• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 30 September 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Event Reportase

Petang Syair: Malam Puncak Pekan Kata Warung Sastra

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
30 September 2026
in Reportase
0
Petang Syair: Malam Puncak Pekan Kata Warung Sastra

Penyair Indrian Koto membacakan puisi di "Petang Syair" acara malam puncak "Pekan Kata Warung Sastra" (26 September 2026) | Dok. M. Naufal Waliyuddin

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Kukuh Basuki dan Etgar Gelegar maju ke panggung. Tata letak dan sorot lampu malam itu tampak seperti konser akan segera digelar di teras Warung Sastra. Usai cek suara, Kukuh lekas memulai pertunjukan: tangan kanannya terangkat, bibir di depan mic, tangan kanan memegang buku kecil berkertas kuning cokelat. Petikan gitar Etgar mengisi ruang. Mereka menyajikan petikan puisi hasil terjemahan Tionghoa. Begitulah acara “Petang Syair” dibuka malam itu.

Serampung satu-dua urun syair dari duet Kukuh Gelegar itu, Tova, komika rising star asal Ngemplak, memandu jalannya acara. Petang Syair ini (Sabtu, 26/09/2026) menjadi momen puncak bagi rangkaian kegiatan “Pekan Kata Warung Sastra” yang merayakan sastra Indonesia era 1945-1950. Acara ini merupakan hasil kerja sama dengan dukungan Kementerian Kebudayaan RI untuk Penguatan Komunitas Sastra pada tahun 2026.

Banyak dari hadirin yang baru membacakan puisi untuk kali pertama. Sementara sosok penyair yang paling banyak dibacakan karyanya, sesuai dugaan, adalah Chairil Anwar. Selebihnya, saat sudah banyak karya era ’45–’50-an terlantunkan, panitia juga memberi ruang bagi puisi-puisi bebas dari para audiens yang berkeinginan untuk ikut meramaikan acara.

Kukuh Basuki menyambut hadirin sambil membacakan puisi sekaligus mengiringi biola di setiap pembacaan di Petang Syair | Dok. Rifal Fadlurrahman

Blues dan Jazz Sebelum Kata

Pada awalnya, sebelum satu larik pun dibacakan, Cak Kukuh dan Gelegar membuka jamming ringan bernuansa jazzy dan blues. Sebagian penonton tampak menunduk, menyiapkan naskah masing-masing. Yang lain mengangguk-anggukkan kaki mengikuti ritme, membiarkan musik meluruhkan rasa canggung dan kikuk—mungkin khawatir ditunjuk maju untuk baca puisi.

Tova naik ke panggung dan langsung menebak-nebak penonton. Melakukan riffing, sejenis teknik stand-up comedy untuk memanfaatkan penonton. “Dari Sewon? Guru? Atau TU?” Ketika seorang hadirin menyebut bahwa ia berasal dari Blora, Tova berseru bahwa itu tempat Pram. “Wah, sastra sekali saya,” penonton lekas terbahak. Malam terasa lebih cair.

Gerry dari Sanggar Nun jadi pembuka setelah Tova memandu malam. Dengan kelakar getir, Gerry menyebut Yogyakarta sebagai “tempat terbaik untuk menyembunyikan kegagalan”, lalu membacakan puisi Siti Rukiah dari buku Tandus yang ia bawa. Bacaannya halus, lalu berpindah gahar. Biola Kukuh menggesek keremangan di bangku penonton, dan puisi tentang “perlombaan lari antara cinta dan pembunuhan” mengalun bersama musik yang sayup. Di salah satu kursi, saya melihat Mas Taufik, peserta beasiswa kelas kritik sastra, sedang menempelkan ponsel ke telinganya, mendengarkan seperti teman-teman tunanetra yang lain.

Hadirin dari perempuan juga ikut membacakan puisi | Dok. M. Naufal Waliyuddin

Chairil Anwar dari Berbagai Arah

Penyair sajak “Aku” ini hadir berkali-kali malam itu, dari mulut yang berbeda-beda. Asef Saeful Anwar, yang “ditembak” mendadak hari itu, maju sambil bergurau bahwa namanya sama-sama memakai Anwar, tetapi ia bukan cucu Chairil. Di sisi lainnya, Andre dari panitia ngakak karena rencana busuknya terlaksana. Asef membacakan “Prajurit Jaga Malam”, puisi yang lahir pada 1948, ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik.

Ada pembaca dari Bengkel Sastra, Universitas Sanata Dharma. Ia membawakan “Senja di Pelabuhan Kecil”, pembacanya memilih berbisik. Petikan dawai hanya sesekali, biola masuk pelan, dan gonggong anjing tetangga menjadi latar yang tak direncanakan namun cukup berkesan. Cak Kukuh memejamkan mata. Begitu larik “Kau kembang, aku kumbang” terucap, biola menanjak ke nada minor yang menyayat, kebalikan crescendo (decrescendo), dan terdengar kekeh kecil di antara penonton. Dari Bantul, pembaca lain membawakan “Derai-Derai Cemara”.

