Aziz Bogel, kawan lamaku di Surabaya, pernah berteori bahwa setiap perempuan bernama “Dian” pasti cantik.
“Paling tidak dia pasti manis,” pungkasnya penuh keyakinan.
Lalu Aziz Bogel menyebut sederet nama Dian dari perempuan-perempuan yang tergolong cantik di dunia ini. Tentu saja ia tidak melewatkan nama Dian Nitami dan Dian Sastrowardoyo.
Jujur saja, aku mulai memercayai teori Aziz Bogel yang aneh ini. Betapa pun teorinya terdengar mengada-ada dan tidak ditopang argumen memadai, diam-diam aku mengamininya. Di dalam benak, aku menyisir kawan-kawan perempuanku yang memiliki nama Dian. Aku juga mengingat-ingat semua perempuan bernama Dian yang pernah aku kenal, seraya mengingat-ingat seperti apa wajah mereka.
Aziz Bogel benar belaka. Semua perempuan itu ternyata memang cantik, atau setidaknya mereka berwajah manis. Namun, aku mulai meragukan teori Aziz Bogel ketika aku pulang ke kampung halaman. Waktu itu Lebaran Idulfitri hari kedua. Pagi-pagi sekali Ibu masuk ke kamarku.
“Bang, pergilah ke rumah Cik Dian. Bawa ini!” katanya sembari membawa rantang yang ditumpuk-tumpuk.
Cik Dian? Aku tercenung beberapa saat setelah mendengar nama itu.
“Cik Dian sedang sakit,” kata Ibu lagi setelah meletakkan rantang di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.
Saat itu juga aku tersadar bahwa ada perempuan bernama Dian di lingkungan keluargaku sendiri. Perempuan itu makcikku. Cik Dian, begitu aku memanggilnya. Dan aku nyaris melupakannya. Sudah lebih dari dua puluh tahun aku tidak bertemu dengannya. Terakhir kali bertemu mungkin saat aku kelas lima SD. Ibu tidak pernah membicarakannya, begitu pun pakcik-pakcikku, atau keluargaku yang lain. Namun, jika tidak salah, Ibu pernah cerita kalau Cik Dian pergi merantau ke luar pulau.
“Selama ini Cik Dian di mana?” tanyaku pada Ibu.
“Kalimantan,” jawab Ibu.
“Sejak kapan dia pulang?” Aku masih penasaran.
Ibu terdiam. “Entahlah. Mungkin sudah setahun.”
Jawabannya terdengar aneh. Ditambah lagi, ini momen Lebaran. Mengapa ia lebih memilih aku yang pergi? Mengapa ia tak ikut membesuk adik perempuannya sendiri? Namun, sebelum pertanyaan itu terlontar, Ibu lebih dulu berkata, “Kau saja yang pergi, Bang. Hari ini banyak tamu.”
Cik Dian tinggal di rumah yang agak jauh dari pusat kota. Rumah itu dulu rumah nenekku. Untuk sampai ke sana aku harus bermotor melewati ribuan hektare kebun sawit, membelah lahan gambut, dan menyusuri jalan tanah laterit yang lanyau karena hujan.
Meski lama tak bertemu, Cik Dian masih mengenaliku begitu ia melihatku. Ia sedang mengangsu air dari perigi di belakang rumah ketika aku memarkir motor.
“Masuk, Bang!” seru Cik Dian. Suaranya serak. Dan sepertinya ia sudah tahu aku akan datang.
Pintu rumah terbuka lebar. Setelah melepas sandal dan melangkah masuk, debu di lantai begitu terasa di telapak kaki. Sepertinya sudah berhari-hari rumah ini tidak disapu. Debu-debu mengendap bersama kenangan dan nostalgia yang pekat.
Sementara itu, kayu kelukup yang menjadi dinding rumah seakan kokoh merawat masa silam ketika telapak tanganku menyentuhnya. Dulu, ketika Nenek masih hidup, aku kerap bermain di rumah ini, terutama saat sedang libur sekolah.
