• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 15 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Munajat dari Atas Kasur

Moh. Ainu Rizqi by Moh. Ainu Rizqi
9 January 2021
in Puisi
1
Gambar Artikel Puisi Munajat dari Atas Kasur

Sumber Gambar: https://www.behance.net/gallery/20952753/Second

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Puisi Munajat dari Atas Kasur

Sayup terdengar suara desahan di balik hujan
Dua selangkangan yang kontradiksi sedang beradu kecepatan
Yang terbaring pasrah, mendesah, dihunjam gairah
Aktivis berahi para lelaki keji

Lonte! Doa pasrah di balik payudaramu yang kenyal
Terdengar lantang di balik penis lelaki yang membual
Di sela desahmu, munajatmu berjalan menyusun aksara:

Tuhan, vaginaku tak lagi setia
Bibir ranumku penuh dengan aksara ‘uh’ dan ‘ah’ belaka
Payudaraku tersusun dari jemari kotor pria
Rasanya pedih
Habis sudah peluh untuk merintih
Sperma para pria masuk di rahimku yang telah mendidih

Tak hanya hati dan harga diri
Vagina turut serta dahaga akan gombalan palsu
Dari segala pelangganku

Hanya Engkau, Tuhan tempat mengadu
Hanya Engkau, yang setiap saat menggunakanku sebagai wayang
Kemudian membayarku dengan setiap hembusan nafas
Yang memberiku segala nikmat

Tapi aku sudah menjadi jalang yang laknat
Masih adakah pintu kamar yang senyap dari dosaku yang selaksa kuadrat?
Yang setiap malam hanya ada desahan, kenikmatan sepihak, lalu uang bayaran untuk makanku esok hari

Tuhan, aku ingin masuk ke kamar bersama-Mu
Di atas ranjang, kita bercinta layaknya pengantin baru
Aku mengangkat tangan, Engkau julurkan tangan
Hingga pada akhirnya, aku orgasme dalam keabadian-Mu

 

Yogyakarta, 2020

–

Pelacur Berjumpa Tuhan

Kumandang adzan telah berlabuh di telinga
Pinggiran jalan yang berisik adalah sesuatu asyik
bagi psikisku yang sedang terusik

Seorang tua tiba menatapku dengan bibir membentuk rembulan sabit,  “Nak, beri aku api untuk menyalakan rokokku, agar aku kembali merasakan hasrat merindu.“

Setelah tuntas nyala bara pada rokonya, seorang tua itu berkata, “Aku menyusuri lorong berahi sejak purba; sejak payudaraku merekah; sejak vaginaku baru saja merutinkan luapan darah.”

Semakin lama, semakin merah matanya. Mata yang tabah; mata yang pasrah; mata yang menelan amarah.

“Aku tidak menyalahkan hidup atas kejalanganku. Aku tidak menyumpah-serapahi orang tua atas keterlemparanku. Dan aku tidak menumpuk dendam atas orang yang me-neraka-kanku.“

“Perlu kau ingat, Nak. Tuhan itu Maha Welas Asih. Tuhan itu Maha Adil. Dalam setiap desah, aku melihat Tuhan di mata orang yang bergairah; dalam setiap penetrasi, aku melihat Tuhan meraba ruang hati; dalam setiap tuduhan, aku melihat Tuhan bersembunyi di balik umpatan.”

“Tuhan selalu ada di setiap pori-pori kulitku, Nak. Bahkan Tuhan selalu nampak di balik indah payudaraku kini. Tak ada yang tak diikuti Tuhan. Entah berdosa dan tercela, aku adalah pendosa yang berteduh bersama doa.“

Seorang tua itu kemudian lenyap ke dalam nganga mulutku. Aku larut dalam lamunan panjang, hingga seorang satpam mengingatkan, “Heh! Bangun…. Tidur di rumah! Bukan di trotoar..”

 

Malioboro, 2021

–

Aktivis Ranjang

Batang demi batang rokok terhisap
Yang dinanti tak kunjung datang
Sejak sore hari telah bersiap
Menjaja tubuh demi makan esok siang

“Beginilah aku,” gumamnya.
“Seorang aktivis di atas kasur
Panggil saja aku lacur
Meski dianggap hancur
Aku masih punya jiwa yang tak akan luntur
Wajahku penuh dengan pupur
Selangkanganku setiap hari terbentur
Malam bekerja, pagi baru tidur
Semua memang sudah teratur
Sejak aku masih bau kencur”

Tapi, bukankah keteraturan merupakan sebuah ketidakaturan itu sendiri?
Bukankah kebenaran adalah ketidakbenaran itu sendiri?
Bukankah kehinaan adalah ketidakhinaan itu sendiri? Dan
keterlenaan adalah ketidakterlenaan itu sendiri?

Entah apapun itu, hidupmu-hidupku adalah ketidakhidupan itu sendiri

 

Malioboro, 2021

Tags: malammunajatMunajat dari Atas KasurpelacurpuisiranjangrenungansajaksastraTuhan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pengarang Feminis

Next Post

Wahdatul Wujud: Sebuah Dialog Singkat Islam-Kristen

Moh. Ainu Rizqi

Moh. Ainu Rizqi

Alumni Aqidah Filsafat Islam UINSUKA dan Guru Honorer yang gemar ngopi sambil menulis

Artikel Terkait

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Comments 1

  1. Pingback: Penjual Susu dan Puisi Lainnya - Metafor.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Perjalanan dan Jarak

Perjalanan dan Jarak

19 April 2021
Nanda dan Kisah Pilunya

Nanda dan Kisah Pilunya

19 July 2021
Haruskah Ulang Tahun Selalu Dirayakan?

Haruskah Ulang Tahun Selalu Dirayakan?

5 August 2021
Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026
Dimensi Ketidakpastian

Dimensi Ketidakpastian

22 February 2021
Gambar Artikel Idealisme dan Pembantaian

Idealisme dan Pembantaian

9 December 2020
Gambar Artikel Wisata di Tarempa : Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

Perjalanan Menuju Tarempa, Kepulauan Anambas

30 April 2021
Bias Kontol dan Efek Sampingnya yang Menyebalkan

Bias Kontol dan Efek Sampingnya yang Menyebalkan

21 March 2022
Mimpi Reyot

Mimpi Reyot

2 July 2021
Burung Pipit

Burung Pipit

6 April 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.