• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 26 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

Vini Hidayani by Vini Hidayani
11 January 2026
in Resensi
0
Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

Sumber gambar: Warung Sastra

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar di Indonesia. Persoalan yang berbeda-beda tersebut timbul dalam setiap pergantian bab. Saya menemukan ini setelah mencermati dan mengambil jarak dengan bacaan. Awalnya novel ini saya nikmati dengan lambat sesuai alur yang ditulis oleh Ramayda. Begitu tuntas menyelesaikannya dan membiarkan ia mengendap satu pekan di kepala, saya kembali membuka daftar isi hingga bab-bab yang membuat saya bisa melihatnya dari atas, dari view helikopter.

Setidaknya ada lima hal yang diceritakan dalam lima bab. Di antara semuanya, saya tertarik untuk membahas soal Nini Randa, penggerak utama cerita dalam novel—meski judul novel ini adalah Tango dan Sadimin.

Kasih yang Semu dan Memuakkan dalam Child Grooming

Nini Randa yang ditemukan di sungai dan kemudian dirawat oleh orang yang juga bernama Nini Randa—nama yang lantas diturunkan padanya—tumbuh dan besar dengan sendirinya. Usai orang yang merawatnya meninggal dunia, ia lantas hidup dengan begitu saja di gubuk reot dekat sungai. Proyek di dekat sungai yang mengharuskan kuli-kuli berkumpul di sana membuat Nini Randa pertama kali belajar tentang laki-laki.

Untuk pertama kalinya Nini yang berusia belia merasakan kehangatan yang senyap dari tubuh yang berbeda dari tubuhnya. Ia bernama Satun Sadat. Laki-laki pertama yang mengambil keperawanannya yang polos, merenggut pengalaman kewanitaan yang bahkan belum Nini pahami penuh bagaimana bentuknya. Satun Sadat juga mengambil berkat penglihatan Nini terhadap yang gaib yang terkesan digambarkan Ramayda sebagai “dosa” meski itu adalah sebuah pemerkosaan.

Laki-laki kedua yang hinggap di dunia belia Nini adalah mandor proyek. Mandor itu lebih dari sekedar mengambil bagian pada setiap jengkal tubuh Nini, ia turut pula memberikan kehangatan layaknya ayah kepada anaknya, kakak kepada adiknya, atau suami kepada istrinya. Secara praktik, meski seperti prostitusi yang dibayar begitu selesai, mandor memiliki kata-kata yang halus yang diharapkan perempuan. Ketika Nini yang sejauh pemahaman dan pengalamannya selalu memberikan tubuh dan uangnya kepada laki-laki—lantas belajar hal baru dari mandor “aku yang seharusnya memberimu itu!”—sebuah kalimat yang sangat maskulin dan diinginkan oleh perempuan belia sebatang kara.

Terlepas dari Nini Randa yang seorang diri hidup dan bertahan di dunia, ada alasan mengapa anak di bawah umur itu dilindungi, hal itu karena pengetahuan dan keputusan-keputusan yang mereka buat belumlah memiliki kesadaran penuh. Usia di bawah dua puluh masih rentan salah, rentan dimanipulasi, dan terkadang cepat mengambil kesimpulan yang dangkal. Anak yang dibesarkan di keluarga hangat dan mengalami sekolah formal saja berada dalam status rentan, maka apa yang terjadi pada Nini Randa menjadi semacam keniscayaan. Nini yang lugu dan tanpa perlindungan orang dewasa terjerat dari satu tangan laki-laki ke tangan lainnya.

Kasih sayang yang diberikan orang dewasa kepada anak-anak belia itu semu. Cerita dan pelajaran mengenai laki-laki dalam hidup Nini setidaknya membuktikan anggapan kalau laki-laki hanya datang ketika ada maunya (tubuh dan seks). Mereka akan meninggalkan perempuannya ketika merasa sudah. Tidak ada rasa bersalah atau tanggung jawab, hanya ada transaksi yang dimanipulasi.

Seks, di sisi lain, turut menjadi daya tawar Nini Randa terhadap dunia yang tidak memihaknya. Ia telah belajar bahwa dengan tubuhnya ia mampu melebarkan gubuk menjadi sebuah rumah, mampu membeli sawah hingga harga diri, pengalaman dan kesendiriannya mengajarkan hal-hal yang tidak didapatkan dalam sebuah rumah yang hangat.

