• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 26 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Sambatologi Surat

Hadir itu Bukan Kamu

Refina Elfariana D. by Refina Elfariana D.
25 August 2021
in Surat
0
Hadir itu Bukan Kamu

https://id.pinterest.com/pin/540150549061332582/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Hai, aku tidak peduli jika tulisan ini dianggap bodoh oleh orang lain, juga tidak cemas kalau tulisan ini tak pernah sampai pada kedua mata itu. Betapa aku tidak ingin melibatkan perasaan ketika membicarakan dirinya, sebab aku takut. Aku takut membenarkan sesuatu yang muncul dari persepsiku sendiri. Aku takut menyalahkan segalanya tentang dia yang pada dasarnya tak kuketahui seperti apa kenyataannya.

Hari ini, aku memimpikanmu. Aku mendamba sebuah kehadiran, tapi ternyata aku lupa untuk menyertakan maksud “hadir” yang sebenarnya, hingga hadir itu hanya menemuiku lewat sebuah mimpi. Di mimpi itu, engkau datang. Lebih tepatnya, kau pulang pada rumah yang kau pilih untuk kau tinggalkan. Kau kembali pada hati yang sudah kau hancurkan kepercayaannya.

Tangan itu untuk pertama kalinya diulurkan kepadaku. Figur yang harusnya mendampingiku tumbuh dan mengajariku membaca dunia, justru memperkenalkan dirinya saat aku sudah melewati masa-masa sulit itu.

Kujabat tangannya dan tak terlihat sedikit pun penyesalan di wajahnya. Kudapati senyum yang tak kupahami artinya. Betapa aku ingin marah dan menuntut penjelasan darinya, tapi dia berlagak santai seolah tiada pernah terjadi apa-apa. Seakan ini hanyalah kesalahan sepele yang bisa selesai dengan cukup mengucap kata maaf.

Hadir, kau berhasil membuat air mataku menetes. Entah air mata kebahagiaan karena dia benar nyata di hadapanku, atau justru air mata kebencian dari ego yang menguasaiku.

Aku benci dengan keadaan seperti ini. Aku benci dengan diriku yang tak pernah bisa jujur bahwa sebenarnya aku sangat merindukanmu. Aku hanya ragu, kenapa aku harus merindukan kehadiran sosok yang tak pernah menganggapku dan mengapa aku harus mengharapkan kehadiran orang yang telah mengabaikanku begitu saja.

Hadir yang menyamar itu adalah sebuah mimpi, jembatan tanpa tiang yang membuat mata senduku menatapnya. Dia tak banyak bicara dan lekas pergi begitu saja. Betapa bodohnya aku, tak mengenggamnya lebih erat agar aku tidak kehilangan untuk yang kedua kalinya. Tapi kubiarkan langkah itu tak berhenti, kulepaskan tanganku sampai pada ujung jarinya yang perlahan tak bisa kusentuh lagi.

Aku tahu, kehadiran ini bukan sepenuhnya kamu, hadir ini ada karena aku, karena perasaan yang kulibatkan dari dulu, yang sampai hari ini tak hanya sekali kau patahkan. Tapi, aku selalu punya cara untuk merekatkannya lagi, menyambung segala sudut yang berhasil kau putus dengan ego dan amarahmu.

Aku tidak peduli, hadir yang kuingin adalah kamu yang seutuhnya, kamu yang tak hanya menemuiku jika malam tiba, kamu yang bisa lebih lama duduk dan bercerita, kamu yang memeluk cemasku dengan percayamu, kamu yang merangkul raguku dengan yakinmu, dan hadir dengan benar-benar kamu yang memulai deritaku.

