Aku melihat ayah, di sana
Aku melihat ayah
pada setiap wanita yang terikat kakinya
pada jalan-jalan mereka
yang terjal dan panjang.
Aku melihat ayah
pada jemari wanita
yang terluka
dan penuh kapalan;
yang hangat
dan menenangkan.
Aku melihat ayah
pada punggung wanita yang rapuh
tapi gemar berpura-pura tangguh,
dan pada tangis yang mengalir halus
meliuk molek di balik punggung.
Leila, 1
Aku melihat seorang wanita
yang bibirnya kehitaman
sebab tak pernah diberi
kecupan oleh kebahagiaan
Dari kepalanya
yang kebocoran
keluar angka-angka;
berhamburan
ke wajahnya
yang kesepian
Puisi hari ini
Sehabis berkehidupan
biasanya aku mampir ke taman kota
duduk berdua dengan puisi
Tapi
puisi tak hadir hari ini.
Kutanya pada tukang parkir,
“Ke mana puisi hari ini?”
“Sudah jadi pegawai negeri,
karena tak dapat gaji
dari menemani orang-orang yang bersedih.”
Teduh-berteduh
Andai
kau terlempar ke masa lalu
dan tak punya tempat untuk berteduh
Datanglah ke rumahku,
biar aku bisa berteduh
di bawah kedua kaki
yang ‘kan kupeluk dan kucium
Meromantisasi hujan di kota Medan
Saat ingin
bercumbu mesra
dan menghiasi hujan
dengan metafora
Seorang tukang becak
menabrak sopir angkot
di lampu merah.
Dan begitulah
seanjing hujan
yang kimak-kimak
tercipta.
Tak enak(an)
Aku tak enak
untuk menolak usik
dan berisik
yang kusimpan di kepala,
karena semua kantungku
sudah terisi
dengan sejenisnya.
Ke mana aku bisa pulang
dan membuangnya
tanpa dilihat siapa-siapa?
Di mana lagi
aku bisa bersembunyi
dari mereka
jika pintu-Mu
hanya untuk mereka
yang penuh dengan cinta.














