• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 16 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

dan sajak-sajak lainnya

Gusti Fahriansyah by Gusti Fahriansyah
17 February 2022
in Puisi
0
Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

Masih kuingat betul jalan menuju kita, kekasih!
Sebelum aku menjadi penyair dan mencintaimu.

Saban hari kota lebih sering menerjemahkan kekosongan
Perkara macet adalah seisi kepalaku dalam sebotol Amer
Yang dibeli saat jam-jam mulai kekeringan
Lalu kuminum di belakang gedung tinggi
Setinggi ngungun kedamaian negeri ini.

Perlu kau tahu, kekasihku.
Di kota segalanya rumah
Seperti pasar, ketika pertama kau menyapa mataku
Dengan senyummu yang pagi dan begitu menampar dada ini
Meski kadang kali aku harus pergi
Menuju gang-gang perumahan demi menjauhi orang-orang
Yang kembali menjual dan membeli kebenaran.

Di depan rumah megah, entah kepunyaan siapa
Aku bertanya-tanya, masihkah layak kucintai engkau, kekasih?
Sebagai manusia yang hilang kepercayaan oleh manusia
Hilang cita-cita akibat mahalnya ideologi
Sebagai bukti suksesnya orang di tangan asing.

Tubuh bertato, kaos blong, celana setengah sobek di lutut
Serta senjata tajam di pinggang
Menjadikanku abu-abu dari banyak pandang
Saat dibandingkan dengan pria berdasi
Yang lebih besar dasinya dari pada janjinya.

Oleh karena itu, jangan kau kecewa
Melihatku di belakang gedung-gedung kota
Memegang sebotol Amer yang merupakan puisi pertamaku
Membawaku jadi penyair dan mencintaimu.

24 Mei 2021

 

Kita Mesti Pandai dalam Bercinta

Kita belum sepakat bahkan sempat berapat:
Kelak pada kerak waktu perseteruan
Api menyala dalam redup muka
Lalu kita berlagu, di hati paling syahdu
Serta tangis yang sering lupa dilukis.

Tubuh sama-sama disita masa muda
Cinta tumbuh tangguh, di hari kita sibuk
Menghalau berbagai cemburu masuk
Dan membuat hati kita membusuk

Kita harus pintar merawat masa
Kesibukan mengurus usus lebih utama
Menyita hari libur
Yang biasanya kita semalaman lembur
Dan diskusi tentang usia tua nanti.

Kepandaian dalam cinta
Mesti kita kaji, lebih-lebih
10 tahun lagi, bumi akan tambah berat isi.

Januari 2022

 

Puisi Mati di Hari Minggu

Belakangan ini, percintaan kita begitu puitis
Kau terus menyebutku penyair dan penyair,
Tahan mulutmu itu kekasihku!

Betapa air mata menetesi kuburan Rousseau
Yang mati di tengah abad perebutan bumi
Dan tenggelam dalam dada mereka sendiri.

Bagaimana kau menyebutku penyair, kekasihku
Bermula pada hari pertama
Aku kerap menerjemahkan lampu merah
Tempat kau berjeda merebut jam kantor

Di sekeliling orang yang tak jauh beda denganmu:
Melipat cinta di kota rahasia.
Lalu kau mendoakan puisi akan berawal dari matamu
Dimana hujan datang, rindu kian bertandang.

Tidak kekasih, malah tangan ini gemetaran
Kota dan puisiku mengalami agresi diksi
Sejak kematian Rousseau, aku mencintai dua hal
Satu adalah dirimu, satunya adalah kota ini
Yang terlalu dalam mencintai manusia

Menciptakan revolusi besar-besaran
Sajak-sajak hilang ditimbun pembangunan
Cara cinta manusia bukan seperti
Percakapan puisiku kepada matamu
Yang kaubaca dengan lengkung bibir sempurna

Memang, kau telah kuyakini sebagai perempuan
Yang tak putus juang dari air mata.
Puisi menghamili engkau dan pesat
Di surat kabar hari Minggu
Tapi, Rousseau menangis di hadapan puisiku
Yang satu halaman dengan berita penindasan.

