Akhir Juni 2026 lalu, aku menyeberang dari Swiss ke kota Konstanz di tepi Bodensee, Jerman, untuk bertemu Mohammad Zaim. Sebelumnya kami belum pernah bertemu, tapi berkat Grup WhatsApp Gusdurian Jerman, kami bisa saling mengenal.
Kemudian aku memanggilnya, Mas Zaim. Kuberikan dua buku, buku perjalananku terbaru, Lintas, Albania, Swiss dan Negara Lain oleh Penerbit Mojok dan Sepotong Indonesia di Negeri Alpen karya teman-teman diaspora di Swiss. Eh, aku diberi gula aren-temulawak sudah berbentuk bubuk.
Ketika kami jalan kaki menyeberang traffic light, tiba-tiba aku bercerita tentang pejalan dunia di sekitar Himalaya yang sudah bertahun-tahun tak pernah pulang. Ada pejalan yang sudah tiga atau enam tahun masih ingin terus mengelilingi bumi.

Cerita never-ending traveler itu bukan cerita yang aku saksikan sendiri, melainkan aku mendapatkan cerita dari Reto Meili, teman Swiss yang menulis buku Ke Asia lewat Jalan Darat (Auf dem Landweg nach Asien). Ia dari Swiss ke Malaysia tanpa naik pesawat terbang. Dari Swiss menuju Turki, Iran, China, Tibet, Nepal, Pakistan, Thailand dan Malaysia. Kata dia, semakin dekat dengan Indonesia, rasa makanannya mirip dengan di Indonesia. Reto Meili ini pintar berbahasa Indonesia.
Kenapa? Saat masih di SMA Swiss, ketika teman-temannya ikut program pertukaran pelajar ke Kanada, Australia, Inggris, dan Amerika, Reto memutuskan untuk berbeda. Ia memilih Indonesia. Ia masuk SMA di Makassar. Sejak itu, ia terus belajar bahasa Indonesia dan senang bergaul dengan orang-orang Indonesia di Swiss.
Cerita Reto itu aku hubungkan dengan para musafir kita di sepanjang jalan raya di Jawa, terutama jalur Pantura. Mereka yang sedang mendapatkan tugas dari guru di pesantren setelah proses mondoknya tamat. Kadang mereka menjadi ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) jika tak kuat menjalankan laku spiritual ini.
Eh, ceritaku selesai. Giliran Mas Zaim bercerita, dirinya telah melakukan hal serupa. Ia menjalankan laku spiritual dengan rute Jakarta ke Borobudur, jalan kaki.
Wah, seru nih ceritanya. Kami masuk warung Vietnam di gang kecil di kota Konstanz, makan bakmi bersama. Ternyata ia vegetarian, seperti Kafka. Mas Zaim pernah mengenyam kuliah di UIN Surabaya dan pondok pesantren di Jawa Timur. Laku spiritual itu dari gurunya di pesantren. Kira-kira petuahnya, “Lakukanlah jalan kaki selama 20 hari dari Jakarta ke Borobudur.”

Mas Zaim sudah punya greget spiritual meditasi. Ia jalankan tugas itu. Dari Jakarta, ia tanpa membawa uang sepersen pun, tanpa dompet, apalagi HP. Tangan kosong. Syarat, tak boleh minta makan, kecuali minta air dan kalau diberi makan, diterima.
Ia hanya membawa ransel kecil, beberapa lembar baju dan sepatu. Meskipun tanpa bawa bekal. Ada saja orang memberi makan di jalan.
Ada dua kisah yang sulit dilupakan. Pertama, saat ia berjalan kaki di tepi jalan, ia disalip seorang ibu. Ibu itu tahu dan bertanya, “Sedang menjalani ya, Mas?”
Ia mengangguk dan bungkusan makanan diberikan. Mas Zaim menolak, tetapi tetap dipaksakan. Ibu itu bilang, sedianya makanan ini untuk saudaranya yang di rumah sakit, tetapi ia rela berikan.
Kedua, kadang ia tidur di emperan toko, juga tidur di terminal bus. Ia pernah didatangi perempuan malam yang menjajakan seks di terminal itu. Tak disangka perempuan nakal itu menawarkan makan. Mas Zaim ingin menolaknya. Ia waswas kalau makanan yang diberikan itu ada virusnya, mengingat perempuan itu kupu-kupu malam. Tetapi ia memandang perempuan itu punya sinar positif yang punya niat baik. Selain ia memang benar-benar lapar, sudah lama tak makan. Akhirnya ia terima makanan itu dan rasanya sangat lezat.
Siang dan malam jalan kaki terus dilakukan. Jalan tanpa Google Maps, tentunya. Ia sering tanya orang, arah jalan menuju Borobudur.
Berjumpa Sesama ‘Pelaku’
Tiba masanya ketika ia pernah bertemu sesama pelaku spiritual yang berasal dari Madura. Keduanya saling bertukar cerita. Keduanya sama-sama sedang menjalankan anjuran sang guru. Yang membedakan, traveler Madura ini mengakui, sudah dua bulan belum pulang. Ia telah melanggar ilmu kesaktian yang diberikan oleh gurunya. Dalam wangsit, ia tidak boleh menggunakan ilmu tersebut. Tetapi ia langgar. Ketika menghadap sang guru, ia berjanji akan menebus kesalahannya. Sang guru menjawab: untuk menebus kesalahan harus melakukan laku jalan kaki sepanjang Madura-Jakarta-Madura lagi. Dan ia rela menjalaninya. Betapa sulitnya. Seandainya akan meninggal di jalan pun, ia tak peduli.
Kembali ke cerita Mas Zaim lagi. Kalau ia capek, istirahat dan tidur. Ia tak malu bertanya kepada siapa saja di jalan. Sering kali ia tidur di masjid, sekalian mandi dan buang air besar. Dalam catatannya, tak semua masjid boleh dipakai numpang tidur.

Tepat 20 hari, ia tiba di altar arena Borobudur. Ia tak perlu masuk ke Borobudur dan hanya melihat dari kejauhan, candi besar itu terlihat. Cukup. Tuntas petualangan unik ini. Ia merasa lega sekali, terutama karena ketepatan waktu itu. Ia tak lebih awal atau lebih lama dari 20 hari yang dijanjikan sang guru. Dari Borobudur ia pulang ke Surabaya menemui guru pemberi tugas. Tentu dengan naik bus. Lulus ujian beratnya.
Karena ia merasa ada laku ritual meditasi yang ingin ia tekuni, ia ikut pertemuan Zen Buddha di Jakarta. Setelah bertemu guru Zen Buddha dari Prancis, ia melanjutkan belajar Zen Buddha di Prancis selama lima tahun. Lulus lagi dari sekolah meditasi ini. Dan kini ia mengajar mata kuliah meditasi di Universitas Konstanz, Jerman.[]














