• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Sunday, 19 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Resensi

Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

Resensi Buku "Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam"

Alifatul Lusiana U. C. by Alifatul Lusiana U. C.
23 June 2021
in Resensi
0
Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

dok. penulis

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Untuk menebus sebuah kemerdekaan perempuan, ada harga mahal yang harus dibayar. Demikianlah sekutip kalimat yang muncul di benak saya pasca membaca karya yang begitu memukai karya Dian Purnomo berjudul “Perempuan Yang Merindukan Bulan Hitam”. Buku ini menceritakan sebuah perjuangan seorang wanita membebaskan diri dari budaya setempat yang cenderung merugikan wanita. Ironisnya, budaya ini masih mengakar kuat.

Buku ini menceritakan seorang wanita bernama Magie Diella, seorang perempuan Sumba yang telah menamatkan pendidikan dari universitas ternama di Jawa Tengah. Karirnya baru saja dimulai saat sebuah tragedi mencengangkan yang menjadikan novel bertebal 312 halaman ini tercipta.

Sebuah adat yang masih kental di masyarakatnya hingga kini, yaitu mewajarkan penculikan perempuan dalam sebuah proses perjodohan keluarga lantaran harga pernikahan yang tak kunjung mencapai kata sepakat. Ya, inilah kejadian yang menimpa Magie Diella di tengah zaman yang sudah serba modern. Adat ini disebut “kawin tangkap”.

Cerita berawal pada suatu hari di sebuah perjalanan menuju lokasi pekerjaan sebuah penculikan oleh segerombol laki-laki asing menimpa diri Magie dengan perlakuan kasar dan penuh ancaman. Penculikannya berakhir di suatu rumah lelaki yang jauh lebih tua dan berkuasa di kampungnya, dalam keadaan tak sadar karena kaget ia dibawa masuk ke dalam sebuah kamar.

Kemarahan mendidih dirasakan oleh Magie saat terbangun dari pingsannya dan menyadari tubuh bagian bawahnya tidak tertutupi pakaian. Kemarahannya sungguh menyesakkan; kepada semua orang. Tidak ada satu halpun yang bisa ia lakukan karena semua masyarakat mewajarkan adat ini. Magie merasa terpukul kala mendengar orang tuanya akhirnya menyepakati pernikahannya dengan lelaki tua itu.

Berbekal emosi dan kemarahan, di malam hari ia nekat bunuh diri dengan menggigit pergelangan tangannya lantaran tidak menemukan benda tajam di sekitarnya. Beruntung (atau celakanya?), Magie ditemukan tepat waktu dan bisa diselamatkan. Dian Purnomo secara kompleks dan detail menceritakan tekanan yang dialami Magie. Pasalnya, sepulang dari rumah sakit pasca percobaan bunuh diri, pernikahan hanya diundur. Bukan dibatalkan.

Magie merasa bahkan keluarganya lebih memilih harga diri suku dan budaya dibandingkan rasa kemanusiaan. Baginya, mereka tuli terhadap penderitaan diri Magie yang merasa telah dilukai. Magie akhirnya mencari organisasi perlindungan perempuan. Berbekal dukungan para aktivis perempuan yang hanya ia kenal nama, Magie memutuskan melawan orang tua, keluarga dan adatnya. Ia kabur dari rumah hingga berbulan lamanya.

Karya ini pada akhirnya menceritakan kegigihan seorang Magie dan tekadnya melindungi dirinya sendiri sebagai seorang perempuan. Sekian lamanya Magie pergi dari rumah. Begitu tiba merasa aman, ia pulang ke rumah. Magie mendapati Ama Bobo (panggilan untuk ayahnya) sakit keras. Sungguh kepala batu, Ama Bobonya meminta Magie menikah dengan lelaki tua itu lagi dengan dalih permintaan sebelum mati karena sakit.

Dengan segala kekuatan, Magie melawan dengan cara yang lebih cerdas kali ini, namun juga lebih menyiksa batinnya. Perjuangannya bukan hanya melawan seorang lelaki tua, tapi juga lelaki itu sangat berkuasa dan memiliki banyak koneksi di berbagai jalur para pejabat hukum. Banyak yang menyarankan Magie berhenti melawan karena hanya orang yang tak waras yang mampu melawan lelaki itu.

