• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 17 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

Puisi-Puisi Nadia Rahmatika

Nadia Rahmatika by Nadia Rahmatika
8 December 2021
in Puisi
1
Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

https://www.behance.net/xuanlocxuan

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Bumi Rantau

Seperti ada yang menyerah
Menghadapi bau parfum kota
Terbiasa melihat hamparan sawah
Kini memandang jalanan ibu kota

Senja yang kelam
Tak menampakkan puteri malam
Lonceng pagi pun tak terdengar
Membuat buncah seisi kamar

Manusia terkadang lupa
Untuk tangguh berkelana
Terasing dari griya
Energi harus membara

2021

 

Hilangnya Pengharapan

Terpecah belah karena pagebluk datang
Tak sedikitpun diberi persiapan
Anak Adam berebut disinfektan
Bertumpah ruah di balai pengobatan

Masker-masker tak melindungi
Suhu badan tak kami peduli
Mencari nafkah ke sana kemari
Tak diizinkan oleh sang punya negeri
Di rumah saja katanya
Rumah yang seperti apa?
yang berpenghuni dan hampir mati?
dan Anda tenang menonton televisi?
Kami lelah
Hidup di bumi sendiri tapi selalu dihakimi

2021

 

Jemu

Puluhan purnama bertahan
Menjaga jiwa raga tak berkesudahan
Harus isolasi mandiri

Terperangkap di balik ruang sepi
Membelakangi panas matahari
Jauh dari jangkauan bumi

Kita tersihir diam
Sulit untuk keluar
Sulit untuk tersadar
Hanya mampu menadah tangan
Demi kewarasan

2021

 

Semoga Kita Tak Mengalah pada Jarak

Lonceng kapal telah terdengar
Membawamu jauh dari dermaga
Langit menangis beri pertanda
Hati merindu segera melanda

Ombak-ombak yang bergoyang
Menjadi saksi perpisahan kita

Kau berjanji akan setia
Pulang kembali dengan suka cita
Walau jarak memisahkan kita
Kau dan aku akan tetap sama

2021

Diri yang Berbeda

Ini kisah si putri malu
Selalu diam membisu
Tak berbahana
Tak mau menyapa

Sang putri merasa hidup akan bahagia
Bagai Cinderella bertemu pangerannya
Tapi kenyataannya berbeda
Ia terjerembap oleh angan tak nyata

Tak terima dengan realita
Ia pergi membawa luka
Rasa takut mengepungnya
Dan amarah yang tak meredam
Membuat ia kehilangan dirinya

2021

Tags: Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapannadia rahmatikapuisi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kriminalitas Jalan Pintas Keterdesakan

Next Post

Metropolis Berduli

Nadia Rahmatika

Nadia Rahmatika

Lahir di Tegal, 20 November 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Berdomisili di Tegal dan dapat dihubungi melalui ig: nrahmatika

Artikel Terkait

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Comments 1

  1. Ade Nurmansyah says:
    3 years ago

    Keren bgt kak nadia puisinya🫶

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Latu

Latu

18 March 2021
Kiat Merawat Dendam ala Seneca

Kiat Merawat Dendam ala Seneca

3 November 2021
Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

9 April 2022
Penjaring Ikan di Laut

Penjaring Ikan di Laut

2 April 2021
Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

Cyber-Religion: Webinar Menemukan Sanad Belajar Agama di Jagat Maya

27 February 2021
Bentuk Cinta Paling Tenang dan Tak Ingin Jawab

Bentuk Cinta Paling Tenang dan Tak Ingin Jawab

11 July 2025
Kidung Rindu

Kidung Rindu

11 June 2021
Gambar Artikel Anomali Rokok dan Sepak Bola

Anomali Rokok dan Sepak Bola

8 January 2021
Mimpi Reyot

Mimpi Reyot

2 July 2021
Ayangophobia pada Buku “Manusia Adimanusia”

Ayangophobia pada Buku “Manusia Adimanusia”

6 March 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.