• Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kerjasama
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
Friday, 17 April 2026

Situs Literasi Digital - Berkarya untuk Abadi

Metafor.id
Metafor.id
  • Login
  • Register
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Hikmah
    • Sosok
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Tips & Trik
    • Kelana
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
No Result
View All Result
Metafor.id
No Result
View All Result
Home Metafor Puisi

Cinta Melekat pada Ubun Dada yang Membelah

Joko Rabsodi by Joko Rabsodi
18 November 2021
in Puisi
0
Cinta Melekat pada Ubun Dada yang Membelah

https://unsplash.com/photos/Yz2En0woltg

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsAppShare on Telegram

Cinta Melekat pada Ubun Dada yang Membelah

Jangan mengira aku sanggup lupa
tindihan sujudmu di pundakku telah menyelaraskan
rindu yang tercacah dan harus kubayar mahal retak
dari sedap ludah yang keluar
cenderung berlabuh pada sebidang cinta
melekat pada ubun-ubun dadamu yang membelah
damai kutumpangi sukma tanpa perlu musyawarah
dugaan tubuhmu adalah jejal doa yang kusempuh
dari bedug rowatib yang sengaja dipancang tiap sudut
di sana kusangkalkan keluh dari aroma nadimu
harum kening makin mengundang selera jantungku
berdesing di luar batas ampun

Senyum yang kerap kau pajang
setiap mengawali musim memberi kelahiran nasib
yang tak bisa disandungkan. seperti katamu asmaraloka
tak hanya larut dalam alunan dansa, sekerat rasa yang dimuntahkan
bisa jadi limbah cinta paling hara
menjahit kisah yang kita bangun, tiba-tiba aku teringat adam-hawa
yang dahulu sempat tinggal di kebun ini, angslup dalam gendang
hingga mawar-melati terpenggal kemolekan duri
menoleh ke samping, beragam persoalan mendorong kita
merawat air mata, suara parau ibunda memanggil kita tak punya
pelabuhan di mana akhirnya kapal-kapal berlayar dan kembali ke tanah lapang
begitu sukar segala yang dirasakan tubuh harus menanam resah
sementara keyakinan bermukim di benakmu sudah tak terejawantahkan
menengok ke belakang, sepanjang jalan tetesan ngilu meremasi
pudar pelangi, kita saling merangkul dalam keraguan yang sama

–apakah ini musim yang menelantarkan adam hawa
hingga anaknya saling membunuh demi satu keadilan;

Tivani, begitu banyak prosa yang kita tinggalkan
tanpa terasa tangan kita menjalar dari waktu ke waktu
tiba-tiba aku sadar mawar-melati yang terkapar di kebun itu
bukan lagi atas namamu, tapi derita adam-hawa yang sengaja di putar tuhan
untuk edisi tahun ini.

–ijinkan kunikmati tragedi suci sembari mendesain istanamu dari daun khuldi yang gugur dari azali!

Madura, 7 Oktober 2021

 

Mimpi Perempuan Belantara

Bukan dirimu saja yang palang
eppa` embu` yang peduli tata krama
menderma dari buai air susu dan kakanan ringan
saban waktu tak kunjung terima disedahkan
ia memuja lewat segudang mimpi
berharap padamu; aku perempuan belantara
membawa mimpi anak ke nusantara

Madura, 4 Oktober 2021

Sangkal

Pada mulanya hanya ilusi
bermain romansa semacam mantan toddhu’
di depan langgar Ghâjâm, sebuah atlas pertemuan  yang diarak
sekuat rombongan dipermak payung dan dirempal uang kertas
penanda kita akan diagungkan tuhan dan di saksikan
van der plaas yang pilar-pilarnya menyinggung abad XVI

waktu tak memberikan pilihan
jamuan yang disepakati sigap memaksaku
memberikan kalimat belit; gemetar dalam semu takdir
mencoba memahami beban yang datang, tatapmu yang teramat gigih
menolak mokhâ blâbâr yang kupapat
ada kelam ranggas di tengah jalan
menuju rumahmu;

—apa yang bisa kukatakan pada ibu
kalau tubuhmu adalah sangkal dari segala jaman
hadir  sekedar menemui khidir

—bagaimana dengan bapa
sekelumit bujuk tak mampu derukan riuhmu
berselonjor dalam tegalan nikahan

Madura, 23 oktober 2021

Catatan:
mantan toddhu’: langgar ghâjâm: semacam surau yang beratapkan jerami, digunakan sebagai tempat peribadatan, yang kemudian sekarang masjid agung assyuhada` yang berlokasi di pamekasan
van der plaas : seorang penguasa pemerintah belanda yang menyetujui perluasan terhadap masjid assyuhada yang berlokasi di pamekasan-madura
mokhâ blâbâr : merupakan salah satu ritual dalam perkawinan dimana pihak pria harus menjawab pertanyaan dari pihak wanita dengan bahasa madura kuno dan didampingi kerabat yang dituakan. Pengantin pria diizinkan bertemu mempelai wanita setelah lolos melalui 7 tirai, tetapi dekadi ini mulai memudar.

