Manusia, sebagai wujud paling aktual dari proses evolusi Homo sapiens, menjadi makhluk unggul di bumi era ini bukan karena ia paling kuat, cepat, ataupun cerdas. Mereka bisa menakhlukkan bumi karena kecanggihannya dalam berkelompok, berjejaring, dan bertukar informasi. Di samping peralatan fisik lainnya yang tercipta, kumpulan informasi, narasi, dan fiksi-fiksi lainnya adalah teknologi nonfisik manusia dalam menguasai dunia. Namun, kekuasaan itu kini mulai bergeser pada produk teknologi ciptaan manusia sendiri, yaitu Artificial Intelligence (Akal Imitasi).
Dengan lincah dan kaya data, Yuval Noah Harari mengajak kita menelusuri sejarah perkembangan jejaring informasi dari era prasejarah hingga era digital sekarang. Itu diwujudkannya melalui buku terbarunya yang berjudul Neksus. Buku ini menguliti bagaimana manusia yang awalnya memanfaatkan keterampilan pengolahan data secara cepat dan akurat ini akhirnya menciptakan teknologi yang lebih hebat melebihi dirinya. Dan Yuval dengan serius mengingatkan kita akan bahaya AI di masa datang dan mengajak kita semua untuk mengantisipasinya sebelum terlambat.
Representasi realitas
Jika kita merujuk pada revolusi industri, puncak dari kedigdayaan manusia adalah ketika mereka bisa menciptakan berbagai alat berat hingga canggih seperti traktor hingga pesawat terbang. Beberapa puluh tahun kemudian, manusia menemukan sebuah alat hitung canggih berupa komputer yang mampu mengolah data dan informasi secara cepat dan masif. Hal itu membuat teknologi yang sudah tercipta sebelumnya menjadi tidak terlalu hebat.
Bagian pertama buku Neksus mengajak kita untuk memahami apa itu informasi dari sudut pandang filsafat, sastra, dan sains. Di bab awal, Yuval memberikan penjelasan yang panjang dan lebar tentang apa itu informasi dan bagaimana itu bisa menjadi penting sehingga sangat memengaruhi jalannya evolusi di bumi hingga hari ini.
Fungsi utama informasi adalah merepresentasikan realitas. Informasi menggambarkan realitas agar mudah dipahami dan dipelajari manusia. Tujuannya pastilah untuk mempersiapkan bagaimana menghadapi realitas tersebut. Hal itu dicontohkan dengan bagaimana NILI, yaitu kode rahasia dari buka-tutupnya daun jendela dan kode rahasia pada secarik kertas yang diterbangkan merpati, berhasil memberi informasi kepada Imperium Britania tentang berapa jumlah tentara Kesultanan Usmani dan di mana posisinya pada perang yang berkecamuk sejak 1915-1918.
Penyampai pesan yang sangat krusial itu juga dilakukan oleh Cher Ami, sebuah merpati yang akhirnya dijadikan gambar sampul buku Neksus. Pada saat lima ratus lebih batalion Amerika terjebak di garis pertahanan musuh dan berisiko diserang oleh pasukan teman mereka sendiri, Cher Ami menjadi burung penyampai pesan sehingga bencana tersebut tidak terjadi. Pada akhirnya, bukan surat rahasia yang dibawa merpati saja yang menjadi pesan, tapi merpati itu sendiri merupakan simbol dari pesannya.
Walaupun pesan itu tak bisa menggambarkan realitas secara detail dan spesifik, pesan itu membentuk kebenarannya sendiri. Yuval menamai ini sebagai “realitas intersubjektif”, yaitu sebuah fiksi yang sangat bermanfaat bagi manusia sekalipun informasi di dalamnya tak sepenuhnya akurat.
