• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 15 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

Narasi Alternatif dalam Memoar Iman Budhi Santosa

Via Ajeng by Via Ajeng
26 April 2025
in Metafor, Resensi
0
Kenangan, Bahasa, dan Pengetahuan

Sumber gambar: dok. pribadi penulis

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

 “Manungsa kuwi gampang lali, Le. Mula kowe kudu sregep nyatheti. Nyatheti opo wae kanggo pangeling-eling. Mbesuk yen simbah lan ibumu wis ora ana, cathetanmu kuwi bisa dadi gantine wong tuwa. Bisa dadi buku. Bisa ngandhani lan ngelingake sing lali…”

~Jejak Tapak, halaman 52~

/0/

Petuah sang kakek di halaman 52 adalah jantung dari denyut narasi buku Jejak Tapak dari Gunung ke Gunung. Sebuah pitutur yang menuntun seluruh fragmen dalam karya ini. Iman Budhi Santosa (IBS) tak mencatat demi mengingat. Ia mencatat karena mencintai. Mengerti bahwa suara-suara kecil akan menguap dan lenyap, tak sempat jadi sejarah.

Buku ini terbagi dalam tiga bentang waktu. Ia dibuka dengan kenangan masa kecil di Magetan, kaki Gunung Lawu—tanah lahir, tanah mula, tempat tubuh pertama-tama mengenal makna. Lalu bergerak ke Medini, lereng Prau dan Ungaran, saat IBS mulai bekerja, mulai membaca dunia sebagai sistem nilai yang menuntut keterlibatan. Dan akhirnya Boyolali, di bawah bayang Merbabu, tempat proyek Teh Rakyat menggambarkan pergeseran dari kesadaran personal menuju praksis sosial—dimensi yang menubuh dalam kerja, relasi, dan pengabdian.

Tulisan ini hendak membaca Jejak Tapak dari Gunung ke Gunung sebagai sebuah arsip kultural: dokumen hidup dari pengalaman yang tertanam dalam bahasa dan laku. Memoar ini, dalam kerendahannya yang jujur dan puitis, menawarkan narasi tandingan—terhadap sejarah resmi, pembangunan yang melupakan akar, serta modernitas yang terlalu tergesa.

Lewat fragmen-fragmen tentang wong cilik, tumbuhan, binatang, pengalaman ajaib, dan tindakan sehari-hari, IBS hendak menunjukkan bahwa hidup merupakan hubungan yang berakar pada bahasa ibu, tanah, dan kebijaksanaan lokal.

/1/
IBS menyusun kenangan sebagaimana ingatan bekerja, dengan lompatan-lompatan liar yang jujur, melintasi peristiwa melalui simpul emosi. Pengalaman menjadi lanskap rasa. Dan lanskap itulah yang ia gambar ulang—dengan bahasa yang cermat dan akrab.

Ketika IBS mengingat larangan sang kakek untuk tak bersampan di Telaga Sarangan, yang ia sebut hanya sekilas: bahwa larangan itu berakar dari kematian kakak ibunya di telaga yang sama. Tak ada narasi tragik, tak ada dramatik. Yang ada adalah rasa yang diwariskan, menjadi semacam etika diam-diam dalam hidup anak kecil: bahwa takut pun bisa diwariskan.

 “Jika selama ini saya agak takut naik sampan atau rakit, mungkin alasannya sederhana, karena sejak kecil tidak pernah naik sampan atau rakit. Sewaktu ke Telaga Pasir, Sarangan, selalu dilarang kakek bersampan karena kakak ibu ada yang meninggal di telaga tersebut.” (hlm. 11)

Ingatan itu, yang bisa saja dianggap remeh oleh pembaca yang terburu-buru, sebenarnya bentuk paling murni dari tradisi. Sebab dari hal-hal kecil—yang tak pernah dicatat dalam buku pelajaran—kita belajar bahwa pengetahuan tak selalu berbentuk teori, dan kebijaksanaan tak selalu perlu nama.

Begitu pula ketika IBS menyinggung tentang ulat matahari, bagaimana rasa gatal dan panas yang ditimbulkan bulunya bisa diobati hanya dengan menyentuhkan bagian tubuh yang terkena ke rambut nenek yang berminyak. Bukanlah sekadar anekdot masa kecil. Ia sejenis pengetahuan yang tak diajarkan, melainkan diwariskan. Ia tidak datang dari seminar atau buku teks, tetapi dari keakraban tubuh dengan tubuh, sebentuk embodied knowledge (pengetahuan pergaulan tubuh dalam tradisi lisan). Ia lahir dari kedekatan anak dengan orang tua, dari praktik hidup yang nyaris tak pernah dianggap penting—padahal dari sanalah hidup dilanjutkan.

