• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 04 June 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Cerpen

Di Teras St. Carolus

Dody Widianto by Dody Widianto
4 June 2026
in Cerpen
0
Di Teras St. Carolus

Sumber ilustrasi: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Di teras St. Carolus, kau lihat di seberangmu orang-orang lalu-lalang, terburu-buru seolah detik di esok hari sudah tak tersisa lagi. Seolah doa-doa paling tulus hanya disenandungkan di tempat ini. Bukan di gereja, bukan di masjid, bukan di vihara. Kau ingat, kesakitan kadang membuat orang-orang tiba-tiba mengingat Tuhan, biarpun kadang hanya sementara. Besok lupa lagi.

Kau menunduk, melihat isi pesan di ponselmu sesaat. Lalu mendongak. Langit senja di atas tak begitu bersih. Sore baru saja dimulai. Warna abunya ternoda kabut asap pekat kendaraan. Begitu muram. Garis gumpalan awan terlipat-lipat, terkoyak, serupa selimut kusut di atas seprai usang. Kau memilih berjalan pelan, duduk di bangku panjang di sebelah teras parkir. Max bilang tunggu sepuluh menit lagi. Ada urusan mendadak untuk mengantar George ke restoran bertemu klien.

Klien? Demi berusaha menjaga kewarasan, kau lupa sudah berapa kali dibohongi. Batinmu sungguh merasakan sejak Max menceritakan semuanya. Suamimu pandai membuat alasan. Namun, sampai detik ini, kau masih menyayanginya. Cintamu itu sulit membedakan mana sakit, mana sayang, hanya demi mereka. Dave dan Bill sudah beranjak dewasa. Dave si sulung yang cerdas itu pernah memenangkan medali emas di olimpiade internasional matematika di Oslo, Norwegia. Ia bahkan hafal 60 digit di belakang phi, konstanta lingkaran yang kebanyakan orang hanya tahu dua digit saja: 3,14. Saat ini ia sedang mengenyam pendidikan tinggi di NUS Singapura, sebuah universitas terbaik nomor satu di Asia.

Kau memasukkan ponselmu ke dalam tas ketika dudukmu mulai tak tenang, seolah menunggu sepuluh menit terasa seperti dua hari. Kau teringat si bungsu Bill. Ia memang tak secerdas kakaknya. Di usianya yang baru remaja, hobinya cuma main gitar dan kadang berkaraoke dengan teman-temannya. George, ayahnya, sering memanggilnya anak bodoh karena ia tak pandai berhitung. Kau tak terima, menanyakan kepada suamimu apakah setiap anak harus terlahir dengan bakat sama? Rasanya, jika itu terjadi, dunia begitu membosankan. Bukankah bunga-bunga akan terlihat indah jika berwarna-warni?

Kau gandeng suamimu itu ke dalam kamar Bill, saat ia pun telah lelap. Sudut mata sayu suamimu sudah memperlihatkan lelah menggantung karena ia harus mengurusi puluhan perusahaan miliknya. Kau perlihatkan lukisan-lukisan karya anak bungsu kalian yang tertempel di dinding kamar. Kau pernah bertanya apakah ia mau jadi reinkarnasi Pablo Picasso atau Vincent van Gogh? Bill bilang ingin jadi dirinya sendiri saja, walau tidak menutup kemungkinan ia pun akan meniru gaya kubisme Pablo Picasso, melihat ia lebih sering melukis abstrak dalam bangun datar penuh warna-warni tumpang tindih membentuk objek tertentu. Bulat, oval, kotak, kadang serupa manusia yang tumbuh bunga di kepalanya. Kadang menggambar mirip pohon yang punya tangan untuk makan sampah yang berserak.

Kau bilang sekali lagi kepada George untuk bersikap adil kepada anak-anak. Mereka tak ingin dibeda-bedakan, atau George akan menyesal kemudian hari di masa tua. Kau bertanya kepada suamimu, apakah Dave yang selalu ia banggakan itu bisa melukis seperti Bill. Tentu, kalaupun memaksa, bisa, tetapi tidak akan sebagus dan semurni lukisan Bill. Si bungsu itu tak harus memaksakan dirinya agar diterima di Oxford, atau di KAIST Korea agar menyamai kakaknya. Kau bilang sekali lagi pada suamimu, dunia akan membosankan jika semua terlihat sama. Sejak saat itu, kau lihat sikap suamimu berubah dan mulai menyayangi Bill. Setelah seminggu, kau lihat suamimu membelikan gitar listrik di hari ulang tahunnya.

