Abdul Hadi masih membuka mata di bawah langit yang hitam membiru. Tangannya menyilang, menahan keganasan angin yang turun dari gunung. Bunyi sayap jangkrik bergesekan, tawa musang, desit pintu yang engselnya berkarat, mengalun di telinganya seperti pertunjukan orkestra. Ia termangu di atas kursi tua di depan teras, menyesali apa yang telah diperbuat.
Enam bulan lalu, istrinya lebih dulu menghadap sang kuasa. Sejak itu, Hadi menjadikan ladang sebagai rumah. Tempat untuk berteduh, bergunjing, dan tertawa. Kawan-kawannya yang merokok, ngopi, dan makan di saung setidaknya cukup mengikis rasa kesepiannya.
Namun, malang nasib Hadi sewaktu pria-pria berperawakan preman dan berpakaian rapi mengunjungi rumahnya. Mereka memberi tawaran harga untuk tiga petak ladang yang ditanam jagung. Seperti cenayang, mereka mengetahui ladang itu gagal panen bulan lalu, terkena hama yang entah dari mana.
“Ladang ini tidak saya jual.”
“Mengapa, Pak? Tawaran kami belum cukup?”
Atasan dari pria-pria itu mengaduk kopi yang disajikan hangat. Mengencangkan dasi yang mulai longgar, melihat arloji di tangan kiri, tersenyum sinis sebelum kafein membasahi lidahnya. Sementara dua pria sebelahnya, menatap Hadi seolah mangsa yang siap diterkam.
“Oke. Tidak apa-apa, Pak Hadi mungkin butuh waktu. Terima kasih atas jamuannya. Kami pergi dulu.”
Di Saung yang reyot, Hadi bercerita tentang tawaran pria-pria itu yang ditolak mentah-mentah olehnya. Kawan-kawannya beberapa menimpali, mereka mengalami kejadian serupa. Ada yang menolak seperti dirinya, ada yang malu-malu tapi mau, ada pula yang tanpa berpikir panjang langsung menandatangani di atas materai.
Dua minggu setelahnya, pria-pria itu bertamu lagi. Tawaran harga dinaikkan, iming-iming kerja berseragam, dan akses listrik bakal gratis. Tawaran yang cukup menggoyahkan, tapi Hadi masih bersikeras berkata tidak.
“Memang Anda membeli ladang-ladang ini untuk apa?”
Pria itu membenarkan posisi duduknya, melihat arloji yang mengkilat. Dengan nada ramah-tamah, mulutnya berkata soal proyek besar, keberlanjutan lingkungan, terbukanya lapangan pekerjaan, akses listrik, energi baru dan terbarukan. Hadi hanya melongo, menggaruk-garuk pelipis yang tidak gatal, lalu sesekali kepalanya mengangguk.
“Ooo… jadi Anda mau bangun pe-el-en?”
“Bisa dibilang begitu, Pak.”
“Tidak!” Sekali lagi, Hadi menegaskan.
Keadaan mulai panas; udara gunung tak cukup mendinginkan. Dua pria bertubuh gempal mulai mengepalkan tangan. Urat-urat mereka mulai terlihat seperti cacing-cacing yang ditaburi garam. Dengan tenang, pria berbaju batik itu mencegah mereka bertindak lebih jauh. Menyuruh mereka duduk kembali dan menenangkan diri.
“Baiklah. Tidak apa-apa jika Pak Hadi tak mau melepaskan. Terima kasih, kami pamit undur diri,”
Hadi menghiraukan kepergian mereka hingga waktu berjalan seminggu. Wajahnya masam memandang jagung-jagung yang berada dalam fase vegetatif bertumbangan sebagian. Ia mengira babi hutan atau segerombolan monyet sedang berpesta di malam hari. Tapi perkiraan itu salah ketika terdapat bekas sepatu menjiplak. Mengumpatlah Hadi dengan keras, “Bajingan!”
“Hadi!” Pekik kawan-kawannya yang dibawa angin kencang melewati ladang-ladang sebelahnya. Mereka mengumpat sejadi-jadinya, bernasib serupa seperti Hadi.