“Sebab dari hal-hal kecil—yang tak pernah dicatat dalam buku pelajaran—kita belajar bahwa pengetahuan tak selalu berbentuk teori, dan kebijaksanaan tak selalu perlu nama.“

Nyatanya, kenangan sanggup menjadi cermin nilai, panduan diam yang membimbing—bagaimana hidup, dalam seluruh kerumitannya, sesungguhnya bisa dijalani dengan cara yang bersahaja.

/2/
Dalam Jejak Tapak dari Gunung ke Gunung, bahasa adalah realitas itu sendiri. Esai-memoar ini memperlihatkan dunia yang hanya mungkin hadir ketika ia dinyatakan dalam bahasa yang tepat. Dan dalam buku ini, bahasa yang tepat itu adalah bahasa ibu—bahasa Jawa yang tak dipaksa menjadi fasih secara universal, tapi dipelihara sebagai pengalaman itu sendiri.

Kita takkan menemukan terjemahan. IBS menghadirkan bahasa Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada kenyataan yang tak pernah lahir dalam bahasa Indonesia. Suatu sikap guna menjadikan bahasa sebagai tempat berlangsungnya kehidupan.

Kehadiran dialog dalam bahasa Jawa adalah upaya mengaktifkan kembali struktur budaya yang bekerja di bawah sadar kolektif. Bahasa, dalam hal ini, tak melayani kebutuhan pembaca luar. Ia mengundang pembaca untuk masuk. Sebentuk kedaulatan yang menegakkan batas: hanya mereka yang bersedia mendengar yang akan mampu memahami.

Menampilkan dialog dalam bentuk asli adalah cara IBS mempertahankan keberlakuan pengetahuan itu sendiri. Mengingatkan bahwa kebijaksanaan masih berlaku—asal dijalankan.

Esai-esai IBS tak sekadar hadir dengan dwibahasa secara teknis, melainkan dwiwacana secara struktural. Bahasa Indonesia menampung refleksi, sedang bahasa Jawa memuat akar. Yang satu menjadi ruang berpikir, yang lain menjadi fondasi eksistensial.

Dengan demikian, kita diajak menyimak dan berkontemplasi tentang bagaimana dan dari mana sesuatu dikatakan. Bahasa menjadi cermin yang memantulkan kembali siapa kita, dari mana kita berpikir, dan mengapa makna tak bisa dipisah dari tubuh sosial tempat bahasa itu tumbuh.

/3/

Wong cilik yang hadir dalam teks IBS tak dikisahkan untuk mengilustrasikan kelas sosial. Wong cilik adalah cermin dari laku. Dalam kerja-kerja seperti menggergaji pohon, juru kunci makam, memetik teh, pemandu gunung. Di rahim kerja-kerja itu tersimpan bentuk spiritualitas yang mendasar: kehadiran total pada yang kecil, kesetiaan, juga pengabdian. Mereka tak naik pangkat, tak memenangkan apa pun, tetapi justru itulah bentuk pendakian paling sunyi.

Dengan menuliskan mereka, IBS barangkali tengah menempatkan. Menempatkan spiritualitas dalam tubuh sehari-hari, menempatkan keheningan di tengah hiruk pikuk pembangunan, dan menempatkan hidup bukan sebagai proyek, melainkan sebagai jalan setapak yang harus dijalani—dengan sadar, dan tanpa pamrih.

/4/
Alam dalam memoar IBS dihadirkan sebagai cara berpikir. Ditautkan dan dirasakan sebagai struktur makna itu sendiri.

Ketika IBS menuliskan tentang pohon manggis yang tumbuh lambat, ia tak sedang memberi perumpamaan. Pohon itu sendirilah makna. Pertumbuhan yang lambat adalah pengetahuan. Dan alam telah sanggup mengajarkan perenungan akan waktu!

