• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 28 June 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Ruang Mimpi

Muhammad Rahul Mulyanto by Muhammad Rahul Mulyanto
28 June 2026
in Cerpen
0
Ruang Mimpi

Ilustrasi karya Józef Rapack | Sumber: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur dengan perasaan yang tidak memberi kenyamanan.

Di atas meja kayu dan rak buku yang mulai keropos dilahap rayap, Mandra termangu di depan meja yang dipenuhi buku-buku tentang teori sosial, filsafat, dan novel-novel kesukaannya. Dulunya, buku-buku itu adalah senjata utama miliknya. Setumpuk modal besar dalam proses perjalanan akademis. Ia merasa bangga karena selalu menulis kolom opini tentang ketidakadilan sosial di media-media lokal. Setidaknya, menurut hati kecilnya, ia dapat menyuarakan keresahan banyak orang.

Kini, Mandra baru saja menutup telepon dari ibunya, tepat sebelum ia terlelap. Di kepalanya masih terngiang suara ibunya yang gemetar dan menangis. Ibunya menceritakan tentang perjuangan abangnya yang menjual setumpuk tanaman. Tidak lupa pula ibunya menceritakan tagihan-tagihan utang yang bunganya terus beranak pinak. Bagi Mandra, itu adalah sebuah angka yang sangat mustahil bisa dibantu olehnya, karena Mandra hanya bekerja sebagai barista.

Esoknya, ia bangun tepat pukul 12.30 siang. Mandra tidak sholat, ia merasakan bahwa kadar iman yang mulai menurun. Mandra mulai membuka handphone dan laptop. Ternyata ia sudah mengirim ratusan lamaran kerja di berbagai kota. Hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada satu pun yang membalas surat lamarannya. Ada perasaan yang menjanggal dalam benak Mandra saat itu. Ia mampu melihat dengan teori-teori yang ia pelajari tentang masalah kemiskinan dan ketertindasan di daerahnya, tapi sayangnya ia justru tidak mampu menemukan satu solusi pun untuk menyelesaikan bahkan mengeluarkan keluarganya dari lilitan utang yang begitu besar.

Peta yang ia gambar saat kuliah justru menjadi ancaman bagi Mandra. Idealisme yang ia pahami buyar dalam pikiran semata. Mandra sadar, bahwa ia tinggal di negeri para penjilat. Ketika Mandra mengarahkan dirinya untuk belajar lebih keras, membaca lebih banyak, dan menulis lebih tajam, maka dunia dengan lugas akan membukakan pintu untuknya. Namun kenyataan yang ia terima ternyata dunia dewasa tidak peduli seberapa banyak buku yang dipahami, karena dunia hanya bertanya “apakah kau mampu menjilat, dan apa yang bisa kau hasilkan hari ini?”

Mandra membuka situs daring tempat ia mengirim tulisan. Ia membuka tulisan yang paling ia suka. Sebuah opini panjang yang mempertanyakan “Integritas Ideologi Negaranya”. Ketika membaca tulisan kebanggaannya secara berulang, ada perasaan benci yang muncul terhadap tulisan itu sehingga ia bergumam pada dirinya sendiri, “Apa sebenarnya tujuanku menulis ini?”

Dengan kenyataan yang Mandra terima, ia mulai sadar bahwa ini bukan soal idealisme yang luntur, melainkan soal bertahan hidup. Sebagai anak laki-laki dan anak kedua dari empat bersaudara, Mandra menopang ekspektasi yang besar. Ekspektasi kakak laki-laki beserta dua adiknya, dan tentu ekspektasi orang tuanya. Ia harus paling sukses di lingkungan keluarga itu, karena hanya Mandra yang menempuh pendidikan sampai mendapat gelar master.

Mandra mulai merenung di hadapan cermin yang pecah. Ia melihat bahwa cermin itu seperti dirinya yang juga mulai pecah dengan pikiran-pikiran yang setiap hari selalu menghadirkan kegelisahan dan kecemasan. Di samping kaca itu terdapat tumpukan buku dari penulis kesukaan Mandra, yaitu Albert Camus. Tulisan-tulisan orang seberang itu menjadi kompas dalam hidup Mandra.

Ia berbicara di depan buku itu, “Sebenarnya apa yang diincar oleh para penulis hingga mereka mampu menulis buku-buku sebanyak itu. Padahal honor penulis juga tidak cukup untuk kebutuhan hidup”. Ego Mandra hancur, martabatnya sebagai mahasiswa yang dulu punya cita-cita untuk mengubah daerah tempat ia tinggal menjadi buyar karena fakta yang ia terima. Mandra tidak akan memilih menjadi penjilat, tetapi bagaimana caranya mempertahankan idealisme di tengah kebutuhan hidup yang serba kurang.