Kini, aku hanya ingin hadir itu tak hanya tertulis di lembar diary-ku atau sekadar terucap setiap kali aku menengadahkan tangan untuk berdoa, tapi aku ingin hadir itu ada, bersamaku dan selalu didekatku, meskipun aku tidak tau jarak yang sebenarnya terbentang. Mungkin saja jarak kita tak bisa diukur dengan logika, karena kamu sudah berada di keabadian-Nya, atau jarak nya terbentang sangat panjang dan beragam hingga tak mampu kau kenali rindu yang kusiapkan khusus untuk menuntunmu pulang. Dan bisa pula, jaraknya hanya selangkah, tapi kau memilih untuk tak saling menyapa.

Kau tahu? Ternyata aku hanya sedang bergelut dengan diriku sendiri, melawan ego dan kerinduan, hingga mendamba hadir untuk kusalahkan. Hadir yang menyamar ini bisa saja terjadi karena tidak ada sehari pun yang kulewatkan tanpa memikirkanmu. Entahlah, pertanda apa yang ingin Tuhan sematkan. Apapun itu, tanpa munafik, aku selalu mengaharapkan kita menatap matahari yang sama, meski di belahan bumi yang berbeda. Semoga doaku senantiasa menjaga.

Dari berbagai kalimat panjang yang kutulis untukmu, dari berserakannya pikiranku, dari riuh isi kepalaku, dan dari sesaknya hati dan perasaanku dalam mengharap sebuah kehadiran, hanya sebaris pertanyaan untukmu, “Apakah kau merindukanku seperti aku merindukanmu?”.

Tags: harapankehadiranrefina elfarianarindusurat
ShareTweetSendShare
Previous Post

Menemui Emosi dari Diri

Next Post

Bentang dan Jet Lag Blues

Refina Elfariana D.

Refina Elfariana D.

Penulis Asal Bojonegoro, Jatim. Sedang menempuh S1 di Ilmu Komunikasi UINSA. Kerap menulis di platform digital. Bisa disapa di IG: @rfn_ed.

Artikel Terkait

Rumit Melilit Silit
Surat

Rumit Melilit Silit

24 January 2022

Lagi-lagi begini lagi, Dul. Quotes, maqolah, atau kata-kata mutiara itu akhirnya ya cuma jadi pajangan di beranda media sosial. Entah...

Pencarian di Sudut Rindu
Surat

Pencarian di Sudut Rindu

1 December 2021

"Apa kabar?" "Sehat kan?" "Bagaimana keadaanmu?" "Apa kau masih ingat denganku?" Bernada sekali kalimat itu, intonasinya tepat saat saya mengucapkannya...

Sambatologi

Jalan Sunyi dengan Ribuan Bunyi

24 October 2021

Setelah perhelatan panjang bersama dengan soal-soal ujian fakultas yang entah kapan berhasil membuat saya sedikit berkualitas, saya sempatkan waktu untuk...

Dari Pesisir
Surat

Dari Pesisir

12 August 2021

Sahabatku, Ali. Emailmu sudah kubaca. Kau mengabarkan jika lamaran pekerjaan yang dikirim atas namaku sudah diterima. Segala hal yang diusahakan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambart Artikel : Analisis Puisi Goenawan Muhammad Saya Cemaskan Sepotong Lumpur

Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Saya Cemaskan Sepotong Lumpur”

23 April 2021
Gambar Artikel Anomali Rokok dan Sepak Bola

Anomali Rokok dan Sepak Bola

8 January 2021
Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

22 July 2021
Tips Menjaga Kesehatan Mental Anak Muda di Masa Pandemi

Tips Menjaga Kesehatan Mental Anak Muda di Masa Pandemi

7 December 2021
Bersetubuh dengan Kata

Bersetubuh dengan Kata

24 March 2021
Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

26 September 2025
Violinis Caitlin

Violinis Caitlin

26 July 2021
Gambar Artikel Sali dan Suli.

Sali dan Suli

6 November 2020
Tempat: Kenangan dan Seisinya

Tempat: Kenangan dan Seisinya

28 January 2021
Ayat-ayat Alam Raya

Ayat-ayat Alam Raya

19 June 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.