Namun, apa yang kau lakukan untuk keutuhan keluargamu, usahamu, jerih payahmu, agar anak-anak menjadi orang yang berguna kemudian hari, seolah jadi hal yang sia-sia. Kau sering mendengar Max, sopir pribadi suamimu, berkeluh kesah tentang George. Ia awalnya ingin menyimpan semua rahasia itu. Melihat ketulusanmu mencintai George, ia tak tega. Ia ceritakan semua kelakuannya di luar. Kau sudah paham, godaan terberat lelaki di dunia ini adalah saat kelimpahan harta ada dalam genggamannya.

Mendadak matamu muram. Ada aliran aneh yang merembes dari dalam mata dan ingin meruntuhkan dinding pertahanan itu. Kau usap perlahan saat orang-orang di depan berlalu lalang. Ada yang sedang mengantar lansia dengan kursi roda. Ada yang sedang memakaikan helm untuk istrinya. Kau bertanya lagi pada hatimu, dulu kau tak ingin George mencintainya. Bahkan hingga anak-anakmu dewasa, tak sekali pun kau mengingkari cinta George. Kau tahu dirimu hanya seorang perawat biasa yang kala itu, atas ketulusanmu merawat George yang sakit, cinta itu tumbuh jadi bunga-bunga yang bermekaran di antara aroma obat-obatan dengan tirai-tirai ruangan serba putih. Kala itu, kau tak pernah memaksa untuk dicintai dan disayangi. Takdir semesta yang akhirnya membuat George jatuh cinta pada gadis biasa sepertimu. Lalu menikahimu.

Maka, ketika Max datang, ikut duduk di sebelahmu, memandangmu yang masih memakai baju putih perawat dengan topi yang khas, ia menceritakan semuanya. Max seharusnya tak boleh jujur tentang ini atas perintah suamimu. Gaji tambahan, iPhone seri terbaru, pernah ia dapatkan sebagai ganjaran tutup mulut. Kau mendengar bahwa Max menceritakan empat wanita selama setahun ini. Namun, Max lebih sering bercerita tentang Shain, sekretaris George.

Sebagai seorang wanita, seharusnya kau ingin marah dan menjambak rambut Shain. Namun, perempuan bijaksana seharusnya menjambak juga rambut suamimu. Bukankah ia juga kurang ajar telah berbagi cinta? Kau menggeleng pelan. Kau selalu mendengar nasihat mendiang ibumu untuk menjadi wanita cerdas dan bijaksana saat terhimpit situasi yang rumit. Untuk jadi pemenang, kadang kau tak perlu mengotori tangan. Hari itu, di dalam mobil saat Max telah melajukan mobil pelan dalam padatnya kendaraan di tengah kota, kau tersenyum getir.

Esok hari, saat kau libur kerja, ketika George pergi keluar kota, kau minta Max mengantarmu ke perusahaan-perusahaan milik George. Kau ingin melihat sendiri semua kesibukan di dalamnya. Tanpa sepengetahuan Max dan suamimu, pelan tetapi pasti, kau ingin mengalihkan aset-aset perusahaan atas nama dua anakmu. Kau berencana membuat surat wasiat untuk mereka. Para karyawan tak pernah curiga karena kau melakukan dalam senyap. Mereka hanya tahu, kau seorang istri bos besar, yang juga seorang perawat, dan hanya ingin tahu seluk beluk perusahaan-perusahaaan milik suaminya.

Dua bulan lebih setelah kau dapatkan semua informasi itu, tepat saat George yang dulu sehat sekali dan mendadak terkena serangan stroke parah, dalam rintih yang lemah, kau mengelus wajah George dengan sendu. Bau obat serupa harum jamur di halaman belakang dapur tiba-tiba mengambang di dalam ruangan. Kau ceritakan semua cita-cita anakmu. Juga keinginan mereka di kemudian hari. Kau ingin terus sehat hingga masa tua dan melihat cucu-cucu yang lucu. Namun, bukankah manusia sebatas menjalani apa yang digariskan Tuhan? Tak ada yang tahu batas umurnya.

Demi itu, kau bujuk George untuk menandatangani surat asuransi untuk kedua anakmu. Dari sana, kau menyalin tanda tangan dan membuat surat wasiat pengalihan seluruh aset perusahaan atas nama George. Mobil, rumah, dan tanah semua kau alihkan atas nama Dave dan Bill yang dibagi rata secara adil. Kau diam-diam merekam saat George menandatangani surat asuransi itu. Suamimu tak tahu ada kamera kecil yang terselip di tas di atas meja. Yang kau tahu, kau harus menyiapkan segalanya jika sewaktu-waktu George benar-benar dipanggil Tuhan. Kau lihat George makin melemah tubuhnya akhir-akhir ini.

