• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 08 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Lelaki Tua yang Dipermainkan Nasib

Muhammad Hidayat by Muhammad Hidayat
20 May 2024
in Cerpen
0
Lelaki Tua yang Dipermainkan Nasib

Karya Ishii Nobuo (Sumber: http://www.upperplayground.com/)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

“Ini sudah masuk bulan Agustus, Maemuna,” ucap Dae la One sembari membongkar perlengkapan sunat miliknya. “Aku ingat dua minggu lagi ada empat bocah yang akan aku khitan di kampung sebelah. Tadi pagi ayah salah satu dari mereka kemari. Sekadar untuk mengingatkan kembali,” lanjut dukun sunat itu. Dia senang karena zaman ini masih ada orang-orang yang memilih suna mbojo[1]. Ya, walaupun jumlahnya masih bisa dihitung dengan ingatan.

Awalnya ia ragu apakah guru Hami akan tetap melanjutkan rencana untuk mengkhitan putra semata wayangnya secara tradisional. Soalnya baru-baru ini beredar surat dari Dinas Kesehatan agar suna mbojo tak direkomendasikan lagi. Penyebabnya macam-macam. Mulai dari kesehatan, psikis si anak, dan satu atau dua alasan lagi. Tapi kehadiran guru Hami pagi tadi membuktikan bahwa ia tidak berubah pikiran.

Zaman telah berubah. Dulu orang-orang di Bima dan Dompu hanya mengandalkan suna mbojo jika ingin mengkhitan buah hati mereka. Selain merawat dan melanjutkan tradisi, pengalaman ini juga diyakini sebagai bagian dari menancapkan spirit hidup orang Bima Dompu sebagai pemberani.

Dae la One dan istrinya sendiri kini hidup dalam himpitan ekonomi. Hutang di kios tetangga makin hari makin membengkak. Mereka dan dua orang anaknya tak punya banyak pilihan untuk menikmati hidup. Biaya untuk membeli perlengkapan gerak jalan dua anaknya Agustus tahun lalu pun masih belum dibayar tuntas. Praktis tahun ini mereka tak bisa ikut gerak jalan karena tak mampu beli seragam baru.

Harapan untuk menikmati kemerdekaan hanya ada jika sekali-sekali ada yang memakai jasanya. Jika tidak, maka Dae la One kerja serabutan. Dan baginya, kehadiran sunat modern akhir-akhir ini telah merampas semangat hidupnya. Waktu berlalu dan para orang tua peminat suna mbojo jumlahnya berkurang dan semakin berkurang.

***

“Zubaeda, sudah kularang kau merubah rencana awal kita. Dengarkan aku, ini bukan soal khitan semata, ini soal mewarisi tradisi!”

Guru Hami terlibat cekcok dengan istrinya pada sebuah pagi.

“Tapi sunat laser dengan Dokter Ayat itu prosesnya cepat, Dae. Lagian anak kita juga tak’kan merasakan sakit.” ibu Zubaedah bersuara sembari menuangkan kopi ke dalam cangkir.

“Kita tak harus sama dengan orang kebanyakan. Jangan suka ikut-ikutan, Kamu.” Timpa guru Hami.

Suna mbojo atau khitanan secara tradisional pada prosesnya memang berbeda dengan khitan dengan cara modern hari ini. Mulai dari perlengkapan yang digunakan hingga tindakan yang dilakukan. Ujung burung dijepit dengan bambu lalu diiris dengan pisau. Ngeri, bukan?

Di Bima maupun Dompu hari ini tengah membanjir khitan ala masyarakat modern yang serba kilat itu. Orang-orang kota banyak yang beralih ke cara modern. Selain karena proses penyembuhan yang relatif cepat, sunat laser–misalnya–juga minim sakit. Anak usia empat atau lima bulan pun sudah bisa disunat.     

“Sunat laser itu bagus. Si Arif anaknya Pak Hidayat tetangga kita juga sunat laser. Ibunya Arif cerita dengan laser itu aman. Tidak ada darah yang tumpah. Tidak ada pembengkakan juga,” ibu Zubaidah berusaha menyakinkan guru Hami agar berubah pikiran. “Si Arif dulu itu, pagi di sunat laser, siangan sudah langsung pakai celana, “ timpanya tak lama kemudian.

“Tidak, Zubaeda, biaya sunat laser jauh lebih mahal. Kalau anak kita disunat oleh Dae la One, hitung-hitung kita kasih kerjaan untuk laki-laki tua itu,” guru Hima kembali menyesap sisa kopi yang merangkak dingin. Guru Hima mengerti betul bahwa sejak orang-orang banyak yang beralih ke sunat modern, laki-laki itu kehilangan lahan meraup rupiah, bahkan untuk sekadar menyambung hidup. Cita-cita untuk hidup tenang di usia senja ditebas oleh kenyataan.

“Begini saja, kita tunda dulu sambil meminta juga pendapat dari saudara-saudara ita[2], maupun saudara-saudara mada[3],”

Dua hari kemudian, dengan berat hati guru Hami datang ke rumah Dae la One untuk membawa kabar buruk. Khitanan putranya ditunda sampai keluarga itu memperoleh masukan dari keluarga besarnya. Dae la One hanya bisa pasrah. Lelaki tua itu seolah dipermainkan nasib. Sehari kemudian, orang tua dari anak-anak yang lain juga mengambil pilihan serupa dengan guru Hami. Mungkin mereka telah mendengar cerita dari mulut ke mulut gesit milik para warga.

