“Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian. Aku memang dipenjara, tapi bukan manusia kurungan.” Luna Kharisma membacakan kalimat itu untuk menggambarkan harapan Siti Rukiah Kertapati (1927–1996), sastrawan perempuan yang namanya pernah dipaksa hilang dari sejarah. Malam itu, di Warung Sastra, namanya dihidupkan kembali.
Malam Buku ke-108 digelar pada Kamis (24/9/2026) dalam rangka memperingati tokoh-tokoh sastrawan 1945–1950, termasuk Siti Rukiah. Acara ini termasuk ke dalam rangkaian “Pekan Kata Warung Sastra” pada 19–26 September 2026 dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai bagian dari program “Penguatan Komunitas Sastra”. Kali itu, Ruhaeni Intan memoderatori Luna Kharisma, sutradara teater sekaligus pendiri Mirat Kolektif, dan Muhidin M. Dahlan, arsiparis partikelir yang juga salah satu pendiri Radio Buku dan Warung Arsip.

Perempuan yang (Menolak) Dihapus
Intan mengenal Siti Rukiah lewat buku terbitan Marjin Kiri, tentang perempuan-perempuan yang dihapus sejarah. Dari situ, ia lalu beranjak dan membaca Tandus (1952). Rukiah lahir di Purwakarta pada April 1927. Masa berkaryanya singkat, tetapi hasilnya melimpah: novel, cerpen, puisi, esai, dan cerita rakyat. Ia mengajar, juga menerjemahkan, bahkan menjadi staf redaksi dan duduk di pimpinan pusat Lekra. Dalam rentang 1965–1969 ia dipenjara, kemudian dilarang menulis hingga akhir hayat.
Luna mengenal Tandus dari seorang teman. Ia kemudian menggandakannya, sambil tertawa, mengaku secara ilegal, lantas dibaca bersama-sama, sebelum akhirnya membeli terbitan Ultimus. Kolektifnya mulai menggelar tadarusan karya-karya Siti Rukiah. Ia menolak melihat Rukiah hanya sebagai penulis. Lebih luas dari itu, Rukiah baginya juga aktif dalam kerja-kerja kolektif, gerakan politik, dan jurnalisme.
Dosen teater ini juga menyanggah H.B. Jassin dan A. Teeuw, yang menilai karya Rukiah bergejolak dan tak selesai. Baginya, pertanyaan yang terus diajukan Rukiah lewat karya-karyanya itu justru merupakan praktik berpikir feminis, juga representasi pergulatan batin perempuan yang tak dikenali oleh kritikus pada zamannya, yang mayoritas laki-laki. “Itu pandangan dari siapa?” pantik Luna. “Laki-laki.”
Ia lanjut mewedarkan contoh kepiawaian menulis Rukiah dalam cerpen “Mak Esah”. Luna menemukan sosok perempuan tua yang menyaksikan zaman dari revolusi hingga G30S, lalu mati dalam kemelaratan.
Kendati begitu, bagi Luna, ihwal paling perlu disorot dari Siti Rukiah adalah harapannya. Dalam karyanya, Siti Rukiah tak selalu muram dan apokaliptik. Manusia, dalam karangannya, punya kekuatan untuk melawan dan menolak lenyap.
Kemudian Gus Muh (panggilan akrab Muhidin M. Dahlan) menambahkan tentang nasib getir yang dikenyam perempuan yang pernah menjabat redaktur Lentera tersebut. “Rukiah menjadi paria di dunia sastra karena keterlibatannya dengan Lekra.”

Arsip yang Bicara dan Peran Suami
Muhidin mengaku menemukan Rukiah bukan dari karyanya, melainkan dari lembaran arsip. Pada lembar kebudayaan “Lentera” harian Bintang Timur, nama Rukiah dan Pramoedya Ananta Toer disebut dalam satu tarikan napas. Saat Pram menjadi redaktur pada 1962, penyambutannya hanya satu paragraf. Begitu giliran Rukiah yang diumumkan, dua pertiga halaman terbitan 1 Juli 1962 dipenuhi tulisan tentangnya, dalam font huruf ukuran sembilan yang amat rapat.
