Senin, 10 Agustus 2026, empat diaspora Indonesia di Swiss; LasmaKuhn Sihotang, Susie Lehmann, Krisna Diantha dan saya berziarah ke makam Gladys Luginbühl Surbek di Spiez, Bern. Dialah sosok penyelamat naskah memoar di era kolonialisme Belanda.
Bernie Surbek dan Gladys Surbek adalah kakak beradik yang lahir di Padang di zaman penjajahan. Mereka adalah putra dan putri dari pasangan Kurt, dokter spesialis tropis, dan Gret dari Swiss. Dokter Kurt bekerja di beberapa rumah sakit milik perkebunan Belanda di Sumatera. Selama mereka tinggal di beberapa kota di Sumatera Utara, lahirlah dua anak, laki-laki dan perempuan.

Sepak Bola dan Bola Kasti
Yang menarik adalah bahwa Gret ini lebih suka bergaul dengan warga setempat ketimbang dengan orang-orang Belanda. Ia menyukai budaya lokal dan mulai belajar bahasa Indonesia. Bahkan ia menyaksikan dari dekat perayaan Lebaran yang diadakan oleh keluarga kuli tanam paksa yang kebanyakan dari Jawa.
Menurut Gret, perayaan Lebaran sangat meriah karena banyak diadakan atraksi dan perlombaan olahraga. Yang paling menonjol adalah lomba sepak bola dan bola kasti. Penonton tumpah ruah dan warga bersuka cita merayakan Lebaran bagi umat Islam.
Bagi Gret, semua yang ia saksikan itu baru dan menantang. Ia merasa bosan melihat ibu-ibu Belanda yang berdansa dan pesta mewah ala orang kaya.
Rupanya, sejak kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, terjadi pergeseran atraksi rakyat. Jika lomba sepak bola dan bola kasti di zaman penjajahan merupakan atraksi Lebaran, atraksi olahraga itu digeser untuk memeriahkan perayaan 17 Agustus. Tentu ini sebuah pengamatan jeli dan jarang orang Indonesia sendiri yang tahu. Kecuali mereka yang lahir di era penjajahan atau mendengarkan cerita dari orang tua atau membaca buku sejarah.

Tradisi Grafitikasi
Ternyata yang sekarang disebut “grafitikasi” itu sudah ada sejak zaman kolonial. Gret menyaksikan, dalam sebuah pertemuan, tiba-tiba ada seorang bumiputera yang memberi gelang emas kepada anak perempuan pejabat Belanda. Sementara petani lain memberikan satu keranjang telur ayam.
Gret sendiri pernah didatangi bekas pasien Kurt; suaminya di rumah sakit memberi seekor ayam. Pada waktu yang lain datang lagi orang yang sama membawa dua ekor ayam. Tujuan bumiputera tua ini adalah meminta dibebaskan dari kerja paksa yang dilakukan Belanda.
Pemerintah Belanda dengan keji menarik pajak dari para petani. Jika petani minta dibebaskan dari pajak selama setahun, sebagai gantinya mereka harus bekerja paksa untuk para pejabat Belanda atau bekerja mengurusi jalan.

Kebrutalan Jepang
Pengamatan Gret lebih jauh ketika Jepang mendarat di Sumatera. Wie wilde Tiere (Seperti Binatang Buas) Gret menggambarkan kisah paling buruk dalam hidup keluarganya di Sumatera.
Pada malam hari datang tiga tentara Jepang, setelah mereka makan pisang di ruang tamu, mereka memaksa kedua orang tua kembali ke kamarnya dan Gladys yang belum genap berusia 15 tahun diperkosa serdadu Jepang.
Sejak itu, mereka tidak berani tidur di rumah, melainkan mengungsi ke rumah sakit, tempat Kurt bekerja.
Tentara Jepang mengontrol rumah-rumah warga Hindia Belanda, tak terkecuali rumah keluarga Kurt, bahkan sehari bisa 7 kali didatangi Jepang. Suatu kali dua orang Jepang merangsek rumah Kurt dan mengambil sabun. Dengan emosi tinggi Gret mengumpat dengan bahasa Schwedischdialekt Bern, “Ja bruuchet nume di Seife, damit dr nid so böchelet!” (Ambil saja, aku tak perlu lagi, biar kamu tidak bau)
Merasa tak mau ada peristiwa yang tak diinginkan, mereka buru-buru menaikkan bendera Swiss di depan rumah. Mereka mengatakan kepada Jepang, “Swiss, Swiss, No Dutch, No English. Hospital, Doctor.”
Dengan kata lain, mereka ingin meyakinkan bahwa Swiss dikenal sebagai negeri netral dalam berpolitik. Sampai di sini, pembaca akan dihadapkan pada sikap mendua keluarga Kurt tersebut. Di satu sisi, mereka menganggap bahwa harus netral, maka bendera dikeluarkan jika terdesak; namun, ketika aman, mereka menikmati bekerja di rumah sakit milik pemerintah Hindia Belanda yang menjajah Indonesia. Lalu di mana letak netralitas humanis yang sesungguhnya?
Meskipun Jepang sangat melukai hati keluarga Gret, perlahan-lahan rasa benci itu berubah menjadi asmara. Mino, pegawai Jepang di bagian administrasi, menaruh hati pada Gladys, dan Gladys pun membalas cintanya. Meskipun pada akhirnya masing-masing punya jalan sendiri, ketika Gladys sudah pulang ke Swiss, ia sempat mengunjungi Nimo di Jepang. Sebelum ke Jepang, Gladys sempat mampir ke Belanda untuk mengecek daftar orang tahanan perang, apakah Nimo termasuk. Ternyata tidak.
Orang Swiss di Sumatera masih ada beberapa lagi, tak terkecuali saudara perempuan Gret, yakni Lydia dan Hedis. Namun, tampaknya Gret sering salah paham dengan saudara sekandungnya itu. Misalnya, tentang Nimo, si pacar Gladys, bisa diterima oleh keluarga Kurt, tapi tidak oleh Lydia dan Hedis.