“Wong cilik adalah cermin dari laku. Dalam kerja-kerja seperti menggergaji pohon, juru kunci makam, memetik teh, pemandu gunung. Di rahim kerja-kerja itu tersimpan bentuk spiritualitas yang mendasar: kehadiran total pada yang kecil, kesetiaan, juga pengabdian.“

Demikian pula pada fragmen tentang nyamuk dan lalat yang mati. Di tangan penulis lain, barangkali hanya jadi anekdot ekologis. Namun, di tangan IBS, kematian serangga adalah peristiwa etik. Bahkan lebih jauh: peristiwa ontologis. Serangga yang mati masih diberi tempat dalam keberadaan. Bangkainya menjadi remah bagi semut, dan dalam rantai itu, kita diajak kembali berkontemplasi.

Alam sebagai subjek menyampaikan sesuatu melalui keterlibatan. Melalui tubuh dan kehadiran yang sabar. Dalam hal ini, memoar IBS tak hanya menantang posisi narasi sejarah arus utama, tetapi juga menantang sistem pengetahuan itu sendiri. Ia membisikkan bahwa pengetahuan tak harus dikristalkan dalam konsep. Ia bisa merembes dari batang pohon muja-muju, dari kematian seekor burung, atau dari menyaksikan bledheg celeng (petir celeng).

Di sinilah memoar ini menjadi arsip kultural—mengandung cara hidup. Ia menawarkan struktur kesadaran lain—kesadaran yang tak kategoris, tak hegemonik. Kesadaran yang tahu bahwa mendengar lebih penting daripada menerangkan. Mengamati lebih esensial daripada menghakimi.

/5/
Jejak Tapak dari Gunung ke Gunung, sebagai metodologi mengingat, telah menjadi lanskap; tempat kenangan dicatat dan dirawat sebagai pengetahuan. Dalam dwibahasanya—IBS mengizinkan kenyataan bicara dengan caranya sendiri. Makna yang terletak pada kesadaran kultural yang melingkupinya. Maka bahasa dalam hal ini telah menjaga ketakterjemahan sebagai hakikat hidup bersama.

Esai-esai IBS menawarkan kemungkinan bagi kita untuk merasakan kembali dunia yang ditinggal oleh nalar modern. Dan buku ini adalah latihan membaca kenyataan secara lebih lambat, lebih jujur.

Dalam mengingat, IBS sedang mencintai—dunia, bahasa, dan mereka yang berjalan sunyi-perlahan dalam kehidupan. Maka, kekuatan memoar ini terletak pada cara menghidupkan kesadaran pembaca untuk ikut mengingat. Dan dalam mengingat itu, kita belajar tentang diri kita sendiri—sosok yang barangkali selama ini hidup dalam ketergesaan.[]

Ngawi-Yogya, Maret 2025

Tags: bukuiman budhi santosamemoarresensi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Penjual Susu dan Puisi Lainnya

Next Post

Cosmic Hospitality dan Puisi Lainnya

Via Ajeng

Via Ajeng

Penulis tinggal di Yogyakarta. Bisa disapa lewat Instagram: viaajeng_27

Artikel Terkait

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
Cerpen

Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti

16 September 2026

Entah berapa malam lagi yang harus Tuba habiskan dengan bantal yang basah dan tisu di dekat tempat tidurnya. Di bulan...

Tunggul
Cerpen

Tunggul

9 September 2026

Pagi selalu datang bersama suara gergaji mesin di Kampung Bukit Agung. Sebelum matahari benar-benar muncul dari balik perbukitan, bunyi rantai...

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Cik Dian
Cerpen

Cik Dian

4 August 2026

Aziz Bogel, kawan lamaku di Surabaya, pernah berteori bahwa setiap perempuan bernama “Dian” pasti cantik. “Paling tidak dia pasti manis,”...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Game yang lagi viral tahun 2021. Higgs Domino. Chip. Spin. Game yang menghasilkan Uang

Game yang Lagi Viral di Tahun 2021

23 April 2021
Kiat Merawat Dendam ala Seneca

Kiat Merawat Dendam ala Seneca

3 November 2021
Gambar Artikel Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

Menghidupkan Tuhan yang Telah Mati

26 December 2020
Gambar Artikel Ketan Memang 'Keraketan'

Ketan Memang ‘Keraketan’

25 November 2020
Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

30 April 2023
Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026
Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

Emas di Piring Elite dan Jualan Masa Depan Cerah yang Selalu Nanti

26 September 2025
Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

30 April 2021
Gambar Artikel Ekspresi Seni, Ilustrasi dan Alih Wahana Karya

Ekspresi Seni, Ilustrasi dan Alih Wahana Karya

26 November 2020
Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

Dear Orang Tua: Tolong Jangan Perlakukan Anak Semena-mena!

9 April 2022
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.