• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 01 June 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Inspiratif Hikmah

Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

Moch. Dimas Maulana by Moch. Dimas Maulana
15 July 2021
in Hikmah
0
Ritual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan

Sumber: vertical leap wordpress

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Bagi orang orang yang bekerja from nine to five, momen pulang kerja tentu sangat ditunggu. Yang sudah hidup bersama pasangan atau keluarga lekas tak sabar ingin segera bertemu. Sedangkan yang masih menikmati kesendirian (baca: jones) hal itu hanya menjadi momen melepas lelah dan penat.

Saya pun tak terkecuali. Saya tidak sabar untuk segera pulang saat jam kerja selesai. Bukan karena ingin cepat sampai rumah (baca: kos) atau segera beristirahat. Bukan. Saya hanya ingin menikmati perjalanan pulang. Saya mengendara lebih pelan, mengamati manusia-manusia lain yang sibuk dengan perannya masing-masing. Karena itulah waktu pulang saya cenderung lebih lama 5-10 menit dibandingkan waktu berangkat, meskipun melalui jalan yang sama.

Memangnya apa yang bisa dinikmati dalam perjalanan pulang kerja, selain sinar matahari senja yang indah itu? “Manusia-manusia yang terlupakan,” jawabku. Manusia-manusia yang terasing, terbuang, dan terpinggirkan. Oleh siapa? Oleh manusia, dunia, dan kehidupan.

Mereka yang saya kerap temui berdiri tegar di setiap pinggiran lampu merah. Ada yang menjual barang, sebagian menjual suara, bahkan banyak pula yang menjual wajah tanpa ekspresi bermodal tubuh yang diwarnai perak. Ketika saya mengatakan menikmati, bukan berarti saya menikmati kerasnya hidup mereka. Saya hanya menikmati dan menerima pelajaran Tuhan yang terhampar di tengah-tengah jalan. Di depan pengendara motor dan mobil-mobil mewah.

Terkadang saya juga mengamati wajah para pengendara itu untuk melihat ekspresi mereka saat melihat manusia-manusia pinggiran itu. Ada yang terlihat iba kemudian memberi uang. Ada yang merogoh-rogoh saku tapi tak kunjung menemukan yang dicari. Ada yang sudah membuka dompet namun memasukkannya kembali karena tak menemukan recehan. Dan yang paling sering para pengendara itu tidak menghiraukan sama sekali. Mereka sibuk melihat jam, tak sabar menunggu lampu hijau. Manusia-manusia itu benar benar terlupakan. Seakan-akan tak ada. Padahal mereka juga manusia yang bersejarah dan menyejarah. Mereka sama dengan manusia yang lain, tak beda.

Beberapa dari manusia-manusia “pilihan” Tuhan itu ada yang membuat saya heran dan takjub. Misal, seorang pengamen muda bertopi lusuh dengan senyum non-kapitalisnya. Dia yang hampir selalu saya temui di lampu merah pertama dari sepuluh lampu merah yang harus saya lewati setiap pulang. “Barakallah,” begitulah ucapnya kepada setiap orang yang mau berbagi. Terlihat sekali dia sudah menerima dan rela dengan kehidupannya yang keras itu. Seakan-akan dia adalah orang paling bahagia di dunia. Bahkan lebih bahagia ketimbang pengendara mobil mewah yang berhenti tepat di depan panggung kehidupannya yang sederhana.

Ah, bagaimana bisa? Mereka benar-benar pilihan Tuhan. Saya hanya membayangkan dan bertanya, “Bagaimana jika saya terlahir dan ditakdir dalam posisi mereka?” Akankah saya menerima? Masihkah saya mampu menunjukkan wajah dan senyum yang tulus? Ataukah saya akan mengutuk dunia? Atau bahkan membenci Tuhan? Dalam renungan tak berdaya itu, saya hanya bisa bersyukur. Thanks God.. I love my life, I love my job.[]

Tags: hikmahhuman interestkehidupanorang biasarefleksiRitual Pulang Kerja dan Manusia yang Terlupakan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Di Balik Senyum Warga Desa

Next Post

Nanda dan Kisah Pilunya

Moch. Dimas Maulana

Moch. Dimas Maulana

Penulis kelahiran Jember, Jawa Timur yang kini sedang mukim di Yogyakarta sebagai guru Bahasa Inggris. Gemar bermain gitar sambil nyanyi. Bisa disapa di Instagram @mdimas023

Artikel Terkait

Tadabbur via Momentum Hujan
Hikmah

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022

Sebuah pepatah mengatakan bahwa barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenali Tuhannya. Namun, permasalahannya adalah tingkat kesadaran terhadap diri...

Meneladani Sufi Jenaka: Nashrudin Hoja & Keledainya
Hikmah

Meneladani Sufi Jenaka: Nashrudin Hoja & Keledainya

3 January 2022

Nashrudin Hoja adalah seorang tokoh sufi jenaka yang hampir sama tenarnya seperti Abu Nawas. Ia terkenal dengan kecerdasan, celetukan-celetukan dengan...

Hikmah

Bahagia itu Sederhana

3 July 2021

Sore ini awan hitam menutupi langit yang semula cerah. Mendadak gelap dan seakan kelam. Sesekali terdengar suara guntur meski tidak...

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana
Hikmah

Beruntung Kita Selalu Bisa Melihat Sisi Baik dari Setiap Bencana

2 July 2021

Setiap Jumat nenekku akan datang ke rumah. Setelah berbasa-basi tentang kesehatannya yang semakin memburuk, ia akan menyampaikan rangkuman hasil tontonannya...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Promothean

Promothean

1 February 2021
Resiko Tinggal di Ujung Kalimantan

Resiko Tinggal di Ujung Kalimantan

4 June 2021
Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

Sastra, Memancing, Bunuh Diri: Mengenang Ernest Hemingway

28 July 2025
Pergantian Musim

Pergantian Musim

6 February 2021
Korelasi Pandangan Ilmu Kalam dan Kiri Islam Hassan Hanafi

Korelasi Pandangan Ilmu Kalam dan Kiri Islam Hassan Hanafi

21 June 2021
Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

17 February 2022
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

24 March 2022
Dan Kita Asing di Depan Matahari

Dan Kita Asing di Depan Matahari

11 October 2021
Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 1

Diri yang Tak Bersih dan Sejumlah Tegangan – Bagian 1

1 April 2024
Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (229)
    • Cerpen (58)
    • Puisi (147)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.