• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Tuesday, 20 October 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Perjalanan Wahyu Nirwaktu

dan sajak-sajak lainnya

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
11 January 2022
in Puisi
0
Perjalanan Wahyu Nirwaktu

Source: https://www.flickr.com/photos/marcarambr/8532548242/

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Tiada Hari Tanpa Kehilangan

kata-kata menjamur dan busuk
ada belatung menggerayanginya
aku malu pada keadaan terpuruk
ada bingung dan sesal menjilatinya

sumber bahagia adalah derita, kisanak
kata orang tua sok bijak
tapi aku adalah suka duka pohon beringin
sekalipun disebut angker
tetap teduh dan adem ayem
tempat burung-burung bernaung
sekaligus membuang kotoran mereka

mungkin waktu adalah botol pecah
saat terinjak, akan menggoreskan luka
pada mereka yang tak waspada

karena hidup hanyalah pajangan kolase di dinding perpustakaan berdebu
maka aku hanya bisa tepekur bisu
berharap ada tangan tulus menjamah pipiku
dengan bisik suara halus memanggil namaku

namun kini tiada hari tanpa kehilangan
pandemi korona menjadi asisten Izroil
menjemput mimpi para perindu
menyulut benci para pecandu

pernahkah sapuan angin mengecewakanmu
sedang mereka tak kenal lelah
menemani manusia sejak sebelum banjir Nabi Nuh
sampai zaman big data dan hoax melimpah ruah

pernahkah aku tidak mengecewakanmu
sedang manusia tak kenal ibu
durhaka jasmani rohani sejak di rahim waktu
sampai semesta bengong termangu-mangu

Yogya, 2021

  

Keluhan Anak Desa

kapan terakhir kali anak generasi alpha pergi ke sawah
telanjang kaki mengeja tanah
bersama rumput, bau rabuk dan gulutan brambang
sewaktu gerimis memainkan gending dan tembang

tak ingatkah kau pada gubuk gedhek di sisi Watu Macan
ketika suatu kali kita bersikejar merebut layangan
bapak-bapak mengacungkan arit dari sisi kuburan
karena kaki-kaki kita abai dan riang menjajah tanduran

kini kapan terakhir kali anak zaman kita
pergi menyekar
tanpa membawa gawai dan foto candid
di sisi makam keluarga

tadarus kematian hanya menjadi angin kemarin siang
yang lupa merasuki batin dan ingatan sembahyang

atau barangkali maut yang dulu sebagai obat
nasehat bagi kebosanan dan rasa tak semangat
sekarang tak lagi punya wibawa
di hadapan medsos dan vlog dunia maya

mungkin hari telah semakin runyam
menampung mimpi dan banjir putus asa
sementara ruang-ruang pun semakin lebam
ditonyor, ditusuk, dan dicongkeli senantiasa

ada kalanya aku terbang dan nyangsang
menuju pupus daun pisang
seumpama bayi kelelawar
yang meringkuk menahan lapar
seperti ladang padi dan belukar
yang tergilas perumahan dan pabrik-pabrik besar

Kembangsore, 2021

 

Perjalanan Wahyu Nirwaktu

telah berapa jasad yang lapuk
dan perjalanan hidup yang panjang
sampai tiba wahyu pertama

dari puncak bukit kebimbangan
ia menampung segala bisik
dari desis semesta sampai gending angin kelana

adakah peristiwa korsleting sejarah
ketika susu onta lebih mahal dari anak manusia
dan belati yang rutin mengukir luka
pada perempuan siapa saja

atau mungkin belum cukup manjurkah
software profetik yang bernama puasa
dan kurikulum di balik tirakat “makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang”
sedang pusaka ashhabul kahfi
tak lagi laku di pasar kembang

sementara cicak sembunyi
dari mendung rindu dan gulita benci
setelah usai membocorkan lokasi sang nabi
via google map dan broadcast terkini

sementara labah-labah
menyulam benang dari perutnya
di bibir goa
sebagai wujud keberpihakan
kepada sang junjungan

maka telah berapa laksa tubuh
dan belulang yang remuk
sampai tiba wahyu yang sempurna

sementara dari balik sudut sejarah ini
kami kelimpungan mencari teladan
sedang pada dzikir batu-batu dan tasbih rerumputan
tak sedebu pun kami khusyuk mendengarkan

