• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 15 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Resolusi Parmin

A.M. Nizar Alfian Hasan by A.M. Nizar Alfian Hasan
6 February 2021
in Cerpen
0
Resolusi Parmin

Sumber gambar: https://dribbble.com/shots/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Malam pergantian tahun tinggal beberapa jam, tetapi petang ini Parmin terpaksa mendekam di rumah karena hujan tak henti mengguyur sejak siang. Matahari saja malas menampakkan diri sedari pagi, apalagi ia yang sudah jelas-jelas pengangguran.

Ia termenung di ruang tengah, seolah menghitung tetesan air hujan yang menembus genteng rumah. Ia cermati setiap kecipak butiran air mengenai baskom, menuntun irama kerisauan hatinya menunggu datangnya awal tahun depan. Ia terpaksa memeras ingatannya yang basah, hingga terpampang lipatan-lipatan kusut kemalangan hidupnya setahun ini.

Pertama, karena di awal pandemi ia terkena PHK dari gudang kargo tempat ia bertahun-tahun bekerja. Kedua, kematian istri yang sebelumnya memang sudah sakit-sakitan, memaksa ia tak bisa menolak tawaran santunan dari penetapan status positif istrinya sebagai penderita wabah. Yang ketiga, belum lama senar pancing import pemberian tetangganya yang juragan jamur—yang anaknya bekerja di pelayaran–ludes dipakai mainan layang-layang anaknya nomor dua, tanpa sepengetahuannya. Serentetan kejadian itu membuat Parmin memutuskan menitipkan ketiga anaknya ke rumah mertua untuk sementara waktu.

Terkait pemecatan dirinya, Parmin tak bisa mengelak sedikit pun. Kala itu atasannya menjelaskan, sejak dinyatakan wabah masuk ke Indonesia, semua layanan penerbangan terhenti, disusul terganggunya hampir semua kegiatan yang mengandalkan pengiriman barang, entah itu untuk mendatangkan bahan baku atau mengirimkan barang jadi.

“Semoga kita dipertemukan kembali sebagai tim yang solid di kemudian hari.” Pimpinan gudang menutup rapat terakhir hari itu, mewakili perusahaan.

Pada awalnya, Parmin berusaha menutupi kenyataan itu di depan istrinya yang sejak dua tahun lalu sering bermasalah dengan lambung. Ia tahu, istrinya tergolong perempuan yang tidak banyak mengeluh. Tetapi justru karena itu ia merasa kecolongan di bulan ketiga sejak ia dirumahkan. Ternyata perempuan yang telah mendampinginya hampir sepuluh tahun itu memendam kecemasan hingga merenggut nyawanya setelah sepekan dirawat di rumah sakit.

Istrinya pergi meninggalkan dirinya yang betul-betul habis, membuatnya tak bisa berpikir selain menerima tawaran pihak rumah sakit untuk menetapkan status istrinya positif. Pak Kadus, sebagai tetua lingkungan pun turut mendukung keputusan itu ketika ia mintai pendapat.

“Pak Kadus ada saran?”

“Nggak ada yang direpotkan, nggak ada juga yang dirugikan.”

“Maksud, Bapak?”

“Ya, terima aja.”

“Tapi saya kan harus karantina, Pak?”

“Kayak gitu kok dipikir. Kamu titipkan sebagian duitnya ke aku, beres.”

Dan betul, Pak Kadus menepati janjinya mengurus kebutuhan Parmin dan anak-anak selama karantina.

Parmin kembali merasa perjalanan tahun ini cukup melelahkan, batin dan pikiran. Sehingga ia pikir butuh beberapa waktu mendapat ketenangan dengan sedikit melepaskan beban. Ia ingat, tiap pagi buta ia sudah memasang mata kail dan umpan di bantaran sungai tak jauh dari rumahnya. Ketika matahari terasa sedikit menyengat—mungkin sekitar pukul sepuluh siang—ia baru beranjak pulang. Saat berikutnya ketika matahari mulai condong ke barat, ia telah kembali berangkat memancing dan baru pulang saat terdengar azan magrib dari seberang desa.

Sebaliknya, ia bisa berjaga sembari bertukar cerita dengan tetangga di pos ronda. Ia pun bisa tetap mengikuti kabar terbaru seputar keadaan kampungnya. Mulai dari persoalan wabah, bantuan dari pemerintah, hingga kabar tentang  warung milik Slamet yang mulai ramai. Ia jadi tahu, rata-rata lelaki di kampungnya kerap nongkrong di warung itu, sejak ia menjual togel belum lama ini.