Sanatorium Solsana di Bandung
Untuk menyelamatkan diri dari Jepang, Kurt dan Gret mengundurkan diri dari rumah sakit untuk para kuli dan menuju ke Bandung.
Kurt mendirikan sebuah sanatorium bernama Solsana. Lokasi yang akan dipakai berada di perbukitan Lembang dengan ketinggian 850 meter di atas permukaan laut, dengan luas sekitar 20 hektar.
Bernie dikirim untuk belajar ke Perth, Australia, sementara Gladys, satu-satunya anak perempuan, tak tega membiarkan orang tuanya. Sebab itu ia memilih bersama orang tuanya.
Bepergian ke Borobudur, Bromo dan Bali
Kurt dan Gret serta anak-anaknya berlibur pada pertengahan Juli 1932 ke Borobudur. Di Magelang mereka menyaksikan kebesaran Gunung Merapi yang meletus tahun 1930. Di Borobudur, mereka takjub dengan susunan batu yang megah penuh misteri itu. Stupa ke stupa mereka susuri dan nikmati. Dari Borobudur mereka mampir ke Candi Mendut. Dilanjutkan ke Candi Prambanan. Kemudian ke Solo. Di Solo mereka menyaksikan wayang kulit dan wayang orang. Mereka sangat terkesan dengan keharmonisan sehari-hari orang Jawa. Terakhir mereka naik kuda sampai di kawah Gunung Bromo.
Perjalanan kedua dari Bandung lewat jalan darat dengan mobil ke Semarang, Surabaya, Malang menyeberang ke Gilimanuk. Gret menggambarkan bahwa di Selat Bali kala itu hanya ada perahu, sehingga mobil Gret pun harus naik perahu dengan perjalanan yang tidak nyaman. Pertama, Gret menatap orang Bali. Ia berkesan, lebih matang ketimbang orang Jawa.
Sesampainya di Denpasar, mereka segera diundang ke rumah Houbolt, seorang wartawan dan seniman yang pernah bertemu Gret dalam pameran kesenian Bali di Bandung tiga tahun sebelumnya. Mereka mengunjungi kerajinan patung di Desa Mas. Tak lupa, tarian Ketjak membuat mereka takjub.
Namun, Gret membandingkan kegiatan pasar di Bali dan di Jawa yang begitu berbeda. Di beberapa tempat di Jawa, pasarnya sangat ramai sejak subuh remang kuda sudah memuat sayuran dan buah-buahan untuk dibawa ke pasar. Sedangkan pasar di Klungkung lebih didominasi oleh pakaian yang mencolok.
Pada tarian Legong berkain prada, Gret mendengarkan alunan gamelan yang ia anggap mirip dengan gamelan Jawa. Para penari perempuan Djanger tampak tak memakai kutang. Gret mencatat bahwa atraksi itu merupakan kegemaran turis paling utama. Bentuk payudara cokelat besar memanjang, simbol eksotika Bali kala itu. Menurut Gret, sekitar 50 tahun sebelumnya, gadis-gadis di Jawa dan Thailand juga sama, topless tanpa BH.
Kurt dan Gret melanjutkan perjalanan untuk menemui pelukis muda asal Basel bernama Theo Meier. “Grüetzi,” salam khas Swiss itu dilontarkan oleh dua pemuda Bali yang ganteng di rumah Theo Meier. Theo Meier tampak antusias bertemu sesama warga Helvetia ini, sehingga para tamunya sampai lupa dipersilakan duduk. Mereka langsung berbahasa Schwedisch sambil berdiri. Pelukis asal Basel itu juga bercerita tentang para pelukis asing yang tinggal di Bali.
Theo Meier sampai kini memang menjadi deret pelukis asing legendaris dalam sejarah seni rupa Bali. Nama dia sederet dengan Walter Spies dari Jerman, Arie Smith dari Belanda, Antonio Blanco dari Spanyol, dan Miguel Covarrubias dari Meksiko.
Belakangan pada tahun 1967, Gret sempat mengunjungi sebuah pesta di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bern, kebetulan bertemu Theo Meier lagi. Saat itu Theo Meier bilang kepada Gret, bahwa dulu saat di Bali suaminya yang dokter itu disuruh mengecek gadis Bali, yang dipakai model lukisan Theo Meier. Dan gadis Bali itu dinyatakan hamil. Kurt sempat bertanya, “Apakah mungkin kawin dengan orang lokal?” Setelah anak perempuan lahir, si anak perempuan itu tumbuh dewasa dan mengirim surat dan foto kepada Theo Meier. Inti surat itu bertanya, “You want to marry my mother?” Foto anak Theo Meier itu dilihat Gret.
Pada 28 Juni 1956, Soekarno berkunjung ke Bern, ibu kota Swiss, dan Gret berkenalan secara langsung dengan Soekarno pada acara penyambutan.
Naskah di Laci Meja
Seluruh kisah di atas ditulis dalam buku harian oleh Gret selama kurun waktu 25 tahun. Sejak pertama kali ia dan suaminya datang ke Indonesia tahun 1920, hingga dia kembali ke Swiss lagi tahun 1945. Naskah memoar Gret disimpan oleh putri perempuannya, Gladys, di dalam laci meja di rumah liburannya di Bern yang menghadap ke Danau Spiez. Naskah memoar itu berpuluh tahun tak tersentuh lagi.
Berkat upaya Christa Miranda, putri Berni atau keponakan Gladys, memoar itu diterbitkan menjadi buku sejarah dengan judul Im Herzen waren wir Indonesier (Dalam hati, kami orang Indonesia).

