• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 09 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Event Reportase

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
28 September 2026
in Reportase
0
Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

Para pembicara "Malam Buku ke-108" tentang Siti Rukiah Kertapati di Warung Sastra, 24 September 2026 | Dok. Leo Dwi Mahardika

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

“Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian. Aku memang dipenjara, tapi bukan manusia kurungan.” Luna Kharisma membacakan kalimat itu untuk menggambarkan harapan Siti Rukiah Kertapati (1927–1996), sastrawan perempuan yang namanya pernah dipaksa hilang dari sejarah. Malam itu, di Warung Sastra, namanya dihidupkan kembali.

Malam Buku ke-108 digelar pada Kamis (24/9/2026) dalam rangka memperingati tokoh-tokoh sastrawan 1945–1950, termasuk Siti Rukiah. Acara ini termasuk ke dalam rangkaian “Pekan Kata Warung Sastra” pada 19–26 September 2026 dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI sebagai bagian dari program “Penguatan Komunitas Sastra”. Kali itu, Ruhaeni Intan memoderatori Luna Kharisma, sutradara teater sekaligus pendiri Mirat Kolektif, dan Muhidin M. Dahlan, arsiparis partikelir yang juga salah satu pendiri Radio Buku dan Warung Arsip.

Poster acara “Malam Buku #108” membahas Siti Rukiah | Unggahan Instagram Warung Sastra

Perempuan yang (Menolak) Dihapus

Intan mengenal Siti Rukiah lewat buku terbitan Marjin Kiri, tentang perempuan-perempuan yang dihapus sejarah. Dari situ, ia lalu beranjak dan membaca Tandus (1952). Rukiah lahir di Purwakarta pada April 1927. Masa berkaryanya singkat, tetapi hasilnya melimpah: novel, cerpen, puisi, esai, dan cerita rakyat. Ia mengajar, juga menerjemahkan, bahkan menjadi staf redaksi dan duduk di pimpinan pusat Lekra. Dalam rentang 1965–1969 ia dipenjara, kemudian dilarang menulis hingga akhir hayat.

Luna mengenal Tandus dari seorang bernama Udiarti, rekannya di Mirat Kolektif. Ia kemudian menggandakannya, sambil tertawa, mengaku secara ilegal, lantas dibaca bersama-sama, sebelum akhirnya membeli terbitan Ultimus. Kolektifnya mulai menggelar tadarusan karya-karya Siti Rukiah. Ia menolak melihat Rukiah hanya sebagai penulis. Lebih luas dari itu, Rukiah baginya juga aktif dalam kerja-kerja kolektif, gerakan politik, dan jurnalisme.

Mantan dosen teater ini juga menyanggah H.B. Jassin dan A. Teeuw, yang menilai karya Rukiah bergejolak dan tak selesai. Baginya, pertanyaan yang terus diajukan Rukiah lewat karya-karyanya itu justru merupakan praktik berpikir feminis, juga representasi pergulatan batin perempuan yang tak dikenali oleh kritikus pada zamannya, yang mayoritas laki-laki. “Itu pandangan dari siapa?” pantik Luna. “Laki-laki.”

Ia lanjut mewedarkan contoh kepiawaian menulis Rukiah dalam cerpen “Mak Esah”. Luna menemukan sosok Mak Esah, perempuan yang sendiri dan melintasi waktu, melintasi berbagai pemimpin, juga keadaan. Ketika zaman demi zaman berganti, raja-raja berganti presiden, tapi hidupnya tak kunjung berubah. Ia tetap dalam kemelaratan dan mati dikubur negaranya sendiri.

Melalui cerpen itu, Rukiah menampilkan bagaimana masyarakat kita menghadapi segala bentuk revolusi, tutur Luna. Ia menemukan gagasan yang paling perlu disorot dari Siti Rukiah adalah harapannya. Bahwa tulisannya melintasi batas-batas waktu, ideologi, dan generasi. Dalam karyanya, Siti Rukiah tak selalu muram dan apokaliptik. Manusia, dalam karangannya, punya kekuatan untuk melawan dan menolak lenyap.

Kemudian Gus Muh (panggilan akrab Muhidin M. Dahlan) menambahkan tentang nasib getir yang dikenyam perempuan yang pernah menjabat redaktur Lentera tersebut. “Rukiah menjadi paria di dunia sastra karena keterlibatannya dengan Lekra.”

Penonton “Malam Buku” ke-108 di halaman Warung Sastra sedang menyimak diskusi | Dok. Leo Dwi Mahardika

Arsip yang Bicara dan Peran Suami

Muhidin mengaku menemukan Rukiah bukan dari karyanya, melainkan dari lembaran arsip. Pada lembar kebudayaan “Lentera” harian Bintang Timur, nama Rukiah dan Pramoedya Ananta Toer disebut dalam satu tarikan napas. Saat Pram menjadi redaktur pada 1962, penyambutannya hanya satu paragraf. Begitu giliran Rukiah yang diumumkan, dua pertiga halaman terbitan 1 Juli 1962 dipenuhi tulisan tentangnya, dalam font huruf ukuran sembilan yang amat rapat.

Sebagai redaktur, kata Muhidin, Rukiah ikut bertanggung jawab atas serangan Lentera terhadap Hamka, yang menunjuk Tenggelamnya Kapal Van der Wijk sebagai hasil plagiat. Rukiah juga pernah dicap anti-Tuhan, fakta yang Muhidin temukan dari surat pembaca yang membelanya.

