• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Tuesday, 20 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Percakapan Orang Sinting

Moh. Fahrul Rozi by Moh. Fahrul Rozi
23 January 2021
in Cerpen
0
Gambar Artikel Percakapan Orang Sinting Tentang Kota bawah Tanah

Sumber Gambar: https://delightfull.eu/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Disebutlah jalan miring; jalan yang tak pernah dilewati warga kompleks A, walau jalan itu berdekatan dengan mal, apartemen, jalan raya, dan hepymart, mereka lebih suka memutari jalan. Disebutlah jalan miring karena jalannya memang begitu. Barang tentu seorang yang lewat akan bermiring-miring, seperti jalan itu. Disebutlah jalan miring, dengan rumah-postur bangunan yang juga miring.

“Yang lebih merepotkan bila ada jalan jungkir balik,” pemilik kedai di jalan itu tertawa sambil menekan perutnya, mag-nya kambuh.

“Sudah lama tidak ada orang,” lirih Nami, pemilik kedai.

“Bukankah kedai ini selalu sepi?” Tanya Musafir ketika Nami meletakkan segelas air putih di depannya.

“Tidak. Dulu sebelum jalan berubah miring, kedai sangat ramai.”

“Apa kau tahu penyebabnya?” Selidik Musafir. Nami menggeleng. Musafir mencecap kopi. Dan memulai.

“Kukira benar, ada manusia yang sedang membangun kota di bawah tanah.” Tebak Musafir seraya menyipitkan sebelah matanya.

“Maksudmu?” Nami menatap Musafir serius.

“Ada segerombolan manusia membangun kota di bawah tanah.”

“Tidak mungkin….”

“…”

Pembicaran berhenti. Musafir melongok ke luar. Jalan miring itu tetap miring, walau sudah beberapa kali pemerintah memperbaikinya. Dan sudah empat kali jalan itu diperbaiki, tetapi belum ada hasil. Jalan itu masih miring. Dan mungkin akan tetap miring.

Musafir melanjutkan pembicaraan seperti yang ia dengar sepuluh tahun lalu.

“Bagaiamana pun alasannya, itu tidak boleh terjadi. Negara akan terbagi dua wajah. Di atas dan bawah.” Perempuan itu berhenti memberi jeda, dan mengatur pernafasan. “Kita pun sudah tahu bahwa bermuka dua itu tidak baik. Munafik.” Ia mencondongkan wajahnya ke Musafir.

“Tidak-tidak… kau salah paham. Sebenyarnya kota bawah tanah hanya ditempati oleh warga kalangan bawah, seperti pemulung, gembel, pengemis, pengamen, dan siapa pun yang hidupnya susah, bisa tinggal di sana.”

“Lalu bagaimana kalau mereka ingin bekerja?”

“Kerja saja. Di sana juga ada lapangan pekerjaan.”

Perempuan itu mengernyit. Dahinya seperti baru diiris. “Kapan kota bawah tanah itu selesai? Apakah sepuluh tahun lagi?”

Musafir menggeleng. Ia menunjukkan angka lima seraya mengangguk-ngangguk. “Dan bisa saja lebih cepat bila ada yang membantu menyelesaikannya.”

“Mengapa tidak meminta bantuan pemerintah biar lebih cepat?”

“Masalahnya, kota bawah tanah tidak mendapat izin pemerintah. Katanya, orang jalanan tidak pantas mendapatkan kota bawah tanah.”

“Memang. Kalau para pengemis dan pemulung pindah, wajah kota akan berubah dan bisa jadi kota yang sesungguhnya hilang.”

“Lagi-lagi kau salah maksud. Setelah orang jalanan pindah ke kota bawah tanah, bukan lantas wajah kota berubah menjadi desa. Bukan. Melainkan akan ada sedikit perubahan—“ Musafir tercekat.

“Contoh….” Perempuan itu memburunya.

“Angka statistik berubah, dan akan ada pendataan ulang.”

Sesuatu jeda membuat mereka saling tatap dan mencari sesuatu.

“Kemudian siapa yang akan memimpin kota bawah tanah?”

Mereka tak berkedip. Mata mereka saling bertemu dan ada kilatan menyambar tempurung Musafir. Ia teringat dengan rasa khawatirnya sendiri sebelum ia memulai berjalan ke kota. Ia khawatir dengan ucapan kakeknya, “Akan ada kota baru yang suatu hari direbut orang kota,”

***

Namanya Musafir, Manif, Munir, dan banyak lagi. Dia selalu merubah namanya ketika bertemu dengan orang baru. Maka bisa dibayangkan berapa nama yang ia pakai, dan berapa orang yang ia bohongi.

Ia datang dari barat dan berhenti di kedai yang berada di jalan miring. Sangat kebetulan.

***

Kedai itu miring bahkan perempuan, pemilik kedai itu berjalan miring-miring. Ia berjalan cepat, dan tidak seperti Musafir yang pelan melewati kursi dan meja yang miring. Nami menaruh sepotong kentang goreng dan mengulang pertanyaan.

