• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 20 May 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Faza Nugroho by Faza Nugroho
18 February 2026
in Puisi
0
Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Sumber ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Risoles Tahun Baru

Pagi tadi
aku masih berada
di dalam kotak

Dengar ceramah
soal kemanusiaan,
revolusi, resolusi,
segala macam
sampai demokrasi

Siangnya aku pulang
lanjut kerja cari uang
buat sumbang beras
ke rumah-rumah orang

Upah seharian
untuk sekali makan
Makan nasi lauk pikiran
serius bisa bikin kenyang?

Konon urusan piring diatur
oleh yang di atas sana—
Aku kekurangan nutrisi
untuk sedikit peduli

Mudah betul bicara—
sudah benar makan nasi
malah minta lauk ideologi

Kemanusiaan pun seragam,
tergantung muka siapa
yang ingin dipajang

Biasanya berupa karung
disertai nama terang
Kadang bisa berupa
kantong isi uang

Pagi menyerukan kebenaran—
yang sampai: pencairan kekayaan

Ah, kebenaran hari ini
tak lebih dari kelaparan
Orkes keroncong di perut
terus bekerja sejak hari libur

Di kebun binatang,
hanya primata berkuasa
yang kuasa atur jam makan
lewat adu lengking suara
dari dalam kandang

Sudahlah,
esok pagi harus
kembali ke kotak lagi

Bermodal asam lambung
dan sisa-sisa keyakinan,
melahap lambang burung
tak cukup mengenyangkan

Yogyakarta, 2026

 

Surau Kami Masih Roboh

Tuhan,
Aku lelah
oleh sesamaku

Celoteh mereka soal syukur
belum cukup melipur lapar

Celoteh mereka soal iman
belum cukup menjamin aman

Kata mereka,
pahala itu upah
Engkau adalah atasan
Ibadah itu daftar tugas
Bertanya dilarang keras

Sejujurnya aku tak tahu
siapa yang mengerdilkan-Mu:
antara aku yang mulai ragu
atau mereka yang mengaku
dekat pada-Mu

Bicara benar-salah
mereka mendadak saleh
Bicara soal hukum
mendadak berlagak hakim

Sekali salah dapat vonis,
“sekian tahun neraka
bagi seorang residivis.”

Selama ini
aku tak ke mana-mana,
tanpa hari penghakiman
neraka berpindah sendiri
lewat mulut ke mulut
yang menyulut takut

Dari situ
aku mulai patuh,
jatuh pada janji
yang tak kupahami
sepenuhnya

Lebih pandai merapal
atau menghafal pasal-pasal
seperti aparat penegak moral

Kebenaran terdengar palsu,
seperti bising kerumunan

Siapa paling nyaring
sudah tentu ia penting,
siapa paling lantang
sudah pasti menang,
sisanya remah-remah,
sisanya remeh-temeh

Sementara kesalahan,
bentuk paling jujur manusia
yang mengeriyap di antara senyap

Perlahan tapi pasti
aku belajar bertanya,
sebab kebanyakan orang
juga kebanyakan bicara

Apa bisa aku sembuh
tanpa dipaksa menyembah siapa?

Aku pernah merintih lirih pada-Mu
dan harapku luruh setelahnya

Apa bisa aku kembali pulih
tanpa dipaksa memilih
berdiri di sisi siapa?

Aku memanggil nama-Mu
dengan lirih yang sama
sejak aku belajar bertanya

Yogyakarta, 2026

 

Blackjack

Dua puluh satu
Sebuah permainan kartu
Satu langkah menebak,
setengahnya lagi terjebak

Sejak kecil terpapar angka—
aritmatika, peluang, dan logaritma—
katanya agar pandai berhitung
Angka kulempar hasilnya buntung

Nomor tak lagi dilirik
Orang lebih tertarik hati,
waru, sekop, dan wajik

Mahkota lebih utama
Nilai bisa dipikir terakhir
Kemenangan pertama
mengantar ke titik nadir

Papan tulis mengurutkan angka,
rumus-rumus berdiri sejajar
menyisakan ruang kosong

Meja kursi tertata rapi
Persis aturan berbusana
yang jelas tak berguna

Urutan angka kini beserta nama,
orang-orang berbaris satu banjar,

yang kosong sekarang tatapan mata

Berpacu pada putaran nomor undian
: maju terus atau mampus

Di atas meja
semua terlihat sama
Pemain cuma bidak,
kalau kalah jadi budak

Penyesalan datang akhir,
kalau awal pendaftaran
Kartu pribadi jadi jaminan
tiap mulai permainan

Bukan ingin ajar judi,
apalagi bahas budi

Peluh sehari-hari
belum tampakkan hasil
Sebaliknya utang menumpuk
di balik kemeja dan lamaran kerja

Jalan tak selalu lurus,
kadang hasil tak selaras usaha
Katanya itu cara dunia menegur,
tegakkan kepala dan tetap tegar

Pilihannya cuma dua:
menghidupi hidup
atau
menghadapi hidup

Yogyakarta, 2025

Tags: faza nugrohometaforpuisisajaksastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

Next Post

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

Faza Nugroho

Faza Nugroho

Pemuda Pantura yang tengah berkelana di Yogyakarta. Instagram @fazanicus

Artikel Terkait

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
Puisi

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

9 May 2026

Aku melihat ayah, di sana Aku melihat ayah pada setiap wanita yang terikat kakinya pada jalan-jalan mereka yang terjal dan...

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Menemui Emosi dari Diri

Menemui Emosi dari Diri

20 August 2021
Sebungkus Sunyi

Sebungkus Sunyi

20 November 2021
Perempuan yang Menghapus Namanya

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025
Gambar Artikel Sajak Asal Njeplak

Sajak Asal Njeplak

20 December 2020
Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

23 June 2021
Status Baru Ibu dan Puisi Lainnya

Status Baru Ibu dan Puisi Lainnya

20 July 2025
Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

Menerka Kiblat Dakwah Generasi Muda di Masa Depan

16 February 2022
Gambar Artikel Abu Zayd Al-Balkhi: Ulama Psikologi yang Jarang Diketahui

Abu Zayd Al-Balkhi: Ulama Psikologi yang Jarang Diketahui

15 January 2021
Belajar Menulis

Belajar Menulis

1 April 2021
Buron dan Segelas Es Teh

Buron dan Segelas Es Teh

26 March 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (229)
    • Cerpen (58)
    • Puisi (147)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.