• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Thursday, 16 July 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Kolom Esai

Islam Emang Boleh Lucu?

Niko Sulpriyono by Niko Sulpriyono
28 February 2021
in Esai
0
Islam Emang Boleh Lucu?

https://unsplash.com/photos/0s9ai7vatFg

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Polemik keislaman pada masa modern menjadi suatu hal yang sangat berpengaruh pada perkembangan masyarakat Islam itu sendiri. Banyak persoalan Islam yang menjadikan masyarakat menjadi lebih memahami Islam secara keseluruhan dan bersikap toleran terhadap masalah yang sering dihadapi. Namun ada permasalahan, yang sebenarnya bersifat, ‘sepele’ menjadi sukar dipahami. Mengapa demikian? Karena persepsinya sendirilah yang mempersulit dalam memahami isinya.

Sehingga masyarakat awam menjadi bingung akan kebenaran yang dijadikan landasan mereka untuk mengambil suatu keputusan yang benar dalam bersikap bijak terhadap masalah ini. Seperti muncul pertanyaan mengenai apakah Islam boleh lucu? Hal tersebut menjadi suatu hal yang menarik karena sebagian kalangan mengatakan bahwasanya sah-sah saja mengatakan Islam boleh bercanda atau ‘lucu-lucuan’ namun bagi sebagian kalangan, hal tersebut menjadi tidak boleh dan tidak relevan ketika membicarakan Islam dengan nuansa humor di dalamnya.

Merujuk pada Hadis nabi Muhammad SAW  :

عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: أَتَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ –صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ–، فَقَالَتْ: (يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ) فَقَالَ: ((يَا أُمَّ فُلاَنٍ، إِنَّ الْجَنَّةَ لاَ تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ.)) قَالَ: فَوَلَّتْ تَبْكِي فَقَالَ: (( أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لاَ تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : { إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً 0فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا 0عُرُبًا أَتْرَابًا } )).

Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Seorang nenek tua mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga! Beliau pun mengatakan, Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua. Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah taala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya. (QS Al-Waqiah)

 

Dari Hadis di atas kita dapat menyimpulkan bahwasanya Nabi pun pernah melakukan sesuatu yang bersifat candaan terhadap sahabat nabi sehingga candaan atau guyonan menjadi hal yang boleh dilakukan dalam menyampaikan makna agama apalagi hal yang lainnya.

Namun Rasullulah SAW melakukan candaan tidak didasari oleh sesuatu hal yang bersifat dusta atau kebohongan karena Rasullulah SAW melarang hal tersebut. Dusta atau kebohongan hendak dibalut menggunakan candaan atau apapun itu sudah menyalahi ajaran Islam. Karena berdusta adalah hal yang sangat tidak baik bagi yang mengatakan maupun yang mendengar perkataannya hingga bisa menimbulkan fitnah dalam hal tersebut.

Sifat candaan inilah yang harus kita hindari karena menimbulkan fitnah terhadap obyek yang dibicarakan. Sehingga menjadikan keburukan-keburukan yang lahir dari perkataan itu. Rasullulah SAW bersabda, “Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.”

Dari hal ini kita dapat menyimpulkan bahwa dalam bercanda itu pun harus benar-benar memahami isi kandungan yang akan dibicarakan agar terhindar dari sifat dusta sehingga candaan kita tidak menyalahi ajaran Nabi Muhammad SAW. Namun bercanda memang dibolehkan oleh Nabi, akan tetapi mempunyai batasan-batasan sehingga terhindar dari sifat yang dilarang oleh Allah SWT agar dari candaan kita dapat melahirkan suatu kebaikan bukan sebaliknya.

Seperti sahabat Rasulullah SAW yang penuh dengan jenaka, yaitu Nu’aiman. Banyak kisah tentang kelucuannya yang membuat Rasullulah SAW tertawa dan senang. Suatu hari ada seorang pedagang yang berjualan madu di Madinah, tetapi setelah sekian lama ia berdagang, satu pun belum terjual. Lalu muncullah Nu’aiman dan memberitahukan pada pedagang tersebut bahwa ada orang yang ingin membeli madunya itu.

Pedagang tersebut diantarnya ke dekat rumah Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Fullan tunggulah di sini dan aku membawakan satu botol ini ke rumah tersebut, karena ia suka sekali madu.” Maka Nu’aiman masuk ke rumah Rasullulah SAW untuk memberikan madunya sambil berkata “Wahai Rasullulah ini ada madu kuhadiahkan untukmu”.

Setelah keluar dari rumah Nabi Muhammad SAW, ia pun berkata kepada pedagang itu untuk menunggunya karena si pembeli akan keluar dan membayarnya. Nu’aiman pun pergi meninggalkan pedagang tersebut dengan alasan ada kerjaan lainnya.

Setelah beberapa waktu menunggu, si pedagang pun tak didatangi oleh pembeli yang dikatakan Nu’aiman, sehingga ia pun mengetuk pintu dan mengatakan, “Wahai penghuni rumah, bayarlah madu ini.” Sontak Nabi Muhammad pun terkejut. Tetapi nabi tidak memberitahukannya pada si pedagang dan langsung membayarnya.