2021.06.10

 

Perjalanan Kata-kata

Kita dikisahkan dalam antologi penyair, makna diramu dari diksi yang dilahirkan oleh pinggul perawan, sisa cucur lelaki yang memberinya sebatang puisi. Baris demi baris, dielus hingga halus, sampai marah paling tabah, terjadi pada bait pertama. Kita yang lugu menurut dan termangu, berkhayal citacita seluas samudera

pada bait kedua, hasrat muncrat, dada halnya dadu di hadapan gadis baru: inikah mencintai? Mulai mengenal hari minggu, style rambut dan baju-baju. Tipikal rindu tumbuh satu persatu: di suatu malam, dengan beberapa seduh kesedihan, menjadi sajak-sajak. Hingga lentang khatulistiwa mengenal nama kita di almanak, membumi, dan dirasa banyak khalayak. Halnya korupsi yang tak letih berpoligami, menjadikan angka-angka merah yang kita rayakan sebagai hari lumrah

kita, kota, juga kata-kata bersatu di bait ketiga. Harum, serupa olahan punggung ayah, yang dimasak dalam air tabah ibu. Menyajinya pada piring beling, yang kita nikmati di balik jendela: menjaga sajak yang sulit ditebak, yang akan kekal pada hari-Nya

10 Juli 2021

 

Di Semesta Kita Pernah Bersepeda

Dulu, kita berkeliling, mengayuh dada satu sama lain. Lorong rusak-jalanan tanjak, masih kita kayuh tangguh; semesta kita gapai seluruh. Lalu, kita duduk di suatu ketinggian; puncak yang tak sanggup kita gambarkan. Kibar rambutmu daun diterpa angin, riak-teriakmu membelah jagat langit. Sedang, diriku melukis utuh tubuhmu, di atas kanvas, pada lukisan senja pertama.

Dulu, ketinggian itu, semesta menjadi saksi, sekaligus mempertaruhkan diri, dengan sepeda yang kita tunggangi berdua. Aku pedal hingga lupa pegal, kau peluk diriku sampai suluk waktu: kedua tangan serta kaki kita sama-sama menerjemah doa. Pada suatu waktu, ada dua hal yang tak bisa di tawar, kitab adat memangku takdir, serta lidah ayah-ibu yang membekam bibir. Kita dilanda nyeri saban hari. Kakiku mengayuh makin suri. Sedang, kedua tanganmu lapang merenggang, membuat segalanya pulang.

Sejak itu, aku tabahkan tubuh, melemparnya ke kota jauh. Mengganti nama yang asa, menjadi sia-sia. Tentu, tanah tempat kita bersepeda, tak lagi hijau untuk kakiku. Maka, di kota yang begitu sesak dengan kata-kata, kurampai sisa waktu yang separuh: riak-teriakmu, lembut-rambutmu, serta senja itu, kurebas tuntas dalam dada, lalu direbus jadi puisi.

Tentang tanah tempat kita bersepeda,  memeluk semesta, mengayuh doa: berbelasungkawa.

Mata Pena, Juli 2021

Tags: gusti fahriansyahmetaforpuisisajaksastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

Next Post

4 Nilai Humanistik dalam Film “Hotel Transylvania: Transformania”

Gusti Fahriansyah

Gusti Fahriansyah

Berasal dari Desa Torbang Batuan Sumenep. Menggeluti sastra mulai dari Majelis Sastra Mata Pena, Komunitas Puisi Bekasi, Sanggar Gemilang, LPM Retorika STKIP PGRI Sumenep. Juara1 LCPN SIDERIS INDONESIA, Juara II LCPN Aklamasi UNDIKHSA. Karyanya terbit dibeberapa media cetak/online dan antologi bersama.

Artikel Terkait

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
Puisi

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

9 May 2026

Aku melihat ayah, di sana Aku melihat ayah pada setiap wanita yang terikat kakinya pada jalan-jalan mereka yang terjal dan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Bintang Kecil Tetaplah Bernyanyi

Bintang Kecil Tetaplah Bernyanyi

17 March 2021
Mendikte dan Menyombongi Tuhan

Mendikte dan Menyombongi Tuhan

12 February 2021
Gambar Artikel Ternak Ilmu(wan)

Ternak Ilmu(wan)

1 December 2020
Alir-an

Alir-an

10 February 2021
Gambar Artikel Aku dan Impian Terbesarku: Pengalaman Tinggal di Jerman

Aku dan Impian Terbesarku: Pengalaman Tinggal di Jerman

29 November 2020
Dongeng Pak Tua Menjangkau Cahaya

Dongeng Pak Tua Menjangkau Cahaya

23 February 2021
Tamu

Tamu

10 July 2022
Alam Pikiran

Alam Pikiran

9 June 2021
Senja Carita

Senja Carita

24 April 2021
Going Ohara #2: Ketika One Piece Menjelma Ruang Serius Ilmu Pengetahuan

Going Ohara #2: Ketika One Piece Menjelma Ruang Serius Ilmu Pengetahuan

29 July 2025
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.