Seorang pria ikut membacakan puisi yang ia pilih | Dok. Rifal Fadlurrahman

Bang Saut dan Teman Penyair dari Peru

Tawa dan haru bergantian dengan cepat. Seorang pembaca perempuan berkacamata berbaju hitam, dari prodi Kebijakan Pendidikan UNY, maju dari bangku belakang membacakan Sitor Situmorang. Bang Saut menyahut dari kursi, “Saut dong, Saut Situmorang,” dan penonton tergelak.

Saut sendiri, yang baru pulih dan pulang dari Tiongkok, diguyoni Mbak Mutia Sukma dan Bang Indrian Koto agar lekas maju sebagai perwakilan Karang Taruna Argomulyo yang menjadi punchline dari Tova. Lalu Bang Saut berbalas: “Maaf, suara saya agak terganggu, masih ada virus China,” selorohnya.

Lalu irama mendadak kembali ke blues jazzy, agak funky. Dan akhirnya penyair besar Saut Situmorang berkenan maju, menyumbang pembacaan. Ia membacakan puisi Chairil dan satu lagi karya seorang penyair Peru yang menemaninya saat opname di Tiongkok: “tak ingin mati di negeri jauh, tanpa keluarga dan teman yang menunggu.” Irama berubah menjadi melankolis, membayangkan jasad di kamar jenazah, dikubur di pemakaman umum negeri antah berantah. Tova, yang mengaku agak takut, membanyol: “Kok ada ya, orang yang punya teman penyair Peru.” Penonton terpingkal, tak menebak kalimat itu.

Kemudian giliran sajak Mahmoud Darwish lewat “Kartu Identitas”, terjemahan Saut dari bahasa Inggris, dibacakan pria berkacamata, yang sebelumnya ikut menata lighting. Malam bergulung, suasana hadir bercampur. Sajak dari Arab, Indonesia, dan Peru berpadu meramu kesan malam puncak itu.

Dan tuan rumah pun tak lupa kena todong. Andre, salah satu owner yang mengaku hanya “pembuat kopi” di Warung Sastra, akhirnya setuju terpaksa membacakan puisi. Ia mendapuk “Tamu Tengah Malam” karya Asef Saeful Anwar. Penggalan puisi ini berisi: “Jika cinta sebuah pintu, rindu adalah ketukan tengah malam.” Dan ia membacanya singkat sekali. “Saya tertegun, teman-teman,” kata Tova dengan muka khas dan serius—yang justru membuat kami tergelak. “Saya hitung tadi tujuh detik. Sudah sama salamnya,” imbuh Tova.

Foto bersama para panitia dan peserta yang hadir di Petang Syair “Pekan Kata Warung Sastra” | Dok. M. Naufal Waliyuddin

Malam itu, Petang Syair ditutup oleh penyair Indrian Koto, yang membaca dua sajak tanpa membaca teks. Bukti kasatmata betapa ia sosok yang menghayati puisi, sampai menubuh. Dan malam pun tergelincir, dengan purnama renta, dan siap memeluk sukacita para panitia maupun penonton yang lekas pulang menjemput tidur.[*]

Tags: chairil anwarpekan katapetang syairreportasesaut situmorangwarung sastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
Reportase

Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo

29 September 2026

“Kalau ingin tahu tentang saya, tanyalah ke Taufiq Ismail. Dia lebih tahu daripada anak-anak saya.” Begitu ucapan Mohammad Diponegoro, dalam...

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
Reportase

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

28 September 2026

“Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian. Aku memang dipenjara, tapi bukan manusia kurungan.” Luna Kharisma membacakan kalimat itu untuk menggambarkan...

Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
Reportase

Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus

27 September 2026

Kala itu, setiap keluarga orang Jepang mendapat jatah lima liter beras. Sementara bumiputera hanya kecipratan satu setengah liter. Lalu, dalam...

Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
Reportase

Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah

26 September 2026

Antara novel yang dikarang penulis kelahiran 2005 tentang peristiwa 1998 dan novel yang dikarang penulis kelahiran 1983 tentang hal yang...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

12 September 2026
Gambar Artikel Makna Problematika I'm Okay.

Problematika I’m Okay

29 December 2020
Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

Ozzy Osbourne dalam Ingatan: Sebuah Perpisahan Sempurna

5 August 2025
Lelaki Tua yang Dipermainkan Nasib

Lelaki Tua yang Dipermainkan Nasib

20 May 2024
Gambar Artikel Puisi Musafir yang Selesai

Musafir yang Selesai

25 January 2021
Gambar Artikel Menemui Aku yang Aku

Menemui Aku yang Aku

5 November 2020
4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

3 April 2022
Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

8 December 2021
Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

3 August 2025
Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan

17 December 2025
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Petang Syair: Malam Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul
  • Matinya Ratu Adil?
  • Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (72)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (59)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (54)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (18)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.