• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 27 September 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

Joko Priyono by Joko Priyono
12 February 2026
in Esai
0
Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

Sumber ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2025 dari murid-murid kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan sederajat dikatakan rendah, banyak pihak yang mudah memberikan komentar bernada sinis. Mereka merasa kecewa akan hasil tersebut. Fenomena ini lazim, seperti halnya pada wacana yang berkembang saat beberapa survei menunjukkan literasi kita rendah. Ruang publik kita disibukkan untuk lekas memberi evaluasi pada pihak tertentu.

Akan tetapi, fenomena tersebut memunculkan satu pertanyaan penting: mengapa logika berpikir kita terjebak pada narasi faktual yang didasarkan pada angka? Sedangkan di sisi lain, kita luput pada satu hal mendasar: keberlanjutan berpikir. Kemauan untuk melakukan koreksi yang berkesinambungan dan terukur. Hal itu berguna untuk melatih dan membiasakan tindakan sebagai jalan kebaikan. Tidak cukup kalau hanya mengutuk hasil. Itu berkait dengan “kebudayaan ruang publik” dalam menempatkan matematika dan sains.

Artinya, jika didasarkan pada sebuah hasil, hanya akan berujung pada kemarahan semata dan menjadi sebuah kesia-siaan. Ini tak terlepas dari kemungkinan banyak pihak itu juga abai pada pembiasaan diri untuk terus mau belajar dan mempraktikkan konsep sains maupun matematika. Masalah besarnya kemudian dalam tataran pendidikan, selalu ada siklus yang menjadi pihak yang disalahkan, baik itu murid, guru, maupun kurikulum pendidikan itu sendiri.

Menaja Kecerdasan Majemuk

Manusia pada dasarnya memang memiliki egonya masing-masing. Akan tetapi, dalam kehidupan berkelompok masyarakat, ada satu realitas yang bisa menyatukannya: realitas intersubjektif. Istilah yang sering disinggung oleh sejarawan Yuval Noah Harari di dalam banyak karyanya adalah sebuah kenyataan yang dibangun atas kesepakatan bersama di dalam menjalani kehidupan. Setiap anggota kelompok memiliki konsensus terhadap tindakan di dalam keseharian. Seperti kita ketahui, beberapa contohnya adalah negara, budaya, uang, hingga norma.

Hal itulah yang menuntun kita untuk menyadari tindakan apa yang bisa dilakukan dalam realitas intersubjektif itu. Pada aras kolektivitas itulah muncul apa yang disebut dengan kecerdasan majemuk. Melihat berbagai persoalan, saya makin yakin bahwa banyak ruang percakapan kita perlu dikonstruksi pada konsep kecerdasan majemuk. Itu kemudian melahirkan kemauan untuk bekerja sama. Dan fakta rendahnya kecakapan matematika dan sains sudah semestinya diletakkan sebagai realitas intersubjektif.

Pada asas itu, setiap anggota kelompok masyarakat berkedudukan sama sebagai pembelajar. Di buku berjudul Jalan Baru Kepemimpinan & Pendidikan: Jawaban atas Tantangan Disruptif-Inovatif (2020), Haryatmoko menjelaskan, “Kemampuan kerja sama menjadi prioritas pembelajaran agar pembelajar terbiasa bisa saling melengkapi dan memberi umpan balik, bukan malah dipacu untuk berkompetisi.”

Kecerdasan majemuk mengandaikan kesalingterhubungan pikiran antara satu dengan lainnya pada visi besar untuk keberlanjutan hidup. Konsep itu penting untuk membaca ulang posisi sains dan matematika.

Kecakapan Sains dan Matematika

Matematika dan sains kiranya tak akan bisa dilepaskan dari kebudayaan kolektif untuk membangun narasi bersama. Dalam konteks tersebut, J. Sumardianta dan Dhitta Puti Sarasvati (2022) memberikan analisis penting. Dalam buku berjudul Guru Posting Berdiri Murid Update Berlari: Transformasi Pendidik Zaman Kerumunan Virtual, mereka menegaskan bahwa pembelajaran untuk menciptakan imajinasi kecakapan matematis dan juga sains sangat bergantung pada pengalaman interaksi dengan berbagai hal konkret di sekitarnya.

