• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Saturday, 30 May 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Munajat dari Atas Kasur

Moh. Ainu Rizqi by Moh. Ainu Rizqi
9 January 2021
in Puisi
1
Gambar Artikel Puisi Munajat dari Atas Kasur

Sumber Gambar: https://www.behance.net/gallery/20952753/Second

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Puisi Munajat dari Atas Kasur

Sayup terdengar suara desahan di balik hujan
Dua selangkangan yang kontradiksi sedang beradu kecepatan
Yang terbaring pasrah, mendesah, dihunjam gairah
Aktivis berahi para lelaki keji

Lonte! Doa pasrah di balik payudaramu yang kenyal
Terdengar lantang di balik penis lelaki yang membual
Di sela desahmu, munajatmu berjalan menyusun aksara:

Tuhan, vaginaku tak lagi setia
Bibir ranumku penuh dengan aksara ‘uh’ dan ‘ah’ belaka
Payudaraku tersusun dari jemari kotor pria
Rasanya pedih
Habis sudah peluh untuk merintih
Sperma para pria masuk di rahimku yang telah mendidih

Tak hanya hati dan harga diri
Vagina turut serta dahaga akan gombalan palsu
Dari segala pelangganku

Hanya Engkau, Tuhan tempat mengadu
Hanya Engkau, yang setiap saat menggunakanku sebagai wayang
Kemudian membayarku dengan setiap hembusan nafas
Yang memberiku segala nikmat

Tapi aku sudah menjadi jalang yang laknat
Masih adakah pintu kamar yang senyap dari dosaku yang selaksa kuadrat?
Yang setiap malam hanya ada desahan, kenikmatan sepihak, lalu uang bayaran untuk makanku esok hari

Tuhan, aku ingin masuk ke kamar bersama-Mu
Di atas ranjang, kita bercinta layaknya pengantin baru
Aku mengangkat tangan, Engkau julurkan tangan
Hingga pada akhirnya, aku orgasme dalam keabadian-Mu

 

Yogyakarta, 2020

–

Pelacur Berjumpa Tuhan

Kumandang adzan telah berlabuh di telinga
Pinggiran jalan yang berisik adalah sesuatu asyik
bagi psikisku yang sedang terusik

Seorang tua tiba menatapku dengan bibir membentuk rembulan sabit,  “Nak, beri aku api untuk menyalakan rokokku, agar aku kembali merasakan hasrat merindu.“

Setelah tuntas nyala bara pada rokonya, seorang tua itu berkata, “Aku menyusuri lorong berahi sejak purba; sejak payudaraku merekah; sejak vaginaku baru saja merutinkan luapan darah.”

Semakin lama, semakin merah matanya. Mata yang tabah; mata yang pasrah; mata yang menelan amarah.

“Aku tidak menyalahkan hidup atas kejalanganku. Aku tidak menyumpah-serapahi orang tua atas keterlemparanku. Dan aku tidak menumpuk dendam atas orang yang me-neraka-kanku.“

“Perlu kau ingat, Nak. Tuhan itu Maha Welas Asih. Tuhan itu Maha Adil. Dalam setiap desah, aku melihat Tuhan di mata orang yang bergairah; dalam setiap penetrasi, aku melihat Tuhan meraba ruang hati; dalam setiap tuduhan, aku melihat Tuhan bersembunyi di balik umpatan.”

“Tuhan selalu ada di setiap pori-pori kulitku, Nak. Bahkan Tuhan selalu nampak di balik indah payudaraku kini. Tak ada yang tak diikuti Tuhan. Entah berdosa dan tercela, aku adalah pendosa yang berteduh bersama doa.“

Seorang tua itu kemudian lenyap ke dalam nganga mulutku. Aku larut dalam lamunan panjang, hingga seorang satpam mengingatkan, “Heh! Bangun…. Tidur di rumah! Bukan di trotoar..”

 

Malioboro, 2021

–

Aktivis Ranjang

Batang demi batang rokok terhisap
Yang dinanti tak kunjung datang
Sejak sore hari telah bersiap
Menjaja tubuh demi makan esok siang

“Beginilah aku,” gumamnya.
“Seorang aktivis di atas kasur
Panggil saja aku lacur
Meski dianggap hancur
Aku masih punya jiwa yang tak akan luntur
Wajahku penuh dengan pupur
Selangkanganku setiap hari terbentur
Malam bekerja, pagi baru tidur
Semua memang sudah teratur
Sejak aku masih bau kencur”

Tapi, bukankah keteraturan merupakan sebuah ketidakaturan itu sendiri?
Bukankah kebenaran adalah ketidakbenaran itu sendiri?
Bukankah kehinaan adalah ketidakhinaan itu sendiri? Dan
keterlenaan adalah ketidakterlenaan itu sendiri?

Entah apapun itu, hidupmu-hidupku adalah ketidakhidupan itu sendiri

 

Malioboro, 2021

Tags: malammunajatMunajat dari Atas KasurpelacurpuisiranjangrenungansajaksastraTuhan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pengarang Feminis

Next Post

Wahdatul Wujud: Sebuah Dialog Singkat Islam-Kristen

Moh. Ainu Rizqi

Moh. Ainu Rizqi

Alumni Aqidah Filsafat Islam UINSUKA dan Guru Honorer yang gemar ngopi sambil menulis

Artikel Terkait

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
Puisi

Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya

17 May 2026

Bidikan Sangkar Baja Bidikan sangkar baja, Berlabuh di pura karang yang memilih terhempas. Dalam rayuan kau cengang yang berterbangan Bidikan...

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
Puisi

Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya

9 May 2026

Aku melihat ayah, di sana Aku melihat ayah pada setiap wanita yang terikat kakinya pada jalan-jalan mereka yang terjal dan...

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Comments 1

  1. Pingback: Penjual Susu dan Puisi Lainnya - Metafor.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Melepas Kasih dalam Balutan Sastra

Melepas Kasih dalam Balutan Sastra

23 October 2021
Gambar Artikel Puisi Solilukoi Seorang Koruptor

Solilokui Seorang Koruptor

31 January 2021
Gambar Artikel Tuntunan atau Tips Merayakan Valentine untuk Jomblo

Tuntunan Merayakan Bulan Asmara ala Jomblo

17 February 2021
Bukti Pemerintah Serius Menangani Pandemi Covid-19

Bukti Pemerintah Serius Menangani Pandemi Covid-19

9 August 2021
Gambar Artikel Gurun Pasir di Indonesia: Pesona Gumuk Pasir Oetune

Gurun Pasir di Indonesia: Pesona Gumuk Pasir Oetune

20 January 2021
Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

30 April 2021
Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025
Penjaring Ikan di Laut

Penjaring Ikan di Laut

2 April 2021
Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu

Merebut Kembali Kembang-Kembang Waktu dari Tuan Kelabu

24 August 2025
Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

Beberapa Adegan di Balik Pintu yang Tak Terkunci

7 February 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (229)
    • Cerpen (58)
    • Puisi (147)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.