• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Aku dan Impian Terbesarku: Pengalaman Tinggal di Jerman

Rizki Dian Wulandari by Rizki Dian Wulandari
29 November 2020
in Kelana
2
Gambar Artikel Aku dan Impian Terbesarku: Pengalaman Tinggal di Jerman

Dokumentasi pribadi kontributor (pemandangan alam di Jerman)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah 2 tahun aku berada di Benua Biru ini. Pertama kali aku menginjakkan kaki di negara ini kebetulan sedang musim gugur. Masih kuingat jelas betapa dinginnya udara saat itu. Aku belum mengerti apapun kala itu, terlebih soal bahasa Jerman dan budaya Jerman. Kecuali hanya “Guten Morgen“.

Tinggal di luar negeri adalah cita-citaku sejak kecil. Entah kenapa aku selalu terkesima mendengar cerita orang-orang yang pernah tinggal di negeri orang. Bagiku, itu keren sekali.

Aku melakukan riset di internet dan buku-buku bagaimana cara agar bisa keluar negeri dengan biaya terjangkau. Aku bahkan mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan luar negeri. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri agar jangan sekali-sekali menyerah akan impian. Aku tak pernah menyangka kalau sekarang aku berada di tempat yang benar-benar aku impikan.

Pemandangan Alam di Jerman
Menikmati Pemandangan Alam di Benua Biru

***

Kisah berawal dari program Au Pair. Program ini menawarkan anak-anak muda dari seluruh negara untuk tinggal bersama keluarga Jerman selama 1 tahun. Fasilitas dari program ini, aku mendapatkan uang saku 260€ per bulan dan 50€ untuk uang kursus. Sedangkan untuk makan dan tempat tinggal, semua ditanggung oleh Gast Familie (keluarga angkat).

Foto ketika di Jerman
Dokumentasi pribadi kontributor

Selain itu, aku diperbolehkan mengikuti kursus bahasa Jerman untuk meningkatkan kemampuan bahasaku sekaligus bekal adaptasi lebih lanjut. Sebagai timbal balik atas fasilitas yang diberikan oleh mereka, aku mempunyai tugas yaitu membantu keluarga angkatku ini untuk mengasuh anak-anaknya.

Aku bertugas menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak mereka. Beruntungnya, bekalnya bukan bekal yang susah. Aku hanya memotong buah sebagai bekal mereka ke sekolah. Begitu mereka pergi ke sekolah atau ke TK, pada momen itulah aku mempunyai waktu luang sampai jam 14.00. Usai itu, aku harus menjemput mereka dari TK. Ketika semua sudah berada di rumah, aku mengajak mereka bermain hingga jadwal makan malam tiba. Program ini bagus karena kita dapat mempelajari budaya Jerman dari lingkup terkecil, yaitu: keluarga.

***

Satu tahun berlalu, aku mengikuti program lain agar bisa tetap tinggal di Jerman. Program ini disebut Freiwilligendienst Soziales Jahr (FSJ). Program ini adalah program di mana kita bisa menjadi relawan di instansi pendidikan, panti jompo, lembaga orang berkebutuhan khusus, museum, dll. Tapi jangan salah ya, di sini kita tidak bekerja dengan gratis—meskipun namanya relawan—kita juga tetap mendapatkan uang saku dan tentunya lebih banyak daripada uang saku saat Au Pair.

Tugasku di program ini tidak sulit. Aku diminta membantu orang-orang berkebutuhan khusus dalam berpakaian, mandi, makan, dan sejenisnya. Aku memilih bekerja di bidang ini karena aku berpikir itu adalah pekerjaan mulia. Banyak hal yang aku pelajari dari program ini, salah satunya soal bersyukur. Di luar sana, ada banyak orang mempunyai banyak impian namun fisik menjadi keterbatasan dan mereka tidak pernah putus semangat.

***

Sementara kini, program yang kujalani adalah Ausbildung. Sebuah program yang hampir sama seperti SMK kalau di Indonesia. Di sini, aku bersekolah dan aku tidak membayar sekolahnya sama sekali—alias gratis. Fasilitas sekolahnya begitu lengkap dan guru-gurunya sangat perduli dengan perkembangan murid-murid. Aku mengambil jurusan Hotelfachfrau (Spesialis Perhotelan). Sebagai prakteknya, aku bekerja di sebuah hotel milik keluarga.