Ia juga mengingatkan para audiens akan peran suami Rukiah, Sidik Kertapati, pemuda Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang menggerakkan massa di Lapangan Ikada pasca-proklamasi. Keduanya menikah pada 1947. Sidik lantas duduk di parlemen dan membela petani. Keberadaan dan relasi dengan suaminya ini, bagi Muhidin, ikut menyumbangkan keberanian, wawasan, akses politik dan bacaan dalam proses kreatif Siti Rukiah.

Berbekal studi arsipnya yang begitu jeli, Gus Muh lanjut membeberkan rentetan fakta historis tentang sosok perempuan prolifik ini. Terjemahan cerpen Filipina “Si Penjajah” yang digarap Rukiah, tafsir Muhidin, merupakan bagian dari proyek politik Konferensi Sastrawan Asia Afrika. Sebuah proyek yang dirancang pada 1963, persiapan 1964, dan batal untuk selamanya pada 1965. “Jadi, ini sebuah sikap. Dia bukan menerjemahkan karya karena suka karya itu, tidak seperti penerjemah-penerjemah kita sekarang misalnya. Kerja sastra Lekra saat itu harus sejalan dengan jalur ideologi dan perjuangan, bukan kesukaan pribadi.”

Menggali Kubur, Pelan-pelan

Luna mengimbuhi diskusi dari sisi lain Rukiah. Sosok sastrawan perempuan di era awal Indonesia ini pernah mengeluarkan seruan solidaritas bersama rekan-rekan redakturnya di majalah Api Kartini khusus bagi korban bom atom Hiroshima-Nagasaki. Luna juga menyoroti kritik film, iklan-iklan dari UMKM, dan sikap yang mendukung sekaligus mengkritik kepemimpinan Sukarno beserta kabinetnya.

Sesi tanya jawab menyentuh waktu. Seorang penonton bernama Novia bertanya kapan karya penulis kiri mulai diperkenalkan kembali. Luna tidak menyebut tahun pastinya. Patokannya adalah upaya terus-menerus dari para peneliti, seniman, sastrawan, baik kecil maupun besar, yang “menggali kubur” lewat arsip, tesis, dan disertasi, yang merupakan kerja kolektif yang ikut berkontribusi dalam upaya pengenalan kembali tersebut. Selain lewat karya akademik, upaya-upaya lain juga muncul melampaui disiplin ilmu/bidang kesenian, misalnya dengan membicarakan, mendiskusikan arsip, hingga perantara musik, pertunjukan, dll. Meski demikian, bagi Luna, masih ada ketimpangan yang terasa hingga hari ini: ada banyak orang yang tahu Bumi Manusia karya Pram, tapi begitu sedikit yang bisa menyebut satu saja judul karya dari Siti Rukiah.

Menyimak diskusi malam itu, saya merenung: barangkali Siti Rukiah memiliki kualitas pribadi yang kini diidam-idamkan oleh para feminis, yakni audacity. Sebuah keberanian, nyaris kenekatan, dengan nuansa daya ‘kurang ajar’ yang positif; sesuatu yang selama ini kaum perempuan dipaksa untuk memendamnya, menekannya kuat-kuat, agar tak percaya diri dan merunduk, tunduk.

Namun, jauh sebelum arus dan wacana feminisme menjadi wawasan publik hari ini, Siti Rukiah telah tunai melakoninya. Dan kiranya pemuda hari ini perlu menimba itu dari karya-karyanya.[*]

_________________________

Catatan Redaksi: Reportase ini merupakan hasil kerja sama dalam rangkaian acara “Pekan Kata Warung Sastra” yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dalam rangka “Penguatan Komunitas Sastra” dan Metafor.id menjadi mitra komunitas media di dalamnya.

Tags: Luna Kharismamalam bukuMuhidin M. Dahlanpekan kataperempuanRuhaeni Intansastrawan IndonesiaSiti Rukiah Kertapatiwarung sastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus

Next Post

Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
Reportase

Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra

30 September 2026

Kukuh Basuki dan Etgar Gelegar maju ke panggung. Tata letak dan sorot lampu malam itu tampak seperti konser akan segera...

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
Reportase

Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo

29 September 2026

“Kalau ingin tahu tentang saya, tanyalah ke Taufiq Ismail. Dia lebih tahu daripada anak-anak saya.” Begitu ucapan Mohammad Diponegoro, dalam...

Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
Reportase

Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus

27 September 2026

Kala itu, setiap keluarga orang Jepang mendapat jatah lima liter beras. Sementara bumiputera hanya kecipratan satu setengah liter. Lalu, dalam...

Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
Reportase

Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah

26 September 2026

Antara novel yang dikarang penulis kelahiran 2005 tentang peristiwa 1998 dan novel yang dikarang penulis kelahiran 1983 tentang hal yang...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”

28 September 2026
Perempuan di Mata Asghar Ali Engineer

Perempuan di Mata Asghar Ali Engineer

29 June 2021
Pulau Semau, Sang Inti Matahari

Pulau Semau, Sang Inti Matahari

15 March 2021
Diam dan Merapal Hujan

Diam dan Merapal Hujan

6 July 2022
Gambar Artikel Puisi Dengan Angin

Dengan Angin

19 January 2021
Stanza di Stasiun Juanda

Stanza di Stasiun Juanda

18 April 2021
Gambar Artikel Menulis dengan Holistik

Menulis dengan Holistik

1 November 2020
Gambar Artikel Ketika Seorang Perempuan Membaca Nawal el-Saadawi. Resensi Buku Perempuan di Titik Nol

Ketika Seorang Perempuan Membaca Nawal el-Saadawi

4 November 2020
Gambar Artikel Pengungsi Peradaban, Para Pencari Mbah Nun

Pengungsi Peradaban (2)

23 January 2021
Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

17 February 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.