• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 09 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Faza Nugroho by Faza Nugroho
18 February 2026
in Puisi
0
Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Sumber ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Risoles Tahun Baru

Pagi tadi
aku masih berada
di dalam kotak

Dengar ceramah
soal kemanusiaan,
revolusi, resolusi,
segala macam
sampai demokrasi

Siangnya aku pulang
lanjut kerja cari uang
buat sumbang beras
ke rumah-rumah orang

Upah seharian
untuk sekali makan
Makan nasi lauk pikiran
serius bisa bikin kenyang?

Konon urusan piring diatur
oleh yang di atas sana—
Aku kekurangan nutrisi
untuk sedikit peduli

Mudah betul bicara—
sudah benar makan nasi
malah minta lauk ideologi

Kemanusiaan pun seragam,
tergantung muka siapa
yang ingin dipajang

Biasanya berupa karung
disertai nama terang
Kadang bisa berupa
kantong isi uang

Pagi menyerukan kebenaran—
yang sampai: pencairan kekayaan

Ah, kebenaran hari ini
tak lebih dari kelaparan
Orkes keroncong di perut
terus bekerja sejak hari libur

Di kebun binatang,
hanya primata berkuasa
yang kuasa atur jam makan
lewat adu lengking suara
dari dalam kandang

Sudahlah,
esok pagi harus
kembali ke kotak lagi

Bermodal asam lambung
dan sisa-sisa keyakinan,
melahap lambang burung
tak cukup mengenyangkan

Yogyakarta, 2026

 

Surau Kami Masih Roboh

Tuhan,
Aku lelah
oleh sesamaku

Celoteh mereka soal syukur
belum cukup melipur lapar

Celoteh mereka soal iman
belum cukup menjamin aman

Kata mereka,
pahala itu upah
Engkau adalah atasan
Ibadah itu daftar tugas
Bertanya dilarang keras

Sejujurnya aku tak tahu
siapa yang mengerdilkan-Mu:
antara aku yang mulai ragu
atau mereka yang mengaku
dekat pada-Mu

Bicara benar-salah
mereka mendadak saleh
Bicara soal hukum
mendadak berlagak hakim

Sekali salah dapat vonis,
“sekian tahun neraka
bagi seorang residivis.”

Selama ini
aku tak ke mana-mana,
tanpa hari penghakiman
neraka berpindah sendiri
lewat mulut ke mulut
yang menyulut takut

Dari situ
aku mulai patuh,
jatuh pada janji
yang tak kupahami
sepenuhnya

Lebih pandai merapal
atau menghafal pasal-pasal
seperti aparat penegak moral

Kebenaran terdengar palsu,
seperti bising kerumunan

Siapa paling nyaring
sudah tentu ia penting,
siapa paling lantang
sudah pasti menang,
sisanya remah-remah,
sisanya remeh-temeh

Sementara kesalahan,
bentuk paling jujur manusia
yang mengeriyap di antara senyap

Perlahan tapi pasti
aku belajar bertanya,
sebab kebanyakan orang
juga kebanyakan bicara

Apa bisa aku sembuh
tanpa dipaksa menyembah siapa?

Aku pernah merintih lirih pada-Mu
dan harapku luruh setelahnya

Apa bisa aku kembali pulih
tanpa dipaksa memilih
berdiri di sisi siapa?

Aku memanggil nama-Mu
dengan lirih yang sama
sejak aku belajar bertanya

Yogyakarta, 2026

 

Blackjack

Dua puluh satu
Sebuah permainan kartu
Satu langkah menebak,
setengahnya lagi terjebak

Sejak kecil terpapar angka—
aritmatika, peluang, dan logaritma—
katanya agar pandai berhitung
Angka kulempar hasilnya buntung

Nomor tak lagi dilirik
Orang lebih tertarik hati,
waru, sekop, dan wajik

Mahkota lebih utama
Nilai bisa dipikir terakhir
Kemenangan pertama
mengantar ke titik nadir

Papan tulis mengurutkan angka,
rumus-rumus berdiri sejajar
menyisakan ruang kosong

Meja kursi tertata rapi
Persis aturan berbusana
yang jelas tak berguna

Urutan angka kini beserta nama,
orang-orang berbaris satu banjar,

yang kosong sekarang tatapan mata

Berpacu pada putaran nomor undian
: maju terus atau mampus

Di atas meja
semua terlihat sama
Pemain cuma bidak,
kalau kalah jadi budak

Penyesalan datang akhir,
kalau awal pendaftaran
Kartu pribadi jadi jaminan
tiap mulai permainan

Bukan ingin ajar judi,
apalagi bahas budi

Peluh sehari-hari
belum tampakkan hasil
Sebaliknya utang menumpuk
di balik kemeja dan lamaran kerja

Jalan tak selalu lurus,
kadang hasil tak selaras usaha
Katanya itu cara dunia menegur,
tegakkan kepala dan tetap tegar

Pilihannya cuma dua:
menghidupi hidup
atau
menghadapi hidup

Yogyakarta, 2025

Tags: faza nugrohometaforpuisisajaksastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

Next Post

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

Faza Nugroho

Faza Nugroho

Pemuda Pantura yang tengah berkelana di Yogyakarta. Instagram @fazanicus

Artikel Terkait

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Bangle

Bangle

24 January 2021
Win-Win Corruption

Win-Win Corruption

30 May 2021
People vector created by vectorpocket - www.freepik.com

Metropolis Berduli

12 December 2021
Rindu Bersaung di Senaru

Rindu Bersaung di Senaru

10 March 2021
Pakai Tangan Kiri Itu Tidak Selalu Buruk

Pakai Tangan Kiri Itu Tidak Selalu Buruk

6 December 2021
Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026
Belajar Mengitari Israel

Belajar Mengitari Israel

19 April 2023
4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

3 April 2022
Ayat-ayat Alam Raya

Ayat-ayat Alam Raya

19 June 2021
Tadabbur via Momentum Hujan

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.