• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 13 March 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Faza Nugroho by Faza Nugroho
18 February 2026
in Puisi
0
Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Sumber ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Risoles Tahun Baru

Pagi tadi
aku masih berada
di dalam kotak

Dengar ceramah
soal kemanusiaan,
revolusi, resolusi,
segala macam
sampai demokrasi

Siangnya aku pulang
lanjut kerja cari uang
buat sumbang beras
ke rumah-rumah orang

Upah seharian
untuk sekali makan
Makan nasi lauk pikiran
serius bisa bikin kenyang?

Konon urusan piring diatur
oleh yang di atas sana—
Aku kekurangan nutrisi
untuk sedikit peduli

Mudah betul bicara—
sudah benar makan nasi
malah minta lauk ideologi

Kemanusiaan pun seragam,
tergantung muka siapa
yang ingin dipajang

Biasanya berupa karung
disertai nama terang
Kadang bisa berupa
kantong isi uang

Pagi menyerukan kebenaran—
yang sampai: pencairan kekayaan

Ah, kebenaran hari ini
tak lebih dari kelaparan
Orkes keroncong di perut
terus bekerja sejak hari libur

Di kebun binatang,
hanya primata berkuasa
yang kuasa atur jam makan
lewat adu lengking suara
dari dalam kandang

Sudahlah,
esok pagi harus
kembali ke kotak lagi

Bermodal asam lambung
dan sisa-sisa keyakinan,
melahap lambang burung
tak cukup mengenyangkan

Yogyakarta, 2026

 

Surau Kami Masih Roboh

Tuhan,
Aku lelah
oleh sesamaku

Celoteh mereka soal syukur
belum cukup melipur lapar

Celoteh mereka soal iman
belum cukup menjamin aman

Kata mereka,
pahala itu upah
Engkau adalah atasan
Ibadah itu daftar tugas
Bertanya dilarang keras

Sejujurnya aku tak tahu
siapa yang mengerdilkan-Mu:
antara aku yang mulai ragu
atau mereka yang mengaku
dekat pada-Mu

Bicara benar-salah
mereka mendadak saleh
Bicara soal hukum
mendadak berlagak hakim

Sekali salah dapat vonis,
“sekian tahun neraka
bagi seorang residivis.”

Selama ini
aku tak ke mana-mana,
tanpa hari penghakiman
neraka berpindah sendiri
lewat mulut ke mulut
yang menyulut takut

Dari situ
aku mulai patuh,
jatuh pada janji
yang tak kupahami
sepenuhnya

Lebih pandai merapal
atau menghafal pasal-pasal
seperti aparat penegak moral

Kebenaran terdengar palsu,
seperti bising kerumunan

Siapa paling nyaring
sudah tentu ia penting,
siapa paling lantang
sudah pasti menang,
sisanya remah-remah,
sisanya remeh-temeh

Sementara kesalahan,
bentuk paling jujur manusia
yang mengeriyap di antara senyap

Perlahan tapi pasti
aku belajar bertanya,
sebab kebanyakan orang
juga kebanyakan bicara

Apa bisa aku sembuh
tanpa dipaksa menyembah siapa?

Aku pernah merintih lirih pada-Mu
dan harapku luruh setelahnya

Apa bisa aku kembali pulih
tanpa dipaksa memilih
berdiri di sisi siapa?

Aku memanggil nama-Mu
dengan lirih yang sama
sejak aku belajar bertanya

Yogyakarta, 2026

 

Blackjack

Dua puluh satu
Sebuah permainan kartu
Satu langkah menebak,
setengahnya lagi terjebak

Sejak kecil terpapar angka—
aritmatika, peluang, dan logaritma—
katanya agar pandai berhitung
Angka kulempar hasilnya buntung

Nomor tak lagi dilirik
Orang lebih tertarik hati,
waru, sekop, dan wajik

Mahkota lebih utama
Nilai bisa dipikir terakhir
Kemenangan pertama
mengantar ke titik nadir

Papan tulis mengurutkan angka,
rumus-rumus berdiri sejajar
menyisakan ruang kosong

Meja kursi tertata rapi
Persis aturan berbusana
yang jelas tak berguna

Urutan angka kini beserta nama,
orang-orang berbaris satu banjar,

yang kosong sekarang tatapan mata

Berpacu pada putaran nomor undian
: maju terus atau mampus

Di atas meja
semua terlihat sama
Pemain cuma bidak,
kalau kalah jadi budak

Penyesalan datang akhir,
kalau awal pendaftaran
Kartu pribadi jadi jaminan
tiap mulai permainan

Bukan ingin ajar judi,
apalagi bahas budi

Peluh sehari-hari
belum tampakkan hasil
Sebaliknya utang menumpuk
di balik kemeja dan lamaran kerja

Jalan tak selalu lurus,
kadang hasil tak selaras usaha
Katanya itu cara dunia menegur,
tegakkan kepala dan tetap tegar

Pilihannya cuma dua:
menghidupi hidup
atau
menghadapi hidup

Yogyakarta, 2025

Tags: faza nugrohometaforpuisisajaksastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

Next Post

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

Faza Nugroho

Faza Nugroho

Pemuda Pantura yang tengah berkelana di Yogyakarta. Instagram @fazanicus

Artikel Terkait

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya
Puisi

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Ketika Kita Sama-Sama Telanjur Tinggal kau mengikat sepatumu di teras aku mengikat napas agar tidak membentur kalimatmu di antara kita...

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya
Puisi

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya dan Puisi Lainnya

14 August 2025

Perempuan yang Menyetrika Tubuhnya setiap malam ia menyetrika tubuhnya di depan kaca mencari lipatan-lipatan yang membuat lelaki itu malas pulang...

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya
Puisi

Hisap Aku hingga Putih dan Puisi Lainnya

3 August 2025

Hisap Aku hingga Putih bulan merabun serbuk langit bebal pohon dan batu tak bergaris hitam coreng malam yang sumuk punggung...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Bersetubuh dengan Kata

Bersetubuh dengan Kata

24 March 2021
Dismorfia Kehidupan

Dismorfia Kehidupan

1 February 2022
Gambar Artikel Pahlawan Bukan Hanya Tentang Sejarah, tapi Juga Pemuda

Pahlawan Bukan Hanya tentang Sejarah, Tapi Juga Pemuda

23 November 2020
Gambar Artikel Makna Problematika I'm Okay.

Problematika I’m Okay

29 December 2020
Main Tanah dari Langit

Main Tanah dari Langit

28 November 2021
Menyoal Tirani: Pelajaran Penting Demokrasi Abad Ini

Menyoal Tirani: Pelajaran Penting Demokrasi Abad Ini

9 August 2022
Dari Nafas Malamku

Dari Nafas Malamku

11 May 2021
Gambar Artikel Mengapa Jamie Vardy Layak Jadi Guru Untuk Kaum Pekerja?

Mengapa Jamie Vardy Layak Jadi Guru untuk Kaum Pekerja?

20 November 2020
Gubuk Sajak

Gubuk Sajak

16 March 2021
Hari Raya Kenangan dan Peringatan Patah Hati

Hari Raya Kenangan dan Peringatan Patah Hati

29 March 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
  • Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
  • Harga Buku, Nasib Penulis, dan IQ Kita yang Menghkhawatirkan
  • Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul
  • Perempuan yang Menghapus Namanya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (69)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (56)
  • Metafor (223)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (143)
    • Resensi (22)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.