Ketika buku bahasa Jerman itu beredar di Swiss, saya membelinya dan saya menghubungi penerbit Limmat di Zürich. Tujuan saya, sekiranya bisa bertemu dengan Christa Miranda.
Tak disangka, Christa Miranda yang bekerja pada TV nasional Swiss SRF 1 pada rubrik Stern Stunde, yang membahas filsafat dan teologi, ringan tangan.
Para diaspora Indonesia di Swiss dan orang Swiss membeli bukunya dan membaca. Berlanjutlah buku itu dibahas pada sebuah ruangan di kampus ETH (Eidgenössische Technische Hochschule) Zürich dengan dihadiri Christa Miranda. Pihak KBRI menyediakan konsumsi.
Dari sini lebih banyak informasi digali. Ternyata Christa Miranda menayangkan film dokumenter yang dibuat oleh TV Swiss, yaitu napak tilas Gladys ke Sumatra dan Bandung. Yang mengharukan dalam film tersebut adalah bahwa Gladys mendatangi puskesmas di Padang, tempat ia dilahirkan. Di puskesmas tersebut masih dipajang foto-foto pendiri rumah sakit, termasuk ayah Gladys.

Dari Padang, ia beralih ke Bandung, dan ketika Gladys dalam film itu bertemu bocah kecil, ia masih hafal menyanyikan lagu berbahasa Sunda dengan fasih. Sedang bocah di jalan itu juga tahu lagu itu dan menyanyikannya bersama.
Usai diskusi buku, tiga teman; Lasma Kuhn Sihotang, Susie Lehmann dan Krisna Diantha, mendatangi rumah Gladys, tempat naskah itu disimpan. Gladys dan suaminya, Hans, menyambut dengan gembira. Apalagi, orang-orang Indonesia ini membawakan makanan khas Indonesia. Selain Susie memberi kenang-kenangan berupa syal, Lasma yang dari Batak memberi kenang-kenangan berupa kain ulos.
Tak lama lagi, Hans meninggal pada tahun 2020 dan Gladys masuk panti jompo. Dua tahun di panti jompo, tiga tahun lalu, 2023, Gladys meninggal. Keduanya dimakamkan saling berhadapan.
Selamat jalan Gladys dan Hans. Kau selamatkan naskah memoar ibumu yang melihat penjajahan di Indonesia dari kacamata berbeda. Damai di alam kubur.[]