Selama 2 tahun ini aku belajar banyak hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan yang paling berharga, aku menemukan jati diriku yang sesungguhnya sehingga aku berhasil membentuk karakter diriku. Tak pernah sedetik pun aku berhenti mengucap syukur atas kesempatan ini.

Pengalaman Tinggal di Jerman : Musim Salju di Jerman
Musim Salju di Jerman

Kerja keras telah membuahkan sebuah jalan yang kuimpi-impikan. Melihat salju, menjelajahi alam yang ditawarkan Jerman, menikmati makanan-makanan baru, kesemuanya merupakan serangkum pengalaman hidup yang tak terbayarkan.

Namun aku tersadar, pindah ke Jerman bukanlah sebuah akhir dan tujuan, melainkan sebuah langkah baru untuk kehidupan yang lebih baik. Semua yang kualami dan kujalani di sini adalah sebuah proses pembentukan kemandirian dan mentalku agar menjadi pribadi yang lebih tahan banting. So, pesanku untuk kalian semua: jangan pernah berhenti berusaha untuk mendapatkan apa yang kalian cita-citakan. Fighting! 😊

Tags: Au PairAusbildungFSJinspiratifJermantravelling
ShareTweetSendShare
Previous Post

Air Terjun Temburun dan Pulau Temawan

Next Post

El Diego di Luar Lapangan Hijau

Rizki Dian Wulandari

Rizki Dian Wulandari

Perempuan asal Yogyakarta yang kini tinggal di Jerman. Hobi berkelana, juga ingin bermanfaat bagi sesama. Jika ada pembaca yang ingin tanya-tanya soal apapun tentang proses, cara, dan kehidupan Jerman, boleh kontak langsung ke Instagram @rdwlndr

Artikel Terkait

Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
Kelana

Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya

3 October 2026

Suapan pertama spaghetti di tanah kelahirannya justru membuat saya ingin buru-buru mencari air putih. Syukurnya, cappuccino asli Italia berhasil melipur...

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
Kelana

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

12 September 2026

Senin, 10 Agustus 2026, empat diaspora Indonesia di Swiss; LasmaKuhn Sihotang, Susie Lehmann, Krisna Diantha dan saya berziarah ke makam...

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
Kelana

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki

8 August 2026

Akhir Juni 2026 lalu, aku menyeberang dari Swiss ke kota Konstanz di tepi Bodensee, Jerman, untuk bertemu Mohammad Zaim. Sebelumnya...

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
Kelana

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

27 February 2026

Awal Februari 2026, saya berkesempatan untuk menjajakan kaki di benua biru, tepatnya di negara yang begitu terkenal akan produk cokelatnya:...

Comments 2

  1. Pingback: Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia - Metafor.id
  2. Pingback: Fafifu John Mayer - Metafor.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pekerja Malam

Pekerja Malam

28 April 2021
Gambar Artikel Pengarang Feminis

Pengarang Feminis

9 January 2021
Gadis Masochist

Gadis Masochist

27 May 2021
Sebuah Pesan Pendek dan Lekukan Mimpi

Sebuah Pesan Pendek dan Lekukan Mimpi

15 March 2021
Jika Pulang Selalu Tentang Pergi

Jika Pulang Selalu Tentang Pergi

22 June 2021
Gambar Artikel Membersihkan Luka dengan Alkohol Vs Air Bersih

Membersihkan Luka dengan Alkohol Vs Air Bersih

23 November 2020
Gambar Artikel Puisi Semua Semau

Semua Semau

7 January 2021
Gambar Artikel Jahm bin Shafwan: Sosok Ekstremis Klasik di Islam

Jahm bin Safwan: Sosok Ekstremis Klasik di Islam

28 December 2020
Puisi Siap Saji

Puisi Siap Saji

22 February 2021
Yang Mengelucak dari Lembar-Lembar Buku Pepak

Yang Mengelucak dari Lembar-Lembar Buku Pepak

18 February 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.