Bidikan Sangkar Baja
Bidikan sangkar baja,
Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas.
Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan
Bidikan sangkar baja,
Ujungnya pada langit biru.
Kau terlalu tinggal dalam rayuan pucuk awan,
Dan perlahan kau membiarkan Nasib datang.
Di suatu waktu yang kelam,
Kau terus hampiri Nasib yang salah.
Para pemburu memangkas ranting-ranting dedaunan,
Demi melihat penerbangan yang luas,
Dan menangkap burung-burung di udara yang jauh.
Burung-burung yang hidup dengan udara malam.
Kau melihat bulu-bulu dari dua mata udara,
Dengan sangkar baja kau membidiknya.
Suara bidikan menghampiri bulu duka.
Udara malam melepas napas yang elah.
Burung-burung meratapinya dengan sehelai bulu.
Kau menatap wajahnya dan tersaruk pergi.
Desar pun mengelilingi ranting dalam tangis.
Makin lama, tak terlihat.
Halaman Kosong
Aku hanya selembar kertas yang kusut,
Kosong halamannya.
Tapi kini kutulis syair-syair
Yang terus bersayembara.
Dan tak ada kata yang pertama
Dalam syair-syair itu.
Kini hanya sebuah tanda hitam
Menempel pada lembaran kusut itu.
Guyuran hujan berhamburan,
Menghilangkan syair-syair.
Aku hanya sebuah lembaran yang tak hilang,
Meskipun setetes jarum hujan
Terus mengkoyah,
Dan melacak semua syair-syair.
Pada saatnya semua akan kembali
Ke dalam permukaan.
Usai sudah semuanya.
Tiada lagi kata yang perlu kutulis.
Dalam lembaran kertas kusut,
Halamannya tinggal kosong.
Waktu sedang mencari untuk Kembali,
Sebagai kunang-kunang terbang merdeka
Kuasa malam.
Di dalam syair itu,
Telah kusiapkan ruang dan waktu untukmu.
Meskipun dari halaman kosong
Tak nyaman ditatap,
Kamu memiliki tatapan
Merusak syairku.
Coretan syair itu sempit
Menyapa bumi.
Sejumlah nama dan waktu kulukis
Untuk kukenang.
Waktu tak terkunci
Sejak awal mula.
Merdeka menaruh dalam sepih separuh.
Entah apa keluar dan masuk,
Padahal kau teramat sukar
Menempel pada lembaran kosong.
Tentulah lembaran jadi lengang.
Terasa, sebab waktu diam
Tak banyak bicara.
Benang Merah Kesunyian
Ibu, menggendong embun
Melintasi dermaga, merangkul kesunyian
Setelah hawa mengayomi duka,
Ia perlahan menggerakan tangan, menengok embun.
Menunggu langit biru
Menyentuh sehelai rambutnya.
Lalu bumi bergetar,
Menghilang di lubang telaga.
Menghembus napas petuah
Sebab awan kian bertebaran
Menangkap telinga yang memerah.
Di pinggir dermaga ia berhenti.
Menoleh pada wajah lesuh
Hingga sore tiba,
Matanya yang berkedip tetap bertahan di tepi sunyi.
Lalu ia meronta pada malam.
Kicau burung, bumi bergetar pada sunyi.
Melihat tubuh sebelum tali bergelung,
Menuntut kembali ke atap
Memberinya setapak benang merah,
Yang tak mengenal tubuh.














