Dalam tulisan ini, saya tidak akan menganalisis karya dari Kho Ping Hoo karena saya menyadari keterbatasan kapasitas diri yang belum pernah membaca karyanya sampai benar-benar tuntas. Saya juga tidak akan menuliskan biografi (walaupun) singkat penulis kelahiran Sragen ini karena hal itu sudah banyak juga ditulis dengan begitu lengkap di laman-laman digital ataupun media cetak. Namun, di ulang tahun pujangga cerita silat yang ke-100 ini, saya hanya ingin merayakan perjumpaan-perjumpaan kecil (tipis) dengan Kho Ping Hoo, baik dari cerita mulut ke mulut, gambar-gambar silat, dan segala hal di sekitarnya.
Awal Perjumpaan
Perjumpaan saya dengan Kho Ping Hoo sayangnya terjadi terlalu dini. Entah di saat TK atau SD kelas-kelas awal, saya sudah bersua dengan buku-bukunya ketika berkunjung ke rumah nenek. Satu-satunya yang membuat saya (agak) tertarik dengan buku itu adalah tentu saja gambar sampulnya. Sedangkan untuk narasi ceritanya nyaris tidak saya baca. Saya hanya mendapatkan sedikit “sinopsisnya” dari orang-orang di sekitar yang sudah membaca buku-buku silat tersebut. Maklum, pada milestone usia tersebut, bacaan saya masih terbatas pada komik, majalah anak, dan paling banter cerpen yang ada di buku cetak Pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.
Namun, tidak membaca Kho Ping Hoo bukan berarti saya tidak dekat dengan cerita silat. Pada saat usia SD, bisa dibilang saya tergila-gila dengan cerita-cerita silat. Di drama radio Tutur Tinular, saya mengenal tokoh Kamandanu yang pemberani itu. Di serial silat lokal, saya mengidolakan Wiro Sableng sampai dada saya sering saya coret-coret angka 212. Di sinema Mandarin, tak terhitung lagi nama-nama tokoh seperti Wong Fei Hung (Once Upon a Time in China), Wong Mo Gei (Drunken Fist), Boboho (Shaolin Popeye), Fong Sai Yuk (Fong Sai Yuk II) dan beberapa lainnya yang tak bosan-bosannya saya tonton, walaupun filmnya sudah diputar berulang-ulang kali.
Film seri Mandarin juga tak kalah banyaknya yang saya ikuti. Sebut saja yang paling saya ingat adalah Kera Sakti, Monkey King, Siluman Ular Putih, hingga Pendekar Pedang Rajawali dan Pendekar Ulat Sutera. Selanjutnya, film kartun dan gim bisa dibilang media paling masif dalam perjumpaan saya dengan silat. Sebut saja, yang saya suka di antaranya Goku (Dragon Ball), Chun-Li (Street Fighter), dan Jin Kazama (Tekken). Perjumpaan saya dengan silat di media cetak setidaknya terjadi pada beberapa judul komik. Beberapa yang pernah saya baca adalah Kung-Fu Komang, Kungfu Boy, Tiger Wong, dan Tinju Bintang Utara.
Saya baru mulai bisa mengonsumsi novel sampai habis di kelas 6 SD melalui novel-novel hantu seri Goosebumps-nya R.L. Stine. Sayang sekali, di era itu karya-karya Kho Ping Hoo sudah banyak yang menghilang dari peredaran seiring wafatnya sang penulis empat tahun sebelumnya. Semakin padatnya kurikulum pelajaran formal di sekolah menengah semakin memupus pencarian saya terhadap buku dan cerita silat. Sisa-sisa waktu di celah-celah kegiatan akademik hanya terisi oleh cerpen-cerpen di majalah remaja Kawanku, Aneka Yes, Hai, dan majalah musik Hot Chord.
Kendati begitu, nama Kho Ping Hoo sesekali muncul di rubrik ulasan, esai, atau feature di koran Jawa Pos atau Kompas yang dibeli Bapak. Dari sana saya selalu menganggap Kho Ping Hoo adalah orang yang luar biasa. Ketika eksemplar bukunya sudah sulit didapat, karya-karyanya masih menjadi buah bibir perbincangan baik di media cetak, televisi, radio, maupun tongkrongan-tongkrongan generasi di atas saya.
