Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan Agustus, bulan kelahirannya, ia berjanji untuk tidak lagi absen menuliskan jurnal harian. Meski ia tahu, tidak ada hal istimewa yang terjadi setiap harinya. “Hal-hal kecil tetap layak dirayakan,” batinnya.
Lima hari lagi Tuba akan menginjak usia yang ke-28. Ia bertanya-tanya apa hadiah yang akan ia terima pada tahun ini setelah begitu banyak kegagalan yang ia alami. Sudah satu tahun ia terjebak dalam kamarnya dengan tumpukan buku yang tak lagi menarik perhatiannya. Buku yang begitu ia cintai tidak lagi mampu memberinya kekuatan. Begitu pun tokoh idola yang ia kagumi, kini sudah tampak asing dalam hidupnya. Meski begitu, ia berusaha melewati awan gelap yang siap melahapnya kapan saja.
Untuk pertama kalinya ia merasakan dunia yang begitu kelam. Harapan tentang masa depan perlahan memudar dari pandangannya. “Masa depan terlalu jauh bagi orang-orang yang sekuat tenaga berusaha hidup hanya untuk hari ini,” ungkapnya lirih pada dirinya sendiri. Namun, masa depan juga yang justru membuatnya merasa khawatir dan lelah berkepanjangan. Apa yang akan terjadi nanti? Apakah esok akan lebih baik?
Malam ini, ia membuka buku catatannya. Ia ingin menulis lebih panjang dari biasanya. Mencurahkan setiap detail keresahan yang selama ini ia pendam; rasa takut, rasa bersalah, hingga perasaan tidak berharga terhadap dirinya sendiri. Ia teringat akan apa yang diucapkan mantan kekasihnya hari itu.
“Aku selalu di sini, aku gak akan pergi, kita lewati sama-sama ya.”
Namun kalimat itu luput dari ingatannya, dan tidak pernah terucap lagi saat Tuba memutuskan untuk mengakhiri hubungan.
“Aku rasa hubungan ini udah gak sehat lagi. Energi kita udah gak match,” ucap Tuba.
“Biar aku tanya sekali lagi ya, kamu yakin ini keputusan final kamu?”
“Iya.” Tuba berusaha untuk tidak goyah.
“Oke kalau gitu. Aku menghargai keputusanmu. Aku udah pernah bilang, aku juga ga mau nyakitin kamu.”
Seperti tak ada angin hari itu, Tuba lugas menjawab, “Makasih banyak ya, aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu.”
Perasaan lega bercampur kecewa segera membekap tubuh lemas itu. Sejatinya, Tuba masih berharap bahwa orang yang kini menjadi mantan kekasihnya itu akan bertanya apa yang terjadi, kali ini kenapa. Namun, sejenak suara lain menyusup di benaknya: apa yang diharapkan dari komunikasi yang sudah tidak lagi sejalan? Tuba merasa keputusannya sudah tepat, tapi di sisi lain, jauh di lubuk hatinya, ia masih ingin diselamatkan.
Sebelum memutuskan menjalin hubungan, Tuba sudah begitu akrab dengan kesendirian. Ia tetap menjalani kehidupan dengan senyum mekar senantiasa karena ia tidak pernah merasa kesepian. Ia beberapa kali dekat dengan banyak pria, menjalin hubungan tanpa status, tanpa kepastian. Meskipun berkali-kali gagal, ia tidak pernah larut dalam tangis, sesal, dan sedih. Dengan tenang, ia menceritakan kisah-kisah pilu saat ia ditinggalkan tanpa pemberitahuan, saat ia dijauhi tanpa alasan, saat ia ditolak tanpa penjelasan.
Ia tidak menyadari bahwa jejak-jejak itu menetap di alam bawah sadarnya. Hingga ia bertemu dengan mantan kekasihnya, Saka. Seorang teman menyusun skenario untuk mereka saling mengenal. Percakapan bermula melalui media sosial. Mereka berada di pulau yang berbeda. “Tidak seperti lelaki lain,” pikir Tuba. Mereka memutuskan untuk bertemu saat Saka mendapatkan perjalanan dinas ke kota yang ditinggali Tuba. Dengan antusias, Tuba menanti hari kedatangannya.
Saka sangat berbeda dari apa yang dipikirkan Tuba, ia tidak begitu banyak bicara, sosoknya dingin tapi begitu tenang. Awalnya, Tuba merasa Saka tidak terlalu cocok untuknya, namun saat pertemuan berakhir, ia tidak ingin berpisah dengannya. Ia mengecek layar handphone-nya terus-menerus, berharap notifikasi muncul dari lelaki yang tampak dingin itu. Ia ingin tahu bagaimana pandangan Saka tentangnya. Terlalu lama menanti, Tuba memutuskan untuk menghubungi Saka lebih dulu.
