• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 09 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Abdul Rauf Ode Ishak by Abdul Rauf Ode Ishak
13 March 2022
in Esai
0
Makassar dalam Arus Niaga Internasional

Sumber gambar: https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Eksistensi Jalur Rempah Nusantara

Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, dialektika pembahasan jalur rempah menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Dimulai dari pameran di Museum Nasional di Jakarta (18-25 Oktober 2015) dengan tajuk “Jalur Rempah: The Untold Story”, merambah pada kegiatan “Ekspedisi Jalur Rempah 2018: Sejarah Jalur Rempah dan Kekayaan Hayati Kie Raha” oleh Kemendikbud (28 September-10 Oktober 2018); hingga pelaksanaan Muhibah Budaya Jalur Rempah oleh Kemendikbud-Ristek yang akan dilaksanakan pada 17 Agustus-28 Oktober 2021 silam. Kegiatan tersebut menunjukkan bukti adanya semangat penelusuran perjalanan rempah yang menjadi bagian dari sejarah panjang dan memori kolektif masyarakat Indonesia (Rahman, 2019; 348).

Konsistensi pembahasan jalur rempah sebagai isu akademis menyajikan logika penalaran yang utuh tentang pentingnya pengetahuan terkait ekonomi rempah dan jalur niaga masa lampau (Ririmasse, 2017; 49). Jalur rempah adalah istilah untuk jaringan niaga yang menghubungkan belahan barat dan timur dunia. Jalur ini membentang dari pantai barat Kepulauan Jepang, melintasi Kepuluan Indonesia, melewati India hingga daratan Timur Tengah dan berlanjut ke kawasan Mediterania menuju Eropa. Jalur ini memiliki jarak bentang sekitar 15.000 km (en.unesco).

Diskusi akademis yang kerap muncul ketika membahas tentang jalur rempah adalah gagasan bahwa tumbuh kembangnya jaringan niaga di Nusantara memiliki simpul yang lururs dengan kedatanga para mufasir dari Asia Barat, penjelajah Tiongkok dan pengelana dari Eropa (Ririmasse, 2017; 47). Terletak pada titik persilangan yang strategis, Nusantara, selain dijadikan sebagai daerah transit bagi komoditi dari wilayah timur dan barat, juga merupakan daerah berkumpulnya para pedagang mancanegara (Syafiera, 2016; 722).

Sejak awal, beberapa tempat di Nusantara dikenal sebagai kawasan penghasil komoditi rempah langka. Sumatra dan Jawa menjadi rumah bagi produk kapur barus dan lada. Kepulauan Nusa Tenggara menjadi pulau-pulau penghasil kayu harum cendana. Wilayah Aru menjadi tempat komoditi langka mutiara dan bulu burung cendrawasi. Serta primadona rempah-rempah abad 16-18 M, Ternate dan Tidore  menjadi habitat paling ramah untuk cengkeh dan pala (Ririmasse, 2017; 49).

Sumber: jernih.co

Untuk menghubungkan jalur niaga Nusantara, pelabuhan Malaka tampil sebagai aktor utama lalu-lintas perdagangan dan pelayaran abad ke-15 M. Pada akhir abad itu, ratusan pedagang dari Arab, Persia, India, dan China berbodong menuju Malaka untuk melakukan aktivitas perdagangan. Hal ini memicu geliat di antara orang Eropa. Hingga akhirnya pada tahun 1511, Malaka jatuh ke tangan Portugis (Syafiera, 2016; 722). Kejatuhan pelabuhan niaga ini mengakibatkan lahirnya pelabuhan-pelabuhan baru yang mengambil peran penting sebagai penghubung niaga di Nusantara. Salah satunya yaitu pelabuhan Makassar. Sebagai rumah bagi kapal-kapal intornasional, kota maritim ini menjadi titik tolak niaga rempah di Indonesia bagian timur.