“Asuuuu!”
“Telek!”
“Matane!”
Terik matahari menyengat, awan-awan cirrus bertaburan, udara sejuk berhembus ringan, sementara Saung mendung bergemuruh. Jagung bertumbangan di ladang yang menolak dijual. Hadi dan kawan-kawan mengarahkan telunjuk pada pria-pria itu.
“Tapi kita tak punya bukti.”
“Sudah pasti mereka!”
“Gimana caranya kita melaporkan mereka? Bisa-bisa kita yang mendekam di penjara!”
“Coba kamu hubungi Ghafur. Bukannya dia telah sukses di bidang hukum. Pasti bisa menangani kasus ini,” saran salah satu kawannya yang sedari tadi menghisap batang rokok sampai menyisakan gabusnya.
Hadi tidak bergeming, meminum kopi yang telah dingin. Ia bukannya tak mau, tapi seorang Ghafur sulit untuk dihubungi. Terakhir kali berbicara panjang dengannya satu hari setelah pemakaman istrinya. Selepas itu, hanya berbicara melalui telepon singkat.
****
Bunyi klakson bersahutan menyusup di celah jendela yang sedikit terbuka. Tumpukan kertas berada di sisi layar yang sudah lama menyala. Tangannya meraih satu per satu berkas yang tak terhitung jumlahnya. Kantung matanya begitu gelap, banyak perkara yang perlu diselesaikan.
Di tengah-tengah pikiran yang tak lagi fokus, dering telepon berbunyi. Ia melihat nama si penelepon, menghidupkan mode diam, dan membiarkan. Tapi, si penelepon pantang mundur, digetarkan mejanya sampai pulpen-pulpen berjatuhan. Ghafur yang naik darah meraih suara yang mengganggu itu.
“Ada apa?!”
“Ladang diserang orang-orang pe-el-en. Mereka merusak jagung-jagung dengan ganas…..”
“Permisi, Pak. Bapak diminta menghadap presiden,” potong seorang pegawai perempuan.
“Oh, oke, baik. Sebentar, sebentar. Aku lagi sibuk. Nanti aku hubungi lagi.”
Mobil Ghafur melaju kencang menuju istana di tengah kota. Tumpukan kerja yang menggunung, panggilan presiden yang mendadak, tidak menyisakan ruang untuk cerita Hadi. Sesampainya di istana, dalam ruangan yang tertata rapi, presiden menanyakan terkait gugatan-gugatan orang kecil. Ghafur menjelaskan dan meyakinkan tentang potensi negara untuk menang.
Setelah hari berganti, Ghafur mengangkat telepon dari Hadi. Telinganya mendengar kisah ladang jagung, tapi tidak dengan pikirannya yang berlari di antara tulisan-tulisan kaku seperti biasa. Ia menghela napas panjang dan mengusap berkali-kali wajahnya.
“Gak ada bukti. Jangan langsung menuduh!”
Hadi tidak bersuara, menghembuskan nafas berat, Ghafur menyibukkan diri demi menutup telepon. Memandang langit-langit ruang dengan muka yang ditutup tangan, Ghafur terjebak di labirin pikiran. Ia mengerti siapa dalang di balik penghancuran ladang. Berkas-berkas yang menumpuk berisi perkara serupa. Kliennya memang sering berbuat masalah, setidaknya selama dua tahun presiden itu menjabat.
Tiga minggu kemudian, Ghafur berada di ruangan hening yang tertutup rapat. Ia memakai seragam kebanggaan, sejajar dengan pihak yang menggugat. Di mejanya telah tertata rapi: surat kuasa, jawaban, alat bukti, dan berkas perkara. Lidahnya sudah siap menunjukkan kelihaian. Namun, dadanya bergetar tak henti hingga dia menyerah dan meninggalkan ruangan, lalu mengambil telepon di sakunya.
“Ada apa lagi?”
