Belum genap pukul delapan pagi, sinar matahari sudah membasuh wajah para peserta yang sudah tak sabar menanti acara jalan-jalan bersama agar segera dimulai. Mereka berkumpul di halaman sebuah gedung Indonesia College, persis di seberang Warung Sastra berada.
Minggu itu, 20 September 2026, mereka berdiri melingkar di halaman berpaving itu. Mereka datang dari berbagai daerah, laki-laki dan perempuan, rentang usia 20 hingga 30-an, bercampur antara mahasiswa dan pekerja. Sebuah rombongan yang baru saling kenal—kecuali para panitia tentu saja—kini akan saling terhubung dalam satu program yang sama, yakni Ngulandara.
Acara ini adalah kegiatan jalan-jalan sastra yang digelar sebagai salah satu dari serangkaian program “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung Kementerian Kebudayaan RI dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra”. Ucap Leo, salah satu pemandu kegiatan pagi itu, “Ngulandara” berasal dari bahasa Jawa yang artinya “bertualang”. Alumni program studi Sastra Jawa UGM ini menjelaskan ke saya bahwa ada juga novel terkenal berbahasa Jawa dengan judul tersebut. Tepatnya, karya Margana Djajaatmadja, terbitan Balai Pustaka di tahun 1940-an, yang berkisah tentang pengembaraan. Dan pagi itu, pengembaraan kecil kami baru saja dimulai—dengan senam pemanasan.


Melingkar, Menyapa, Melangkah
Sebelum benar-benar menapaki jalanan di pinggir Kali Code, peserta diajak melingkar. Perkenalan singkat mengalir, disusul senam pemanasan dasar. Barangkali gerakan-gerakan kecil dengan meregangkan sendi-sendi dan otot itu menjelma laku-harapan, mungkin agar tidak keseleo saat menapaki tangga, gang-gang sempit, dan perabot yang terpajang di sisi jalan.
Leo, pemandu acara, usai memberi intro kepada peserta, lekas memasrahkannya kepada Asef Saeful Anwar selaku pemandu sekaligus pencerita di sepanjang Ngulandara berlangsung. Rombongan lekas menembus jalan raya, menyeberang ke gang di samping Hotel Tentrem, sebuah hunian temporer yang mewah bin mahal dan pernah disinggahi influencer Ishowspeed. Dan yang akan kami jumpai kemudian adalah sebuah kontras tajam: gang sempit, perabotan terlantar, tangga-tangga curam melingkar zigzag, dan kehidupan warga bantaran sungai yang jauh dari kilau bintang lima.

Begitu tiba di titik pertama tikungan pinggir kali, Kang Asef, dosen Sastra Indonesia UGM, mengisi forum. Angin dari arah pepohonan tepi sungai berembus bersama gemericik rendah, suara seperti bisik dari aliran air di musim kemarau. “Kenapa era ’45–’50 itu penting?” Kang Asef melontarkan pertanyaan retoris. Ia menyebut bahwa di samping perjuangan revolusi kemerdekaan dan mempertahankannya (melawan agresi militer), era ini juga menyimpan karya-karya sastra yang menjadi fondasi peta sastra Indonesia hari ini.

Tokoh-tokoh yang diangkat Warung Sastra dalam pameran arsip sastrawan 1945-1950 ada 8 orang. Beberapa di antaranya dibahas sambil berjalan saat sesi Ngulandara. Mereka adalah Soewarsih Djojopoespito (1912–1977), Mohammad Diponegoro (1928–1982), Chairil Anwar (1922–1949), Abdullah Idrus (1921–1979), Nasjah Djamin (1924–1997), S. Rukiah/Siti Rukiah Kertapati (1927–1996), Motinggo Boesje (1937–1999), dan Sugiarti Siswadi (….–1987) yang tahun lahirnya tidak tercatat.
“Mengapa tidak bahas Chairil?” Kang Asef memancing lagi. Raut wajah para peserta seperti telah mengantongi jawabannya. “Chairil sudah tenar, semua orang tahu,” lanjutnya. “Karena itu penting untuk menampilkan figur-figur lain yang bergerak di waktu yang sama, dan sama-sama ikut mempertahankan kemerdekaan, tapi masih kurang dikenal.”


