Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kabar buruknya, kita mendapatkan berita yang tak menyenangkan. Nilai rata-rata matematika untuk jenjang SD adalah sebesar 42,41. Sementara itu, untuk jenjang SMP, lebih rendah lagi, yakni 40,34.
Fakta itu tentu saja datang menyusul setelah pelaksanaan TKA di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diselenggarakan pada November 2025. Nilai rata-rata matematika SMA di tahun itu sebesar 36,1. Ada sebuah gejala yang kiranya patut untuk dibaca agar kita tidak mudah mencari pihak mana yang perlu disalahkan atas kondisi tersebut. Betapa pun, rentetan rendahnya nilai matematika tersebut menunjukkan sebuah kondisi yang terus berulang.
Apakah ada yang salah dengan pendidikan matematika sejauh ini? Sebab bila kita kontekstualisasikan dengan kepentingan negara, terjadi sebuah situasi paradoks. Beberapa bulan setelah dilantik pada 2024, Presiden Prabowo telah menyerukan pentingnya matematika. Saat rapat terbatas di Istana Kepresidenan pada 22 Oktober 2024, Presiden Prabowo menekankan kualitas pembelajaran matematika dan bagaimana metode pembelajarannya diperbaiki, khususnya di jenjang SD (Tempo, 23/10/2024).
Kebijakan Politik
Ungkapan bernada optimis itu juga diperkuat oleh pernyataan dari Stella Christie selaku Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam beberapa kesempatan. Pernyataannya menyiratkan bahwa sains dan matematika menjadi arus utama dalam pemerintahan. Bahkan, pada Agustus 2025, di sebuah kesempatan ia menyatakan bahwa keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat meningkatkan kemampuan matematika dan bahasa Inggris.
Selama ada skema dan realisasi yang jelas, pernyataan seperti itu sah saja. Akan tetapi, itu akan menjadi masalah jika pada akhirnya hanya sebatas slogan. Permasalahan yang terjadi adalah jebloknya nilai rata-rata untuk pelajaran matematika di semua jenjang sekolah. Dan ini agaknya menjadi sebuah alarm akan adanya masalah kompleks yang berlangsung dalam proses pengajaran matematika itu sendiri dengan kebijakan yang dicanangkan oleh pemerintah. Keduanya saling tumpang tindih.
TKA mengandaikan para murid mampu mengerjakan jenis soal dengan tingkatan logika maupun penalaran yang lebih tinggi daripada umumnya. Meski begitu, ada stereotipe yang kadang masih muncul: tentang bayangan matematika sebagai ilmu yang kering, abstrak, dan penuh hitungan. Cara pandang itu membawa kita pada asumsi, jangankan untuk menuju ke penalaran yang lebih, untuk menyelesaikan jenis soal pada umumnya, jangan-jangan para murid telah banyak yang mendapati kesulitan.
Masalah tersebut ditambah pula dengan lemahnya literasi numerasi dan sains, yang mana keduanya penting sebagai instrumen untuk mendekatkan matematika dan sains kepada kebudayaan. Ihwal demikian, bila terlaksana secara tepat, pada akhirnya menggerakkan murid untuk lekas kasmaran terhadap keduanya. Mereka mendapati kedekatan dan menemui gairah dalam belajar matematika dan sains yang diajarkan secara adaptif dan terhubung dengan lingkungan sekitar.
Jalan Keluar
Matematika harus dikatakan sebagai puncak kegemilangan intelektual yang hingga kini masih dibutuhkan. Definisi menarik pernah diungkapkan oleh ahli matematika Morris Kline dalam esai “Matematika” yang termaktub di bunga rampai Ilmu dalam Perspektif (1978) suntingan begawan filsafat Jujun S. Suriasumantri. Morris Kline mengungkapkan, “… matematika merupakan salah satu kekuatan utama pembentuk konsepsi tentang alam, serta hakikat dan tujuan manusia dalam berkehidupan.”
Di dalam loncatan perkembangan teknologi digital, seperti halnya dengan kecerdasan buatan, matematika semakin menjadi penting sebagai kemampuan yang perlu dimiliki oleh manusia. Pemikir Indonesia yang kerap menyuarakan itu, misalnya guru besar matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB) Iwan Pranoto (2026), menyebutkan bahwa kecakapan matematika tidak sebatas pemahaman konseptual, kefasihan prosedural, kecakapan strategis, hingga bernalar adaptif. Lebih dari itu, matematika mendorong tiap individu untuk memiliki watak produktif.
Pada titik inilah pembelajaran matematika tidak boleh semata-mata disandarkan pada logika tes dan capaian angka. Evaluasi memang penting, tetapi pendidikan matematika yang sehat memerlukan inovasi yang berkelanjutan dalam metode, media, dan pengalaman belajar.
Murid perlu diajak memahami matematika sebagai cara berpikir, bukan sekadar kumpulan rumus yang harus dihafalkan demi menghadapi ujian. Ketika pembelajaran hanya berorientasi pada tes, muaranya atas apa yang pernah diungkapkan oleh Alfie Kohn dalam buku Memilih Sekolah Terbaik untuk Anak (2009) berupa “keinginan semu untuk mendapatkan akuntabilitas sekolah ditambah dengan ketidakpedulian total akan adanya cara-cara lain untuk mencapai tujuan itu.”
Selain itu, penguatan literasi dan numerasi perlu ditempatkan sebagai manifestasi keterhubungan antara kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Matematika seyogianya tidak hadir sebagai disiplin yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan ditemukan dalam aktivitas ekonomi, tradisi, lingkungan, teknologi, hingga persoalan sosial yang dekat dengan pengalaman murid. Dengan cara demikian, stereotipe bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit, kering, dan menakutkan dapat perlahan-lahan dikikis. Murid akan melihat bahwa angka, pola, dan logika merupakan bagian dari realitas yang mereka jumpai setiap hari.
Perbaikan pembelajaran matematika juga menuntut keberanian untuk sungguh-sungguh menerapkan pendidikan yang berpusat pada murid (student-centered learning). Selama ini, tidak jarang proses pendidikan lebih banyak dibangun berdasarkan bayangan orang dewasa tentang apa saja yang harus dilakukan murid. Ada ketidakcukupan ruang untuk mendengar gagasan dan pengalaman belajar dari murid. Padahal, keterlibatan aktif murid merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya minat dan kecintaan terhadap matematika.
Apabila inovasi pembelajaran, penguatan literasi numerasi, dan pendekatan yang berpusat pada murid dapat berjalan beriringan, tentu rendahnya capaian matematika tidak perlu dipandang sebagai vonis kegagalan. Walakin, itu adalah momentum untuk membangun kembali fondasi pendidikan yang lebih bermakna. Pada akhirnya, upaya semacam itu yang kemudian mengantarkan kita pada kesadaran bahwa betapa pun matematika memang semakin penting, dan dengan cara sedemikian rupa kita perlu berbenah demi keberlangsungan sebagai warga negara dan terus merawat nalar bangsa.[*]














