• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Monday, 26 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Penjual Susu dan Puisi Lainnya

Lalu Azmil Azizul Muttaqin by Lalu Azmil Azizul Muttaqin
2 June 2024
in Metafor, Puisi
0
Penjual Susu dan Puisi Lainnya

Ilustrasi karya Dadu Shin - Nautilus "Spirituality without religion and the absence of self"(Sumber: behance.net)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Hikayat Junjungan Kita; Husain

ini seruan bergema di dinding padam
Terowongan Husain adalah sejarah peradaban
jin, manusia, malaikat, dan Tuhan.

ibarat buku tafsir yang berdarah
berpegang bulan pada merah.
tangis Ali kecil yang periang
pada kesedihan yang girang.

kematian ialah
degupan jantung yang tumbuh.

tukang obor Karbala bagai bayangan
manakah sekelebat mimpi pijar yang menenangkan.

seketika gamanmu terlempar ke dada udara,
tersimpan lalu melesat langit terbelah,
bertengger di laungan peziarah.

kini warna kematian menjadi manisan.
biar pasukan Yazid mencuri usia,
mereka tak bisa menangkap angin;

angin mengada kemudian melelapkanmu,
menyapa kemudian membaringkanmu.

 

Kairo, 20 Juni 2023

 

Baca juga: Puisi “Munajat dari Atas Kasur”

 

Penjual Susu

bulir matanya merindu.
pada tempat yang jauh.
jatuh.

ia dikoyak kenangan
pada perempuan-perempuan desa yang ramah.

perdu-perdu dan ilalang
tak ada, dan,
tak kan ada
di kota ini

ucapnya.
lirih

semua orang mendengar desis itu;
anak-anak yang mencoret dinding masjid
dan penjual bunga yang memakan semangkuk ful*
dan siapa pun yang melintas di gang sempit itu.

layani pelanggan dengan puisi,
nyatanya susu tidak membuat manusia di Harat* ini bahagia.
ataupun kenyang.

bahkan susu enggan menemanimu
menunggu waktu tadi menjadi saat ini.
puisi memutihkan tangkai ingatan
agar tetap perawan,

ucap tukang bunga
lirih 

puisi juga yang menenangkan
anak dan istri di rumah.
ia yang mengirimkan kabar
dengan kata-kata;
bahwa sebentar lagi sisa susu akan menua.

ucap siapapun yang melintas di gang sempit itu
lirih

 

Kairo, 22 Juni 2023

 

Baca juga: Puisi “Tabiat Arunika dan Kotak Pandora”

 

Kafe Karnak

Mahfuz beruban di kafe ini.
dan seperti bocah yang menggenggam mainan,
ia endus padang pasir panas.

kurasa ia salah menghidu bau,
kiranya bau itu menetap,
melainkan bagaikan
istri yang ditalak tiga.

seperti kesunyian doa yang dipercepat mimpi.
muncul bisikan dari cawan pelayan;
dari sanakah Mahfuz dapat khayalan.

atau dari kopi atau teh ‘arusah.
yang menguarkan aroma musafir kota;
yang singgah, yang berperang, yang berdansa.

 

Kairo, 22 Juni 2023

 

Baca juga: Puisi “Serat Badar Lunar”

 

Aku Tinggal di Hay Sayyidah dan Kau di Sayyidina Husain

−­­­­Dari lagu Mohammed Abdul Muttalib 

dari Sayyidana Husain.
merpati-merpati mendarat ke kelopak matamu
mecari sari jagung yang kau simpan
pada tetesan air mata dan reruntuhan

Hay Sayyidah adalah puisi.
berserakan di sana kata-kata dan pujian
pada ramai dinding tempat peribadatan
dan pada kau adalah sepi

berkat penyair tua itu.
akhirnya kau menemukan bahasa
“detak hati telah luruh, Kekasihku
pada kelembutanmu seluruh”

langkahmu di persimpangan.
antara Darb Ahmar dan Darb Syuglan
hening di kota yang sedang rebah
asap syisha membubung gairah

kini hilang gelisah larah;
ke kekasihmu kau serahkan
seluruh puisi lugu.
di Sayyidina Husain.

 

Kairo, 20 Mei 2024

_____________________

Catatan:
*Ful:
makanan khas Mesir yang dijadikan hidangan utama atau sarapan.
*Harat: lorong/gang

Tags: lalu azmil azizul muttaqinmetaforpuisisajaksastra
ShareTweetSendShare
Previous Post

Peringati Hari Buku Nasional, Forum Buku Berjalan Adakan Temu Buku di Wisdom Park UGM Yogyakarta

Next Post

Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

Lalu Azmil Azizul Muttaqin

Lalu Azmil Azizul Muttaqin

Lahir di Lombok Nusa Tenggara Barat. Sedang menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar, Kairo, jurusan Linguistik Umum. Menulis puisi dan cerpen di beberapa media online. Aktif di Komunitas Art Theis de Cairo dan Komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB). Instagram: @azmil.azizull

Artikel Terkait

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
Puisi

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya

13 October 2026

Kebiasaan Masa Kecil masa kecil tak ingin kubayangkan lagi, menyesak tak berpihak membuatku terus-menerus terpencil sebagai anak kecil --hanya sebagai...

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
Cerpen

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti

16 September 2026

Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan...

Tunggul
Cerpen

Tunggul

9 September 2026

Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai...

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambart Artikel : Analisis Puisi Goenawan Muhammad Saya Cemaskan Sepotong Lumpur

Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Saya Cemaskan Sepotong Lumpur”

23 April 2021
Gambar Artikel Kedalaman dan Sajak untuk Novel Baswedan

Kedalaman dan Sajak untuk Novel Baswedan

3 December 2020
Jumat Berkah dan Kelahiran

Jumat Berkah dan Kelahiran

18 March 2022
Jam Operasional Korona

Jam Operasional Korona

5 February 2021
Gambar Artikel Lirih Menangis

Lirih Menangis

17 January 2021
Sebelum Lelap

Sebelum Lelap

29 October 2021
Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra

Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra

30 September 2026

Temu Buku dan Sesi Bincang Editor di Yogyakarta

10 March 2024
Mengotak-atik Singkatan Merk Rokok

Mengotak-atik Singkatan Merk Rokok

5 March 2021
Gambar Artikel Syafaat Rasul Menurut Abu Mansur al-Maturidi

Syafaat Rasul Menurut Abu Mansur al-Maturidi

3 December 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (239)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (151)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.