• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 15 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom

Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

M. Rizki Yusrial by M. Rizki Yusrial
26 December 2020
in Esai, Kolom
0
Gambar Artikel Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

Sumber Gambar: http://euro-synergies.hautetfort.com/tag/nietzsche

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sebagai umat beragama, Tuhan selalu dianggap menempati posisi yang paling tinggi dari apa pun. Tak ada satu pun dan hal apa pun yang bisa bersaing dengan Tuhan. Dengan kekuasaan yang begitu luas, tak terhitung oleh kalkulator dan tak terukur oleh meteran. Namun, dengan kekuasaan yang agung itu ada seorang filsuf masyhur dari zamannya hingga sekarang mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ulama filsafat ini kita kenal dengan maulana syekh Friedrich Nietzsche Al-Filosofi.

“God is dead” (dalam bahasa Jerman: Gott ist tot) atau dalam bahasa Indonesia artinya “Tuhan telah mati”. Keluar dari mulut Nietzsche sejak 138 tahun yang lalu. Dari menulis namanya saja kita sudah kesulitan, ditambah lagi dengan pernyataannya yang membuat kita harus berfikir keras apa sebenarnya yang dia maksud? Bagaimana bisa Tuhan yang agung itu mati? Dan dengan cara apa Tuhan bisa mati?

Nietzsche sangat sadar bahwa ia telah melemparkan bom Molotov yang sangat sulit dijinakkan. Selain membuat gempar kaum agamawan di Eropa saat itu, pernyataan kontroversial itu juga membuat pusing mahasiswa filsafat secara berjamaah dari abad ke-19 sampai pada hari ini.

Sebagai tafsiran pribadi, pernyataan Nietzsche ternyata berkonteks dari kaum agamawan yang melihat wacana ilmiah dihantui oleh ide-ide ilahi. Hal ini tentu memperlambat perkembangan masyarakat menuju ke pemikiran saintifik.

Kemudian dalam Alkitab tertulis, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga”. Usai membaca ini, ternyata Nietzsche melihat agama sebagai fiksi. Sehingga dengan mengklaim moralitas hamba membuatnya tidak perlu berusaha mendapatkan kekuasaan dan menjadi kreatif.  Nietzsche berpikir bahwa terlalu menggantungkan harapan pada Tuhan membuat kita menjadi manusia penakut, pengecut, pemalas dan bahkan tidak mau bersaing.

Lalu yang jadi pertanyaan sekarang, apakah tuhan sudah benar-benar mati? Jika memang sudah mati, maka saat inilah waktu yang sangat tepat untuk ‘menghidupkannya kembali’. Sudah berbulan-bulan terakhir manusia seluruh dunia dihadapkan dengan aneka tantangan dari pandemi.

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah bahwa berpisah adalah pilihan yang baik. Tidak berkunjung merupakan bentuk kasih sayang dan berbagai macam fenomena kebalikan lainnya. Sektor pendidikan pun dialihkan dengan memanfaatkan teknologi, sehingga sulit untuk membandingkan antara alternatif atau formalitas.

Di seluruh dunia sudah ada 73,4 juta manusia yang terinfeksi. Kemudiaan, 41,5 juta nyawa yang masih diselamatkan Tuhan dan ada 1,63 juta manusia yang sudah dipanggil oleh Tuhan. Banyaknya kesedihan-kesedihan semacam itu tentu membuat kita rindu dengan bernafas lega. Rindu menyapa satpam kampus, kantor, sekolah dan lain sebagainya. Kemudian, ingin berhenti melihat bagaimana orang-orang bergulat dalam ambang batas hidupnya di masa pandemi ini.

Dari sisi spiritual, tentu banyak orang bertanya, mengapa pandemi ini harus terjadi? Apakah tuhan yang sudah mati itu kembali hidup untuk memperlihatkan kekuasaannya? Lalu mengapa yang tercipta adalah kesedihan dan kesengsaraan? Apakah tuhan benar-benar menginginkan itu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas valid dan sangat wajar dipertanyakan oleh orang beragama. Sebab saat dalam keadaan sulit orang-orang akan menggantukan harapannya pada Zat yang Lebih Besar. Bagamana mungkin Zat yang Lebih Besar itu malah membuat orang-orang makin terpojok.