Mandra bergegas, hendak mengelilingi kota tempat ia merantau. Dan kala itu gerimis hujan, sesuatu yang memberi Mandra ketenangan. Ia singgah di salah satu danau yang hening. Tidak ada satu orang pun di sana, kecuali dirinya. Ia berteriak “Jika dunia menyuruh untuk membunuh idealisme yang aku pegang demi sesuap nasi, maka aku akan mencari nasi itu dengan cara yang paling kasar dan jalan yang beruntusan tanpa berharap pada negara apalagi orang dalam sekalipun”.

Mandra diam sejenak, lalu lanjut berteriak dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya : “Menjadi pekerja kasar sekalipun, baik itu buruh gudang, buruh tani, kuli bangunan, aku akan tetap merdeka pada pikiran yang sudah kubentuk ini, persetan dengan sistem yang ada”. Ketika berteriak selantang itu, perasaannya mulai lega. Pernyataan sikap itu menunjukkan bahwa ia tidak akan menghalangi tangannya untuk berkotor-kotor, namun ia juga tidak akan membiarkan kemiskinan yang terus-menerus menampar Mandra dan keluarganya. Apapun itu, ia akan berusaha semaksimal mungkin.

Di hari itu malam mulai hadir, remang-remang senja begitu indah di danau tempat Mandra singgah. Ia melangkah menuju parkiran. Di bawah lampu jalan yang redup, ia duduk di samping kendaraan miliknya. Mandra menulis di buku catatan yang mulai kumuh dengan kalimat “Mereka bisa menyita rumahku, menghimpit keluargaku dengan lilitan bunga yang besar, tetapi mereka tidak bisa mendikte apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus aku katakan”. Selesai menulis, ia bergegas menuju kos. Mandra berharap akan tertidur pulas sesampainya di kos.

Mandra terperangah. Matanya terpaksa terbuka karena cahaya matahari yang mulai garang dan menyelip di sela-sela sirkulasi udara kos miliknya. Ia meraba dada. Ternyata cerita-cerita itu hanya mimpi panjang dalam tidur yang nyenyak. Mimpi yang lahir karena lelah yang luar biasa setelah kemarin ia harus berdiri berjam-jam di depan mesin espresso dan membuat lebih dari 50 gelas kopi. Mandra menarik napas panjang, dan berkata “Tuhan ternyata cerita panjang itu hanya mimpi semata”, lalu Mandra bergegas mandi, bersiap-siap untuk bekerja di depan mesin espresso itu lagi. Tarikan napas yang panjang sembari lisan mengumpat lirih, “Ahh kerja lagi… kerja lagi….”[*]

Tags: cerpenmetaforrahul mulyanto
ShareTweetSendShare
Previous Post

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

Muhammad Rahul Mulyanto

Muhammad Rahul Mulyanto

Penulis kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat. Alumni pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di Instagram @_mrhl30

Artikel Terkait

Di Teras St. Carolus
Cerpen

Di Teras St. Carolus

4 June 2026

Di teras St. Carolus, kau lihat di seberangmu orang-orang lalu-lalang, terburu-buru seolah detik di esok hari sudah tak tersisa lagi....

Saung
Cerpen

Saung

28 April 2026

Abdul Hadi masih membuka mata di bawah langit yang hitam membiru. Tangannya menyilang, menahan keganasan angin yang turun dari gunung....

Salam Terakhir
Cerpen

Salam Terakhir

8 February 2026

Satu per satu anggota band itu keluar dari studio rekaman dengan wajah lesu. Mereka tak lagi saling menyapa. Masing-masing dari...

Perempuan yang Menghapus Namanya
Cerpen

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar ada atau hanya tinggal dalam kepala dan dada seseorang yang terlalu sering menulis namaku?...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Kebanyakan Fafifu

Kebanyakan Fafifu

3 May 2021
Novel “Heaven”: Perundungan dan Pergulatan Hidup Penyintas

Novel “Heaven”: Perundungan dan Pergulatan Hidup Penyintas

28 March 2024
Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026
Jam Operasional Korona

Jam Operasional Korona

5 February 2021
Puisi yang Mengantarkan Kematian

Puisi yang Mengantarkan Kematian

25 February 2021
Gambar Artikel Jejak Akhir Tahun Menuju Tahun Baru Api. Kasus di Akhir Tahun

Jejak Akhir Tahun Menuju Tahun Baru Api

12 January 2021
Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

2 July 2021
Fenomena Narsisisme Religius Kaum Milenial

Fenomena Narsisisme Religius Kaum Milenial

3 May 2021
Gambar Artikel Bias Kegelisahan dan Kenangan

Bias Kegelisahan dan Kenangan

17 November 2020
Daftar Momen Saat Perempuan Minta Maaf dengan Tulus

Daftar Momen Saat Perempuan Minta Maaf dengan Tulus

26 December 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (233)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (148)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.