Keadaan ekonomi keluarga Dae la One kian melelahkan. Dua anak mereka persis takkan ikut gerak jalan tahun ini. Sementara hampir setiap hari teman-teman sekolahnya dengan penuh semangat berlatih gerak jalan. Anak-anak sekolah berteriak merdeka dengan mata bersinar bangga.

***

Dae la One membunuh waktu dengan menunggu kabar dari guru Hami. Seminggu dua minggu tak muncul-muncul. Hidup memang harus terus berlanjut. Dan tak lama berselang, persisnya seminggu kemudian, Dae la One pamit sama istrinya Maemunah dan kedua buah cinta mereka. Lelaki itu tampak bahagia dan berseri-seri. Ia bilang pada istrinya bahwa akan ada orang yang memakai jasanya di kampung seberang. Ia akan bermalam di sana seminggu atau lebih.

Sang istri mengiyakan, karena kalau harus pulang pergi, ia merasa kasihan juga sama suaminya, mengingat kampung seberang itu jauh.

Dua hari tiga hari tak terbit kabar dari Dae la One. Tapi ibu Maemunah masih ikhlas menanti. Hingga pada suatu sore, suaminya pulang dengan membawa sejumlah uang.

“Aku bangga dengan orang-orang di kampung itu, masih banyak yang memilih sunat tradisional, suamimu ini jadi primadona di sana,” Dae la One dengan semangat empat-lima dan setengah bercanda di depan istrinya. Keesokan harinya ia berangkat lagi untuk memenuhi janji yang telah dibuat, katanya. Kemudian pulang lagi beberapa hari setelah itu. Membawa uang sekaligus kebahagiaan bagi keluarga kecilnya. Lalu pergi lagi untuk urusan dan alasan yang masih mirip.

Tepat hari ini, sebulan tak ada kabar berita. Hingga akhirnya dua orang aparat tanpa seragam mendatangi rumah laki-laki itu. Ibu Maemunah dan dua anak mereka terpukul oleh kenyataan di depan hidung. Sang suami terlibat judi bola di arena pacuan kuda di kampung seberang beberapa minggu terakhir. Dan kini harus berurusan dengan aparat penegak hukum.

Ibu Maemunah murung. Tak tahu harus bilang apa. Sementara dari kejauhan, seperti hari-hari sebelumnya, masih terdengar suara anak-anak sekolah yang berteriak, “Merdeka!”[]

________________________________________
Daftar Catatan:

[1] Khitan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Bima dan Dompu.

[2] Anda, (orang yang dituakan)

[3] saya

Tags: cerpenmetaforsastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Membangun Literasi Peduli Bumi: Festival Buku Berjalan

Next Post

Menyulut Api Literasi dari Kediri: Mahanani Book & Art Festival

Muhammad Hidayat

Muhammad Hidayat

Dipanggil juga Dheyo. Seorang pendidik sekaligus penikmat sejarah dan sastra. Lahir dan besar di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dheyo menulis beberapa buku, cerpen, esai/artikel populer dan ilmiah, di berbagai media lokal dan nasional. Tulisannya tersebar di Kompas.com, Detik, Banten Raya, Tribun Bali, IDNTimes, Suara NTB, dan lain-lain. Dua novelnya dengan latar budaya lokal Bima Dompu yakni Siwe Lakey dan Senja di Langit Tambora. Pernah bermukim di Australia ketika melengkapi pengembaraannya pada ilmu pengetahuan. Bisa dihubungi via Instagram @uma_dheyo

Artikel Terkait

Ruang Mimpi
Cerpen

Ruang Mimpi

28 June 2026

Di malam itu, buku-buku milik Mandra terasa hanya seperti tumpukan kertas semata. Ia menatap hingga matanya mulai lelah dan tertidur...

Di Teras St. Carolus
Cerpen

Di Teras St. Carolus

4 June 2026

Di teras St. Carolus, kau lihat di seberangmu orang-orang lalu-lalang, terburu-buru seolah detik di esok hari sudah tak tersisa lagi....

Saung
Cerpen

Saung

28 April 2026

Abdul Hadi masih membuka mata di bawah langit yang hitam membiru. Tangannya menyilang, menahan keganasan angin yang turun dari gunung....

Salam Terakhir
Cerpen

Salam Terakhir

8 February 2026

Satu per satu anggota band itu keluar dari studio rekaman dengan wajah lesu. Mereka tak lagi saling menyapa. Masing-masing dari...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

18 April 2022
Retorika Lucu

Retorika Lucu

11 August 2021
Gambar Artikel Percakapan Orang Sinting Tentang Kota bawah Tanah

Percakapan Orang Sinting

23 January 2021
Minyak Goreng: Objek Doktrin Ekonomi Politik Klasik “Laissez-faire”

Minyak Goreng: Objek Doktrin Ekonomi Politik Klasik “Laissez-faire”

16 April 2022
Novel “Heaven”: Perundungan dan Pergulatan Hidup Penyintas

Novel “Heaven”: Perundungan dan Pergulatan Hidup Penyintas

28 March 2024
4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

4 Alasan Fundamental Mengapa Kita Perlu Membaca

3 April 2022
Gambar Artikel Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

24 November 2020
Gambar Artikel Kesetaraan atau Keadilan

Kesetaraan atau Keadilan?

31 December 2020
Mencintaimu Bagi yang Mampu

Mencintaimu Bagi yang Mampu

16 March 2021
Gambar Artikel Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

Melebur Bersama Tuhan dengan Tarian

27 December 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.