Di kemudian hari setelah kejadian itu, Rasulullah SAW bertemu dengan Nu’aiman sambil tersenyum, menanyakan perihal madu seraya berkata, “Apa yang telah kau lakukan pada keluarga Nabimu, wahai Nu’aiman?”

Sambil tersenyum, Nu’aiman menjawab, “Ya Rasulullah, aku tahu engkau suka sekali menikmati madu. Tapi aku tidak punya uang untuk membeli dan menghadiahkan kepadamu. Maka, aku mengantarkan saja kepadamu dan semoga aku mendapat taufiq ke arah kebaikan.” Ucap Nu’aiman.

Maka bagi sebagian da’i melakukan praktik menyebarkan dakwah melalui sifat ‘guyon’ atau candaan itu menjadikan suatu kesenangan dalam mendengarkan dakwah agama. Inilah yang harus kita pahami bersama karena bercanda dalam berdakwah itu penting. Mengapa demikian?

Jawabannya adalah agar orang-orang yang ingin pergi ke tempat maksiat dengan niat mencari kesenangan menjadi urung niatnya tidak ke tempat maksiat. Maka diberikanlah nuansa dalam dakwah itu yang lucu, karena itu salah satu sumber kesenangan. Sehingga orang yang mencari kesenangan melalui dakwah bisa perlahan-lahan memahami esensi agama Islam dan semakin cinta terhdap Islam.

Bayangkan saja, bilamana nuansa dakwah dipenuhi dengan ketegangan dan konflik. Sehingga di pikiran orang awam menjadi hal yang sangat susah untuk dipahami, apalagi menghadiri ceramah atau dakwah itu lagi karena sifat tertekan dari luar, sehingga ketika mendengarkan dakwah dengan penyampaian seperti itu menjadikannya malas untuk mendengarkan. Karena hanya akan membebaninya lebih banyak dengan segala tuntutan dan tekanan. Padahal Islam agama yang mudah dan ramah.

Sikap itulah yang harus kita benahi agar masyarakat yang mendengarkan dakwah Islam bukan menjadikannya tertekan, namun dihiasi oleh kesenangan dan kedamaian sehingga mereka dapat memahami bahwa agama Islam mengajarkan orang melalui hal yang menyenangkan.

Dengan begitu, orang yang dulunya mencari kesenangan melalui sarana kemaksiatan, kini dapat beralih pada hal yang lebih baik. Yakni yang sesuai dengan keislaman itu sendiri.

Tags: islam boleh lucuislam lucuislam menyenangkan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Malam Kutukan

Next Post

Apa Tidak Eman-eman?

Niko Sulpriyono

Niko Sulpriyono

        intagram: iko_iss Alamat: Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat

Artikel Terkait

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
Esai

Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika

23 June 2026

Pada tanggal 26 Mei lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah...

Melawan Tirani Kebahagiaan
Esai

Melawan Tirani Kebahagiaan

17 March 2026

Tubuh kita memproduksi setidaknya empat hormon yang berkaitan dengan rasa bahagia, yaitu dopamin, endorfin, serotonin, dan oksitosin. Keempat hormon ini...

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
Esai

Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains

12 February 2026

Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2025 dari murid-murid kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan sederajat dikatakan rendah,...

Memanusiakan Teknologi
Esai

Memanusiakan Teknologi

31 January 2026

Ada satu ironi yang sering luput kita sadari. Semakin canggih teknologi yang kita banggakan, semakin sering pula kita menemukan manusia...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Tadabbur via Momentum Hujan

Tadabbur via Momentum Hujan

6 March 2022
Penulis Muda yang Pernah Putus Asa

Penulis Muda yang Pernah Putus Asa

6 April 2022
Gelembung-Gelembung

Gelembung-Gelembung

19 November 2025
Menjadi Perempuan Berparas Cantik, Prioritas-kah?

Menjadi Perempuan Berparas Cantik, Prioritas-kah?

11 September 2021
Gambar Artikel Kenangan yang Kusimpan Dalam-dalam

Kenangan yang Kusimpan Dalam-dalam

2 November 2020
Balapan yang Dibudayakan

Balapan yang Dibudayakan

20 October 2021
Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

Depresi Besar, Kaum Pekerja, dan Hilangnya Harapan

30 April 2021
Perjalanan Wahyu Nirwaktu

Perjalanan Wahyu Nirwaktu

11 January 2022
Goa Isolasi dan Surat Kecilku

Goa Isolasi dan Surat Kecilku

19 July 2021
Menemui Emosi dari Diri

Menemui Emosi dari Diri

20 August 2021
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Pustakawati dan Puisi Lainnya
  • Ruang Mimpi
  • Jalan Keluar Atas Jebloknya Matematika
  • Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
  • Di Teras St. Carolus
  • Manusia dalam Sengkarut Jejaring Informasi
  • Bidikan Sangkar Baja dan Puisi Lainnya
  • Aku melihat ayah, di sana dan Puisi Lainnya
  • Saung
  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (71)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (58)
  • Metafor (234)
    • Cerpen (60)
    • Puisi (149)
    • Resensi (24)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.