Sebagai redaktur, kata Muhidin, Rukiah ikut bertanggung jawab atas serangan Lentera terhadap Hamka, yang menunjuk Tenggelamnya Kapal Van der Wijk sebagai hasil plagiat. Rukiah juga pernah dicap anti-Tuhan, fakta yang Muhidin temukan dari surat pembaca yang membelanya.
Ia juga mengingatkan para audiens akan peran suami Rukiah, Sidik Kertapati, pemuda Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang menggerakkan massa di Lapangan Ikada pasca-proklamasi. Keduanya menikah pada 1947. Sidik lantas duduk di parlemen dan membela petani. Keberadaan dan relasi dengan suaminya ini, bagi Muhidin, ikut menyumbangkan keberanian, wawasan, akses politik dan bacaan dalam proses kreatif Siti Rukiah.
Berbekal studi arsipnya yang begitu jeli, Gus Muh lanjut membeberkan rentetan fakta historis tentang sosok perempuan prolifik ini. Terjemahan cerpen Filipina “Si Penjajah” yang digarap Rukiah, tafsir Muhidin, merupakan bagian dari proyek politik Konferensi Sastrawan Asia Afrika. Sebuah proyek yang dirancang pada 1963, persiapan 1964, dan batal untuk selamanya pada 1965. “Jadi, ini sebuah sikap. Dia bukan menerjemahkan karya karena suka karya itu, tidak seperti penerjemah-penerjemah kita sekarang misalnya. Kerja sastra Lekra saat itu harus sejalan dengan jalur ideologi dan perjuangan, bukan kesukaan pribadi.”
Menggali Kubur, Pelan-pelan
Luna mengimbuhi diskusi dari sisi lain Rukiah. Sosok sastrawan perempuan di era awal Indonesia ini pernah mengeluarkan seruan solidaritas bagi korban bom atom Hiroshima-Nagasaki di majalah Api Kartini. Luna juga menyoroti kritik film, iklan-iklan dari UMKM, dan sikap yang mendukung sekaligus mengkritik kepemimpinan Sukarno beserta kabinetnya.
Sesi tanya jawab menyentuh waktu. Seorang penonton bernama Novia bertanya kapan karya penulis kiri mulai diperkenalkan kembali. Luna tidak menyebut tahun pastinya. Patokannya adalah upaya terus-menerus dari para peneliti, seniman, sastrawan, baik kecil maupun besar, yang “menggali kubur” lewat arsip, tesis, dan disertasi, yang merupakan kerja kolektif yang ikut berkontribusi dalam upaya pengenalan kembali tersebut. Meski demikian, bagi Luna, masih ada ketimpangan yang terasa hingga hari ini: ada banyak orang yang tahu Bumi Manusia karya Pram, tapi begitu sedikit yang bisa menyebut satu saja judul karya dari Siti Rukiah.
Menyimak diskusi malam itu, saya merenung: barangkali Siti Rukiah memiliki kualitas pribadi yang kini diidam-idamkan oleh para feminis, yakni audacity. Sebuah keberanian, nyaris kenekatan, dengan nuansa daya ‘kurang ajar’ yang positif; sesuatu yang selama ini kaum perempuan dipaksa untuk memendamnya, menekannya kuat-kuat, agar tak percaya diri dan merunduk, tunduk.
Namun, jauh sebelum arus dan wacana feminisme menjadi wawasan publik hari ini, Siti Rukiah telah tunai melakoninya. Dan kiranya pemuda hari ini perlu menimba itu dari karya-karyanya.[*]
_________________________
Catatan Redaksi: Reportase ini merupakan hasil kerja sama dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra” dan Metafor.id menjadi mitra komunitas media di dalamnya.