“Kira-kira siapa pemimpin kota bawah tanah?”

Musafir berdiam sejenak. Ia menanap mata perempuan itu dengan serius. Seperti ada rasa ingin tahu yang mendalam. Musafir angkat bicara.

“Mungkin tidak ada memimpin. Mungkin—“

“Kalau begitu biarkan aku saja yang memimpin. Kedaiku terlampau sepi dan sebenatar lagi gulung tikar. Aku akan buka lapangan pekerjaan untuk semua orang di sana.”

Jawaban itu sudah diperkirakan keluar dari mulut Nami. Musafir menggeleng cepat. “Tidak-tidak. Aku sudah katakan, tidak ada pemimpin di sana.” Kata terakhir ia tekan.

“Tapi itu tidak baik untuk suatu kota. Mereka akan berbuat sesukanya.”

“Kebebasan adalah yang mereka bangun. Sedangkan sistem hanya untuk orang-orang kota. Orang kecil seperti mereka tidak mengerti sistem. Buktinya mereka tidak patuh aturan negara, kan?”

Perempuan itu menyeruput air lantas mendorong ke depan dada Musafir.

“Bagaimana pun kota itu akan miring seperti jalan ini. Atau mungkin bisa lebih parah. Kau tahu kan adanya pemimpin untuk apa.”

“Aku tahu. Tapi nyatanya jalan ini saja tidak terurusi oleh pemimpinmu. Bagaimana kalau kau memimpin kota bawah tanah?”

Pembicaraan berhenti sejenak. Azan melengking aneh di timur. Kalimatnya miring-miring dan tak dimengerti oleh Musafir yang baru saja tiba di jalan miring.

“Sepertinya ada yang salah dengan azan. Tidak biasanya,” kata Musafir.

“Kau masih belum mengerti. Di jalan miring, apa pun miring termasuk azan.”

“Bagaimana bisa?” Musafir belum mengerti. Ia sudah tahu soal kota bawah tanah, tapi tidak dengan azan yang miring.

“Tapi kau dengar sendiri. Di jalan miring, apa pun bisa miring bahkan angin yang menyibak rambutku tanpa disadari bertiup miring.”

“Kota yang aneh.”

“Lebih aneh kota bawah tanah,” balas Nami. Percakapan berhenti dan mereka tertawa sambil memandang jalan miring.

Dikatakan jalan miring, jalan yang sepi nan sunyi, dan cuma ada kedai di kiri jalan. Itu pun kedai miring. Dikatakan jalan miring karena orang yang lewat selalu bermiring-miring, makanya jalan itu kini sepi. Di jalan miring terdapat lubang yang cukup dimasuki orang dewasa. Dikatakan bahwa lubang itu untuk masuk ke dalam kota bawah tanah.

Percakapan mereka tidak berhenti di situ. Mereka saling menuduh, menghina, dan akhirnya memaki-maki. Percakapan orang sinting tidak bisa dilerai oleh siapa pun, karena mereka hanya duduk berdua di kedai miring dan percakapan terus berlanjut.[]

Tags: anehcerpenkotakota bawah tanahpercakapan orang sintingsastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Syahadat 12 Bar

Next Post

Para Pengungsi Peradaban (1)

Moh. Fahrul Rozi

Moh. Fahrul Rozi

Kelahiran Sampang, Madura. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kini belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Artikel Terkait

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
Cerpen

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti

16 September 2026

Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan...

Tunggul
Cerpen

Tunggul

9 September 2026

Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai...

Cik Dian
Cerpen

Cik Dian

4 August 2026

Aziz Bogel, kawan lamaku di Surabaya, pernah berteori bahwa setiap perempuan bernama “Dian” pasti cantik. “Paling tidak dia pasti manis,”...

Ruang Mimpi
Cerpen

Ruang Mimpi

28 June 2026

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Manfaat Memiliki Daily to Do List

Manfaat Memiliki Daily to Do List

19 November 2021
Siasat Bersama Wong Cilik dan Upaya Menginsafi Diri: Sebuah Perjamuan dengan Sindhunata

Siasat Bersama Wong Cilik dan Upaya Menginsafi Diri: Sebuah Perjamuan dengan Sindhunata

15 June 2025
pameran seni Islam di Seoul

Menjajaki Pameran Seni Islam di Seoul

9 December 2025
Gambar Artikel Kumpulan Lagu dan Playlist Musik di Warung Kopi

Warung Kopi dan Playlist Musiknya

11 March 2021
Di Balik Senyum Warga Desa

Di Balik Senyum Warga Desa

13 July 2021
Alam Pikiran

Alam Pikiran

9 June 2021
Bagaimana Laut Membuang Masa Kanak dan Remajamu?

Bagaimana Laut Membuang Masa Kanak dan Remajamu?

25 February 2021
Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

18 February 2021
Surat dari Eretria

Surat dari Eretria

7 February 2021
Jika Pulang Selalu Tentang Pergi

Jika Pulang Selalu Tentang Pergi

22 June 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (239)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (151)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.