Meskipun persinggungan saya dengan dokumen primer karya-karya penulis kelahiran Sragen, 17 Agustus 1926, itu terlalu sedikit, ia turut menggenapi imaji fiksi persilatan di kepala saya. Jadi, ketika membicarakan dunia fiksi silat, Kho Ping Hoo tak bisa begitu saja absen dalam pembahasan.

Tentang Sang Penulis yang Baru Saya Ketahui
Setelah membaca buku Seniman dan Karyanya: Kho Ping Hoo dan Indonesia terbitan Balai Soedjatmoko (Solo, 2012), banyak hal menarik yang mungkin baru saya sadari hari ini. Misalnya, bagaimana Kho Ping Hoo secara berani mempertahankan identitas Tionghoanya dalam menulis cerita silat. Hal itu jika dilakukan sekarang mungkin biasa saja. Tapi Kho Ping Hoo melakukan itu di era Orde Baru, di mana waktu itu WNI etnis Tionghoa diharuskan mengganti “nama China”-nya dengan nama-nama yang lebih Indonesia.
Tak hanya cukup di nama, Kho Ping Hoo juga sangat teguh pada tema cerita pendekar dan persilatan dari negeri Tiongkok. Sebuah keberanian sikap di mana rezim Orde Baru juga membatasi dengan ketat perayaan dan penyebaran budaya China di Indonesia. Kho Ping Hoo seolah tak peduli dengan aturan itu dengan menulis sebagian besar karyanya tentang cerita persilatan dari dataran China. Menurut Ardus M. Sawega (2012), dari 400-an judul cerita yang dikarang Kho Ping Hoo, hanya 50-an yang berlatar seting di Jawa. Selebihnya menceritakan negeri China.
Fakta menarik lainnya adalah bahwa Kho Ping Hoo hanya lulusan HIS (setingkat SD) di Sragen. Ia putus sekolah ketika di MULO (setingkat SMP) dan langsung terjun di dunia kerja. Dan lebih “tragis” lagi, ia juga tidak fasih berbahasa Tiongkok. Namun, berbekal kemampuan berbahasa Inggris dan Belanda, ia melahap buku-buku sejarah, filsafat, dan sastra China dari penulis-penulis Eropa sebagai latar belakang sebagian besar karyanya. Bisa dibilang ia adalah penulis otodidak yang nekat.
Dari buku setebal 215 halaman itu, saya juga jadi mengetahui bagaimana proses kreatif Kho Ping Hoo mulai dari mendapatkan ide sampai proses penerbitan. Satu hal yang paling menarik bagi saya adalah ketika ia menjejer 5 buah mesin tik dengan lima cerita berbeda yang digarap secara paralel. Hal itu mungkin sekarang setara dengan seorang penulis yang menyalakan lima laptop yang berisi lima cerita yang berbeda.
Mengapa “Silat” dan bukan “Kungfu”?
Satu hal yang mungkin belum banyak dibahas tentang Kho Ping Hoo adalah pemilihan istilah “silat” dalam cerita-ceritanya, alih-alih menggunakan kata “kungfu”. Karya-karyanya dikenal dengan cerita silat (cersil), bukan cerita kungfu. Padahal silat dan kungfu adalah dua hal yang berbeda—walaupun mempunyai aspek yang sama, yaitu bela diri.
Berdasarkan regionalnya, silat berasal dari Kepulauan Asia Tenggara, sedangkan kungfu berasal dari Asia Timur atau lebih tepatnya di sekitar dataran China. Silat berkembang di padepokan dan perguruan yang tersebar di kepulauan Nusantara, sedangkan cikal bakal kungfu muncul dari tradisi Biara Shaolin. Ibarat tanaman, silat dan kungfu mempunyai akar yang berbeda.
Di setiap kepulauan dan negara Asia Tenggara mempunyai silatnya masing-masing. Di Jawa, silat lebih dikenal dengan istilah pencak silat yang menurut KBBI berarti “kepandaian berkelahi, seni bela diri khas Indonesia” dengan “ketangkasan membela diri dan menyerang untuk pertandingan atau perkelahian”. Sementara di Sumatra lebih dikenal dengan bahasa Minangkabau Silek.