Yogya, 2021

Tags: M. Naufal WaliyuddinmetaforPerjalanan Wahyu Nirwaktupuisisajak
ShareTweetSendShare
Previous Post

Jenis-Jenis Garangan Paling Berbahaya bagi Kaum LDR

Next Post

Transformasi Standar Berkat Gendurenan di Era Revolusi Industri 4.0

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Tim Redaksi Metafor

Artikel Terkait

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
Puisi

Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya

13 October 2026

Kebiasaan Masa Kecil masa kecil tak ingin kubayangkan lagi, menyesak tak berpihak membuatku terus-menerus terpencil sebagai anak kecil --hanya sebagai...

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya
Puisi

Khutbah Ibu sebelum Tidur dan Puisi Lainnya

26 August 2026

Kematian di Pulau Kosong Di pulau yang tak lagi mengenal jejak kaki kematian duduk serupa air pasang yang kehilangan laut...

Pustakawati dan Puisi Lainnya
Puisi

Pustakawati dan Puisi Lainnya

3 July 2026

pustakawati di tempat ini bohlam-bohlam telanjang pagi tersisa bertumpuk-tumpuk buku di kaca-kaca kau temui tak ada suara yang selama ini...

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya
Puisi

Manifesto Pisau dan Puisi Lainnya

13 June 2026

SEBUAH SAJAK YANG DIBACA BURUNG JALAK saat prediksi cuaca telah rampung ditata dalam ransel sejenak dunia berhenti menyusun tanggul dari...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pemberdayaan Perempuan sebagai Pemangku Peradaban

Pemberdayaan Perempuan sebagai Pemangku Peradaban

10 April 2022
Kultur Musiman

Kultur Musiman

1 October 2021
Serba-serbi Kali

Serba-serbi Kali

1 March 2021
Multi Peran Guru

Multi Peran Guru

8 March 2021
Gambar Artikel Pengungsi Peradaban, Para Pencari Mbah Nun

Pengungsi Peradaban (2)

23 January 2021
Mudik dan Sambatan Rohani Tahun Ini

Mudik dan Sambatan Rohani Tahun Ini

25 May 2021
Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

24 March 2022
Menguak Kebodohanmu Melalui Rekomendasi Netflix-ku

Menguak Kebodohanmu Melalui Rekomendasi Netflix-ku

29 March 2023
Panjang Sama Panjang

Panjang Sama Panjang

17 February 2021
Gambar Artikel Serat Badar Lunar

Serat Badar Lunar

21 November 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Kebiasaan Masa Kecil dan Puisi Lainnya
  • 100 Tahun Kho Ping Hoo dan Jagad Cerita Silat Setelahnya
  • Tersesat di Venesia dan Satu Sruput yang Menebus Segalanya
  • Petang Syair: Puncak Pekan Kata Warung Sastra
  • Yang Tak Dikenali Anaknya, Yang Ditegur Putrinya: Diponegoro dan Motinggo
  • Siti Rukiah: “Aku Memang Dipenjara, tapi Bukan Manusia Kurungan”
  • Beras Satu Setengah Liter, Kelugasan, dan Ironi Idrus
  • Menafsir Sejarah sampai ‘Terbang ke Bulan’: Catatan Beasiswa Kelas Kritik Sastra Fiksi Sejarah
  • “Ngulandara”: Menyusuri Kali Code, Mengeja Sastrawan yang Nyaris Dilupakan Sejarah
  • Jembatan Literasi: Saat Sampah Jadi Buku dan Taman Baca di Tepi Sungai Oya
  • Tuba dan Hal-Hal yang Mungkin Nanti
  • Penyelamat Memoar di Zaman Penjajahan: Catatan Ziarah ke Makam Gladys di Spiez, Swiss

Kategori

  • Event (21)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (19)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (73)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (60)
  • Metafor (239)
    • Cerpen (63)
    • Puisi (151)
    • Resensi (24)
  • Milenial (55)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (19)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (71)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (20)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.