Di Indonesia, ada kisah kepercayaan bahwa ketika keadaan dunia sedang dilanda kekacauan, akan muncul seorang penyelamat yang sering disebut Ratu Adil. Pemikiran semacam ini telah tertanam sejak masa lampau pasca-Ranggawarsita menuliskan tentang Jaman Edan.
Sekarang, pertanyaannya, apakah Indonesia kurang terlampau edan? Kasus korupsi banyak, polemik MBG, berita kepusingan Menteri Keuangan Purbaya yang muncul di media sosial, dan sosok pemimpin yang pemikiran dan omongannya sak det sak nyet. Asal nyeplos.
Kurang edan bagaimana kondisi Indonesia sekarang ini? Arah pendidikan yang penuh tanda tanya, upah minimum yang tidak cukup untuk memenuhi satu keluarga, antrean setiap sorenya di SPBU, dan nyawa yang hilang karena antrean di kamar rumah sakit yang tak kunjung ada. Kurang edan bagaimana kondisi negara ini?
Ratu Adil dalam Lintasan Sejarah
Sejarah Indonesia telah mencatat berbagai situasi edan yang telah lewat. Ketika jaman edan itu hadir di sendi-sendi masyarakat, munculah sosok yang dipercaya merupakan sosok Ratu Adil. Dan konsep mesianisme yang populer di era silam ini sering digunakan sebagai senjata untuk melawan ketidakadilan dan kesengsaraan atas tertindasnya suatu kelompok masyarakat, baik secara luas maupun sempit.
Kita lihat sejarah bagaimana Diponegoro memulai perang. Ia melawan pemerintah kolonial yang telah dianggapnya merusak kehidupan masyarakat Jawa dan Islam. Baik itu secara sosial, ekonomi, budaya, maupun agama. Peristiwa lainnya dapat dilihat dari gerakan Samin yang dipimpin oleh Surontiko Samin di daerah Blora dan sekitarnya. Saminisme muncul untuk menentang peraturan-peraturan yang dianggap merugikan masyarakat petani. Samin membela masyarakatnya yang dibebani oleh pajak kerja rodi, pajak tanah, dan kesusahan ekonomi yang ironisnya terjadi karena adanya politik etis. Walaupun Surontiko menolak dirinya dianggap Ratu Adil, tak jarang pengikutnya menganggap dia sebagai Ratu Adil (OngHokHam, 2025: 238).
Di era modern seperti saat ini, di manakah posisi Ratu Adil?
Menurut saya, ironisnya, di Indonesia sekarang konsep Ratu Adil sudah hilang. Atau, minimal hanya sebagai euforia masa lampau tentang kisah-kisah kepahlawanan saja. Tidak ada yang benar-benar menganggap dirinya sebagai sosok yang akan menyadarkan masyarakat-masyarakat tertindas bahwa mereka sedang diinjak oleh sistem dan kekuasaan.
Hilangnya Sosok Ratu Adil
Almarhum Dkojo Su’ud Sukahar dahulu telah sering menggatuk-matukan ramalan Ratu Adil atau Satrio Piningit dalam wujud presiden Indonesia. Dari tujuh presiden yang telah menjabat, semuanya pernah dianggap Ratu Adil pada masa-masa tertentu. Contoh saja Sukarno, yang dengan kewibawaannya dianggap sebagai Bapak Proklamator Indonesia, dan Suharto, yang dianggap sebagai penyelamat dari kerusuhan yang terjadi usai peristiwa G30S.
Yang paling ramai tentu Joko Widodo, sosok yang dinarasikan muncul dari kalangan wong cilik, akhirnya menempuh takdir sebagai pemimpin Indonesia. Ironisnya, ketiga-tiganya mengakhiri masa pemerintahannya dengan segudang permasalahan yang terasa hingga saat ini. Presiden-presiden lainnya juga dapat dikait-kaitkan, tetapi saya rasa tidak ada yang banyak mengguncang sebagai calon juru selamat, kecuali ketiga presiden tersebut. Lantas, cocokkah narasi Ratu Adil sebagai penata keadilan untuk kita sematkan pada presiden yang sekarang sedang menjabat?
Paragraf sebelumnya membahas konsep Ratu Adil yang disematkan kepada para pemimpin. Sekarang, mari kita tengok masyarakat Indonesia secara umum.
