• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 16 September 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti

Eva Agustina by Eva Agustina
16 September 2026
in Cerpen
0
Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan Agustus, bulan kelahirannya, ia berjanji untuk tidak lagi absen menuliskan jurnal harian. Meski ia tahu, tidak ada hal istimewa yang terjadi setiap harinya. “Hal-hal kecil tetap layak dirayakan,” batinnya.

Lima hari lagi Tuba akan menginjak usia yang ke-28. Ia bertanya-tanya apa hadiah yang akan ia terima pada tahun ini setelah begitu banyak kegagalan yang ia alami. Sudah satu tahun ia terjebak dalam kamarnya dengan tumpukan buku yang tak lagi menarik perhatiannya. Buku yang begitu ia cintai tidak lagi mampu memberinya kekuatan. Begitu pun tokoh idola yang ia kagumi, kini sudah tampak asing dalam hidupnya. Meski begitu, ia berusaha melewati awan gelap yang siap melahapnya kapan saja.

Untuk pertama kalinya ia merasakan dunia yang begitu kelam. Harapan tentang masa depan perlahan memudar dari pandangannya. “Masa depan terlalu jauh bagi orang-orang yang sekuat tenaga berusaha hidup hanya untuk hari ini,” ungkapnya lirih pada dirinya sendiri. Namun, masa depan juga yang justru membuatnya merasa khawatir dan lelah berkepanjangan. Apa yang akan terjadi nanti? Apakah esok akan lebih baik?

Malam ini, ia membuka buku catatannya. Ia ingin menulis lebih panjang dari biasanya. Mencurahkan setiap detail keresahan yang selama ini ia pendam; rasa takut, rasa bersalah, hingga perasaan tidak berharga terhadap dirinya sendiri. Ia teringat akan apa yang diucapkan mantan kekasihnya hari itu.

“Aku selalu di sini, aku gak akan pergi, kita lewati sama-sama ya.”

Namun kalimat itu luput dari ingatannya, dan tidak pernah terucap lagi saat Tuba memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

“Aku rasa hubungan ini udah gak sehat lagi. Energi kita udah gak match,” ucap Tuba.

“Biar aku tanya sekali lagi ya, kamu yakin ini keputusan final kamu?”

“Iya.” Tuba berusaha untuk tidak goyah.

“Oke kalau gitu. Aku menghargai keputusanmu. Aku udah pernah bilang, aku juga ga mau nyakitin kamu.”

Seperti tak ada angin hari itu, Tuba lugas menjawab, “Makasih banyak ya, aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu.”

Perasaan lega bercampur kecewa segera membekap tubuh lemas itu. Sejatinya, Tuba masih berharap bahwa orang yang kini menjadi mantan kekasihnya itu akan bertanya apa yang terjadi, kali ini kenapa. Namun, sejenak suara lain menyusup di benaknya: apa yang diharapkan dari komunikasi yang sudah tidak lagi sejalan? Tuba merasa keputusannya sudah tepat, tapi di sisi lain, jauh di lubuk hatinya, ia masih ingin diselamatkan.

Sebelum memutuskan menjalin hubungan, Tuba sudah begitu akrab dengan kesendirian. Ia tetap menjalani kehidupan dengan senyum mekar senantiasa karena ia tidak pernah merasa kesepian. Ia beberapa kali dekat dengan banyak pria, menjalin hubungan tanpa status, tanpa kepastian. Meskipun berkali-kali gagal, ia tidak pernah larut dalam tangis, sesal, dan sedih. Dengan tenang, ia menceritakan kisah-kisah pilu saat ia ditinggalkan tanpa pemberitahuan, saat ia dijauhi tanpa alasan, saat ia ditolak tanpa penjelasan.

Ia tidak menyadari bahwa jejak-jejak itu menetap di alam bawah sadarnya. Hingga ia bertemu dengan mantan kekasihnya, Saka. Seorang teman menyusun skenario untuk mereka saling mengenal. Percakapan bermula melalui media sosial. Mereka berada di pulau yang berbeda. “Tidak seperti lelaki lain,” pikir Tuba. Mereka memutuskan untuk bertemu saat Saka mendapatkan perjalanan dinas ke kota yang ditinggali Tuba. Dengan antusias, Tuba menanti hari kedatangannya.

Saka sangat berbeda dari apa yang dipikirkan Tuba, ia tidak begitu banyak bicara, sosoknya dingin tapi begitu tenang. Awalnya, Tuba merasa Saka tidak terlalu cocok untuknya, namun saat pertemuan berakhir, ia tidak ingin berpisah dengannya. Ia mengecek layar handphone-nya terus-menerus, berharap notifikasi muncul dari lelaki yang tampak dingin itu. Ia ingin tahu bagaimana pandangan Saka tentangnya. Terlalu lama menanti, Tuba memutuskan untuk menghubungi Saka lebih dulu.

“Makasih ya udah luangin waktu buat ketemu, semoga kamu gak kapok.”

“Iya, Tuba, aku seneng bisa berbagi banyak hal sama kamu.”

Hubungan mereka terus berkembang. Tuba merasa bahwa Saka mampu memberikan kenyamanan. Ia jatuh cinta dengan suaranya yang menyejukkan, dengan kata-katanya yang menenangkan. Saat itu, Tuba berpikir bahwa ia tidak boleh kehilangan Saka. Ia tidak menginginkan hubungan tanpa status kembali membelenggunya, merenggut orang yang ia sayang.

“Kamu maukah jadi pacarku?” Tuba mengungkapkan isi hatinya, tanpa peringatan, tanpa aba-aba.

“Wait, kamu beneran?”

Dengan nada bercanda, ia membalas, “Yaudah kalau ga mau gapapa.”

