Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur dengan perasaan yang tidak memberi kenyamanan.
Di atas meja kayu dan rak buku yang mulai keropos dilahap rayap, Mandra termangu di depan meja yang dipenuhi buku-buku tentang teori sosial, filsafat, dan novel-novel kesukaannya. Dulunya, buku-buku itu adalah senjata utama miliknya. Setumpuk modal besar dalam proses perjalanan akademis. Ia merasa bangga karena selalu menulis kolom opini tentang ketidakadilan sosial di media-media lokal. Setidaknya, menurut hati kecilnya, ia dapat menyuarakan keresahan banyak orang.
Kini, Mandra baru saja menutup telepon dari ibunya, tepat sebelum ia terlelap. Di kepalanya masih terngiang suara ibunya yang gemetar dan menangis. Ibunya menceritakan tentang perjuangan abangnya yang menjual setumpuk tanaman. Tidak lupa pula ibunya menceritakan tagihan-tagihan utang yang bunganya terus beranak pinak. Bagi Mandra, itu adalah sebuah angka yang sangat mustahil bisa dibantu olehnya, karena Mandra hanya bekerja sebagai barista.
Esoknya, ia bangun tepat pukul 12.30 siang. Mandra tidak sholat, ia merasakan bahwa kadar iman yang mulai menurun. Mandra mulai membuka handphone dan laptop. Ternyata ia sudah mengirim ratusan lamaran kerja di berbagai kota. Hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada satu pun yang membalas surat lamarannya. Ada perasaan yang menjanggal dalam benak Mandra saat itu. Ia mampu melihat dengan teori-teori yang ia pelajari tentang masalah kemiskinan dan ketertindasan di daerahnya, tapi sayangnya ia justru tidak mampu menemukan satu solusi pun untuk menyelesaikan bahkan mengeluarkan keluarganya dari lilitan utang yang begitu besar.
Peta yang ia gambar saat kuliah justru menjadi ancaman bagi Mandra. Idealisme yang ia pahami buyar dalam pikiran semata. Mandra sadar, bahwa ia tinggal di negeri para penjilat. Ketika Mandra mengarahkan dirinya untuk belajar lebih keras, membaca lebih banyak, dan menulis lebih tajam, maka dunia dengan lugas akan membukakan pintu untuknya. Namun kenyataan yang ia terima ternyata dunia dewasa tidak peduli seberapa banyak buku yang dipahami, karena dunia hanya bertanya “apakah kau mampu menjilat, dan apa yang bisa kau hasilkan hari ini?”
Mandra membuka situs daring tempat ia mengirim tulisan. Ia membuka tulisan yang paling ia suka. Sebuah opini panjang yang mempertanyakan “Integritas Ideologi Negaranya”. Ketika membaca tulisan kebanggaannya secara berulang, ada perasaan benci yang muncul terhadap tulisan itu sehingga ia bergumam pada dirinya sendiri, “Apa sebenarnya tujuanku menulis ini?”
Dengan kenyataan yang Mandra terima, ia mulai sadar bahwa ini bukan soal idealisme yang luntur, melainkan soal bertahan hidup. Sebagai anak laki-laki dan anak kedua dari empat bersaudara, Mandra menopang ekspektasi yang besar. Ekspektasi kakak laki-laki beserta dua adiknya, dan tentu ekspektasi orang tuanya. Ia harus paling sukses di lingkungan keluarga itu, karena hanya Mandra yang menempuh pendidikan sampai mendapat gelar master.
Mandra mulai merenung di hadapan cermin yang pecah. Ia melihat bahwa cermin itu seperti dirinya yang juga mulai pecah dengan pikiran-pikiran yang setiap hari selalu menghadirkan kegelisahan dan kecemasan. Di samping kaca itu terdapat tumpukan buku dari penulis kesukaan Mandra, yaitu Albert Camus. Tulisan-tulisan orang seberang itu menjadi kompas dalam hidup Mandra.
Ia berbicara di depan buku itu, “Sebenarnya apa yang diincar oleh para penulis hingga mereka mampu menulis buku-buku sebanyak itu. Padahal honor penulis juga tidak cukup untuk kebutuhan hidup”. Ego Mandra hancur, martabatnya sebagai mahasiswa yang dulu punya cita-cita untuk mengubah daerah tempat ia tinggal menjadi buyar karena fakta yang ia terima. Mandra tidak akan memilih menjadi penjilat, tetapi bagaimana caranya mempertahankan idealisme di tengah kebutuhan hidup yang serba kurang.
Mandra bergegas, hendak mengelilingi kota tempat ia merantau. Dan kala itu gerimis hujan, sesuatu yang memberi Mandra ketenangan. Ia singgah di salah satu danau yang hening. Tidak ada satu orang pun di sana, kecuali dirinya. Ia berteriak “Jika dunia menyuruh untuk membunuh idealisme yang aku pegang demi sesuap nasi, maka aku akan mencari nasi itu dengan cara yang paling kasar dan jalan yang beruntusan tanpa berharap pada negara apalagi orang dalam sekalipun”.
Mandra diam sejenak, lalu lanjut berteriak dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya : “Menjadi pekerja kasar sekalipun, baik itu buruh gudang, buruh tani, kuli bangunan, aku akan tetap merdeka pada pikiran yang sudah kubentuk ini, persetan dengan sistem yang ada”. Ketika berteriak selantang itu, perasaannya mulai lega. Pernyataan sikap itu menunjukkan bahwa ia tidak akan menghalangi tangannya untuk berkotor-kotor, namun ia juga tidak akan membiarkan kemiskinan yang terus-menerus menampar Mandra dan keluarganya. Apapun itu, ia akan berusaha semaksimal mungkin.
Di hari itu malam mulai hadir, remang-remang senja begitu indah di danau tempat Mandra singgah. Ia melangkah menuju parkiran. Di bawah lampu jalan yang redup, ia duduk di samping kendaraan miliknya. Mandra menulis di buku catatan yang mulai kumuh dengan kalimat “Mereka bisa menyita rumahku, menghimpit keluargaku dengan lilitan bunga yang besar, tetapi mereka tidak bisa mendikte apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus aku katakan”. Selesai menulis, ia bergegas menuju kos. Mandra berharap akan tertidur pulas sesampainya di kos.
Mandra terperangah. Matanya terpaksa terbuka karena cahaya matahari yang mulai garang dan menyelip di sela-sela sirkulasi udara kos miliknya. Ia meraba dada. Ternyata cerita-cerita itu hanya mimpi panjang dalam tidur yang nyenyak. Mimpi yang lahir karena lelah yang luar biasa setelah kemarin ia harus berdiri berjam-jam di depan mesin espresso dan membuat lebih dari 50 gelas kopi. Mandra menarik napas panjang, dan berkata “Tuhan ternyata cerita panjang itu hanya mimpi semata”, lalu Mandra bergegas mandi, bersiap-siap untuk bekerja di depan mesin espresso itu lagi. Tarikan napas yang panjang sembari lisan mengumpat lirih, “Ahh kerja lagi… kerja lagi….”[*]