Kemudian, Kukuh Basuki Rahmat memeriahkan perjalanan itu. Ia membacakan puisi berjudul Vrijheid dalam bahasa Belanda. Dengan gerak, ekspresi, dan rambut gondrongnya yang terkibarkan angin tepi sungai itu, mungkin membuat orang berpikir, “Kurang sastra apa perjalanan ini?” Reaksi para peserta tampak beragam; ada yang memegang hape merekamnya, ada yang menyimak penuh, ada yang menahan tawa sambil terkagum dengan totalitas pertunjukannya.

Rombongan lanjut melangkah menyusuri gigir sungai, menjajaki lengkung jalan yang sudah tampak bagus dan rapi—sesuatu yang amat berbeda setengah abad lalu. Saya seperti terlempar ke zaman sebelum terang benderang merabuki malam. Masa ketika bintang-bintang di atas sana belum ragu merias malam di pinggiran sungai, akibat kalah terang dengan Philips atau lampu LED terkini. Seperti apa pinggiran Kali Code di bawah kaki saya ini delapan puluh tahun lalu? Bagaimana kehidupan orang-orang masa itu? Ikan-ikan apa saja yang dulu ada merenanginya dan kini telah musnah?
Lamunan saya terbuyar. Ada penjelasan Kang Asef yang mencuri fokus. Ia menyebut S. Rukiah dan Sugiarti Siswadi sebagai contoh. Dua perempuan ini bukan sekadar menulis, mereka juga giat melakoni aktivisme sosial lewat keterlibatan mereka di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sementara itu, Soewarsih memilih jalur partai lain, terang Asef. “Ada beberapa karya dan pengarang yang seolah-olah dilupakan oleh sejarah. Kita perlu menggali ulang. Soal pandangan politik, teman-teman apakah sepakat dengan mereka atau tidak, itu biar menjadi keputusan masing-masing,” imbuhnya, seraya rombongan lanjut mengikuti langkahnya. Kembali menapaki paving-paving tepian Kali Code, mengamati bapak-bapak jongkok memancing, atau mereka yang ciblon sambil mengambil pasir.


Bau Mayat di Bawah Jembatan Sudirman
Langkah rombongan akhirnya sampai di Jembatan Sudirman. Salah satu jembatan tertua di Yogyakarta, yang dulunya bernama Jembatan Gondolayu—yang kata Kang Asef secara harfiah berarti “bau mayat”. Di sinilah Kang Asef mengait ingatannya pada cerpen karya Joni Ariadinata yang menjadikannya latar kisah gelap, suram, dan sarat peristiwa asusila. Cerpen tersebut pernah dinobatkan sebagai salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 1994 (penelusuran saya: judul cerpennya “Lampor”).
“Jadi di cerpen itu, tidak diungkap dalam gambaran keindahan. Tapi penuh hal-hal gelap, miskin, suram, tapi bukan kriminal ya, melainkan sesuatu yang sifatnya asusila,” tegas Kang Asef di depan fondasi jembatan yang kebak grafiti dan mural warga setempat. Para peserta mengeja karya lukis warna-warni di tembok yang seolah menjadi kanvas bagi suara-suara gelisah yang jarang didengar.


Ia melanjutkan kisahnya, bahwa baru setelah kehadiran YB Mangunwijaya, Kali Code mulai tertata rapi. Sastrawan cum arsitek tersebut berhasil mengelola dan menata pemukiman bantaran kali. Dulunya, kawasan ini jauh lebih semrawut. “Warga diberi kesempatan untuk urun rembug, melibatkan mereka menyumbang ide dan konsep. Mural-muralnya itu juga buatan warga sendiri,” tuturnya sambil mengibaskan tangan ke arah salah satu dinding bergambar. Dari situlah tumbuh rasa memiliki yang menjadikan kampung bantaran Kali Code ini bertahan hingga kini.