Siapakah yang cocok untuk menjadi Ratu Adil? Apakah seorang influencer yang memiliki jutaan follower dengan konten-konten analisis politiknya? Atau influencer yang mempromosikan bacaan-bacaan yang “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Pada akhirnya, usaha-usaha tersebut terbatas pada level-level tertentu. Batasan yang ada untuk menyentil pemerintah yang dilakukan oleh kreator konten sangat wajar terjadi. Ketakutan diserang oleh buzzer, rentan untuk dilaporkan, dan, yang paling parah, ancaman seperti penyerangan dengan air keras membuat para kreator konten, yang entah hanya memanfaatkan algoritma ataupun benar-benar ingin mengkritik pemerintah, memilih untuk membatasi kritikan di dalam konten pada tahap-tahap tertentu.
Namun, di luar itu semua, ada satu kelompok masyarakat yang pernah memegang panji Ratu Adil pada masa lalu: para pemuka agama. Sebut saja Diponegoro, yang banyak menggandeng kaum santri. Atau, boleh juga kita simak kajian sejarah awal tentang gerakan Ratu Adil, yaitu peristiwa Pemberontakan Petani Banten 1888. Sebuah peristiwa yang memanfaatkan jaringan kiai dan haji untuk melawan penindasan pemerintah kolonial.
Sekarang kita refleksikan di era modern. Siapa tokoh keagamaan yang berani mengambil panji Ratu Adil untuk mencerahkan pengikut-pengikutnya melawan kesengsaraan dan ketidakadilan masyarakat? Fenomena Gus-Gus-an yang terjadi pasca-Gus Miftah yang ikut sebagai tim sukses penguasa, pun otomatis membatalkan konsep tersebut. Para tokoh agama di zaman ini juga malah cenderung mendoktrin dengan ajaran “ikhlas” ataupun ajakan-ajakan untuk kuat hati menerima kesusahan dalam kehidupan ekonomi.
Dari sejumlah contoh sebelumnya, dapat saya katakan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia memang punya kecenderungan untuk mengikuti suatu tokoh yang dianggapnya karismatik ataupun punya kekuatan untuk mengubah kehidupan mereka. Dalam Pilpres kemarin, misalnya, pemilih paling signifikan tentu berada di kalangan grassroots (kelompok akar rumput) yang terkena getahnya akibat terbuai oleh kemasan ketokohan “gemoy”. Tokoh-tokoh yang dianggap akan menjadi penyelamat, di sepanjang sejarah Indonesia, pada akhirnya malah tidak memenuhi ekspektasi masyarakat atau beberapa kelompok. Lalu, seperti apa seharusnya tokoh ideal Ratu Adil di era modern sekarang ini?
Ratu Adil di Era Sekarang
Sepanjang tahun 2024–2026, coba hitung jumlah peristiwa demo yang menolak kebijakan-kebijakan pemerintahan. Berapa jumlah demo yang pada akhirnya didengarkan dan berhasil mengubah sistem pemerintahan? Hampir bisa dijawab bahwa pada akhirnya demo yang terjadi hanya dianggap angin lalu oleh pemerintah. Malahan, infrastruktur-infrastruktur yang rusak sekarang dibangun lebih megah daripada sebelumnya. Pakai uang pajak rakyat tentunya. Kini, pertanyaannya, kenapa demo-demo ini gagal dan tidak memberikan dampak yang signifikan?
Bisa kita refleksikan jawabannya dari perkembangan konsep Ratu Adil di Indonesia. Salah satunya, menurut saya, kurangnya kehadiran tokoh yang bisa memimpin dan sanggup mewadahi amarah masyarakat terhadap penguasa. Hal demikian menjadi salah satu alasan mengapa pergerakan para pemuda di era sekarang masih terhambat dan berujung buntu.
Kita lihat saja pada peristiwa Reformasi. Selain adanya gelombang demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa, muncul empat tokoh politik yang bisa mewadahi keresahan di berbagai kelompok, yaitu Gus Dur, Amin Rais, Megawati, dan Sultan HB X. Di era sekarang ini, kita butuh tokoh-tokoh yang benar-benar hadir dan mewadahi aspirasi masyarakat. Tetapi siapa yang cukup pantas dan mampu?
Pada akhirnya, Ratu Adil tidak harus dipahami sebagai sosok yang hadir karena ramalan atau mitos, melainkan sebagai figur yang memiliki keberanian moral untuk berdiri di pihak rakyat ketika kekuasaan menjauh dari kepentingan mereka.
Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar pandai membangun citra, cerdas dalam personal branding saja. Lebih dari itu, masyarakat butuh tokoh yang mampu menyatukan berbagai lapisan kelompok, mengawal keadilan, serta berani mengoreksi sistem yang menindas tanpa tunduk pada kepentingan oligarki. Selama sosok seperti itu belum hadir, masyarakat hanya akan terus berganti harapan dari satu figur ke figur lain, tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran jaman edan.[]














