Kukuh Basuki dan Etgar Gelegar maju ke panggung. Tata letak dan sorot lampu malam itu tampak seperti konser akan segera digelar di teras Warung Sastra. Usai cek suara, Kukuh lekas memulai pertunjukan: tangan kanannya terangkat, bibir di depan mic, tangan kanan memegang buku kecil berkertas kuning cokelat. Petikan gitar Etgar mengisi ruang. Mereka menyajikan petikan puisi hasil terjemahan Tionghoa. Begitulah acara “Petang Syair” dibuka malam itu.
Serampung satu-dua urun syair dari duet Kukuh Gelegar itu, Tova, komika rising star asal Ngemplak, memandu jalannya acara. Petang Syair ini (Sabtu, 26/09/2026) menjadi momen puncak bagi rangkaian kegiatan “Pekan Kata Warung Sastra” yang merayakan sastra Indonesia era 1945-1950. Acara ini merupakan hasil kerja sama dengan dukungan Kementerian Kebudayaan RI untuk Penguatan Komunitas Sastra pada tahun 2026.
Banyak dari hadirin yang baru membacakan puisi untuk kali pertama. Sementara sosok penyair yang paling banyak dibacakan karyanya, sesuai dugaan, adalah Chairil Anwar. Selebihnya, saat sudah banyak karya era ’45–’50-an terlantunkan, panitia juga memberi ruang bagi puisi-puisi bebas dari para audiens yang berkeinginan untuk ikut meramaikan acara.

Blues dan Jazz Sebelum Kata
Pada awalnya, sebelum satu larik pun dibacakan, Cak Kukuh dan Gelegar membuka jamming ringan bernuansa jazzy dan blues. Sebagian penonton tampak menunduk, menyiapkan naskah masing-masing. Yang lain mengangguk-anggukkan kaki mengikuti ritme, membiarkan musik meluruhkan rasa canggung dan kikuk—mungkin khawatir ditunjuk maju untuk baca puisi.
Tova naik ke panggung dan langsung menebak-nebak penonton. Melakukan riffing, sejenis teknik stand-up comedy untuk memanfaatkan penonton. “Dari Sewon? Guru? Atau TU?” Ketika seorang hadirin menyebut bahwa ia berasal dari Blora, Tova berseru bahwa itu tempat Pram. “Wah, sastra sekali saya,” penonton lekas terbahak. Malam terasa lebih cair.
Gerry dari Sanggar Nun jadi pembuka setelah Tova memandu malam. Dengan kelakar getir, Gerry menyebut Yogyakarta sebagai “tempat terbaik untuk menyembunyikan kegagalan”, lalu membacakan puisi Siti Rukiah dari buku Tandus yang ia bawa. Bacaannya halus, lalu berpindah gahar. Biola Kukuh menggesek keremangan di bangku penonton, dan puisi tentang “perlombaan lari antara cinta dan pembunuhan” mengalun bersama musik yang sayup. Di salah satu kursi, saya melihat Mas Taufik, peserta beasiswa kelas kritik sastra, sedang menempelkan ponsel ke telinganya, mendengarkan seperti teman-teman tunanetra yang lain.

Chairil Anwar dari Berbagai Arah
Penyair sajak “Aku” ini hadir berkali-kali malam itu, dari mulut yang berbeda-beda. Asef Saeful Anwar, yang “ditembak” mendadak hari itu, maju sambil bergurau bahwa namanya sama-sama memakai Anwar, tetapi ia bukan cucu Chairil. Di sisi lainnya, Andre dari panitia ngakak karena rencana busuknya terlaksana. Asef membacakan “Prajurit Jaga Malam”, puisi yang lahir pada 1948, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik.
Ada pembaca dari Bengkel Sastra, Universitas Sanata Dharma. Ia membawakan “Senja di Pelabuhan Kecil”, pembacanya memilih berbisik. Petikan dawai hanya sesekali, biola masuk pelan, dan gonggong anjing tetangga menjadi latar yang tak direncanakan namun cukup berkesan. Cak Kukuh memejamkan mata. Begitu larik “Kau kembang, aku kumbang” terucap, biola menanjak ke nada minor yang menyayat, kebalikan crescendo (decrescendo), dan terdengar kekeh kecil di antara penonton. Dari Bantul, pembaca lain membawakan “Derai-Derai Cemara”.

Bang Saut dan Teman Penyair dari Peru
Tawa dan haru bergantian dengan cepat. Seorang pembaca perempuan berkacamata berbaju hitam, dari prodi Kebijakan Pendidikan UNY, maju dari bangku belakang membacakan Sitor Situmorang. Bang Saut menyahut dari kursi, “Saut dong, Saut Situmorang,” dan penonton tergelak.
Saut sendiri, yang baru pulih dan pulang dari Tiongkok, diguyoni Mbak Mutia Sukma dan Bang Indrian Koto agar lekas maju sebagai perwakilan Karang Taruna Argomulyo yang menjadi punchline dari Tova. Lalu Bang Saut berbalas: “Maaf, suara saya agak terganggu, masih ada virus China,” selorohnya.
Lalu irama mendadak kembali ke blues jazzy, agak funky. Dan akhirnya penyair besar Saut Situmorang berkenan maju, menyumbang pembacaan. Ia membacakan puisi Chairil dan satu lagi karya seorang penyair Peru yang menemaninya saat opname di Tiongkok: “tak ingin mati di negeri jauh, tanpa keluarga dan teman yang menunggu.” Irama berubah menjadi melankolis, membayangkan jasad di kamar jenazah, dikubur di pemakaman umum negeri antah berantah. Tova, yang mengaku agak takut, membanyol: “Kok ada ya, orang yang punya teman penyair Peru.” Penonton terpingkal, tak menebak kalimat itu.
Kemudian giliran sajak Mahmoud Darwish lewat “Kartu Identitas”, terjemahan Saut dari bahasa Inggris, dibacakan pria berkacamata, yang sebelumnya ikut menata lighting. Malam bergulung, suasana hadir bercampur. Sajak dari Arab, Indonesia, dan Peru berpadu meramu kesan malam puncak itu.
Dan tuan rumah pun tak lupa kena todong. Andre, salah satu owner yang mengaku hanya “pembuat kopi” di Warung Sastra, akhirnya setuju terpaksa membacakan puisi. Ia mendapuk “Tamu Tengah Malam” karya Asef Saeful Anwar. Penggalan puisi ini berisi: “Jika cinta sebuah pintu, rindu adalah ketukan tengah malam.” Dan ia membacanya singkat sekali. “Saya tertegun, teman-teman,” kata Tova dengan muka khas dan serius—yang justru membuat kami tergelak. “Saya hitung tadi tujuh detik. Sudah sama salamnya,” imbuh Tova.

Malam itu, Petang Syair ditutup oleh penyair Indrian Koto, yang membaca dua sajak tanpa membaca teks. Bukti kasatmata betapa ia sosok yang menghayati puisi, sampai menubuh. Dan malam pun tergelincir, dengan purnama renta, dan siap memeluk sukacita para panitia maupun penonton yang lekas pulang menjemput tidur.[*]