Museum yang Perpus: Kritik terhadap Museum yang ‘Mati’
Perjalanan pun berlanjut tak jauh dari titik tersebut. Tampak sebuah bangunan dua lantai dengan dinding anyaman bambu, penuh lukisan dan tulisan di bagian tangga kecilnya, dan bergaya sederhana. Itulah Museum Romo Mangun, cara warga menghormati jasa arsitektur dan kontribusi rohaniwan itu. Ruangan museumnya ada di lantai atas. Ukurannya relatif kecil, tangganya kecil dan cukup curam, hanya memuat lima-enam orang dalam satu waktu masuk.
“Kenapa disebut museum, bukan perpustakaan?” Kang Asef memantik sambil mengedarkan pandang. Baginya, justru di situlah letak kritik dan ironinya: museum di era dulu, sebuah tempat yang seharusnya hidup, menyimpan dokumen yang terus dibaca dan diperbarui, seolah “dimatikan” fungsinya. Zaman itu, museum masih banyak yang cenderung berisi sejarah elite, perang, tantara, dan tidak hidup. Oleh sebab itulah warga menamakan ini “museum” sebagai kritik terhadap kondisi era itu. Dan di ruang museum kecil inilah warga berinteraksi dan membaca buku.

Koleksi buku di dalamnya merupakan hasil sumbangan berbagai kelompok. Kendati isinya tidak serapi dan sebersih perpustakaan atau museum milik negara, namun seluruh inventaris dikatalogisasikan dengan kaidah ilmu perpustakaan. “Teman-teman lihat, kode angka 800, misalnya, itu pasti buku-buku humaniora,” jelas Asef.
Di tengah penjelasan itu, aroma opor ayam dari dapur rumah tangga menguar naik. Bau sedap itu menyelinap masuk ke lantai atas tempat peserta menengok-nengok isi rak, tepat ketika saya berdiri menghadap langsung ke kali. Barangkali ini sebuah pengingat kecil, bahwa museum ini berdiri bukan di ruang yang dibuat steril dan terpisah, melainkan berdampingan rapat dengan dapur-dapur warga yang senantiasa butuh dibuat ngebul saban hari.
Sebuah momentum puitik, dan semakin genap saat mengamati dua pemuda tengah memancing di bawah depan dekat museum.

Arsitek Eko Prawoto, lanjut Kang Asef, merancang bangunan ini dengan filosofi terbalik dari kebiasaan umum. Bukan alam yang menyesuaikan bangunan, namun justru bangunan yang menyesuaikan bentang alam. Dinding-dindingnya mengikuti kontur tebing, jendela dan terasnya membingkai sungai seperti lukisan hidup yang berubah setiap waktu.

Dari museum, kami semua berjalan naik menapaki tangga, menuju Masjid Kalimosodo. Salah satu karya arsitektur Romo Mangun juga. Di sepanjang proses Ngulandara ini, setiap belokan terasa seperti membalik halaman baru, dari kisah lama, berkelindan dengan peristiwa kini. Sebuah adegan di mana kampung, sungai, dan sastra saling berpilin, memintal satu sama lain, dan merajut kisah.

Sungai: Cermin Hidup
Sulit saya jelaskan, mengapa di momen begini, saya teringat novel Siddharta karya Hermann Hesse. Menjelang akhir bagian kisahnya, sungai memainkan peran yang tidak sepele. Tepi sungai-lah yang menjadi tempat Siddharta menekuri jejak hidupnya, lebam jiwanya, lubuk batinnya. Sungai menjadi cermin hidupnya, juga perjumpaannya dengan Basudewa, yang menginspirasinya secara spiritual.
Dengan begitu, sungai bukan sekadar bentang geografis. Sungai bukan cuma lekuk dan alir air dalam peta yang beku; sungai juga saksi, sumber hidup, sekaligus medan di mana kebudayaan tumbuh, ditempa, dibangun, diretas, dan dirombak ulang hingga “mengalir sampai jauh”—dengan wajah yang senantiasa berubah, senantiasa berbeda. Dan tidak terkecuali dalam hal sastra.
“No man ever steps in the same river twice,” tutur Heraclitus. Itu karena yang dilewatinya bukanlah sungai yang sama lagi seperti dulu. Ia bukanlah air yang sama, bukan tumbuhan, batu-batu, dan lekuk yang sama; yang melewatinya pun bukan orang yang sama lagi. Ia tumbuh, dan berubah. Dan renungan ini, secara tidak sengaja, membuat saya terpisah dari rombongan Ngulandara.
Sebagian dari kami nyasar, terpisah, namun akhirnya kembali berjumpa bersama.[*]
_________________________
Catatan Redaksi: Reportase ini merupakan hasil kerja sama dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra” dan Metafor.id menjadi mitra komunitas media di dalamnya.