Bagi saya kehadiran pandemi ini merupakan bentuk ‘menghidupkan tuhan yang telah mati’. Sejak revolusi industri terjadi, manusia menjadi tuan atas segala sesuatu. Mendominasi setiap kehidupan yang ada, mulai dari eksploitasi terhadap alam sampai ke eksploitasi terhadap sesama makhluk hidup. Terciptanya pandemi merupakan bentuk teguran kepada manusia yang cenderung eksploitatif.

Tuhan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih mendominasi dari manusia, sehingga manusia tak dapat bergerak banyak. Entah itu dalam waktu singkat atau bahkan bisa berlangsung sangat lama. Tuhan sudah menciptakan dunia secara baik. Namun terjadi penyimpangan terhadap kehendak bebas manusia.

Tersebarnya virus yang berbeda dari tahun ke tahun, entah itu berbahaya atau tidak, diakibatkan keteledoran manusia yang sering lupa bahwa tak segala sesuatu bisa dieksploitasi.

Sebagai manusia seharusnya kita bersyukur dapat gelar sebagai makhluk sempurna. Jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, manusia memiliki kelebihan yang bernama “pikiran” (walaupun ada beberapa orang yang tidak menggunakannya). Bumi salah satu dari planet yang telah dipilih Tuhan sebagai tempat tinggal makhluk hidup sekaligus menjadi wadah untuk meluapkan ekspresi manusia. Namun, terlepas dari itu, kita pun harus mengingat bahwa bukan hanya spesies kita-lah yang hidup. Masih ada seabrek jenis makhluk lain di semesta ini. Menghargai alam dan makhluk hidup lain merupakan bentuk penerapan hidup berdampingan yang damai dan ‘menghidupkan tuhan yang telah mati’. (ed: Silakan didebat lewat tulisan lain).[]

Tags: agamacoronaesaiNietzschepandemiTuhan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Setabah Kopi

Next Post

Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

M. Rizki Yusrial

M. Rizki Yusrial

Seorang mahasiswa filsafat asal Jambi yang ingin dibilang pintar lewat tulisan. Sebab selama sekolah hanya mendapat ranking 24. Ig: @mrizkiyusrial

Artikel Terkait

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
Esai

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya

4 October 2026

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menganalisis karya dari Kho Ping Hoo karena saya menyadari keterbatasan kapasitas diri yang belum...

Matinya Ratu Adil?
Esai

Matinya Ratu Adil?

1 September 2026

Di Indonesia, ada kisah kepercayaan bahwa ketika keadaan dunia sedang dilanda kekacauan, akan muncul seorang penyelamat yang sering disebut Ratu...

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
Esai

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026

Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah...

Melawan Tirani Kebahagiaan
Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 1

Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 1

1 April 2024
Gambar Artikel Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

24 November 2020
Baret Kuning Si Penyelamat

Baret Kuning Si Penyelamat

7 January 2022
Gambar Artikel Keyakinan

Keyakinan

3 November 2020
Menjajaki Belanda: Dekapan Mimpi yang Jadi Nyata

Menjajaki Belanda: Dekapan Mimpi yang Jadi Nyata

5 July 2022
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

24 March 2022
https://unsplash.com/photos/WXeJcabNzhE

Bunuh Diri, Maut, dan Puisi

14 February 2021
Di Bandara Boston ke Jenewa dan Puisi Lainnya

Di Bandara Boston ke Jenewa dan Puisi Lainnya

21 December 2023
Lukisan "Frukostdags" karya Hanna Hirsch Pauli

Mengeja Karya Hanna Hirsch Pauli di Museum Stockholm

15 November 2025
Mengenali Karakter Orang Lewat Tulisan Tangan

Mengenali Karakter Orang Lewat Tulisan Tangan

27 February 2023
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.