Tags: cinta melekat pada ubun dada yang membelahmimpi perempuan belantarapuisi cintapuisi perempuansangkal
ShareTweetSendShare
Previous Post

When The Weather is Fine dan Puisi Kesakitan

Next Post

Manfaat Memiliki Daily to Do List

Joko Rabsodi

Joko Rabsodi

Lahir di Pamekasan, 11 Juni 1981. Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di Horison, Bali Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain. Antologi terbarunya bersama sosiawan leak, “Sabda Asmara Luka dan Rindu”, 2021.

Artikel Terkait

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
Puisi

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya

9 April 2026

Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi 1. Aku membuka ponsel, mencari-Mu di kolom pencarian. Tidak ada notifikasi dari langit. Hanya...

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
Puisi

Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya

29 March 2026

Risalah Gufran: Al-Ma’arri  Sejak lama al-qarih jenuh sebagai tokoh rekaan dan membentang peta perjalanan baru menuju surga. demi sebuah liburan...

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
Puisi

Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya

18 February 2026

Risoles Tahun Baru Pagi tadi aku masih berada di dalam kotak Dengar ceramah soal kemanusiaan, revolusi, resolusi, segala macam sampai...

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender
Puisi

Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

31 December 2025

Waktu  Serupa api yang melilit apa saja yang menghadangnya. Ia begitu kejam membakar setiap momen dalam hidup kita hingga menjadi...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Mengapa Perlu Membaca Sastra?

Mengapa Perlu Membaca Sastra?

23 September 2022
Tentang Kita di Laman Koran Pagi

Tentang Kita di Laman Koran Pagi

21 March 2021
Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

Sajak Seorang Preman Sebelum Jadi Penyair

17 February 2022
Perihal Kelahiran

Perihal Kelahiran

26 November 2021
Mawar Hitam Praja Buana

Mawar Hitam Praja Buana

29 April 2021
Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

Perempuan Sumba dan Budaya Kawin Tangkap

23 June 2021
https://www.freepik.com/free-vector/schizophrenia-concept-illustration_10198495.htm#query=depression&position=3&from_view=search

Birai-Birai Kelapa

23 December 2021
Gambar Artikel Sedekah Berbalas dan Kepamrihan

Sedekah Berbalas dan Kepamrihan

1 December 2020
Gambar Artikel Cintaku Urusan Orang Lain

Cintaku Urusan Orang Lain

2 November 2020
Gambar Artikel Ada Apa dengan Pak Prabowo Subianto?

Ada Apa dengan Pak Prabowo Subianto?

31 December 2020
Logo Metafor.id

Metafor.id adalah “Wahana Berkarya” yang membuka diri bagi para penulis yang memiliki semangat berkarya tinggi dan ketekunan untuk produktif. Kami berusaha menyuguhkan ruang alternatif untuk pembaca mendapatkan hiburan, gelitik, kegelisahan, sekaligus rasa senang dan kegembiraan.

Di samping diisi oleh Tim Redaksi Metafor.id, unggahan tulisan di media kami juga hasil karya dari para kontributor yang telah lolos sistem kurasi. Maka, bagi Anda yang ingin karyanya dimuat di metafor.id, silakan baca lebih lanjut di Kirim Tulisan.

Dan bagi yang ingin bekerja sama dengan kami, silahkan kunjungi halaman Kerjasama atau hubungi lewat instagram kami @metafordotid

Artikel Terbaru

  • Tuhan Tidak Online Pukul Tiga Pagi dan Puisi Lainnya
  • Membela Demokrasi dan Kemanusiaan di Tengah Prahara
  • Bait Hikmah: Al-Ma’mun dan Puisi Lainnya
  • Melawan Tirani Kebahagiaan
  • Membaca Rute Evolusi Otak Kita
  • Totem Kumbang: Karya Seni Jan Fabre yang Mengherankan di Leuven
  • Risoles Tahun Baru dan Puisi Lainnya
  • Membaca Ulang Kecakapan Matematika dan Sains
  • Salam Terakhir
  • Memanusiakan Teknologi
  • Warisan Luka dan Kepayahan Perempuan Sebatang Kara
  • Secangkir Kopi di Penghujung Kalender

Kategori

  • Event (14)
    • Publikasi (2)
    • Reportase (12)
  • Inspiratif (31)
    • Hikmah (14)
    • Sosok (19)
  • Kolom (70)
    • Ceriwis (13)
    • Esai (57)
  • Metafor (226)
    • Cerpen (57)
    • Puisi (145)
    • Resensi (23)
  • Milenial (52)
    • Gaya Hidup (26)
    • Kelana (16)
    • Tips dan Trik (9)
  • Sambatologi (72)
    • Cangkem (18)
    • Komentarium (33)
    • Surat (21)
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Kirim Tulisan
  • Kru
  • Kontributor
  • Hubungi Kami

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Metafor
    • Cerpen
    • Puisi
    • Resensi
  • Sambatologi
    • Cangkem
    • Komentarium
    • Surat
  • Kolom
    • Ceriwis
    • Esai
  • Inspiratif
    • Sosok
    • Hikmah
  • Milenial
    • Gaya Hidup
    • Kelana
    • Tips & Trik
  • Event
    • Reportase
    • Publikasi
  • Tentang Kami
    • Kru
  • Kirim Tulisan
  • Hubungi Kami
  • Kerjasama
  • Kontributor
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Login
  • Sign Up

© 2025 Metafor.id - Situs Literasi Digital.