Ibu Bernama Setan

Meski judul novel ini Tango dan Sadimin, menurut saya cerita mengenai Nini Randa saja sudah cukup menarik. Nini Randa yang bermula dari bayi yang ditemukan di sungai, lalu menjadi ibu karena pemerkosaan yang tidak dipahaminya, hingga akhirnya menjadi pemilik rumah bordil yang menawarkan jasa prostitusi bagi siapa saja yang rela membayar. Atas dasar kebaikan hatinya, Nini menyekolahkan anak pertamanya yang bernama Cainah. Ketika sudah mulai terlihat Cainah menyukai laki-laki, Nini memberikan pelajaran berharga soal laki-laki.

Cita-cita dan bayangan masa depan paling indah yang ditawarkan Nini pada Cainah adalah membangunkan satu gubuk untuknya, sehingga setamat sekolah nanti, Cainah bisa melakukan hal yang sudah bertahun dilakukan oleh ibunya tersebut. Ada harga diri di sana, ada warisan kestabilan yang ditawarkan Nini melalui jasa seks. Namun yang dilakukan Cainah berbeda, ia memilih lari dengan kawan kelasnya lalu menikah. Sejak saat itu Nini menutup pintu bantuan kepada Nah dan keluarga barunya itu.

Novel ini seolah menginginkan makna bahwa pernikahan adalah kesialan bagi perempuan. Bila hidup menghendaki keharusan berjuang sendiri seperti Nini Randa, maka jalanilah begitu. Menikah seolah nampak sebagai keputusan yang bodoh, terutama bagi Cainah yang memiliki Ibu bernama Nini Randa, meski ia juga sekaligus menjadi sang ibu bernama setan.

Barangkali alasan Ramayda membuat bab khusus soal “Ibu Bernama Setan” ini merupakan suatu realitas yang dekat dan terjadi di banyak tempat. Mungkin itu karena dirasa Nini tidaklah menjelma sebagai ibu yang melindungi. Ia adalah ibu yang melahirkan anak-anaknya, dan sejauh itu saja tanggung jawab tubuhnya terhadap tubuh-tubuh lain yang lahir darinya. Apalagi jika itu bukan murni atas kehendaknya untuk memiliki bayi, yang mana ternyata bayi itu bisa tumbuh menjadi manusia seutuhnya.[]

Tags: bukuresensisastratango dan sadimin
ShareTweetSendShare
Previous Post

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Next Post

Memanusiakan Teknologi

Vini Hidayani

Vini Hidayani

Peneliti dan akademisi sastra. Alumni Magister Sastra UGM.

Artikel Terkait

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
Resensi

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

3 April 2026

Memasuki tahun 2026 ini, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan pelik. Lebih seperempat abad usia reformasi belum mampu...

Membaca Rute Evolusi Otak Kita
Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ...

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme
Resensi

Bersikap Maskulin dalam Gerakan Feminisme

13 October 2025

Ketidakadilan sosial di ruang sehari-hari kita mendorong banyak pemikir mencari pisau analisis baru dan segar. Di tengah diskursus tersebut, Mansour...

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu
Resensi

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu

24 August 2025

Dalam hidup ini, pastinya kita pernah mengalami situasi keterburu-buruan. Waktu seolah-olah mengejar kita. Tak ada waktu lagi untuk sekadar duduk...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Tips Memakai Kacamata Kehidupan

Tips Memakai Kacamata Kehidupan

20 February 2021
Gambar Artikel Gurun Pasir di Indonesia: Pesona Gumuk Pasir Oetune

Gurun Pasir di Indonesia: Pesona Gumuk Pasir Oetune

20 January 2021
Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

Bumi Rantau dan Hilangnya Pengharapan

8 December 2021
Cinta Melekat pada Ubun Dada yang Membelah

Cinta Melekat pada Ubun Dada yang Membelah

18 November 2021
Suaka Rasa dan Derita

Suaka Rasa dan Derita

12 February 2021
Seorang Lelaki dan Sungai

Seorang Lelaki dan Sungai

3 January 2022
Gambar Artikel El Diego di Luar Lapangan Hijau

El Diego di Luar Lapangan Hijau

30 November 2020
Membaca Rute Evolusi Otak Kita

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026
Cosmic Hospitality dan Puisi Lainnya

Cosmic Hospitality dan Puisi Lainnya

26 May 2025
Gambar Artikel Bias Kegelisahan dan Kenangan

Bias Kegelisahan dan Kenangan

17 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.