Kursi dan meja kayu di ruang tamu masih seperti dulu. Membisu. Lalu kubiarkan kebisuannya memanjang seturut langkahku ke ruang tengah, lalu ke dapur. Cik Dian sudah berdiri di ambang pintu belakang. Aku menghampiri dan mencium punggung tangannya, lalu kami duduk di meja makan.
Pagi itu Cik Dian tampak lesu. Tak banyak yang ia tanyakan tentangku selain perihal kesehatan dan pekerjaan. Andai saja aku tidak dikuasai rasa ingin tahu dan tidak bertenaga untuk bertanya ini dan itu, barangkali percakapan kami segera mati.
Cik Dian menjawab pertanyaanku dengan kalimat terputus-putus. Suaranya tidak hanya serak, tetapi juga terdengar berat. Seperti ada bara api yang menyumbat kerongkongannya. Dan seperti ada batu karang yang tersimpan di dadanya. Maka, alih-alih meresapi apa yang keluar dari mulutnya, diam-diam aku mengamati garis-garis urat yang mencuat di keningnya. Aku juga mencermati titik-titik noda hitam di pipinya dan bibirnya yang pucat—seperti dahlia kehilangan warnanya.
Wajah Cik Dian jauh dari cantik.
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri sebelum tersadar kembali bahwa Cik Dian sedang sakit.
“Cuma demam biasa, Bang,” jawabnya ketika aku bertanya tentang sakitnya.
“Kenapa tidak ke dokter, Cik?” tanyaku lagi.
“Sudah, Bang, sudah.”
Seolah ingin mengalihkan pembicaraan, ia lantas bertanya makanan apa yang aku bawa. Kemudian ia membuka rantang yang sedari tadi belum tersentuh. Ada ketupat, semur daging, ayam bumbu ketumbar, dan serundeng kacang hijau.
Cik Dian mengajakku makan sambil mengeluh karena ia tidak bisa menjamuku dengan makanan enak. Sejauh mata memandang, di rumah ini memang tiada makanan. Kue-kue Lebaran pun tiada. Lalu aku membuka tudung saji di hadapanku. Ternyata di situ ada nasi, ikan tamban goreng, dan sambal serai. Maka kukatakan padanya kalau aku ingin makan makanan itu.
Segera kuambil pinggan yang langsung kuisi penuh dengan nasi dan tiga ekor ikan tamban goreng. Tak lupa sambal serai yang kusiram di atasnya. Wangi serai benar-benar melambungkan selera makan. Cik Dian terpana melihatku makan dengan begitu lahap, sembari mengunyah pelan ketupat yang ia cocol-cocolkan ke serundeng. Sementara aku tiada henti memuji-muji masakannya yang teramat memanjakan lidah.
Saat hendak pulang, mataku tertuju pada sebuah foto di atas meja kecil di samping kamar. Aku terus mengamat-amati, tapi tak bisa mengenali siapa di foto itu.
“Itu Marta, adik sepupumu,” kata Cik Dian yang langsung menjawab rasa penasaranku.
Aku langsung mencari-cari sejumput memori yang mengarah pada kenyataan bahwa Cik Dian punya anak perempuan.
“Di mana Marta sekarang, Cik?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja ketika aku sudah melewati pintu depan. Cahaya matahari kini membuat kulit kecokelatan Cik Dian yang tak ubahnya gambut kering jadi tampak lebih jelas.
“Dia di Banjarmasin, bersama suaminya,” jawabnya.
Aku mengangguk, tak bertanya apa-apa lagi, dan segera pamit pulang.
Begitu sampai rumah, ternyata ada banyak orang yang sedang menantiku. Dua pakcikku datang bersama keluarga masing-masing. Ibu sedang sibuk menyiapkan makanan dan minuman di dapur. Adikku sedang asyik bercanda dengan sepupu-sepupunya—anak-anak dari Pakcik. Rumah jadi ramai. Sejak ayahku berpulang dua tahun lalu, kehadiran sanak saudara memang sangat berarti demi membunuh sepi.