Tepat sebulan setelah kepergian George untuk selama-lamanya, di teras rumah sakit St. Carolus saat kau menunggu di teras parkir untuk dijemput, ada seorang perempuan tinggi ramping dengan tas bermerek di bahunya mendekatimu. Kau tahu harga tas itu sekitar lima kali harga motor baru. Namun, kau lebih melihat aneh dengan wajah yang penuh dempul merkuri dan putihnya tak alami. Inikah perempuan bajingan yang tak punya malu, perebut suami orang? Apakah ini benar Shain yang pernah diceritakan Max?

Perempuan itu awalnya bicara ramah dan menanyakan namamu dan apakah benar kau istrinya George? Kau tak menjawab dan malah menanyakan perempuan merkuri itu. Ada perlu apa? Perempuan itu pinggangnya masih ramping, berbeda dengan lipatan pinggangmu yang sudah penuh lemak. Ia menjelaskan dengan berbekal map berisi janji-janji George. Tentang aset, tentang saham, tentang mobil, dan lain-lain. Kau mengira ia ingin minta maaf padamu. Ternyata tidak. Perempuan itu malah merasa dibohongi George dan akan menuntut balik di pengadilan. Dengan bukti-bukti di tangan, ia menunggumu datang ke pengadilan.

Perempuan itu lalu pergi dengan senyum yang dibuat-buat. Kau lihat senyum yang kecut dan pahit serupa perasan jeruk dengan kulitnya. Kau hela napas lagi saat dudukmu di teras, berusaha tenang. Seharusnya kau yang marah saat ini. Seharusnya kau menjambak rambutnya di depan orang-orang. Namun, untuk apa? Untuk jadi pemenang, kau tak perlu mengotori tanganmu. Begitu pesan ibumu dulu. Bahkan ayahmu yang hanya seorang tukang bangunan, berusaha menyekolahkanmu jadi perawat agar doa ibumu terwujudkan. Jadi perempuan hebat untuk melahirkan anak-anak hebat seperti doa ibumu, seperti Pauline Einstein, ibu dari perumus teori relativitas.

Maka, ketika perempuan itu berjalan menjauh menyusuri lorong paviliun, kau tersenyum manis sekali. Kau lihat pantat yang berisi sumpalan silikon. Betapa tak presisi. Betapa George begitu bodoh mencintainya. Namun, kau tak ingin berlama-lama memandangnya. Kau hanya yakin jika esok di pengadilan, kau sudah tahu siapa yang akan jadi pemenangnya.[*]

Tags: cerpendody widiantometaforsastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

Dody Widianto

Dody Widianto

Penulis kelahiran Surabaya. Karyanya tersiar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Kompas.id, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Bangka Pos, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Artikel Terkait

Saung
Cerpen

Saung

28 April 2026

Abdul Hadi masih membuka mata di bawah langit yang hitam membiru. Tangannya menyilang, menahan keganasan angin yang turun dari gunung....

Salam Terakhir
Cerpen

Salam Terakhir

8 February 2026

Satu per satu anggota band itu keluar dari studio rekaman dengan wajah lesu. Mereka tak lagi saling menyapa. Masing-masing dari...

Perempuan yang Menghapus Namanya
Cerpen

Perempuan yang Menghapus Namanya

30 November 2025

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar ada atau hanya tinggal dalam kepala dan dada seseorang yang terlalu sering menulis namaku?...

Gelembung-Gelembung
Cerpen

Gelembung-Gelembung

19 November 2025

Gelembung-gelembung itu terus mengudara dan semakin tinggi diterpa angin pagi. Perlahan satu per satu jatuh dan pecah, namun ada yang...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Rekomendasi Playlist Lagu untuk mensyukuri Galau

Playlist Lagu Untuk ‘Mensyukuri’ Kegalauanmu

16 June 2021
Tips Memakai Kacamata Kehidupan

Tips Memakai Kacamata Kehidupan

20 February 2021
Saung

Saung

28 April 2026
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

13 March 2022
Sekala Niskala

Sekala Niskala

18 April 2022
Hujan Menulis Air

Hujan Menulis Air

30 April 2021
Gambar Artikel Kasihan Manusia

Kasihan Manusia

4 November 2020
Manfaat Memiliki Daily to Do List

Manfaat Memiliki Daily to Do List

19 November 2021
Gambar Artikel Penjelas Masa Lalu

Penjelas Masa Lalu

10 January 2021
Konsep Cahaya Menurut Suhrawardi dalam Epistimologi Ishraqi (Tasawuf Falsafi)

Konsep Cahaya Menurut Suhrawardi dalam Epistimologi Ishraqi (Tasawuf Falsafi)

20 April 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (231)
    • Cerpen (59)
    • Puisi (147)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.