 

Makassar dalam Arus Niaga Internasional Abad ke-17 sampai Abad ke-20

Pada awal abad ke-16, perdagangan di Nusantara lebih terfokus pada wilayah bagian barat dengan pelabuhan Malaka sebagai pusat perdagangan rempah. Interaksi perdagangan yang terjadi di wilayah Sulawesi hanya sebatas perdagangan barang dagang hasil sendiri seperti hasil pertanian, perikanan, dan pertambangan (Syafiera, 2016; 729). Baru sekitar pertangahan abad ke-16 hingga awal abad ke-17, Sulawesi mulai melibatkan diri dalam perdagangan rempah skala global terutama setelah jatuhnya Malaka di tangan Portugis pada 1511. Salah satu pelabuhan yang ramai dikunjungi di daerah Sulawesi yaitu pelabuhan Makassar di Sulawesi Selatan.

Makassar, dalam arus perkembangan perdagangan abad ke-17, perlahan menapaki posisi sebagai kota pelabuhan Internasional dan menjadi pusat perdagangan untuk wilayah Indonesia bagian timur (Nur, Dkk., 2016; 617). Pada paroh pertama abad-17, Makassar dianggap sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur dan menjadi titik temu antar dunia niaga bagian timur (Maluku dan Irina Jaya), barat (Kalimantan, Malaka, Sumatera, Jawa, Asia Selatan dan Eropa), utara (Philipina, Jepang dan China) dan selatan (Nusa Tenggara dan Australia) (Nur, Dkk., 2016; 617).

Pada kurun waktu itu pula, Makassar berhasil memegang supremasi perdagangan sesudah Jawa Timur dan berperan sebagai tempat berkumpul barang-barang dagang terutama rempah-rempah dari Maluku yang kemudian dikirim ke barat melalui pedagang-pedangan melayu yang berpusat di Malaka (Rasjid & Gunawan, 2000; 52).

ilustrasi pelabuhan Makassar di masa silam (https://daerah.sindonews.com/)

Komoditi utama dari perdagangan di Makassar adalah rempah-rempah, beras, jagung, kopi, kopra, kain tenun dan budak, serta kayu cendana dari Timor dan Solor (Nur, Dkk., 2016; 617). Perdagangan dikuasai sepenuhnya oleh raja dan kaum bangsawan dari Kerajaan Gowa (Makassar). Aktivitas perdagangan itulah yang menjadi faktor utama bagi Raja Gowa dalam mengadakan ekspansi sampai ke Buton, Selayar, Seram, Buru, Timor, Bima dan Flores dengan tujuan agar daerah taklukkan itu bisa dimonopoli barang dagangannya. Dengan cara itu, bandar Sombaopu di Makassar dapat melayani permintaan para saudagar asing, sehingga pelabuhan Makassar akan berkembang dengan semakin banyaknya para pedagang dan kapal-kapal yang berlabuh pada pelabuhan itu (Nur, Dkk., 2016; 618).

Kemajuan Makassar dan bandar Sombaopu dalam bidang perdagangan ini menarik perhatian para tetinggi Verenigde Oost-Indische Compagni (VOC) yang berlangsung hingga Pemerintah Hindia Belanda untuk menguasainya. Langkah pertama yang mereka ambil adalah melarang pedagang Bugis-Makassar untuk berdagang di Maluku. Namun, perintah ini tidak dilaksanakan.

Hingga akhirnya pada abad ke-19 dan 20, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk melakukan penaklukkan. Dimulai dengan Kerajaan Bone yang berhasil ditaklukkan, menyusul kerajaan-kerajaan lainnya termasuk Kerajaan Gowa. Sejak tanggal 30 Juli 1905, Pemerintah Hindia Belanda berhasil menguasai Sulawesi Selatan secara keseluruhan. Setelah kekalahan kerajaan Gowa, Belanda kemudian mengambil alih perdagangan. Penaklukkan Kerajaan Gowa juga mengakibatkan terjadinya pengusiran besar-besaran keluar dari Makassar.