“Tunggu, harusnya aku yang bilang duluan. Kamu… mau… gak… temenin… aku… terus?”

Tuba sudah menduga, Saka juga memiliki keinginan yang sama, melangkah lebih jauh bersama-sama.

Seperti halnya banyak hubungan, mereka melalui banyak senyuman, tangisan, keresahan, kerinduan, kekecewaan. Mereka berseteru, berkompromi dan berkasih-kasih kembali.

Namun, hal yang tak diinginkan terjadi: sebuah variabel yang tidak dapat diprediksi.

Tuba kesulitan menjalani hari setelah menyelesaikan studi. Ia mulai lelah dengan rutinitas yang dihadapi. Satu-satunya yang ia harapkan adalah kehadiran Saka. Ia ingin Saka selalu hadir untuknya, menemani hari-harinya yang hampa, mendengar setiap keresahannya. Tanpa sadar, ia menggantungkan hidup pada Saka. Membangun ekspektasi yang tinggi dan mengeluh setiap kali Saka tidak mampu memenuhinya.

“Aku ngerti kalo kamu capek, tapi seharian aku ga ngapa-ngapain. Padahal aku cuma dapet sisa hari kamu, kamu selalu tidur cepet,” Tuba meluapkan amarahnya.

“Kamu tahu kan kalau alarm tidurku jam 10? Kita beda zona waktu.”

“Iya, aku tahu. Tapi plis, weekend aja aku mau kamu bisa nemenin aku lebih lama,” Tuba memohon.

Tak ingin berlarut-larut, Saka menjawab pendek, “Iya, aku coba ya.”

Konflik keluarga yang dialami Tuba memperparah kondisinya, ia semakin sensitif, mudah kesal dan marah. Ia merasa Saka tidak lagi mencintainya karena ia tidak mengerti kondisi yang dialami Tuba.

“Apa yang kamu bilang bahkan lewat gitu aja. Aku udah ga bisa cerna lagi,” Tuba mengatakannya tanpa rasa bersalah.

Saka membalas dengan pasrah, “Gapapa, aku tetep akan bilang hal itu. Aku berusaha buat nguatin kamu terus.”

Tuba tidak lagi merasakan ketenangan; pergolakan batin yang ia alami justru mengantarkannya pada keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan Saka. Setiap kali emosinya tidak stabil, Tuba ingin pergi menjauh dari Saka. Ia kesal, sedih, namun juga khawatir karena menjadikan Saka pelampiasan atas masalah yang ia hadapi. Ia tidak mampu berpikir dengan jernih.

“Aku mau udahan.”

“Kalau kita temenan aja gimana?”

“Kayaknya aku gak bisa lanjutin lagi hubungan ini.”

Lambat laun Saka lelah dengan apa yang disampaikan Tuba. Berkali-kali Tuba meminta agar hubungan mereka berakhir. Berkali-kali perasaannya hancur. Ia tidak lagi mampu mengendalikannya. Saka merasa bersalah sekaligus kecewa. Ia sudah tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam hubungan yang ingin ia pertahankan. Hingga akhirnya, mereka sepakat untuk berpisah.

Tuba tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya Saka akan melepaskannya begitu saja. Kenyataan bahwa Saka sudah tidak lagi ingin berjuang untuknya dan merelakan kepergiannya membuat hatinya hancur berkeping-keping. Puing-puingnya jatuh berserakan. Sebagian hilang bersama bayangan yang tak akan kembali lagi.

Sudah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan Tuba memungut dan mencari setiap kepingnya. Entah kapan akan kembali utuh. “Mungkin nanti,” gumamnya. Sebab ia bukan hanya kehilangan Saka, ia telah kehilangan sebagian hidupnya.[]

________

Tags: cerpeneva agustinametaforsastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Eva Agustina

Eva Agustina

Penulis asal Banten. Bisa disapa via instagram @evv.augustj

Artikel Terkait

Tunggul
Cerpen

Tunggul

9 September 2026

Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai...

Cik Dian
Cerpen

Cik Dian

4 August 2026

Aziz Bogel, kawan lamaku di Surabaya, pernah berteori bahwa setiap perempuan bernama “Dian” pasti cantik. “Paling tidak dia pasti manis,”...

Ruang Mimpi
Cerpen

Ruang Mimpi

28 June 2026

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur...

Di Teras St. Carolus
Cerpen

Di Teras St. Carolus

4 June 2026

Di teras St. Carolus, kau lihat di seberangmu orang-orang lalu-lalang, terburu-buru seolah detik di esok hari sudah tak tersisa lagi....

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Fenomena ‘Ngapak’

Fenomena ‘Ngapak’

26 November 2021
Gambar Artikel Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

26 December 2020
Gambar Makanan dan Orang Jawa

Makanan dan Orang Jawa

4 February 2021
Gambar Artikel Pendidikan Virtual : Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

Pendidikan Virtual: Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

20 November 2020

Jalan Sunyi dengan Ribuan Bunyi

24 October 2021
Puasa Puisi: Perayaan Sastra Lintas Bahasa

Puasa Puisi: Perayaan Sastra Lintas Bahasa

31 March 2024
Promothean

Promothean

1 February 2021
Gambar Artikel Puisi Hikayat Jenderal Koruptor

Hikayat Jenderal Koruptor

31 January 2021
Bukti Pemerintah Serius Menangani Pandemi Covid-19

Bukti Pemerintah Serius Menangani Pandemi Covid-19

9 August 2021
Tempat: Kenangan dan Seisinya

Tempat: Kenangan dan Seisinya

28 January 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul
  • Matinya Ratu Adil?
  • Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
  • Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
  • Cik Dian
  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (72)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (59)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (54)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (18)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.