Tidak menyerah dan melawan ambang batas waras, Magie melawan melalui berbagai jalur dan cara–bahkan hingga membahayakan hidupnya. Namun pada akhirnya usahanya berbuah hasil. Usaha Magie terakhir kalinya mempertaruhkan banyak hal dan itu tidak sia-sia. Ada harga mahal yang ditebusnya, tidak hanya untuk dirinya, Magie juga menunjukkan kepada wanita di sekitarnya agar berani bersuara saat diinjak dan suara mereka dibungkam.

Magie bahkan harus menerima cemoohan lantaran mengingkari dan melawan adatnya. Ia disebut-sebut sebagai wanita yang lupa adat dan lupa kebaya. Seperti apakah perjuangan Magie yang pada akhirnya membuahkan hasil? Karya ini sungguh menguras emosi dan memberikan ruang hampa tersendiri di hati pembaca. Dian Purnomo bahkan banyak menggunakan panggilan dan istilah sesuai dengan budaya setempat hingga pembaca mampu merasakan desir emosional dan suasana setempat dalam kejadian ini.

Novel ini memiliki banyak pesan bahwa ada adat dan kebudayaan kita yang perlu dijaga dan ada yang perlu diperbaiki. Apalagi jika budaya tersebut tidak memperlakukan manusia layaknya manusia, atau merugikan suatu pihak. Pesan lainnya adalah karya ini meyadarkan kita bahwa kejadian merendahkan perempuan itu nyata dan masih terjadi di bumi ini. Tidak terelakkan, perempuan harus belajar. Setidaknya perempuan harus berani bersuara demi menciptakan dunia yang lebih aman dan nyaman huni–untuk semua manusia, laki-laki maupun perempuan, yang berkuasa maupun yang biasa.[]

Identitas Buku

Judul Buku      : Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam
Penulis            : Dian Purnomo
Tebal               : 312 halaman
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2020

Tags: adatbukukuasaperempuanperjuanganresensiSumba
ShareTweetSendShare
Previous Post

Jika Pulang Selalu Tentang Pergi

Next Post

Pendidikan, Multiple Intelligences dan Persoalan Era Digital

Alifatul Lusiana U. C.

Alifatul Lusiana U. C.

Asal dari Bojonegoro dan tertarik kepada dunia kepenulisan. Dapat disapa lewat Instagram @aliflusiana.

Artikel Terkait

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
Resensi

Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi

31 May 2026

Manusia, sebagai wujud paling aktual dari proses evolusi Homo sapiens, menjadi makhluk unggul di bumi era ini bukan karena ia...

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
Resensi

Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara

3 April 2026

Memasuki tahun 2026 ini, kita sebagai bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan pelik. Lebih seperempat abad usia reformasi belum mampu...

Membaca Rute Evolusi Otak Kita
Resensi

Membaca Rute Evolusi Otak Kita

4 March 2026

Proses perkembangan otak dalam menghadapi adaptasi dari seleksi alam yang cukup kompleks satu per satu dapat dijelaskan oleh sains. Organ...

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
Resensi

Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara

11 January 2026

Membaca Tango dan Sadimin (2019) karya Ramayda Akmal seperti menjelajah dari satu masalah ke masalah lainnya yang terserak dan tersebar...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Resolusi Parmin

Resolusi Parmin

6 February 2021
Gambar Artikel Game yang lagi viral tahun 2021. Higgs Domino. Chip. Spin. Game yang menghasilkan Uang

Game yang Lagi Viral di Tahun 2021

23 April 2021
Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

Film “Like & Share”, Ketidaksengajaan dan Trauma Kekerasan Seksual

8 May 2023
Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

Pulau Bajak Laut, Topi Jerami, dan Gen Z Madagaskar

21 October 2025
Menguak Kebodohanmu Melalui Rekomendasi Netflix-ku

Menguak Kebodohanmu Melalui Rekomendasi Netflix-ku

29 March 2023
Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

23 June 2021
Gambar Makanan dan Orang Jawa

Makanan dan Orang Jawa

4 February 2021
Gambart Artikel : Analisis Puisi Goenawan Muhammad Saya Cemaskan Sepotong Lumpur

Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Saya Cemaskan Sepotong Lumpur”

23 April 2021
Gambar Artikel Pendidikan Virtual : Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

Pendidikan Virtual: Belajar Mandiri di Tengah Pandemi

20 November 2020
Korelasi Pandangan Ilmu Kalam dan Kiri Islam Hassan Hanafi

Korelasi Pandangan Ilmu Kalam dan Kiri Islam Hassan Hanafi

21 June 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.