Menjelang malam, rumah jadi makin ramai karena saudara-saudara jauh Ibu juga datang. Semua larut dalam percakapan dan makanan. Namun, diam-diam perasaanku kecut. Ada rasa tak nyaman yang menyelinap dalam kehangatan.
Aku teringat Cik Dian. Bukankah seharusnya ia juga ada di sini?
Aku sempat bertanya pada Ibu mengapa Cik Dian tidak tinggal saja di rumah ini. Tapi Ibu menjawab kalau Cik Dian sendiri yang tidak mau. Jawaban itu sama sekali tidak berterima di kepalaku. Seperti ada sesuatu yang aneh; ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi. Lebih-lebih lagi, tadi salah seorang pakcikku juga bersikap aneh ketika kami sedang berbincang.
“Kau sudah menengok Cik Dian?” tanyanya.
“Oh, sudah, Pak Cik. Tadi pagi aku menemuinya,” jawabku.
“Ya, ya, ya. Kau tengoklah dia.” Lalu ia pun berlalu, seolah sengaja menghindar. Seakan hanya ingin tahu aku sudah bertemu Cik Dian atau belum, tapi tak mau membicarakan kakak perempuannya itu.
Tengah malam ketika sunyi sudah benar-benar memuncak, aku terjaga dan tidak bisa lagi terlelap. Aku terus memikirkan Cik Dian. Dan aku juga memikirkan Marta. Ada sedikit sesal karena tadi aku tidak sempat meminta nomor ponselnya, atau setidaknya menanyakan nama lengkapnya agar aku bisa melacaknya melalui internet.
Kegelisahan lantas menggiringku pada serpihan-serpihan ingatan. Aku menangkap serpihan-serpihan itu, mendekapnya, dan mencermatinya kembali.
Cik Dian dalam ingatanku adalah orang yang sangat berbeda dari Ibu. Keduanya bahkan bertolak belakang. Cik Dian orangnya banyak cakap, tidak seperti Ibu yang pendiam. Cik Dian juga senang mengenakan pakaian warna merah atau jambon, yang membuatnya mudah sekali dikenali dan, barangkali, membuatnya jadi tampak menyenangkan sehingga ia jadi punya banyak teman. Hal ini berbeda sekali dengan Ibu yang selalu mengenakan pakaian berwarna gelap—entah itu cokelat tua, abu-abu gelap, atau hitam. Dan, setahuku, ia memang tidak punya banyak teman.
Dulu Cik Dian punya warung. Letaknya tak jauh dari pantai, dekat pusat kota tempat turis-turis berburu matahari terbenam. Di warung itu Cik Dian menjual bakso ikan, tekwan, pempek, dan makanan-makanan ringan. Namun, sebagaimana warung-warung lain di sekitarnya, warung Cik Dian juga menjual minum-minuman keras. Tempat itu tidak pernah sepi, terutama saat malam hari. Kini warung-warung itu tidak ada lagi karena pemerintah sudah menyulapnya jadi taman bermain. Warung yang menjual minuman keras seperti itu kini hanya dapat ditemui di tepi-tepi jalan di tengah hutan atau di sekitar kebun sawit, jauh dari pusat kota.
Kedua pakcikku, yang saat itu masih sekolah, sering minta uang ke Cik Dian. Sebab, saat itu Nenek sudah sakit-sakitan dan tidak bekerja. Bagaimana dengan Kakek? Aku sendiri tidak pernah melihatnya. Tapi Ibu pernah cerita kalau Kakek pergi cari kerja ke Batam saat aku baru lahir, tapi sejak kepergiannya ia tak pernah kembali.
Aku ingat suatu malam Cik Dian pernah datang ke rumah bersama seorang bayi—sepertinya itulah kali pertama aku melihat Marta. Namun, sebelumnya aku tidak pernah tahu kalau Cik Dian hamil—mungkin karena aku yang tidak terlalu memperhatikan, entahlah. Malam itu ia tidak masuk ke dalam rumah dan tidak peduli padaku. Ayah dan ibuku menemuinya di teras. Mereka bercakap-cakap di meja-kursi kayu yang selalu dipenuhi nyamuk. Padahal, biasanya setiap kali datang Cik Dian pasti mencariku, dan tak lupa membawakanku tekwan buatannya yang enak itu.
