• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Wednesday, 14 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Pendidikan, Multiple Intelligences dan Persoalan Era Digital

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
25 June 2021
in Esai
0
Pendidikan, Multiple Intelligences dan Persoalan Era Digital

https://www.behance.net/gallery/97691685/Coronavirus

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Sastrawan asal Kalkota, India, Rabindranath Tagore pernah mengungkapkan, “the highest education is that which does not merely give us information but makes our life in harmony with all existence.” Uraian tersebut memiliki anasir yang senada dengan pengertian Ki Hajar Dewantara. Pendidikan berposisi sebagai instrumen meningkatkan kualitas individu—melingkupi multiaspek dari budi pekerti, pikiran dan jasmani—supaya mampu menuju kesempurnaan hidup agar selaras dengan alam dan masyarakat. Sementara dalam khazanah intelektual Muslim, pendidikan dikenal mengandung tiga komposisi interdependen: tarbiyah (pengembangan dan pengayoman), ta’lim (pembelajaran), dan ta’dib (pemberadaban secara komprehensif dan berada dalam spektrum yang lebih luas).

Namun agaknya realitas pendidikan masyarakat modern saat ini justru menjauh dari keharmonisan yang dimaksud. Semenjak masuknya arus globalisasi, perkembangan pesat teknologi informasi tidak terhindarkan sehingga mencapai peradaban digital. Ini dapat ditengarai bahwa di samping efek positif, terdapat pula tiga gaya hidup yang berkembang dalam diri manusia modern: pola hidup materialistis, kecenderungan hedonistik, dan budaya kecepatan. Konsekuensi yang dikenyam adalah gelombang persaingan hidup yang ketat, hilangnya ritme hidup yang perlahan (untuk menikmati dan menghirup atmosfer proses), dan karena itu manusia rentan dilanda stress—apalagi ditambah masa pandemi Covid-19 begini.

Sedangkan geliat era digital di mana manusia yang mulanya berposisi sebagai subjek pengguna peranti teknologi, kini secara ironis justru beralih menjadi objek teknologi itu sendiri. Manusia yang pada mulanya menjadwal kegiatan keseharian, sekarang bergeser menjadi objek yang dijadwal oleh gawai, umpamanya. Berpijak dari fenomena itu, maka akan wajar belaka saat menemukan diskursus Erich Fromm dalam The Art of Loving yang jauh-jauh hari sudah mewejang bahwa manusia abad modern kelak akan mengalami ketidakstabilan jiwa. Hal itu merupakan resultan dari rasa teralienasi (terasing) manusia oleh cara berpikir industrial—dengan cara kerja yang harus serba-efisien, teratur, predictable, dan mekanis. Serangkum gejala yang oleh Ritzer disebut sebagai dampak dari McDonaldisasi.

Pola yang mirip itu, tragisnya, selama ini malah diberlangsungkan secara lestari dan cukup prominen dalam dunia pendidikan modern. Manusia selaku individu yang utuh (holistic) dengan pusparagam dimensinya, dalam dunia pendidikan formal masa kini sering kali merasa tertekan oleh usaha penyeragaman dan penyamarataan. Para peserta didik dituntut agar serba-efisien, mekanis, dan teratur dalam cara pandang yang parsial.

Kecerdasan sains matematis masih menjadi idola di kalangan pendidik dan orang tua. Sedang kecerdasan lainnya, seperti sosial dan musikal, seakan dianak-tirikan dalam dunia pendidikan formal dan belum diberi ruang eksploratif secara luas. Padahal upaya ini penting agar setiap individu berkesempatan menggali potensi uniknya sesuai kecenderungan masing-masing.

Maka muncul paradigma multiple intelligences (MI) dari Howard Gardner. Sebagai antitesis dari ‘monopoli’ dan dominasi paradigma IQ, kecerdasan majemuk menawarkan cara pandang berbeda dalam menyikapi setiap potensi individu manusia—terutama peserta didik—yang variatif. Terdapat setidaknya sembilan macam kecerdasan dalam paradigma kecerdasan majemuk, yaitu: matematika, linguistik, spasial, musikal, naturalistik, kinestetik, intrapersonal, interpersonal, dan eksistensial. Di samping mencermati distingsi individual dalam ihwal potensi, paradigma kecerdasan majemuk juga menaruh perhatian kepada tipe kepandaian secara integratif. Selain peran intelektual (IQ), dalam diri individu juga menyimpan anasir emosional (EQ) dan spiritual (SQ) yang ketiganya tidak terpisahkan dan memiliki relasi mutual yang komplementer.

Cara pandang multiple intelligences, dengan demikian, menjadi krusial agar semakin diimplementasikan dalam peta pendidikan secara luas dan sistemik. Kelengkapan multipotensi manusia dalam mencapai tujuan utama pendidikan akan menjadi kurang maksimal apabila atmosfer dan lingkungan pendidikan tidak mendukung kesemua potensi tersebut. Sebuah suguhan yang tidak berlebihan apabila kecerdasan majemuk perlu mendapat sorotan lebih—dan tentunya diambil-terapkan—secara bertahap, komprehensif, untuk kemudian sustainable dan tetap berorientasi pada kebermanfaatan sosial.[]

Tags: era digitalKi Hajar Dewantaramultiple intelligencespendidikanRabindranath Tagore
ShareTweetSendShare
Previous Post

Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

Next Post

Abbas Ibn Firnas: ‘Manusia Terbang’ Pertama dari Andalusia

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
Esai

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya

4 October 2026

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menganalisis karya dari Kho Ping Hoo karena saya menyadari keterbatasan kapasitas diri yang belum...

Matinya Ratu Adil?
Esai

Matinya Ratu Adil?

1 September 2026

Di Indonesia, ada kisah kepercayaan bahwa ketika keadaan dunia sedang dilanda kekacauan, akan muncul seorang penyelamat yang sering disebut Ratu...

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
Esai

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026

Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah...

Melawan Tirani Kebahagiaan
Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Gambar Artikel Senyuman Malaikat Maut

Senyuman Malaikat Maut

20 December 2020
Gambar Artikel Bulan yang Lahir dari Penderitaan

Bulan yang Lahir dari Penderitaan

30 December 2020
Gambar Artikel Puisi Aku Telah Bermimpi

Aku (Telah) Bermimpi

26 January 2021
Gambar Artikel Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

Tabiat Arunika dan Kotak Pandora

24 November 2020
Bersetubuh dengan Kata

Bersetubuh dengan Kata

24 March 2021
Gambar Artikel Puisi Tentang Nenek, Buku Buku Ompong dan Lainnya

Buku-buku Ompong

27 January 2021
Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

31 May 2026
Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

Menyuarakan Mereka yang Terbungkam

18 April 2022
Minyak Goreng: Objek Doktrin Ekonomi Politik Klasik “Laissez-faire”

Minyak Goreng: Objek Doktrin Ekonomi Politik Klasik “Laissez-faire”

16 April 2022
Gambar Artikel Puisi Tentang Kopi - Setabah Kopi

Setabah Kopi

24 December 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.