Di Filipina juga ada seni bela diri Kali yang disinyalir masih satu rumpun dengan silat. Bahkan seorang teman yang pernah meneliti seni bela diri bilang bahwa Kali adalah bela diri resmi Kerajaan Majapahit. Selanjutnya, di Thailand ada Muay Thai yang secara gerakan lebih mirip Silat daripada Kungfu. Selain itu, masih ada Kun Bokator (Kamboja), Lethwei (Myanmar), dan Seni Silat Melayu (Malaysia).
Lain halnya dengan kungfu. Seni bela diri tradisional Tiongkok ini terus berkembang dan menyebar di negara-negara sekitarnya seperti Korea, Jepang, Nepal, dan Tibet. Di Jepang, misalnya, kungfu menjadi akar dari berbagai aliran bela diri. Sebut saja misalnya arate, kempo, jiu-jitsu, dan judo. Bahkan kata “Kempo” adalah ejaan bahasa Jepang dari kata “Kungfu”. Di Korea, kungfu berkembang menjadi beberapa aliran bela diri seperti Taekwondo, Hapkido, Kumdo, Tang Soo Do, dan Hwa Rang Do.
Kembali ke pilihan Kho Ping Hoo dengan lebih memilih kata “silat” daripada “kungfu”, berdasarkan uraian singkat saya di atas, itu sangat kontradiktif. Di satu sisi, latar belakang dan tokoh cerita Kho Ping Hoo berasal dari negeri China, tetapi mereka menggunakan seni perkelahian ala kepulauan Nusantara. Tentunya dua bela diri tersebut juga mempunyai tipikal gerakan dan jurus yang berbeda.
Namun, bisa juga penggunaan kata “silat” ini adalah strategi Kho Ping Hoo untuk lebih membumikan cerita-ceritanya karena lebih dekat dengan pembaca yang mayoritas adalah orang-orang Indonesia. Atau mungkin istilah “Cerita Silat” ini muncul dari pembaca-pembacanya yang lebih mengenal seni bela diri sebagai Silat ketimbang Kungfu? Entahlah. Perlu riset lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan itu dengan lebih meyakinkan.
Cerita Silat Setelah Kho Ping Hoo
Sebenarnya, pasca wafatnya Kho Ping Hoo bukanlah akhir dari sejarah cerita silat Indonesia. Masih ada napas baru seperti Seno Gumira Ajidarma (Naga Bumi I, II, & III), Mahfud Ikhwan (Dawuk), Langit Kresna Hariadi (Gajah Mada), dan Viddy AD Daery (Pendekar Sendang Drajat). Bersama beberapa penulis di era sebelumnya seperti Ganes TH (Si Buta dari Gua Hantu), Bastian Tito (Wiro Sableng), dan Herman Pratikno (Bende Mataram), mereka seolah menolak menyerah untuk tetap menghembuskan napas cerita silat Indonesia
Hanya saja, kalau boleh diakui, cerita silat kini tak banyak digandrungi oleh pembaca karya sastra. Masih ada, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan era kejayaan Kho Ping Hoo dan Singgih Hadi Mintardja. Tak banyak lagi diskusi atau sekadar perbincangan hangat di tongkrongan tentang pendekar atau tokoh dalam cerita silat legendaris ala Bukek Siansu, Cia Keng Hong, dan Kwa Sin Liong.
Waktu terus berjalan, era terus berganti, dan tren pasti bergeser. Generasi-generasi baru tentunya mempunyai selera, cara, dan ciri khas tersendiri dalam mengisi ruang imajinasinya. Namun, apakah masih ada ruang bagi cerita silat pada hari ini dan untuk generasi selanjutnya? Tentunya kita berharap ada “jurus-jurus” baru tak hanya dari penulis, tapi juga dari penerbit dan distributor buku agar cerita silat tetap relevan, terjangkau, dan menarik bagi generasi sekarang dan di masa yang akan datang. Ciaaaaaat….!!![*]
___________________
Catatan Redaksi: Tulisan ini telah dicetak dalam zine saat Klub Baca Radio Buku mengadakan diskusi tentang Kho Ping Hoo pada Jumat, 25 September 2026.














