• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 19 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Makanan dan Orang Jawa

M. Najibur Rohman by M. Najibur Rohman
4 February 2021
in Esai
0
Gambar Makanan dan Orang Jawa

Sumber gambar: http://500px.com/photo/131756991

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Bagi orang Jawa, makan tidak sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tetapi memaklumatkan cara pandang dan laku menghargai kehidupan. Saat “ritual” makan digelar, tata krama harus selalu dijaga. Misalnya, santun di meja makan, tidak berisik, perlahan namun tidak lambat dan berpantang untuk makan di sembarang tempat. Orang Jawa memperlakukan makanan sebagai anugerah. Makanan dijaga sebaik-baiknya sehingga orang jawa tabu untuk membuang-buangnya. Sebuah mitos tetapi sarat nasehat kerap kita dengar: yen mangan kudu dientekke mundhak pitike podho mati (kalau makan harus dihabiskan, kalau tidak ayamnya mati). Juga mitos yang lain: ora ilok yen mangan neng ngarep lawang mundhak angel jodhone (tidak baik kalau makan di depan pintu, nanti sulit mendapatkan jodoh).

Apa yang ada di balik mitos ini sesungguhnya adalah jalan orang jawa untuk menghargai makanan. Dengan menghargai makanan, maka secara tidak langsung penghargaan terhadap hal-hal lain muncul. Tanah, dimana tetumbuhan ditanam, perlu dirawat. Tanah memberikan kehidupan, makanan. Air, darimana makanan memperoleh asupan, merupakan entitas penting yang perlu dijaga. Hutan, sungai, dan sebagainya tak boleh mengalami kerusakan. Secara lebih luas dapat diartikan bahwa manusia perlu menjaga bumi seisinya, bahkan alam semesta. Hal itu tidak lain karena manusia dan alam memiliki ikatan timbal balik, saling terikat satu sama lain.

Sudah umum pada masyarakat bahwa laku spiritual juga diwedarkan melalui makanan. Wujud rasa syukur atas karunia Tuhan dengan panen yang melimpah dimanifestasikan dengan acara sedekah bumi. Ketika hasil laut melimpah masyarakat menggelar sedekah laut, atau “perayaan-perayaan” lain serupa itu. Semuanya dilakukan dalam kerangka menghargai makanan, dan rentetan sumbernya, yang telah diberikan bagi kehidupan. Pada intinya orang Jawa tidak hendak menjadi manusia yang mengingkari nikmat.

Meski demikian, sebagai sesuatu yang dicari dan mengenyangkan, tidak lantas makanan diagung-agungkan. Ada batasan-batasan di sana. Sebab itu kita menjadi mafhum bahwa filosofi Jawa mengundangkan agar manusia tidak menjadi tamak, baik secara faktual maupun metaforis. Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (2008: 64) pernah memberikan kesaksian begini: “meskipun sumber alamnya melimpah, orang Jawa tampaknya berhati-hati dalam hal makanan, mereka tidak suka makan banyak. Makan enak berarti makan dengan lahap, demikian istilah mereka, dan mereka merasa puas dengan hidup secukupnya.”

Demikian pula makanan juga menjadi metafora bagi orang Jawa dalam hubungannya dengan kekuasaan. Lagu Gundul-Gundul Pacul yang populer itu menisbatkan setiap pemimpin agar tidak gembelengan atau sombong saat nyunggi wakul (diberi amanah untuk memimpin banyak orang). Karena wakul, wadah bagi makanan itu, dengan sendirinya mencerminkan pusat bagi kebutuhan makan banyak orang.

Sehingga jika “wakul ngglimpang”, maka “segane dadi sak ratan”. Saat orang yang dijadikan pemimpin tidak lagi dapat dipercaya, maka kedudukannya tidak membawa manfaat, tidak memberikan kesejahteraan. Dengan kata lain, pemimpin yang nyunggi wakul (menanggung kesejahteraan banyak orang) perlu berhati-hati atau memegang teguh amanah agar tidak jatuh (ngglimpang).  “Sega”, dalam arti makanan maupun kekuasaan, merupakan titipan yang patut dijaga, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Dalam konteks yang lebih luas, makanan bisa dikaitkan secara simbolis bagi kebesaran sebuah bangsa. Bangsa yang besar berarti bangsa yang mampu menyediakan makanan bagi rakyatnya, yang berarti tercapainya kesejahteraan. Di sisi lain bangsa yang besar juga bangsa yang mampu menghargai makanannya sendiri. Sebagaimana pernah dikisahkan Cindy Adams (2014), suatu kali Bung Karno pernah geram pada orang-orang di sekelilingnya karena menganggap makanan Indonesia kurang pantas dihidangkan kepada orang-orang Eropa yang menjadi tamunya.

Bung Karno menolak anggapan dan rasa rendah diri itu. Dengan nada marah ia berujar, “kita mempunyai penganan yang enak-enak”. Di sini, Bung Karno agaknya ingin menampilkan makanan sebagai simbol nasionalisme yang gagah. Sebuah bangsa tidak mungkin dihormati bangsa lain tanpa menghormati dirinya sendiri.

Demikianlah bahwa makanan bisa dinikmati dan dimaknai melalui banyak hal. Apapun kondisinya, apalagi di masa pandemi seperti saat ini, makanan atau pangan atau lebih luas adalah kebutuhan, menjadi sesuatu yang perlu dikelola dengan bijak, baik dalam konteks diri sendiri maupun masyarakat, bangsa dan negara. Terimakasih. Wallahu a’lam.[]

 

Referensi:

Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Jakarta: Yayasan Bung Karno dan PT Media Pressindo, cet. ke-3, edisi revisi, 2014.

Thomas Stamford Raffles, The History of Java, Yogyakarta: Narasi, 2008.

Tags: esaikearifankebudayaanmakanan dan orang jawamitosopinisejarahteladan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Promothean

Next Post

Sertifikat Hak Milik

M. Najibur Rohman

M. Najibur Rohman

Tinggal di Semarang. Sesekali menulis dan bekerja di UIN Walisongo Semarang. Boleh ditegur di Instagram @beraskawak

Artikel Terkait

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
Esai

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026

Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah...

Melawan Tirani Kebahagiaan
Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini...

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
Esai

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

12 February 2026

Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2025 dari murid-murid kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan sederajat dikatakan rendah,...

Memanusiakan Teknologi
Esai

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Ayat-ayat Alam Raya

Ayat-ayat Alam Raya

19 June 2021
Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

Cinta yang Tidak Pernah Mandi dan Puisi Lainnya

7 September 2025

Calon Kepala Desa

5 March 2024
Gambar Artikel Puisi untuk Ibu : Mamak dan Kudapan Hina

Mamak dan Kudapan Hina

1 December 2020
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

13 March 2022
Hartojo Andangdjaja: Menulis Puisi dengan Bahasa yang Jernih

Hartojo Andangdjaja: Menulis Puisi dengan Bahasa yang Jernih

11 October 2021
Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

3 April 2026
Kebanyakan Fafifu

Kebanyakan Fafifu

3 May 2021
Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

Anosmia Bukan Insomnia, Apalagi Amsenia

18 February 2021
Novel “Heaven”: Perundungan dan Pergulatan Hidup Penyintas

Novel “Heaven”: Perundungan dan Pergulatan Hidup Penyintas

28 March 2024
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.