Penjelasan itu menjadi titik penting bahwa setiap pembelajar berkemungkinan meningkatkan kecakapan dengan basis realitas. Di aktivitas keseharian, matematika dan sains adalah praktik yang berkesinambungan. Kebersahajaan pengetahuan itulah yang terus melatih dan membiasakan untuk menghasrati, memesrai ilmu pengetahuan. Akhirnya, yang kita imajinasikan adalah keberagaman belajar yang saling menjuarakan perbedaan antara satu dengan lainnya. Bukan hanyut dalam ilusi kecakapan yang kenyataannya membuat kita terjebak pada angka.

Cara itu adalah manifesto politik yang makin dibutuhkan ketimbang pemujaan ranking. Kita harus belajar dengan basis kebudayaan dan realitasnya, bukan membangun sekat yang memisahkan ilmu dan pengetahuan dari ilmu penghidupan.

Kita boleh melontarkan kritik, namun jangan dilupakan bahwa kemauan kolaboratif makin diperlukan. Keberadaannya untuk mengorganisir keberagaman latar belakang anggota masyarakat sebagai pihak yang terus menjadi pembelajar. Kecakapan tak boleh hanya didandarkan pada proses pendidikan formal, namun meliputi keseluruhan. Kesadaran itu menempatkan fakta bahwa dalam aktivitas keseharian, kita lazimnya mempraktikkan sebuah ilmu.

Ilmu Itu Selalu Sosial

Ilmu adalah suatu kegiatan sosial. Karena itu pokok kegiatan keilmuan mana yang dipilih dan diberi prioritas utama, dan bagaimana menggarap pokok itu, dipengaruhi oleh nilai-nilai (Liek Wilardjo, 2009: 274). Nilai itu yang menyatukan dan menguatkan keberlangsungan hidup dalam republik. Keberadaannya kemudian memberikan porsi dalam tanggung jawab dan tugas yang mesti dilakukan. Ini seturut dengan gagasan Ignas Kleden (1987): kecakapan intelektual harus memiliki implikasi pada relevansi sosial.

Persoalan matematika dan sains tidak menjadi persoalan krusial selama anggota masyarakat memiliki kesadaran bersama. Untuk mengurai kesenjangan, upaya yang perlu dimulai bukan pada evaluasi pendidikan formal, melainkan pada konsensus untuk terus menjadi pembelajar. Matematika dan sains tidak hanya ada di ruang pendidikan formal, tetapi juga di pasar, di sawah, hingga di warung. Secara berangsur, itu menjadi sebuah sikap politik yang menentukan masa depan republik. Politik itu bernama “politik ilmu dan pengetahuan” untuk terus menjuarakan kemanusiaan.[]

Tags: esaijoko priyonokecakapan matematikaliterasi sainssains
ShareTweetSendShare
Previous Post

Salam Terakhir

Next Post

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Joko Priyono

Joko Priyono

Fisikawan Partikelir dan Budayawan. Penulis Buku "Alam Semesta dan Kebudayaan Berpengetahuan" (2025)

Artikel Terkait

Matinya Ratu Adil?
Esai

Matinya Ratu Adil?

1 September 2026

Di Indonesia, ada kisah kepercayaan bahwa ketika keadaan dunia sedang dilanda kekacauan, akan muncul seorang penyelamat yang sering disebut Ratu...

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
Esai

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026

Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah...

Melawan Tirani Kebahagiaan
Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini...

Memanusiakan Teknologi
Esai

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

11 January 2021
Alasan Kenapa Self-Love Sulit Dilakukan

Alasan Kenapa Self-Love Sulit Dilakukan

29 October 2021
Gambar Artikel Tut Wuri Golek Rai

Tut Wuri Golek Rai

25 November 2020
Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

22 June 2025
Membangun Literasi Peduli Bumi: Festival Buku Berjalan

Membangun Literasi Peduli Bumi: Festival Buku Berjalan

5 May 2024
Gambar Artikel Sepasang Mata

Sepasang Mata

10 November 2020
Penjual Susu dan Puisi Lainnya

Penjual Susu dan Puisi Lainnya

2 June 2024
4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

3 April 2022
Gambar Artikel Puisi Dengan Angin

Dengan Angin

19 January 2021
Gambar Artikel Keyakinan

Keyakinan

3 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kritikus Harus ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul
  • Matinya Ratu Adil?
  • Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
  • Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
  • Cik Dian
  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi

Kategori

  • Event (17)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (15)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (72)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (59)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (54)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (18)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.