• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 17 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Paskalis Andana Trivida Putra by Paskalis Andana Trivida Putra
24 March 2022
in Kelana, Milenial
0
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Sumber gambar: dw.com (taken by Hendra Pasuhuk)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sebelumnya saya pernah menulis tentang bagaimana proses panjang perjuangan menuju Jerman dan menjalani kehidupan di sana–teman saya juga pernah menuliskan kisah perjuangannya ke Jerman di sini. Nah, kali ini, di samping karena dikirimi sejumlah pertanyaan dari tim redaksi metafor, saya akan menyajikan hal baru mengenai pengalaman yang saya kenyam di Jerman selama beberapa tahun ke belakang. Boleh jadi ada beberapa orang yang mungkin juga ingin tahu bagaimana perbedaan budaya dan watak antara orang Jerman dan Indonesia. Mari simak poin-poin di bawah ini:

Perbedaan Sikap Orang Jerman dan Indonesia

Orang Jerman itu:

  • Lebih berani dan lebih terbuka (jujur) ketimbang orang Indo.
  • Semua direncanakan. Semua butuh Termin (janjian waktu temu). Bahkan terkadang kalau ingin main atau berkunjung ke rumah orang pun juga begitu.
  • Lebih peduli pada lingkungan. Rumah di Jerman yang pasang AC itu sedikit banget, walaupun di sini sedang Summer, otomatis ya bisa panas banget. Suatu kali suhu ketika musim panas di sini pernah sampai 40 derajat. Di samping itu juga, mereka mantap sekali lah recycling-nya: sampah dipisah-pisah, dipilah sesuai kategori sampah organik atau anorganik.
  • Lebih tepat waktu. Mereka juga, kalau punya janji, biasanya datang 15 menit sebelum jam kegiatan atau acara dimulai. Ini layak diteladani.

Orang Indo itu:

  • Lebih sopan. Kalau dalam istilah kita, “tau unggah ungguh”-lah kata orang Jawa.
  • Lebih ramah dan murah senyum. 
  • Lebih peduli ke tetangganya, kalau posisi di rumah, bukan apartemen. Di Jerman soalnya kebanyakan orang yang tinggal di apartemen jadi lebih individualis.
  • Lebih mau bekerja keras kalau di sini. Kita orang Indonesia banyak yang dicap rajin, lho.

 

Kemudian untuk perbedaan kultural yang saya amati, sebenarnya ada banyak. Namun, ada beberapa yang bagi saya menonjol dan ingin saya kemukakan di bawah ini.

Perbedaan Budaya:

  • Budaya baca orang Jerman: saya rasa orang rajin membaca di Jerman itu adalah hal biasa. Mereka bisa cuma keluar di taman dan baca buku di taman sambil nge-teh atau minum kopi. Atau juga di kereta, terutama kereta jarak jauh, banyak orang baca buku atau bawa Kindle buat baca.
  • Di angkutan umum, bus atau kereta kurang lebih mereka sama aja. Cuma kalau naik kereta, bedanya, sebelum naik kereta tiket kita tidak dicek sama sekali. Jadi sebenarnya bisa saja kita naik kereta tanpa beli tiket (hehe), tapi orang Jerman jarang sekali yang begitu. Kesadaran masing-masing: mereka tetap taat aturan dan beli tiket.
  • Terus kalau menyeberang di lampu merah, mereka benar-benar menunggu sampai lampu hijau dulu, baru menyeberang. Mereka juga mendahulukan pejalan kaki dan pesepeda kalau di sini.
  • Sebagai orang asing di Jerman, pasti kita perlu mengurus dokumen, kan? Nah, kita yang harus proaktif mengurus, tanya sana-sini, telpon sana-sini, bolak-balik sana-sini. Tapi kalau beruntung, ada yang bisa bantu.
  • Karena alkohol diperbolehkan di sini, banyak orang yang ngadain party di rumah mereka sekedar untuk minum, atau pergi ke bar atau disko untuk minum.
  • Kalau orang sini pacaran, mereka biasanya juga bakalan tinggal satu rumah. Di sini hal semacam itu merupakan hal yang biasa. Jika mereka punya anak, mereka juga tidak harus menikah.

