• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 16 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Sambatologi Surat

Pencarian di Sudut Rindu

Refina Elfariana D. by Refina Elfariana D.
1 December 2021
in Surat
0
Pencarian di Sudut Rindu

https://unsplash.com/photos/E-b_VNmtGJY

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

“Apa kabar?”
“Sehat kan?”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Apa kau masih ingat denganku?”

Bernada sekali kalimat itu, intonasinya tepat saat saya mengucapkannya di hadapanmu, ya begitulah saya berlatih selama beberapa tahun terakhir, mengucapkan kalimat itu dengan tanpa menangis, pertanyaan itu pula yang selama ini saya tanyakan dan saya jawab sendiri dengan do’a, mewakili jawabanmu yang saya tau itu tidak akan pernah ada.

Saya memberanikan diri untuk mengunjungimu, dengan mendatangi tempatmu bersama kawanku. Hari itu saya memutuskan untuk berhenti membohongi diri, dan menyerah untuk pura-pura baik-baik saja setelah kau pergi.

Akhirnya saya temukan diri saya yang sebenarnya, bukan lagi dengan persoalan hadirmu yang seringkali hanya terselip pada kalimat dalam tulisan saya, juga bukan dengan teriakan rindu tanpa suara disudut bibir saya, melainkan dengan kalimat tanya pada setiap pasang mata yang berkedip di sana, “bisakah rindu ini menemui ujungnya? Tolong tunjukkan keberadaannya!”

Kau di mana? Seandainya kau tau bahwa saya berhasil mengalahkan ego dan rasa kecewa, selangkah lagi semesta mengizinkan kita berjumpa, mungkin saya tidak akan terlalu lama berada pada alam bawah sadar tempat saya menyandarkan kerinduan, tapi ternyata kau masih saja gagal untuk berdamai dengan luka. Apakah memang seharusnya saya belajar bagaimana caranya untuk berhenti merindukanmu?

Ketika langkah saya memijak bumi pada belahan itu, dengan berbahan bakar rindu saya menuju tempatmu, lebih tepatnya adalah rumah kita, tapi itu dulu. Mungkin terlalu besar jika saya menaruh harapan bisa menatap mu ketika itu, melihat dan memastikan kau masih bernafas di sana, tapi saya memilih untuk mengubur imajinasi itu.

Saya dibalut oleh pekatnya rasa khawatir, seandainya kecewa justru merobek dinding kerinduan yang selama ini saya sembunyikan, hingga saya putuskan hanya menaruh harapan pada sehelai kalimat pengukuhan, mencari pembenaran bahwa dulu rumah kita pernah bertengger di sana, sempat berdiri dengan tegak hingga sendi-sendi keraguan dan keegoisan itu mengikisnya.

Mata saya menatap kehidupan di sekitar tempat itu, mendapati mereka yang berbaju lusuh dan berwajah pilu, mereka yang duduk bersantai dengan raut sendu, mereka yang berkeliling tanpa tujuan, juga mereka yang berjajaran sembari menengadahkan tangan, terbesit pertanyaan pedih yang begitu sakit, bagaimana jika kau ada di antara mereka?

Bisakah saya mengenalimu? Atau mungkinkah kau yang lebih dulu menyapa saya? Andai saja! Tapi bukankah saya datang kesana tidak mengajak ekspektasi besar yaitu dengan menemukanmu, tapi jika boleh jujur, rindu ini masih mencari dan menginginkan hadirmu.

Entahlah, mungkin saya telah gagal memahami diri, saya kesulitan memisahkan perasaan dan pikiran, realita mengajari saya cara membencimu, tapi hati menuntut saya untuk tetap merindukanmu meski dengan segudang luka itu.

