• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Tuesday, 15 September 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Milenial Kelana

Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki

Sigit Susanto by Sigit Susanto
8 August 2026
in Kelana
0
Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki

Pemandangan di sekitar Konstanz, Jerman | Dok. Penulis (Sigit Susanto)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Akhir Juni 2026 lalu, aku menyeberang dari Swiss ke kota Konstanz di tepi Bodensee, Jerman, untuk bertemu Mohammad Zaim. Sebelumnya kami belum pernah bertemu, tapi berkat Grup WhatsApp Gusdurian Jerman, kami bisa saling mengenal.

Kemudian aku memanggilnya, Mas Zaim. Kuberikan dua buku, buku perjalananku terbaru, Lintas, Albania, Swiss dan Negara Lain oleh Penerbit Mojok dan Sepotong Indonesia di Negeri Alpen karya teman-teman diaspora di Swiss. Eh, aku diberi gula aren-temulawak sudah berbentuk bubuk.

Ketika kami jalan kaki menyeberang traffic light, tiba-tiba aku bercerita tentang pejalan dunia di sekitar Himalaya yang sudah bertahun-tahun tak pernah pulang. Ada pejalan yang sudah tiga atau enam tahun masih ingin terus mengelilingi bumi.

Sosok Zaim yang sedang memegang dua buku karya penulis | Dok. Penulis (Sigit Susanto)

Cerita never-ending traveler itu bukan cerita yang aku saksikan sendiri, melainkan aku mendapatkan cerita dari Reto Meili, teman Swiss yang menulis buku Ke Asia lewat Jalan Darat (Auf dem Landweg nach Asien). Ia dari Swiss ke Malaysia tanpa naik pesawat terbang. Dari Swiss menuju Turki, Iran, China, Tibet, Nepal, Pakistan, Thailand dan Malaysia. Kata dia, semakin dekat dengan Indonesia, rasa makanannya mirip dengan di Indonesia. Reto Meili ini pintar berbahasa Indonesia.

Kenapa? Saat masih di SMA Swiss, ketika teman-temannya ikut program pertukaran pelajar ke Kanada, Australia, Inggris, dan Amerika, Reto memutuskan untuk berbeda. Ia memilih Indonesia. Ia masuk SMA di Makassar. Sejak itu, ia terus belajar bahasa Indonesia dan senang bergaul dengan orang-orang Indonesia di Swiss.

Cerita Reto itu aku hubungkan dengan para musafir kita di sepanjang jalan raya di Jawa, terutama jalur Pantura. Mereka yang sedang mendapatkan tugas dari guru di pesantren setelah proses mondoknya tamat. Kadang mereka menjadi ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) jika tak kuat menjalankan laku spiritual ini.

Eh, ceritaku selesai. Giliran Mas Zaim bercerita, dirinya telah melakukan hal serupa. Ia menjalankan laku spiritual dengan rute Jakarta ke Borobudur, jalan kaki.

Wah, seru nih ceritanya. Kami masuk warung Vietnam di gang kecil di kota Konstanz, makan bakmi bersama. Ternyata ia vegetarian, seperti Kafka. Mas Zaim pernah mengenyam kuliah di UIN Surabaya dan pondok pesantren di Jawa Timur. Laku spiritual itu dari gurunya di pesantren. Kira-kira petuahnya, “Lakukanlah jalan kaki selama 20 hari dari Jakarta ke Borobudur.”

Pemandangan air biru terbentang di Konstanz, Jerman | Dok. Penulis (Sigit Susanto)

Mas Zaim sudah punya greget spiritual meditasi. Ia jalankan tugas itu. Dari Jakarta, ia tanpa membawa uang sepersen pun, tanpa dompet, apalagi HP. Tangan kosong. Syaratnya, tak boleh minta makan, kecuali minta air dan kalau diberi makan, diterima.

Ia hanya membawa ransel kecil, beberapa lembar baju dan sepatu. Meskipun tanpa membawa bekal, ada saja orang yang memberi makan di jalan.

Ada dua kisah yang sulit dilupakan. Pertama, saat ia berjalan kaki di tepi jalan, ia disalip oleh seorang ibu. Ibu itu tahu dan bertanya, “Sedang menjalani ya, Mas?”

Ia mengangguk dan bungkusan makanan diberikan. Mas Zaim menolak, tetapi tetap dipaksakan. Ibu itu bilang, sedianya makanan ini untuk saudaranya yang di rumah sakit, tetapi ia rela memberikannya.

Kedua, kadang ia tidur di emperan toko dan juga tidur di terminal bus. Ia pernah didatangi perempuan malam yang menjajakan seks di terminal itu. Tak disangka perempuan nakal itu menawarkan makan. Mas Zaim ingin menolaknya. Ia waswas kalau makanan yang diberikan itu ada virusnya, mengingat perempuan itu kupu-kupu malam. Tetapi ia memandang perempuan itu punya sinar positif dan niat baik. Selain ia memang benar-benar lapar, sudah lama tak makan. Akhirnya ia terima makanan itu dan rasanya sangat lezat.

