pustakawati
di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi
tersisa bertumpuk-tumpuk buku
di kaca-kaca kau temui tak ada suara
yang selama ini dikenali
bahkan yang sudah dikenali pun tak
selamanya membawa kehangatan
pembaca resah itu memikirkan kata
di kantung pena menuliskan bunyi sunyi
membawa satu judul untuk bisa diterima
seperti dalam rak-rak dan pilihan
meski satu buku pun belum jatuh
di pelukan
hari ini tak ada berita
yang sedikit begitu lama,
tak ada alasan untuk segera pergi
tapi menit sudah berbicara
melihat pembaca itu lagi seperti
menggali kehidupan dunia yang lain
dan mencoba menyetuhnya
semuanya tak ada yang lebih layak
dalam membacanya, pilihan hidup pantas
untuk bisa dijalani
–dirayakan resikonya
berhenti dan memikirkan tentang memulai
dari pilihan-pilihan sendiri
satu buku ini sudah cukup
untuk melewati sepotong sunyi
dan sisa detik-detik sendiri
pustakawati menyerahkan lagi
sampul biru muda serupa
kehidupan yang dicetak ulang
Bantul, 2025
buah pengetahuan
1/
sehabis kau tuang cerita
untuk waktu yang lengang
maukah kau memulihkan perhatian?
semestinya lebih pendek
dari rambutmu dibanding
panjang kehidupan
2/
kita mengukur jarak pengetahuan
di tengah kumpulan yang malas
di ruang berpendingin
antara buah ilmu yang ditangkap
mata dan pengetahuan
menahan dosa yang diulang
3/
kau menanyaiku tentang sesuatu
dan dunia yang telah kehilangan
kata-kata
mungkin kebenaran sedang dirahasiakan
di biru langit yang tak bisa
ditelan tebing cakrawala
4/
dunia kadang sudah menjawabnya
atas kebodohan-kebodohan
yang ditampakkan
tetapi pengetahuan yang melintas
perlu bekerja satu-satu
dan keyakinan melawat
takdirnya
5/
hingga nanti di penghujung kita
ia bercerita saat dewasa
saat semua menemukan
segalanya
tentang kita,
apakah kau mengerti kehidupan
dan kehidupan ialah tentang
menjalani hidup
Solo Raya, 2025
konstelasi pengetahuan
kau ingin mengulang kebahagiaan
dengan patahan-patahan lembar
dan sedikit keraguan dalam membaca
di halaman yang diabukan
sementara kepahitan
harus dipilih untuk mengalami
masa depan
di balik derita dini hari
menguap kata-kata yang terlentang
yang lupa ditanam dengan tinta
dari kepulan sunyi suara
satu jam berlalu
tapi kau sudah menyelami dunia
berkali-kali
mengguncang kepalamu
–yang sedang bising
kau akhirnya mengalami
dunia yang sangat kecil itu
dalam penampilan malam
yang paling menetes
sekalipun
Solo Raya, 2025
kiblat
ketika kau masih melekan
burung itu mengeja nama-nama pagi
kau datang dari kabut tebal
di antara dua pilihan
kau memilih di tengah: hati
satu hal yang kupelajari
kau lebih lama dari waktu
di kehidupan banyak orang
bilang cuma
namun kebiruan muda menimpa
larut pagi masih
berani menemanimu
Solo-Yogyakara, 2025
cerita di langit rahasia
ku menahan untuk turun
dan melingkar bersama penyayang waktu
yang masih berani bersinar
bintang-bintang yang dingin. menahan
malam dari selimut embun
seperti mengadu pada kekasih
langit yang diutarakan
malam bertepuk dan malaikat
jatuh di bumi
di peribadatan itu rahasia diteruskan
ia tidak tua, tidak juga muda
yang duduk di mimbar
mengurai batasan waktu
ketika harus dijabarkan
di serambi bependingin hujan
diusir pergi payung teduh wajah-wajah
bening matanya mengalir
santun di telinga, santun di penglihatan
dua waktu peribadahan
mengitung nama-namanya
seperti akal senja yang ditengahkan
Solo Raya, 2025