Kisah: teknologi informasi pertama
Teknologi informasi pertama yang diciptakan oleh manusia adalah kisah. Ada banyak negara yang tercipta karena mitos dan cerita. Imaji negara Israel tercipta dari puisi-puisinya seorang Yahudi Ukraina, Pogrom Kisinau, yang banyak menggambarkan penderitaan kelompok Yahudi, dan dua buku Theodor Herzl, yaitu Der Judenstaat (Negara Yahudi, 1896) dan Altneuland (Negara Baru yang Tua, 1902). Mereka seperti mengulangi kesuksesan Taras Shevchenko (Ukraina), Petofi Sandor (Hungaria) dan Adam Mickiewicz (Polandia) dalam mendirikan negara dari sebuah kisah. Bahkan negara Indonesia pun, menurut Benedict Anderson, adalah sebuah “Komunitas Terbayang” dari sang proklamator Sukarno.
Hanya saja, untuk membangun sebuah negara, kisah saja tidaklah cukup. Tentunya diperlukan sistem pajak, saluran pembuangan limbah, jaringan listrik, pendidikan, kesehatan, dan juga pencatatan administratif. Catatan itu bisa sangat detail sehingga terkesan rumit dan tidak semenarik kisah atau cerita fiksi. Arsip-arsip itu terkesan kaku, menjemukan, dan kering. Namun, justru dengan begitulah data menjadi mudah diolah dan menghasilkan informasi yang siap guna. Pada akhirnya, mitos dan arsip saling melengkapi.
AI sebagai pengolah data andal
Perkembangan sistem pengolahan data menjadi semakin masif ketika komputer ditemukan. Memori dan prosesor komputer menjadi penyimpan dan pengelola data andal sehingga mempunyai daya analisis dan kecepatan berkali-kali lipat dari manusia jenius mana pun.
Pada mulanya, komputer seperti kalkulator atau program catur yang bergerak sesuai input data dan perintah yang diprogram manusia. Akan tetapi, ketika generasi terbaru perkembangan komputer sudah melahirkan AI, komputer seperti mempunyai kemampuan untuk belajar secara mandiri. Jika dahulu manusia yang mengendalikan komputer dengan program-program yang ditulisnya, kini perilaku dan keputusan manusia mulai dikendalikan oleh komputer melalui algoritma yang ditawarkannya.
Internet dan AI yang awalnya digunakan manusia sebagai alat bantu untuk menaklukkan alam, kini berbalik menaklukkan manusia dan lebih berkuasa di atasnya. Melalui kekuatan analisis yang sangat tinggi, tanpa rasa letih, lapar, dan kantuk, AI mulai menempati posisi-posisi krusial dalam lapangan kerja manusia seperti hakim dan pemimpin agama. AI juga mengambil berbagai macam lapangan kerja manusia yang menyebabkan ancaman pengangguran massal di masa depan.
Kurang menyentuh kompleksitas lain
Membaca buku setebal 542 halaman ini cukup menguras energi. Walaupun Yuval menulis buku ini dengan cukup renyah dan mengalir, kita tidak bisa menangkap benang merah suatu bab jika tidak teliti dalam menyambungkan informasi dan data yang disadur dari berbagai sumber.
Sayang sekali buku yang sangat kompleks ini masih mempunyai beberapa kekurangan mendasar misal sedikitnya pembahasan tentang negara dunia ketiga khususnya Afrika, miskinnya imaji komunisme Yuval sehingga hanya kediktatorannya saja yang terekspos, dan ketiadaan pembahasan tentang musik sebagai produk budaya yang pastinya mempunyai dampak besar bagi peradaban. Namun, absennya ketiga poin tersebut tidak menutupi pemikiran-pemikiran cemerlang Yuval yang sudah menyala sejak lembar pertama. Jadi, selamat membaca.[*]
_______________________
Data Buku
Judul Buku : Neksus
Penulis Buku : Yuval Noah Harari
Penerjemah : Damaring Tyas Wulandari Palar
Penerbit : KPG
Tahun Terbit : September 2025 (cetakan kedua)
Jumlah Halaman : xxxiii + 542 halaman
ISBN : 978-623-134-362-8