 

Destinasi Wisata

Terakhir, saya kasih tahu buat teman-teman pembaca di sini barangkali nanti punya rezeki dan bisa berkunjung ke Jerman, ini daftar destinasi wisata di Jerman yang saya catat. Aslinya, jujur, banyak banget…. Tapi ini yang bisa saya rekomendasikan buat kalian:

  • Kalau suka naik gunung, sebaiknya pergi ke daerah Selatan, ke Pegunungan Alpen. Di sini kalian bisa mendaki banyak gunung. Hiking di sekitaran danau-danau, atau sekedar jalan kaki. Kalau di daerah Selatan, setiap kota pasti punya jalur pendakian sendiri, entah yang ke gunung, menyusuri sungai, atau keliling danau.
  • Kalau suka ke museum, saya punya saran ke Museum Insel di Berlin, itu mungkin museum terbesar di Jerman, dan koleksinya bagus-bagus.
  • Tapi selain itu, di Munich juga ada BMW Museum, bagus juga. Atau di Stuttgart ada Mercedes-Benz Museum.

Nah, untuk tulisan kali ini saya cukupkan dulu, ya. Mungkin nanti kalau ada pertanyaan lagi, silakan boleh DM Instagram saya. Kalau pas sempat dan tidak sedang kelelahan bekerja, kemungkinan akan saya share lagi cerita-cerita seputar Jerman. Selamat memburu cita-citamu.[]

Tags: AusbildungbudayaFSJIndonesiaJermanPerbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesiashock culture
ShareTweetSendShare
Previous Post

8 Film Dokumenter yang Akan Membuatmu Lebih Sadar Isu Lingkungan

Next Post

Tips Menulis Artikel Ilmiah yang Publishable di Jurnal Nasional Terakreditasi

Paskalis Andana Trivida Putra

Paskalis Andana Trivida Putra

Pemuda asal Jawa, tepatnya Purwokerto, yang kini tinggal di Tegernsee - Jerman. Hobi menggambar, nyanyi, dan jalan-jalan. Bisa disapa via ig: @pascalis_a

Artikel Terkait

Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
Kelana

Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya

3 October 2026

Suapan pertama spaghetti di tanah kelahirannya justru membuat saya ingin buru-buru mencari air putih. Syukurnya, cappuccino asli Italia berhasil melipur...

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
Kelana

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

12 September 2026

Senin, 10 Agustus 2026, empat diaspora Indonesia di Swiss; LasmaKuhn Sihotang, Susie Lehmann, Krisna Diantha dan saya berziarah ke makam...

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
Kelana

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki

8 August 2026

Akhir Juni 2026 lalu, aku menyeberang dari Swiss ke kota Konstanz di tepi Bodensee, Jerman, untuk bertemu Mohammad Zaim. Sebelumnya...

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
Kelana

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

27 February 2026

Awal Februari 2026, saya berkesempatan untuk menjajakan kaki di benua biru, tepatnya di negara yang begitu terkenal akan produk cokelatnya:...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Menemui Aku yang Aku

Menemui Aku yang Aku

5 November 2020
Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

12 February 2026
Proses Menuju dan Lika-Liku Menjalani Hidup di Jerman

Proses Menuju dan Lika-Liku Menjalani Hidup di Jerman

17 December 2021
Bulan Memancar di Rambutmu

Bulan Memancar di Rambutmu

8 March 2021
Cengkraman Lelaki Idaman

Cengkraman Lelaki Idaman

18 January 2022
Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

Kenapa Lagu Jawa Trending Terus Di Youtube? Ini Jawabannya

17 March 2022
Gambar Artikel Keyakinan

Keyakinan

3 November 2020
Kepalamu dan Isinya

Kepalamu dan Isinya

3 April 2021
Gambar Artikel Puisi Selamanya Laut. Kumpulan Puisi Faris Al Faisal

Selamanya Laut

14 January 2021
Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (239)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (151)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.