“Mereka menabur bangkai di ladang. Kamu harus pulang. Bantulah orang-orang di sini.”
“Sudah cukup. Nanti kita bicara lagi, aku lagi sibuk!”
Hari demi hari, dering telepon terus berbunyi. Ghafur tetap tak memberi solusi. Hadi terus meneror di setiap waktu.
“Orang-orang itu melakukan perbuatannya di malam hari. Tadi malam, saat kami berjaga, tertangkap satu orang.”
Dua hari berikutnya.
“Mereka sudah nekat mencelakai. Dua orang dikeroyok saat pulang.”
Satu hari berikutnya.
“Pulanglah! Bantulah orang-orang sini. Mereka menebar surat-surat ancaman.”
Tiga hari berikutnya.
“Ladang dibakar! Seluruhnya nyaris hangus!”
Ghafur kelimpungan dengan telepon yang bertubi-tubi. Ia tak tahu harus memberi alasan apa lagi. Suasana hatinya bercampur aduk, memberikan pertolongan atau mempertahankan karirnya yang tengah mentereng. Kepala dipukul-pukul dengan tangan, lalu seketika menjawab telepon dengan wajah memerah.
“Sudah cukup! Jual saja ladang-ladang itu!” seru Ghafur yang setelahnya membanting telepon.
***
Hamparan tanah hitam gersang mengotori kehijauan lanskap pegunungan. Hadi memandangi jagung-jagung yang telah menjadi abu. Ia terbenam dalam isi kepalanya yang berhamburan tidak karuan. Ghafur mencampakkannya. Satu per satu kawan yang berada di barisannya mengibarkan bendera putih. Kejadian ini sudah dilaporkan ke polisi, tapi polisi malah mengekor pria-pria itu saat mendatangi sejumlah rumah.
Satu kawannya berlari dari kejauhan. Ia histeris memanggil nama Hadi berulang-ulang. Hadi terbangun dari lamunannya, mengambil satu batang rokok untuk dihisap.
“Istriku diculik! Tolong! Cepat jual ladangmu. Bukannya mereka sudah memberi harga yang tinggi? Jika tidak, aku tak tahu gimana nasib istriku.”
Hadi mematung tak kuasa menahan rentetan musibah yang menghujam. Kalau sudah begini, bisa berbuat apa lagi, keluhnya dalam kalbu. Usai sudah saung dan ladang beserta keriuhannya, selamat datang kesepian yang bisa berujung pada kematian.
Bulan-bulan berikutnya, Hadi menghabiskan banyak waktu untuk merenung. Jasadnya tengah duduk di teras, tidur di ranjang, maupun berdiri di sebelah kolom rumah. Jiwanya melayang-layang tanpa arah. Ia tersadar satu hal, kesedihannya bukan perihal kehilangan saung dan ladang, tapi kegagalannya menjadi seorang Bapak.
Ghafur, atau nama lengkapnya Abdul Ghafur, dibesarkan sebagai pembelajar ulung, dicetak sebagai robot canggih. Masa kecil dan remajanya dihabiskan untuk menelan buku dan mengejar nilai rapor. Hadi tak pernah mengajaknya bermain atau sekadar membawanya ke ladang untuk menumbuhkan rasa kepedulian. Hadi hanya berkata, “Belajar, belajar, dan belajar.” Biar besar nanti bisa mendapat beasiswa di perguruan tinggi tersohor dan memiliki kehidupan mapan dengan pakaian yang bermartabat. Bukan berkaos partai yang kotor dan berbau matahari, ujarnya dua puluh tahun yang lalu.
Hadi tak mengira jika cara mendidiknya berbuah kesendirian di kemudian hari. Dicampakkan dan tidak dipedulikan. Walau Ghafur rutin mengirim uang, ia merasa bukan itu yang dibutuhkannya. Saat ini, selepas semua hilang, ia menghabiskan masa tuanya dengan kesepian, menelan dinginnya malam, menghirup gas hidrogen sulfida hingga maut melahap napas terakhirnya.[]