Wahai manusia jahat yang ingin sekali saya peluk erat, manusia pengecut yang ingin saya genggam tangannya dengan rapat, manusia tidak punya hati yang selalu saya nanti, sesulit apapun saya berusaha melupakanmu, percayalah saya tidak pernah berhenti menanyakanmu dalam setiap kalimat pinta. Berharap dimana pun kamu, lapisan do’a saya cukup luas untuk menjangkau keberadaanmu, bahkan hanya untuk sekedar memastikan bahwa kau selalu baik-baik saja tanpa saya.

Dengan memilih jalan berbeda, mungkin kau sudah memiliki bahagia yang selama ini kau cari, yang tak kau temukan di rumah ini. Bila dengan saling melupakan dapat meminimalisir kecewa, maka biarkan saya tetap menyimpanmu dalam tumpukan cerita, entah itu tentang haru biru, duka lara maupun tangis bahagia. Bila dengan saling membenci bisa mengobati luka, maka biarlah saya berjabat tangan dan bersahabat dengan luka itu, agar tidak ada lagi alasan untuk saya membencimu.

Kau hanya perlu menyisakan sedikit saja tentangku disudut rindumu! Dengan begitu hati kecilmu akan menunjukkan jalannya, membawa kita pada jumpa yang nyata, menyelesaikan kisah ini tanpa menyisakan tanya.

Untukmu pemilik rindu, selamat hari Ayah pada 12 November 2021 lalu,
“jika benar kau adalah cinta pertama di hidup orang lain, lantas kenapa kau juga jadi patah hati pertama di hidup saya?”

Tags: kebenciankehilanganpencarian di sudut rinduselamat hari ayahsurat ayah
ShareTweetSendShare
Previous Post

Main Tanah dari Langit

Next Post

Pakai Tangan Kiri Itu Tidak Selalu Buruk

Refina Elfariana D.

Refina Elfariana D.

Penulis Asal Bojonegoro, Jatim. Sedang menempuh S1 di Ilmu Komunikasi UINSA. Kerap menulis di platform digital. Bisa disapa di IG: @rfn_ed.

Artikel Terkait

Rumit Melilit Silit
Surat

Rumit Melilit Silit

24 January 2022

Lagi-lagi begini lagi, Dul. Quotes, maqolah, atau kata-kata mutiara itu akhirnya ya cuma jadi pajangan di beranda media sosial. Entah...

Sambatologi

Jalan Sunyi dengan Ribuan Bunyi

24 October 2021

Setelah perhelatan panjang bersama dengan soal-soal ujian fakultas yang entah kapan berhasil membuat saya sedikit berkualitas, saya sempatkan waktu untuk...

Hadir itu Bukan Kamu
Surat

Hadir itu Bukan Kamu

25 August 2021

Hai, aku tidak peduli jika tulisan ini dianggap bodoh oleh orang lain, juga tidak cemas kalau tulisan ini tak pernah...

Dari Pesisir
Surat

Dari Pesisir

12 August 2021

Sahabatku, Ali. Emailmu sudah kubaca. Kau mengabarkan jika lamaran pekerjaan yang dikirim atas namaku sudah diterima. Segala hal yang diusahakan...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Anomali Rokok dan Sepak Bola

Anomali Rokok dan Sepak Bola

8 January 2021
Gambar Artikel Penjelas Masa Lalu

Penjelas Masa Lalu

10 January 2021
Gambar Artikel Berguru pada Sherlock Holmes

Berguru pada Sherlock Holmes

8 December 2020
Senja Carita

Senja Carita

24 April 2021
Gambar Artikel Jangan Baper!

Jangan Baper!

23 December 2020
Memanusiakan Teknologi

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026
Gambar Artikel Kedalaman dan Sajak untuk Novel Baswedan

Kedalaman dan Sajak untuk Novel Baswedan

3 December 2020
Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

Heliofilia: Narasi Psikopat dan Kemuraman Berlapis

22 July 2021
Win-Win Corruption

Win-Win Corruption

30 May 2021
Anjing dan Kupu-kupu

Anjing dan Kupu-kupu

27 April 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.