“Makasih ya udah luangin waktu buat ketemu, semoga kamu gak kapok.”
“Iya, Tuba, aku seneng bisa berbagi banyak hal sama kamu.”
Hubungan mereka terus berkembang. Tuba merasa bahwa Saka mampu memberikan kenyamanan. Ia jatuh cinta dengan suaranya yang menyejukkan, dengan kata-katanya yang menenangkan. Saat itu, Tuba berpikir bahwa ia tidak boleh kehilangan Saka. Ia tidak menginginkan hubungan tanpa status kembali membelenggunya, merenggut orang yang ia sayang.
“Kamu maukah jadi pacarku?” Tuba mengungkapkan isi hatinya, tanpa peringatan, tanpa aba-aba.
“Wait, kamu beneran?”
Dengan nada bercanda, ia membalas, “Yaudah kalau ga mau gapapa.”
“Tunggu, harusnya aku yang bilang duluan. Kamu… mau… gak… temenin… aku… terus?”
Tuba sudah menduga, Saka juga memiliki keinginan yang sama, melangkah lebih jauh bersama-sama.
Seperti halnya banyak hubungan, mereka melalui banyak senyuman, tangisan, keresahan, kerinduan, kekecewaan. Mereka berseteru, berkompromi dan berkasih-kasih kembali.
Namun, hal yang tak diinginkan terjadi: sebuah variabel yang tidak dapat diprediksi.
Tuba kesulitan menjalani hari setelah menyelesaikan studi. Ia mulai lelah dengan rutinitas yang dihadapi. Satu-satunya yang ia harapkan adalah kehadiran Saka. Ia ingin Saka selalu hadir untuknya, menemani hari-harinya yang hampa, mendengar setiap keresahannya. Tanpa sadar, ia menggantungkan hidup pada Saka. Membangun ekspektasi yang tinggi dan mengeluh setiap kali Saka tidak mampu memenuhinya.
“Aku ngerti kalo kamu capek, tapi seharian aku ga ngapa-ngapain. Padahal aku cuma dapet sisa hari kamu, kamu selalu tidur cepet,” Tuba meluapkan amarahnya.
“Kamu tahu kan kalau alarm tidurku jam 10? Kita beda zona waktu.”
“Iya, aku tahu. Tapi plis, weekend aja aku mau kamu bisa nemenin aku lebih lama,” Tuba memohon.
Tak ingin berlarut-larut, Saka menjawab pendek, “Iya, aku coba ya.”
Konflik keluarga yang dialami Tuba memperparah kondisinya, ia semakin sensitif, mudah kesal dan marah. Ia merasa Saka tidak lagi mencintainya karena ia tidak mengerti kondisi yang dialami Tuba.
“Apa yang kamu bilang bahkan lewat gitu aja. Aku udah ga bisa cerna lagi,” Tuba mengatakannya tanpa rasa bersalah.
Saka membalas dengan pasrah, “Gapapa, aku tetep akan bilang hal itu. Aku berusaha buat nguatin kamu terus.”
Tuba tidak lagi merasakan ketenangan; pergolakan batin yang ia alami justru mengantarkannya pada keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan Saka. Setiap kali emosinya tidak stabil, Tuba ingin pergi menjauh dari Saka. Ia kesal, sedih, namun juga khawatir karena menjadikan Saka pelampiasan atas masalah yang ia hadapi. Ia tidak mampu berpikir dengan jernih.
“Aku mau udahan.”
“Kalau kita temenan aja gimana?”
“Kayaknya aku gak bisa lanjutin lagi hubungan ini.”
Lambat laun Saka lelah dengan apa yang disampaikan Tuba. Berkali-kali Tuba meminta agar hubungan mereka berakhir. Berkali-kali perasaannya hancur. Ia tidak lagi mampu mengendalikannya. Saka merasa bersalah sekaligus kecewa. Ia sudah tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam hubungan yang ingin ia pertahankan. Hingga akhirnya, mereka sepakat untuk berpisah.
Tuba tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya Saka akan melepaskannya begitu saja. Kenyataan bahwa Saka sudah tidak lagi ingin berjuang untuknya dan merelakan kepergiannya membuat hatinya hancur berkeping-keping. Puing-puingnya jatuh berserakan. Sebagian hilang bersama bayangan yang tak akan kembali lagi.
Sudah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan Tuba memungut dan mencari setiap kepingnya. Entah kapan akan kembali utuh. “Mungkin nanti,” gumamnya. Sebab ia bukan hanya kehilangan Saka, ia telah kehilangan sebagian hidupnya.[]
________














