanakulinermillenialpizzaVenesia
ShareTweetSendShare
Previous Post

Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra

Next Post

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya

Yusuf Baity

Yusuf Baity

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Malang, Jawa Timur. Kini sedang menempuh program visiting researcher di KU Leuven, Belgia.

Artikel Terkait

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
Kelana

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

12 September 2026

Senin, 10 Agustus 2026, empat diaspora Indonesia di Swiss; LasmaKuhn Sihotang, Susie Lehmann, Krisna Diantha dan saya berziarah ke makam...

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
Kelana

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki

8 August 2026

Akhir Juni 2026 lalu, aku menyeberang dari Swiss ke kota Konstanz di tepi Bodensee, Jerman, untuk bertemu Mohammad Zaim. Sebelumnya...

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
Kelana

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

27 February 2026

Awal Februari 2026, saya berkesempatan untuk menjajakan kaki di benua biru, tepatnya di negara yang begitu terkenal akan produk cokelatnya:...

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Facebook, Penyair, dan Lunatisme

Facebook, Penyair, dan Lunatisme

17 February 2021
Mati dan Pagi Hari di Cikajang

Mati dan Pagi Hari di Cikajang

24 April 2022

Bahagia itu Sederhana

3 July 2021
Berteman dengan Kegagalan

Berteman dengan Kegagalan

7 May 2022
Lelaki Tua yang Dipermainkan Nasib

Lelaki Tua yang Dipermainkan Nasib

20 May 2024
https://www.freepik.com/free-vector/schizophrenia-concept-illustration_10198495.htm#query=depression&position=3&from_view=search

Birai-Birai Kelapa

23 December 2021
Gambar Artikel Bung Karno Di Ende, Remah remah kisah dari ende

Remah-remah Kisah dari Ende

7 January 2021
Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025
Gambar Artikel Jahm bin Shafwan: Sosok Ekstremis Klasik di Islam

Jahm bin Safwan: Sosok Ekstremis Klasik di Islam

28 December 2020
Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

23 June 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.