Kebiasaan Masa Kecil
masa kecil tak ingin kubayangkan lagi, menyesak tak berpihak
membuatku terus-menerus terpencil sebagai anak kecil
–hanya sebagai pendengar dongeng si kancil–
dan buku, dan membacanya, menjadi sesuatu yang jauh
jika berkata buku itu gudang ilmu, aku telah menggemboknya
masa kecil kemudian menyeretku dalam diam dan duduk
dalam dengar dan khusyuk membukakan pori-pori lebih terbuka
untuk menikmati segala senyap, dan sering kali terlelap
tak ada bacaan berarti, kecuali hanya mendengar
dan segala detak dan denyut membawaku pada kebiasaan
aliran darah seakan beku untuk sekadar berpikir atau membaca
menulis atau bicara, berhitung atau berwacana
jika kini aku duduk di atas, kupikir karena masa kecil itulah
masa kecil telah mengajarkan sedikit hal, bukan banyak hal
diam, duduk, dengar, khusyuk, tak ada buku dan wacana
kekuasaan, tak ada kalkulasi, kecuali membagi-bagi
2026
Dari Ayah kepada Anak-Anaknya
awalnya hanya anak-anak itik yang takut air
ciprat air, dingin air, permukaannya seperti menyimpan
kedalaman dan rahasia yang entah
aku pun menggigil, tapi tak kutunjukkan
ayah dan ibu agar bahagia
ketika anak-anak itik itu telah pandai mencebur, berenang,
menentang gelombang–pun tanpa ajaran ayah ibu–
aku mulai berandai-andai
betapa seluruh semesta bisa kulihat
dan gelombang apa pun bisa kulipat
2026
Jalan Menuju Puisi
puisi kemudian menemukan jalannya sendiri
kata-kata bahkan sering kali tak terkendali
dan aku, kembali bertani
suara-suara menuntut diksi lebih berdaya
tapi penaku sudah cangkul
lebih terayun membolak-balik tanah
meninggalkan hari-hari
perburuan majas, rima atau irama
tuts-tuts komputer bentangkan layar
tampilkan pranatamangsa
sejak benih-benih padi itu ditancapkan
lupa sudah, apakah rasa, apakah nada
seperti tipografi, yang tumbuh kemudian
baris-baris hijau tanaman
sejak itu pula tema yang kudapatkan
mengaliri irigasi sepanjang badan
ketika puisi bergelut dengan penyairnya
imaji dibangun hanya indra semata
wujud tak menyatu hakikat
tapi aku malah asyik masyuk
meracik pestisida dan fungisida alami
ketika puisi lebih percaya bahasa
tak tahu lagi di mana amanat
langkah kakiku pulang ke desa
puisi pun telah menemukan jalannya sendiri
aku pun telah menemukan diri kembali
bertani, menjadi petani, tetapi yang kutemui berpuisi
kata-kata menuliskan lakunya sendiri
2026
Memanen Ilalang Puisi
semua lupa siapa yang menanam
padi, jagung, labu, tumbuh ilalang
kata-kata termangu, daun-daun beterbangan
seberapa waktu, tanah dan air begitu mesra
pencetakan sawah-sawah baru
laman-laman puisi unggah janji
ada yang teringat swasembada pangan
lebih puitis swasembada puisi
tapi negara tak hadir, meski hanya mimpi
rimbun ilalang menemukan tanah airnya
lalat ganjur juga punya dalih dan cara
entah tipo, tertukar prefix-preposisi, kapital-kapitil
lalu puisi-puisi menulis dirinya sendiri
telah lama frasa dan klausa tercerabut akarnya
hingga para petani puisi kembali menanami
kelompok tani bersurat iuran, dan puisi tanpa seleksi
huruf-hurufnya bertumbuhan ilalang
siapa yang kemudian memanen puisi
2026
Merayakan Puisi
apalagi yang harus dirayakan
dentum salvo kemenangan atau kematian
sudah lama puisi terbaring
di bangsal-bangsal rumah sakit
terperkosa naikkan citra
panggung hiburan kata-kata
teramputasi karena tujuan dan beban
menjangkau bulan
apa lagi yang harus dirayakan
dengan lagu kebangsaan
atau doa untuk arwah para pahlawan
sudah lama puisi diperdaya
merasa telah melahirkan kata-kata
serupa algoritma
ruh puisi ke arah pragmatis, praktis
lebih baik siapkan sesaji
membakar kembali wujud dan hakikat
asap nilai-nilai membubung tinggi
—jagat gedhe, jagat cilik—
kemanusiaan dalam kemanusiaan
kemanusiaan dalam ketuhanan
2026