Siang dan malam jalan kaki terus dilakukan. Jalan tanpa Google Maps, tentunya. Ia sering tanya orang, arah jalan menuju Borobudur.

Berjumpa Sesama ‘Pelaku’

Tiba masanya ketika ia pernah bertemu sesama pelaku spiritual yang berasal dari Madura. Keduanya saling bertukar cerita. Keduanya sama-sama sedang menjalankan anjuran sang guru. Yang membedakan, traveler Madura ini mengakui, sudah dua bulan belum pulang. Ia telah melanggar ilmu kesaktian yang diberikan oleh gurunya. Dalam wangsit, ia tidak boleh menggunakan ilmu tersebut. Tetapi ia langgar. Ketika menghadap sang guru, ia berjanji akan menebus kesalahannya. Sang guru menjawab: untuk menebus kesalahan harus melakukan laku jalan kaki sepanjang Madura-Jakarta-Madura lagi. Dan ia rela menjalaninya. Betapa sulitnya. Seandainya akan meninggal di jalan pun, ia tak peduli.

Kembali ke cerita Mas Zaim lagi. Kalau ia capek, istirahat dan tidur. Ia tak malu bertanya kepada siapa saja di jalan. Sering kali ia tidur di masjid, sekalian mandi dan buang air besar. Dalam catatannya, tak semua masjid boleh dipakai numpang tidur.

Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah | Dok. Kompasiana.com

Tepat 20 hari, ia tiba di altar arena Borobudur. Ia tak perlu masuk ke Borobudur dan hanya melihat dari kejauhan, candi besar itu terlihat. Cukup. Tuntas petualangan unik ini. Ia merasa lega sekali, terutama karena ketepatan waktu itu. Ia tak lebih awal atau lebih lama dari 20 hari yang dijanjikan sang guru. Dari Borobudur ia pulang ke Surabaya menemui guru pemberi tugas. Tentu dengan naik bus. Lulus ujian beratnya.

Karena ia merasa ada laku ritual meditasi yang ingin ia tekuni, ia ikut pertemuan Zen Buddha di Jakarta. Setelah bertemu guru Zen Buddha dari Prancis, ia melanjutkan belajar Zen Buddha di Prancis selama lima tahun. Lulus lagi dari sekolah meditasi ini. Dan kini ia mengajar mata kuliah meditasi di Universitas Konstanz, Jerman.[]

Tags: catatan perjalanankelanasigit susanto
ShareTweetSendShare
Previous Post

Cik Dian

Next Post

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

Sigit Susanto

Sigit Susanto

Penulis dan penerjemah kelahiran Kendal. Sejak 2023 ia tinggal antara di Indonesia dan Switzerland. Buku terbarunya berjudul "Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain" diterbitkan oleh Buku Mojok (Desember, 2025).

Artikel Terkait

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
Kelana

Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

12 September 2026

Senin, 10 Agustus 2026, empat diaspora Indonesia di Swiss; LasmaKuhn Sihotang, Susie Lehmann, Krisna Diantha dan saya berziarah ke makam...

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
Kelana

Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven

27 February 2026

Awal Februari 2026, saya berkesempatan untuk menjajakan kaki di benua biru, tepatnya di negara yang begitu terkenal akan produk cokelatnya:...

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal
Kelana

Berkelana dan Membaca Zürich dengan Kapal

27 December 2025

Pukul 18.00 matahari masih menyorot tajam, meski posisinya sudah agak condong ke barat. Kulihat banyak turis dunia menumpuk di sini....

pameran seni Islam di Seoul
Kelana

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

9 December 2025

Bagi warga negara yang pernah punya memori traumatis terhadap umat Muslim, kiranya bagaimana tanggapan mereka jika musti berjumpa kembali dengan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Nyala Lilin dan Puisi Lainnya

Nyala Lilin dan Puisi Lainnya

14 March 2022
Kalporina

Kalporina

18 June 2021
Mata Cinta

Mata Cinta

27 November 2021
Ritus Kesunyian

Ritus Kesunyian

21 March 2021
Di Sepanjang Jarak antara Sepasang Kekasih

Di Sepanjang Jarak antara Sepasang Kekasih

13 July 2021
Latu

Latu

18 March 2021
Gambar Artikel Metafora Mutualisme

Metafora Mutualisme

8 November 2020
Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu

24 August 2025
Gambar Artikel Sajak Asal Njeplak

Sajak Asal Njeplak

20 December 2020
Sandalku Dicuri Tuhan | Puisi-puisi Widya Prayoga T.

Sandalku Dicuri Tuhan | Puisi-puisi Widya Prayoga T.

24 May 2023
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul
  • Matinya Ratu Adil?
  • Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
  • Dari Jakarta ke Borobudur: 20 Hari Jalan Kaki
  • Cik Dian
  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (72)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (59)
  • Metafor (237)
    • Cerpen (62)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (54)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (18)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.