Kalau tidak salah, aku masih sempat bertemu Cik Dian beberapa kali setelah malam itu. Ia merawat anaknya sembari melayani orang-orang di warung. Tapi tak lama setelah itu, Cik Dian hilang bak ditelan bumi. Warungnya tutup, yang kemudian disusul oleh warung-warung lain sebelum semuanya rata dengan tanah.
Sehari sebelum kembali ke Surabaya, tanpa sepengetahuan Ibu, aku kembali mengunjungi Cik Dian. Aku membawakannya daging, ikan, sayur, dan buah-buahan yang aku beli di pasar. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih ketika kami berbincang di meja makan sembari menyantap rambutan. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Cik Dian tampak lebih bertenaga.
“Kau sudah beristri, Bang?” tanyanya tiba-tiba ketika aku sudah bersiap-siap pulang.
“Belum, Cik,” jawabku.
“Tapi punya pacar?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
“Jagalah baik-baik pacarmu, Bang. Lindungi dia. Jadi perempuan tidak pernah mudah.”
Cik Dian mengucapkan kata-kata itu dengan tatapan yang sulit aku terjemahkan. Kemudian ia memelukku setelah aku berkata bahwa besok aku akan kembali ke perantauan. Pelukannya benar-benar membuatku merasa hangat. Aku pun membalas pelukannya. Rambutnya yang penuh uban membelai halus hidung dan pipiku. Kedua lenganku merasakan tulang-tulang yang menopang tubuhnya, yang membuatku tersadar betapa kurusnya perempuan ini.
Aku masih sempat meminta nomor ponsel Marta sebelum pergi meninggalkan Cik Dian. Dan aku langsung menghubungi sepupuku itu melalui pesan WhatsApp keesokan harinya setelah aku sampai di Surabaya.
Karena Marta sama sekali tidak mengingatku, aku susah payah meyakinkannya bahwa aku memang benar abang sepupunya. Aku tunjukkan juga satu swafotoku bersama Cik Dian yang sempat aku ambil ketika kami sedang makan rambutan.
Untungnya Marta cukup ramah, dan kami pun saling mengikuti di media sosial. Dari foto-foto di halaman profilnya, aku menemukan jejak-jejak Cik Dian pada wajahnya. Keduanya mirip, hanya saja Marta punya mata yang lebih sipit dari ibunya.
Dari pesan-pesan yang dikirimkannya, akhirnya aku tahu bahwa Marta kini tinggal bersama ayah angkatnya di Manado. Ia sedang menempuh pendidikan master di Universitas Sam Ratulangi. Dan Marta rupanya tidak punya suami. Ia belum pernah menikah. Aku juga jadi tahu bahwa selama ini ia tidak pernah tahu siapa ayah biologisnya.
Marta juga bercerita bahwa ia kerap berpindah-pindah tempat tinggal saat masih bersama ibunya. Mereka pernah tinggal cukup lama di Batulicin. Di sana ibunya membuka warung di tepi jalan hauling—jalan yang menjadi lintasan truk-truk besar pengangkut batu bara. Di sana si ibu juga menikah dengan seorang tukang ojek, namun setelah dua tahun keduanya berpisah.
Usai itu, Marta dan ibunya pindah ke Banjarmasin. Di kota itu si ibu bekerja di sebuah pabrik roti, lalu menikah dengan seorang ABK kapal penangkap ikan, tapi ujung-ujungnya juga berpisah. Saat itu Marta sudah masuk SMA. Sekolahnya sempat terseok-seok lantaran ia kerap menunggak SPP karena si ibu sering tidak mendapat gaji dari pabrik tempatnya bekerja.