_________________________________

Sumber Bacaan:

http://en.unesco.org/silkroad/

Nur, Nahdia, dkk. “Perdagangan dan Ekonomi di Sulawesi Selatan pada Tahun 1900-an Sampai Dengan 1930-an”. Jurnal Ilmu Budaya. Vol. 4. No. 1. Juni 2016. Halaman 617-712.

Rahman, Fadly. “Negeri Rempah-Rempah: dari Masa Bersemi hingga Gugurnya Kejayaan Rempah-Rempah”. Jurnal Patanjala. Vol. 11. No. 3. September 2019. Halaman 347-362.

Rasjid, Abdul & Gunawan, Restu. 2000. Makassar sebagai Kota Maritim. Jakarta: CV. Putra Prima.

Ririmasse, Marlon NR. “Sebelum Jalur Rempah: Awal interaksi Niaga Lintas Batas di Maluku dalam Perspektif Arkeologi”. Jurnal Kapata Arkeologi. Vol. 13. No. 1. Juli 2017. Halaman 47-554.

Syafiera, Aisyah. “Perdagangan di Nusantara Abad ke-16”. Antara: e-Journal Pendidikan Sejarah. Vol. 4. No. 3. Oktober 2016. Halaman 721-735.

Tags: esaihindia belandahubungan internasionalIndonesiajalur rempahkerajaan gowaMakassarniaganusantaraperdagangansejarah
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pengakuan

Next Post

Nyala Lilin dan Puisi Lainnya

Abdul Rauf Ode Ishak

Abdul Rauf Ode Ishak

Lahir di Desa Pure, Sulawesi Tenggara 23 tahun lalu. Seorang fresh graduate yang baru menamatkan studi “Sejarah dan Kebudayaan Islam” di salah satu kampus di Yogyakarta. Ia menekuni kegiatan tulis menulis sejak tahun 2017. Tulisan-tulisannya mengantarkan ia menjadi penerima dana hibah penelitian kompetitif yang diselenggarakan oleh LPPM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2019), menjadi juara 2 lomba menulis esai tingkat Nasional (2019), menempati juara harapan 2 lomba proposal penelitian pendidikan tingkat Nasional (2019), dan menjadi salah satu dari dua puluh penulis terpilih lomba Inkubator Literasi oleh Prepusnas Press (2021). Mari saling terhubung melalui instagram: @alfath.haris.

Artikel Terkait

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
Esai

100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya

4 October 2026

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menganalisis karya dari Kho Ping Hoo karena saya menyadari keterbatasan kapasitas diri yang belum...

Matinya Ratu Adil?
Esai

Matinya Ratu Adil?

1 September 2026

Di Indonesia, ada kisah kepercayaan bahwa ketika keadaan dunia sedang dilanda kekacauan, akan muncul seorang penyelamat yang sering disebut Ratu...

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
Esai

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026

Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah...

Melawan Tirani Kebahagiaan
Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pasir Pantai

Pasir Pantai

16 May 2021
Anak-anak Afrika Sedang Makan di Warung Tegal

Anak-anak Afrika Sedang Makan di Warung Tegal

18 February 2024
Gambar Artikel Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

Filsuf yang Curhat dan Nasehat Seorang Jomblo

11 January 2021
Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

Maraknya Perundungan Tanda Rendahnya Budaya Literasi

17 March 2024
Belajar Mengitari Israel

Belajar Mengitari Israel

19 April 2023
Public Speaking Bukan Hanya Keterampilan Orang Terpelajar

Public Speaking Bukan Hanya Keterampilan Orang Terpelajar

4 April 2023
Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

Kiat Marah yang Payah dan Puisi Lainnya

22 June 2025
Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

Ada Nafas Sahara di Hutan Amazon

30 April 2023
Gambar Artikel Berguru pada Sherlock Holmes

Berguru pada Sherlock Holmes

8 December 2020
Pakai Tangan Kiri Itu Tidak Selalu Buruk

Pakai Tangan Kiri Itu Tidak Selalu Buruk

6 December 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss
  • Tunggul

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (238)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (150)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.