“Mau ikut ndak, Min?” Salah seorang tetangga pernah mengajak.

“Nggak ah, tau sendiri,” jawabnya sedikit malas.

“Ee… belum tahu dia,” tukas tetangganya itu.

“Dasar, kamunya aja yang mata keranjang liat istri Slamet!” Balas yang lain.

“Lha daripada bengong gak ada kerjaan?!” Pungkas tetangganya itu lagi.

Sebetulnya bukan ia menolak setiap ada tawaran pekerjaan, tetapi memang nasib baru belum baik. Kemarin ia sedikit berharap pada tawaran Slamet, yang memintanya membantu di warungnya. Tetapi kenyataannya mendung sejak pagi tadi, selain mendukung larangan perayaan tahun baru kali ini,  rupanya turut pula mengantarkan kematian Slamet—yang dikabarkan terkena serangan jantung—dengan suasana yang pas. Parmin tak mengubah rencananya berangkat, tetapi bukan untuk menyambut malam pergantian tahun dengan bekerja di warung. Dia justru diminta Pak Modin bergegas mencarikan ubarampe[1] jenazah dan memastikan liang kuburan selesai tergali dua jam kemudian.

“Giliran ngurus orang mati saja kamu ajak-ajak, Min,” tetangganya yang sopir truk pasir kesal.

“Kebanyakan protes kamu,” tukas Parmin.

“Lho, kalau bukan Slamet yang mati, ogah juga aku ngeladeni ajakanmu,” timpal lelaki gempal di sampingnya yang kerap berseragam Satgas Partai Anu.

“Kalian bilang cinta tanah air, NKRI harga mati, diminta jadi gedibal[2] kampung saja, kebanyakan  mulut,” balas Parmin ketus.

Ia ingat, saat itu hanya ingin selekasnya menyelesaikan tugas dan segera melaporkannya ke Pak Kadus, sebelum upacara pemberangkatan jenazah dimulai.

Selain tercenung—karena begitu dalam—memikirkan perjalanan nasibnya tahun ini, rupanya Parmin masih terngiang perkataan tegas Pak Kadus sepulang dari makam siang tadi, “segera saja setelah empat puluh hari, kau urus warung, dan aku urus istrinya,” diam-diam sebelum mereka berpisah.

Kepalanya masih dipenuhi pikiran tentang hal itu, ketika tengah malam sebuah pesan WA masuk. Tetangganya yang juragan jamur mengabarkan, anak sulungnya baru pulang dari berlayar. Parmin seperti mendapat angin segar. Ia beringsut dari duduknya kini, meraih joran di atas meja sembari menyusun rencana barunya nanti.[]

 

[1] ubarampe = segala kebutuhan yang perlu disediakan dalam upacara

[2] gedibal = orang suruhan

Tags: cerpenhujanIndonesiaPHKResolusi Parminsastrawabah
ShareTweetSendShare
Previous Post

Jam Operasional Korona

Next Post

Pergantian Musim

A.M. Nizar Alfian Hasan

A.M. Nizar Alfian Hasan

Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. IG @ian_hasan

Artikel Terkait

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
Cerpen

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti

16 September 2026

Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan...

Tunggul
Cerpen

Tunggul

9 September 2026

Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai...

Cik Dian
Cerpen

Cik Dian

4 August 2026

Aziz Bogel, kawan lamaku di Surabaya, pernah berteori bahwa setiap perempuan bernama “Dian” pasti cantik. “Paling tidak dia pasti manis,”...

Ruang Mimpi
Cerpen

Ruang Mimpi

28 June 2026

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambart Artikel : Analisis Puisi Goenawan Muhammad Saya Cemaskan Sepotong Lumpur

Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Saya Cemaskan Sepotong Lumpur”

23 April 2021
Win-Win Corruption

Win-Win Corruption

30 May 2021
Anak-anak Afrika Sedang Makan di Warung Tegal

Anak-anak Afrika Sedang Makan di Warung Tegal

18 February 2024
Mengapa Perlu Membaca Sastra?

Mengapa Perlu Membaca Sastra?

23 September 2022
Penjual Susu dan Puisi Lainnya

Penjual Susu dan Puisi Lainnya

2 June 2024
Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

13 March 2022
Gambar Artikel Kemarin dan Rindu

Kemarin dan Rindu

31 October 2020
Dua Lelaki

Dua Lelaki

23 April 2021
Menemui Emosi dari Diri

Menemui Emosi dari Diri

20 August 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.