Marta bahkan sempat bekerja sebagai kasir di sebuah toko elektronik, namun hanya bertahan tiga bulan karena pemilik toko tahu ia masih seorang pelajar. Ia langsung diberhentikan, tapi pemilik toko yang baik hati itu mengangkatnya sebagai anak.
Sejak itu, hubungan Marta dengan ibunya menjadi renggang. Mereka jadi sering bertengkar karena masalah-masalah sepele. Puncaknya adalah ketika Marta sudah duduk di bangku kuliah. Ia memilih indekos dan mencari pekerjaan paruh waktu, meninggalkan ibunya seorang diri di kontrakan petak yang uang sewa tiap bulannya menghabiskan separuh gaji.
Komunikasiku dengan Marta terputus setelah satu bulan lamanya kami rajin berbalas pesan. Ia tidak lagi membalas pesan WhatsApp-ku, begitu juga pesan-pesan yang aku kirim ke akun media sosialnya.
Dua bulan kemudian, pada Minggu pagi yang terasa dingin di puncak musim penghujan, Ibu meneleponku. Suaranya parau tatkala menyampaikan sesuatu yang membuat jantungku melesak. Cik Dian meninggal dunia. Ibu bertanya apakah aku bisa pulang atau tidak. Aku pun langsung memesan tiket pesawat untuk penerbangan pagi itu juga. Di bandara aku berkali-kali menelepon Marta, tapi panggilanku sama sekali tidak dijawab.
Jenazah Cik Dian disemayamkan di rumahku. Saat aku tiba di rumah, jenazahnya sedang dimandikan. Kulihat ibuku ada di antara para perempuan yang memandikan jenazah. Tiada sepatah kata pun diucapkannya ketika aku menghampirinya dan mencium punggung tangannya.
Di ruang tengah, banyak orang sedang berkumpul. Sebagian adalah sanak saudara yang sangat kukenal, sebagiannya lagi adalah para tetangga yang tidak terlalu kukenal. Semuanya berwajah datar, nyaris tanpa ekspresi—antara sedang turut berduka atau memenuhi kewajiban moral sebagai orang beradab.
Lalu jenazah Cik Dian digotong ke ruang itu.
Tak ada tangisan. Tak ada pula ratap penyesalan. Seorang modin perempuan yang sedari tadi mengurusi pemulasaraan lantas memberikan kesempatan kepada pihak keluarga kalau ingin melihat Cik Dian untuk terakhir kalinya. Ia sengaja belum menutup jenazah seutuhnya dengan kain kafan, masih menyisakan bagian wajah yang dibiarkan terbuka.
Sekali lagi modin itu memberikan kesempatan kepada pihak keluarga untuk melihat, atau memberi penghormatan terakhir.
Aku duduk persis di samping jenazah. Tapi aku bahkan tidak punya keberanian untuk mendekat. Begitu pula dengan adikku, sepupu-sepupuku, pakcik-pakcikku, dan sanak keluarga yang lain.
Akhirnya hanya ibuku yang mendekat. Ibu melekatkan wajahnya ke wajah Cik Dian, lalu mencium kening dan pipi adik perempuannya itu. Lalu aku bertanya-tanya, mengapa ia baru melakukannya sekarang? Tak bisakah ia melakukannya ketika Cik Dian masih bernyawa? Mengapa ciuman itu baru ia berikan ketika kematian telah datang menjemput? Tidakkah semuanya serba terlambat?
Aku tak pernah tahu sakit apa yang diderita Cik Dian. Aku juga tak pernah tahu dosa dan luka macam apa yang membebaninya selama ini. Yang aku tahu, ia hidup dalam kesendirian di penghujung hayatnya. Tanpa suami, buah hati, bahkan saudara sendiri. Ia hanya berkawan sepi.
Kemudian aku meluruskan pandangan pada wajahnya, melihat untuk terakhir kali. Wajahnya bersih dan cerah. Ia juga terlihat begitu manis dengan senyuman yang terlukis di bibir. Lalu aku teringat Aziz Bogel dan kembali memercayai teorinya. Ternyata Cik Dian juga cantik.[]














